
Sahabatnya tak satupun yang tahu tentang hal ini. Ia menutupnya rapat rapat dari David maupun Meisya.
Padahal kedua sahabatnya itu tahu persis tentang gilanya Dewi sama Azka, betapa Dewi mencintai Azka, namun akhirnya ia memilih untuk menyerah mengejar Azka dan berharap setelah ia membuat badannya seperti Meisya sahabatnya, yang proposional dan memiliki keahlian bela diri, sehingga ia bisa membalas dendam dengan perkataan Pamela yang menyakitkan hatinya karena dia tidak pernah tahu apa yang dirasakan oleh Dewi saat mengetahui bahwa Azka juga menganggap dirinya sebagai buntalan kentut dan buntelan lemak.
Sangat menyakitkan saat perkataan hinaan itu dilontarkan oleh orang-orang yang justru dia percaya sebagai orang yang layak dipuji dan dipuja.
Lagi lagi Dewi meneteskan air matanya saat mengingat di mana percakapan dari Pamela dan juga Azka terdengar lagi di telinganya. Saat ini dia berada di kamar mewah milik keluarga David di Jogjakarta.
Dia diantar oleh David ke Jogjakarta untuk bisa mendapatkan jurnal magangnya besok Senin.
Dan disinilah Dewi menangisi kepergiannya yang sama sekali tidak di ketahui alasannya oleh kedua orang tuanya maupun kakak kandungnya.
Krakkk
David tiba-tiba muncul dan memergoki diri yang tengah menangis di ranjang besar yang ada di tengah-tengah ruangan kamar mewah tersebut.
"Kenapa nangis?" tanya David dengan nada menyelidik, karena dirinya sudah curiga sejak Dewi masuk ke dalam rumah sakit pada hari Jumat malam tersebut.
David sebenarnya juga sudah tahu bahwa Azka memutuskan untuk tidak melanjutkan pertunangannya dengan Pamela karena kesalahpahaman disaat Azka mengantarkan Dewi ke rumah sakit.
"Gak apa apa, kangen rumah saja." kata Dewi sambil menyusut air matanya yang masih mengalir deras di pipinya, Entah kenapa dia tidak bisa menahan perasaan sedihnya itu, ketika memikirkan perkataan Pamela dan Azka di malam itu.
"Jangan boong kalau sama aku, emang kamu pikir aku anak kecil yang bisa dibohongi dengan perkataan seklise itu?" tanya David sambil menggeram kesal karena perkataan dari sahabatnya itu membuat jiwa detektif nya meronta-ronta.
"Emangnya menurut kamu kenapa?" tanya Dewi menantang balik si David.
"Kamu patah hati! Jadi akhirnya kamu ditolak sama Azka? Cih! Aku bilang juga apa, udah kubilang jangan terlalu berharap kepada Azka. Dia itu laki laki dengan sejuta pesona...."
"Jadi menurut kamu dia tak pantas buat ku atau aku tak pantas buat dia?"
"Dia tak pantas buat kamu!"
" Huh!! Similikete, bilang aja kamu mengatakan itu untuk membuatku tak menangis lagi."
"Ih siapa bilang? Jangan Ge er. aku tu mau bilang kalau ibarat permata, kamu itu permata yang belum tergosok sama sekali...."
"Bilang aja ibarat wanita cantik kamu itu ketutup lemak..." desisnya dengan kesal.
"Lhah itu kamu tau."
Bantal yang ada di kasur itu melayang di wajah David yang cukup tampan, bukan hanya sekali namun berkali kali. Dewi sungguh kesal dengan kelakuan David ini, bukannya menghibur, ia malah mengubur dirinya semakin dalam dalam lumpur hisap. Seakan peribahasa sudah jatuh tertimpa tangga itu benar adanya.
"Dasar manusia jadi jadian! Malas bener curhat sama kamu."
"He he he tujuan aku simple kok, kalau kamu marah gini kan kamu gak nangis." kata David dengan cueknya.
Astaga bisa gak kalau mulut David ini disambelin. Ngeselin!!
"Kamu gak tahu ketika hinaan itu diaminkan oleh orang yang kamu puja itu rasanya sakittttttt banget, dan sakitnya itu benar benar disini." kata Dewi sambil menunjuk dadanya, matanya auto mendung lagi, yang berarti bakalan jatuh tuh air mata kembali menangisi Azka.
"Eh kamu boleh curhat tapi dilarang baper, dan menangis. Lha sekarang kamu maunya apa? Kamu mau aku mukulin Azka sampai babak belur? Atau kamu mau kalau aku santet itu Pamela biar dadanya pindah ke belakang dan pantatnya pindah ke depan?" tanya David dengan nada kesal. Ia tidak suka melihat sohibnya nangis. Ia juga kesal dengan Azka yang dianggapnya plin plan, kalau gak suka sama Dewi ya jangan di PHP.
Tapi dasar dewinya aja dulu yang kekeuh dengan segala Azka yang ganteng dan Azka yang baik, jadinya ya gini... memPHP dirinya sendiri. Kalau sudah baper...
"Aku mau jadi kurus dan seksi, seperti Pamela..."
"Jangan ingin jadi orang lain, aku gak setuju..."
"Maksudku, kamu harusnya memotivasi diri bukan karena ingin menjelma menjadi orang lain. Tapi kamu berubah karena kamu mencintai dirimu sendiri dan harus yakin akan itu. Bukan kamu berubah jadi Pamela ... itu namanya obsesi."
"Tapi aku mau membalas dendam dengan Azka yang sudah menilai seseorang dari bentuk tubuhnya saja, aku tidak terima.."
"Ya itu bisa dijadikan motivasi, kamu itu cantik karena kamu Dewi dan bukan Pamela, itu maksudku."
" Dan aku ingin membuat Azka mengemis cinta sama aku." David hanya bisa mendesah lelah karena apa yang dipikirkan oleh Dewi, biarla Dewi memotivasi dirinya dengan apa yang ada deh, yang penting saat ini ia mau berusaha dari kaum rebahan menjadi kaum olahragawan.
" Jad kamu mau memulainya darimana?"
"Aku mau bertemu dengan personal trainer yang akan mengajarkan aku Muaythai dan juga tabata, kalau Muaythai karena aku pingin bisa membela diri kalau tabata biar lebih cepat menurunkan berat badannya. Kamu punya saran?" tanya Dewi dengan wajah penuh antusiasme.
"Ehm coba aku akan tanyakan dengan para pegawaiku disini, yah sementara disini aku akan mem bantu kamu mencari orang yang tepat dengan kriteria yang kamu minta, aku juga sekalian bakal ikutan terlbih dahulu supaya aku yakin dengan niatan kamu itu dan tidak putus di jalan, karena kalau kamu motivasinya gak kuat bukannya mengurus namun kamu malah bisa lebih melebar seperti jalan tol." kata David sambil menatap ponselnya kali kali ia akan mendapatkan inspirasi.
"Jangan sekate kate luh! Untung sohib, kalau gak udah aku bikin perkedel kamu." ancam Dewi dnegan mata nyalang.
"De, kenapa kamu ga jadi atlit sumo atau gulat aja sih..."
Belum selesai perkataan dari David, kini bukan hanya bantal yang melayang, sandal Dewi yang bau terasi, trus remote Ac dan bahkan TV mau dicongkel Dewi untuk dilemparkan ke sohibnya yang super duper ngeselin.
"Egh jangan jangann, itu tipi masih kredit ..." kata David sambil mengangkat tangannya tanda ia menyerah dengan ke barbaran Dewi.
"Mulut kamu itu ngeselin dari dulu, ya Vid!"
"Iya iya iya , aku tuh selalu salah, padahal aku tuh cuman kasi informasi."
Dewi hanya melipat tangannya di dada, serta melotot, membuat David benar bener harus diam dan tidak ngomong lagi.
"Aku ngantuk mau bobok..." katanya sambil menguap, lalu mengambil bantal dan tidur di kasur yang Dewi tempati.
"Eh loh kok kamu tidur disitu?"
"Ya tidur sinilah, lalu tidur dimana?"
"Ya dikamar lain lah, Vid!"
"Kamar lain ga ada!"
"Boong banget, rumah semewah ini da segede ini masa gak ada kamar lainnya?" tanya Dewi dengan menyelidik, karena ia tidak mau ditipu oleh David.
"Hoaammh, De... kamar lain itu sudah ada yang punya, hanya kamar inilah yang merupakan jatah aku, masa kamu tega pemilik kamar malah tidur di luar atau di sofa?" tanya David dengan kesal.
Dewi berpikir iya juga ya, lagian ia dan David itu sering tidur sekasur dan sekamar kok dimasa lalu, jadi sebnernya ya biasa aja, tapi kemarin mama pesan kala kalian itu udah gede jangan tidur sekamar apalagi sekasur, gak bagus dilihatnya, tapi kalau alasannya begini ya udah, ia milih tidur di sofa aja.
.
.
.
TBC
Hai readers, jangan lupa like, vote dan juga hadiahnya ya ... huhuhu udah upload banyak nihhh...