
"Namanya Taeyong. Leader NCT bernama Taeyong"
"Dia kemana Njun?" tanya Jaemin kemudian.
"Menghilang!"
"Menghilang kemana? Kenapa?"
"Nggak ada yang tau dia kemana. Tapi setau gue dia pergi setelah ibunya dihukum mati karena sebuah kasus kebakaran sekolah yang menewaskan hampir seratus orang" tutur Renjun. Gue kirim file aja, biar jelas. Udah ya gue tutup teleponnya!"
Setelah telpon terputus, satu buah e-mail masuk. Jaemin segera menyeret jarinya memencet file yang Renjun kirimkan.
"Seratus orang meninggal, puluhan siswa serta guru luka-luka. Pelaku akhirnya dijatuhi hukuman mati!"
Jaemin terkesiap melihat judul dari sebuah artikel yang ia lihat. Wajahnya mendadak sendu. Nafasnya terdengar tak beraturan sedikit demi sedikit.
Tiba-tiba ingatannya terbang ke waktu dirinya masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Hari itu, dia pergi ke rumah sakit terdekat karna mengantar Jeno yang mengeluh kesakitan di bagian tenggorokan.
Keadaan rumah sakit sangat penuh. Pasien terluka ada dimana-mana, bahkan saking penuhnya ada yang tidak mendapat tempat buat diobati. Katanya sih mereka itu korban dari kebakaran sebuah sekolah swasta. Apa mungkin itu yang Renjun maksud. Mungkinkah keduanya sama?
Kalau begitu, siswa yang mengamuk di ruang UGD karena ibunya dibawa oleh polisi berarti dia Taeyong. Jaemin tak ingat dengan begitu jelas karna saking sesaknya di sana. Tapi satu hal yang membuatnya yakin yakni ada satu orang yang mencoba menenangkan Taeyong saat itu. Orang yang merangkul tubuh Taeyong dengan sekuat tenaga sambil berkata,
"Gue percaya sama ibu lo, percaya banget malah. Tapi polisi enggak. lo malah buat keadaan lebih parah dengan ngamuk disini. Melakukan ini nggak buat keadaan membaik, Tae. Tenangin diri lo, mereka yang ber-uang bakal seneng lihat lo begini"
Itu Jaehyun. Pemuda yang menenangkan Taeyong adalah Jaehyun. Terlepas dari moment dramatis tadi, ada satu hal yang Jaemin ingat dengan betul. Satu kejadian yang masih terbayang-bayang dalam ingatannya. Kejadian itu begitu mengejutkan dan sangat tak terduga.
Dimana Lee Jeno yang tiba-tiba datang menghampiri kedua pemuda itu dan mengajak mereka untuk pergi bersama.
Tak ada mimik wajah kaget ataupun kebingungan baik dari Jaehyun maupun Taeyong. Kedua pemuda itu malah tersenyum senang ke arah Jeno. Mereka tampak begitu akrab dan seperti sudah kenal lama.
Atau emang mereka sudah saling mengenal ?
Jaemin termenung mengingat kejadian demi kejadian yang baru saja ia alami. Ia bahkan tidak bisa bertanya pada Jeno kenapa dan apa sebab ia ada di tempat kejadian kemarin. Dengan seorang teman sekolah mereka yang sudah mati tentunya.
Kejadian itu begitu mencurigakan, hingga Jaemin tidak dapat menemukan jalan tengah nya.
🌱🌱🌱
Renjun kembali membolak-balikkan sendok dihadapannya dengan lesu. Mood-nya sedang buruk. Berkali-kali sudah ia mencoba mencari kesibukan lain selain bengong. Tapi yang namanya bosen tidak jua menghilang.
Pemuda bertubuh kecil itu kemudian melirik sang ayah yang tengah asik melayani tamunya. Mendapatkan pelanggan tingkat VVIP pasti menyenangkan baginya. Apalagi pelanggan itu salah satu kenalannya di sekolah.
Yap itu adalah ayah Taeyong. Buat apa juga ia datang kesini malam-malam disaat rumahnya hanya berjarak setengah jam dari tempat ini?
Menurut dugaan Renjun mungkin karna dia tak mau di usik oleh putra semata wayangnya setelah berhasil menemukan wanita simpanan lain. Ternyata berita itu benar adanya. Ayah nya Taeyong memang seorang lelaki buaya darat. Pantas saja setiap ada pertemuan wali murid ibu Renjun menolak untuk datang karna suatu alasan. Mungkin itu alasannya.
Sungguh ironis memang. Tapi nyatanya Renjun sudah lebih dulu tau akan fakta ini sebelum berita itu menyebar. Ya, dia tau dari ibunya. Wanita paruh baya itu sendiri yang membeberkannya.
"Hai Renjun belum pulang ya ?" sapa tuan Lee dengan senyum khasnya. Renjun hanya membalas dengan sebuah senyuman canggung.
"Iya paman, tanggung nih. Bentar lagi pasti bakal pulang. Taeyong di mana paman? " balas Renjun. Ini kesempatan nya bertanya tentang mantan Leader nya itu.
"Ah Taeyong, Paman juga nggak tau dia di mana" sautnya sambil tersenyum.
"Oh, dia siapa paman? Kok Njun baru lihat paman? Rekan bisnis atau calon ibu Taeyong yang baru?" gurau Renjun mencoba menggoda. Semua orang kompak tertawa menanggapi gurauannya. Sementara Renjun hanya mendelik jijik.
"Sungguh lucu anak kau, Huang. Dia bisa ngelawak juga ternyata" keluh tuan Lee. "Kau jangan ajari dia yang macem-macem ! Nanti dia pandai menggoda orang!"
"Tenang saja pak. Dia nggak bakal berani begitu lagi. Renjun itu anak yang nurut. Dia cuma menggodamu sedikit" Jawab ayah Renjun
"Ah... anak dari adik istrimu bukan?"
"Yah. Dia kan punya anak perempuan yang sudah menginjak masa remaja,mungkin jaraknya tiga tahun dari Taeyong. Mungkin-"
"Nggak mungkin" sela Renjun. Pemuda itu bangkit dari duduknya dengan amarah yang tertahan. Kedua tangannya sukses mengepal kuat mencoba bertahan sebisa mungkin. Sang ibu yang berjarak tak jauh darinya mencoba menenangkan Renjun semampunya.
Renjun tersenyum menatap Tuan Lee. Bisa nggak paman berhenti ngurusin hidup gue!?" protes Renjun dengan nada sedikit mengancam.
Suasana mendadak berubah menjadi lebih intens. Renjun terus saja menatap Tuan Lee dengan pandangan mata tak suka. Sedangkan Tuan Lee hanya tertawa melihatnya.
"Haha" saut ayah Renjun mencoba mencairkan suasana yang terlanjur memanas. Dia lalu menepuk pundak Lee seraya mengajaknya untuk masuk dan mengabaikan anaknya.
" Lee mari ke kamarmu. Aku sendiri yang akan mengantarmu!" ajaknya.
Beruntungnya pak Huang karena tak perlu bersusah-susah mengajak pergi Tuan Lee dari hadapan putranya. Karna Tuan Lee dengan suka rela mengikuti arahannya untuk masuk ke kamar yang tadi dipesan.
Renjun kembali melebarkan senyumnya melihat sang lawan keluar dari pandangannya. Sang ibu yang menyadari emosi anaknya yang belum mereda langsung mengelus punggung Renjun.
"Pulang gih, udah malem. Besok sekolah kan?" ucap ibu Renjun dengan lembut.
Bujukan itu nyatanya sukses meluluhkan hati seorang Huang Renjun yang keras kepala. Pemuda itu hanya terdiam mengikuti perintah sang ibu. Amarahnya perlahan menghilang.
Bersamaan dengan itu, tiba-tiba salah satu pelayan di hotel itu datang dengan wajah penuh tergesa-gesa. Dia memberitahu kalau salah satu mobil Tuan Lee menghilang.
"Apa Menghilang? Gimana ceritanya!?" timpal nyonya Huang tak bisa menyembunyikan rasa bersalahnya.
"Itu... kami juga nggak tau nyonya. Mobil itu tadi ada diparkiran tapi tiba-tiba menghilang. Maafkan kami nyonya!" ucap si pelayan merasa bersalah.
"Kamu tau nggak berapa harga mobil itu? Bahkan gaji selama sepuluh tahun kamu bekerja disini itu belum cukup buat menggantinya. Dan kamu malah menghilangkannya!?" tuding nyonya Huang.
"Mah" saut Renjun. " Tenang dong!"
"Gimana mamah bisa tenang. Kalo Tuan Lee tau bagaimana ?"
Renjun memalingkan wajahnya sebentar guna mencari alasan apa yang tepat guna menenangkan sang ibu yang sudah kepalang khawatir. Dia mencoba mengontrol keadaan supaya tak tambah parah.
"Apa ini Renjun? Kenapa ibumu tampak cemas?" timpal ayah Renjun setelah tiba kembali.
"Itu pah-" balas Renjun terhenti karena bingung.
"Mobil pak Lee hilang dan itu salah saya tuan!" saut ayah Winwin tiba-tiba datang dan berdiri disamping Renjun.
"АРА!!!!???"
"Maafkan saya karna sudah lalai, ini murni karna saya yang salah. Para pelayan yang lain tidak tau apapun " akunya sukses membuat semua orang yang mendengarnya jadi syok termasuk Renjun. Pemuda itu bahkan menatap ayah Winwin dengan pandangan terkejut.
"Tapi paman, kau-"
Ayah Winwin menatap Renjun balik dan menyuruhnya untuk diam saja. Renjun jelas tak terima. Ia mau menjelaskan yang sebenarnya terjadi pada sang ayah tapi pak Huang justru mengajak ayah Winwin untuk pergi ke ruangannya.
"Pah, Njun bisa jelasin, paman benar-benar nggak tau apapun. Dia nggak bersalah. Pah dengerin Njun dong!" kata Renjun sedikit keras. Namun hal itu tak menghentikan apapun.
Renjun tau betul kalau hal ini tidak segera dihentikan pasti ayah Winwin bakal dapat hukuman dari ayahnya. Ia sangat yakin itu. Ayahnya itu jenis orang yang paling benci sama orang yang lalai dalam bekerja. Jadi setiap ada karyawan dia yang tidak becus bekerja apalagi lalai pasti dihukum berat.
Semoga saja ayah Winwin tidak dijatuhi hukuman karna Renjun yakin seyakin-yakinnya kalau dia tak bersalah.