
Haechan di bebaskan dari penjara!
Yeahh...
Pemuda yang di sebut sebagai tersangka kematian Jeno itu telah di bebas kan karena kurang nya bukti dan saksi. Haechan hanya mendekap selama satu minggu di penjara untuk pengambilan data. Setelah itu ia sudah di perbolehkan pulang.
Haechan tengah berjalan ke arah supermarket sendirian. Malam ini bulan bersinar dengan cukup terang. Pemuda Lee tersebut berjalan dengan riang sambil mengalunkan sebuah lagu.
"Haechan!" panggil seseorang dari depan.
Tepat dua ratus meter didepan Haechan ada Yuta yang tengah berdiri sendirian. Pemuda berambut panjang itu terlihat mencurigakan dengan jaket hitam miliknya.
Haechan tersenyum. Dengan langkah pelan, dia mulai mendekati Yuta yang tengah berdiri didepan sana. Pemuda itu diam saja membuat Haechan merasa ada yang tidak beres dengan Yuta.
"Yuta-ya, lo lagi ngapain disitu?" tanya Haechan.
Yuta menyeringai pelan. "Nunggu lo. Boleh nggak gue kesana?" ucap Yuta sukses membuat Haechan terdiam kaku.
Jika tadi Haechan yang berjalan mendekat, kali ini berubah Yuta yang berjalan mendekati Haechan dengan langkah cepat.
Cepat sekali hingga membuat Haechan kaget saat menyadari bahwa pemuda berambut panjang itu sudah tiba dihadapannya.
"Woah cepet banget nyampe" puji Haechan. "Ngomong-ngomong kenapa lo malem-malem ada disini?"
Yuta kembali menyeringai dan itu sangat menganggu Haechan. Tidak biasanya dia begitu. Hal ini membuat Haechan berspekulasi kalau ada yang Yuta sembunyikan dari dia.
"Oy Yut? apain sih? Napa pegang tangan gue?" heran Haechan menyadari tangannya yang disentuh Yuta. Pemuda Nakamoto itu bahkan mengikat tangan Haechan secara paksa.
Sebenarnya kenapa dengan dia? Kerasukan setan apa sih? "Woy Yuta lepasin nggak!Yuta!" teriak Haechan.
Yuta sama sekali tak menggubris ucapan Haechan. Bahkan ia bertindak lebih aneh lagi dengan mengeluarkan sebuah suntikan. Dia segera menyuntikkannya ke lengan Haechan yang membuat kesadaran Haechan menghilang dalam waktu cepat.
Tubuh Haechan tergulai ke tanah dengan lemas. Yang selanjutnya Yuta lakukan adalah mengeluarkan ponselnya dan memotret tubuh Haechan. Dia kemudian mengirimkan foto tersebut ke seseorang.
Yuta tersenyum senang melihat Haechan yang kehilangan kesadarannya. "Target berhasil didapatkan, tugas selesai"
🌱🌱🌱
Haechan menggeliat dari tempatnya. Badannya terus ia goyangkan. Tangannya bergerak tak tentu arah mencoba untuk melepas semua ikatan.
Tubuhnya memberontak dengan kuat. Andai saja mulutnya tidak dilapisi lakban, sudah tentu dia bakal teriak sekencang-kencangnya. Namun sial, lakban itu terus saja menempel meski sudah dijilati berkali-kali.
Kriet... kriet!
Kursi yang Haechan duduki bergerak secara perlahan sehabis dia goyangkan tubuhnya kuat-kuat. Perlahan tapi pasti tubuhnya mulai kelelahan. Energinya habis sudah.
Percuma juga lakuin ini itu kalau hasilnya bakal sama. Rupanya sang pelaku berbuat lebih cerdas. Haechan tak menyangka bakal selama ini.
Ingin rasanya ia menyerah. Dan sepertinya ia bakal menyerah sekarang juga. Terkadang diam adalah jalan terbaik.
Akhirnya setelah berjuang cukup lama, Haechan memutuskan untuk berhenti saja. Lebih baik tenaganya ia simpan buat nanti, siapa yang tau, mungkin saja akan terjadi baku hantam nanti. Oleh sebab itu lebih baik mempersiapkan diri ketimbang merepotkan diri sendiri.
Oh iya, ada yang Haechan lupakan. Saking sibuknya dengan rencana pelariannya dari tempat ini, Haechan lupa dengan satu hal, yaitu...
"Woi gue laper nih! Kasih makan kali, jangan jadiin gue binatang buruan yang ditinggal begitu aja. Makanan woy!" teriak Haechan.
Senyap sekali kawan-kawan. Apa perlu Haechan teriak lebih keras lagi supaya ditanggapi? Ok baiklah, mari kita lakukan.
"OY YANG DIDALAM DENGER NGGAK!!! GUE LAPER, CEPET KASIH MAKANAN!!!" teriaknya sekali lagi. Haechan jelas misuh-misuh mengetahui tak ada balasan apapun dari pelaku.
Memang tadi niat nya Haechan ke supermarket adalah untuk membeli makanan, namun ia malah berakhir di sini.
"Bisa mati kelaparan kalo gini" gerutu Haechan lirih. "WOY, LOH DENGER NGGAK SIH? GUE LAPER BELUM MAKAN !!"
Haechan melototkan kedua matanya. Dia rasa dia tau siapa pemilik suara barusan. Rasanya tidak asing. Itu seperti suara...
"Yuta-ya, lo ada diluar? lo yang nyulik gue kan? Yuta jawab! lo kan?" sergah Haechan cepat.
Tak ada jawaban apapun. Hanya terdengar suara berisik yang diketahui asalnya dari luar. Haechan terdiam. Badannya membeku namun pandangannya lurus ke arah pintu.
Tak lama kemudian pintu terbuka. Dari ambang pintu terlihatlah Yuta tengah berdiri sambil menatap Haechan secara intens. Perlahan tubuhnya mendekat.
Entah mengapa Haechan merasa udara disekitarnya perlahan menyusut. Nafasnya terasa berat sekali untuk ditarik. Apa mungkin itu pengaruh dari tatapan Yuta yang sangat mengintimidasi? Atau hanya Haechan saja yang merasa keanehan ditempat ini?
"Haechan!" panggil Yuta sontak membuat pikiran Haechan bergetar. Sungguh dia merasa sangat terintimidasi disini.
Pemuda Lee itu terdiam memandangi Yuta yang berdiri didepannya. Tangannya yang tadi bergerak mencari celah dari tali yang mengikatnya terkepal dengan kuat. Sedangkan pikirannya menerawang jauh mencoba untuk mencari jawaban atas tindakan yang Yuta lakukan pada dirinya.
"Pada malam rumah Winwin terbakar lo ada dimana? Di rumah? Atau ditempat lain?" tanya Yuta membuka sesi tanya jawab.
"Maksud lo nanya gitu buat apa? lo lagi ngajak gue main detektif-detektif-an?" tanya balik Haechan. "Atau jangan-jangan lo curiga sama gue? Ya elah Yut, gue nggak mungkin lakuin itu semua. Lagipula buat apa juga gue pergi ke rumah Winwin malam-malam. Kayak nggak ada kerjaan aja"
"Chan, gue mau kasih tau sesuatu sama lo. Tapi sebelum itu lo harus janji buat jawab semua pertanyaan yang bakal gue tanyain tanpa nanya balik. Kalo lo bersedia, gue bakal bebasin lo dari tempat ini!" ucap Yuta panjang lebar.
Sempat terdiam beberapa saat tapi pada akhirnya Haechan menyetujui kesepakatan. Ia tak perlu takut akan terkena masalah nanti atau tidak, karna setahunya tidak ada hal mencurigakan yang ia sembunyikan dari siapapun.
"Apa lo hadir ke pesta Chenle waktu Lucas mati?"
"Elo lihat sendiri gue ada disana. Kalo nggak percaya silakan tanya yang lain!" sergah Haechan cepat.
"Dimalam saat Mark mati lo ada ditempat itu. Lo ada di rooftop menyaksiin semuanya. Bener?" tanya Yuta.
Haechan tersenyum sinis. "Salah. Gue nggak ke sekolah malam itu". Yuta ikut tersebut sinis mendengar jawaban itu. Cukup membuat seorang Lee Haechan takut.
"Lo juga terlihat ada di dekat jembatan tempat Winwin jatuh. Tapi sebelumnya, lo terekam cctv sudah mencuri mobil paman Lee dan berhenti ditempat yang sama dengan Winwin. Apa mungkin lo juga yang dorong Winwin hingga jatuh?"
"Bukan gue. Buat apa juga gue curi mobil paman Lee. Lagian ya Yuta gue nggak ada dendam sama sekali sama Winwin. Elo seharusnya bisa mikir, jadi nggak mungkin kalo gue dorong dia ke sungai" balas Haechan.
"Lo kan pelaku dari semua ini? Dan yang buat gue tambah yakin, lo ada di rooftop saat kak Jeno jatuh. Lo yang udah dorong dia kan?" serang Yuta lagi.
Haechan mendecak kesal. Perlu berapa kali dia harus jawab enggak. Dia sudah merasa lelah berdebat dengan pemuda Nakamoto ini.
"Yuta gue udah lelah. Perlu berapa kali lagi gue mesti jawab semua pertanyaan aneh lo. Sekarang gue tegas in, bukan gue pelakunya! " tandas Haechan meminta diakhiri.
Yuta tersenyum sinis. Dia kemudian mengeluarkan sebuah foto pada Haechan. Didalam foto tersebut tampak sangat jelas wajah seorang Lee Haechan yang lagi mengendarai mobil milik Tuan Lee alias ayah Taeyong.
Melihat semua bukti itu, Haechan tertegun. Pandangannya seketika berubah tegas. Dan satu senyuman terukir jelas di bibirnya.
"Sekarang nggak bisa ngelak lagi kan? Itu jelas Lo Chan" ujar Yuta. "Sekali lagi gue tanya. Lo kan pelaku dari semua kejadian ini?"
Haechan melirik ke arah Yuta yang mulai terbakar emosi. "Cuma itu buktinya!?" tantangnya.
Mendengar hal barusan membuat amarah Yuta meluap. Pemuda itu kemudian melepas ikatan tangan yang membelenggu Haechan sedari tadi. Dia lalu menarik tangan Haechan beserta kaos panjang yang Haechan pakai.
Yuta mengacungkan tangan kiri Haechan tinggi-tinggi hingga memperlihatkan sebuah luka bakar besar di sana.
"Ini! buktinya ada disini. Lo orang yang sama yang menyusup ke rumah Jeno-Jaemin waktu itu. Lo juga yang udah mukul Jeno dan ngelukai bibi. Lo pikir gue nggak tau luka bakar ini? Luka yang selalu lo tutupi. Gue udah tau!"
Haechan mulai grogi. Waktu kejadian di rumah Jeno-Jaemin, Yuta tidak ada di sana. Bagaimana pemuda Nakamoto ini tau? Apa Renjun yang notabene nya adalah satu-satunya orang yang tau bahwa itu Haechan sudah memberi tahu Yuta duluan?
"Gue udah tau semua nya Chan!" lanjut Yuta.
Pemuda berambut panjang itu lalu mendekatkan bibir nya ke telinga Haechan. "Gue tau kalo lo saudara satu ibu nya Taeyong". Kalimat itu sukses membuat Haechan membuka kedua matanya lebar-lebar.