The Sweet Revenge

The Sweet Revenge
45.


Sementara itu di tempat lain, Azka lagi berusaha membuntuti Dewi yang check-in di hotel semi apartemen itu. Azka memantau ke kamar mana Dewi masuk dan mengintainya sampai Dewi menuju ke nomor kamar yang dipesannya.


Azka sengaja diam saja ketika Dewi dengan wajah pucat piasnya memesan sebuah kamar hotel dan mengikuti istrinya itu diam-diam.


Hati Azka turut tercabik melihat mata Dewi yang bengkak, Dan juga wajahnya yang cantik tampak merana.


Ingin rasanya seperti ini Azka memeluk tubuh istrinya untuk menenangkan istrinya itu bahwa dirinya tidak akan mungkin kembali kepada Pamela, namun untuk saat ini dirinya hanya diam saja karena tidak mau mengagetkan istrinya dan memilih untuk menyelesaikannya di dalam kamar hotel yang di sewa oleh Dewi.


Azka mengikuti langkah Dewi yang yang bergerak menuju kamar hotel 310 seperti yang didengarnya tadi. Mungkin karena Dewi malu dengan wajahnya yang sembab habis menangis, maka Dewi langsung berjalan tanpa menoleh ke arah kanan kirinya, sehingga memudahkan Azka untuk membuntuti istrinya itu.


Dewi memasuki ruangan kamar yang disewanya itu dan karena ia sedang sedih ia tak merasakan kalau dirinya dari tadi dibuntuti oleh suaminya yang saat ini berada di ujung koridor lorong kamarnya menanti istrinya masuk ke dalam kamar, baru nanti ia akan menyamar sebagai room service yang akan mendobrak masuk kamar istri nakalnya yang berani melarikan diri darinya.


Setelah Dewi masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya, Azka segera mendekati pintu kamar dari ruangan yang dipesan oleh istrinya kemudian mengetuknya dengan sopan serta mengatakan sesuatu yang akan membuat dirinya bisa mengelabui Dewi yang ada di dalam kamar.


"Room service.."


Dewi yang merasa tidak memesan apa-apa, segera mengintip di lubang biasa untuk melihat siapa yang datang. Namun ia tidak melihat siapa siapa, tapi ketukan di pintunya tidaklah berhenti membuatnya tahu bahwa tamu itu emang menuju ke kamarnya.


Dewi rencananya akan membuka pintu untuk membereskan kesalahpahaman yang terjadi antara room service dengan dirinya karena dia tidak merasa memesan apa-apa dari layanan kamar tersebut.


Kreek


"Mas, saya tidak.... arghhhh!" sebelum Dewi bisa menjelaskan apa-apa tiba-tiba saja orang yang dari luar itu membuka paksa pintu ruangan kamar yang ia sewa dan kemudian langsung menerobos masuk ke dalam kamar itu serta menguncinya dengan cepat.


"Kakak?" Dewi membulatkan matanya karena ternyata yang masuk adalah suaminya dan suaminya itu masuk dengan wajah yang mengeras tanda dirinya sedang memendam emosi mungkin karena dirinya tadi melarikan diri dari kejaran suaminya.


" Kenapa kamu melarikan diri? Hah?" gertak suaminya dengan nada keras karena Azka hanya ingin memberi pelajaran kepada istrinya supaya tidak lagi melarikan diri dan pergi dari dirinya sebelum permasalahan itu diselesaikan.


Sudah berulang kali Dewi melakukan hal yang sama, jadi rasanya kali ini Azka harus menegaskan sesuatu supaya istrinya itu tidak main melarikan diri saja apabila menghadapi sebuah permasalahan.


" Untuk apa? Karena kalian akan balikan kan?" sergah Dewi dengan nada kesal karena mengingat apa yang pernah dilakukan Pamela di masa yang lalu.


Dewi kesal karena Pamela selalu mengatakan hal-hal yang buruk terhadap orang lain dan selalu melakukan body shaming, untungnya saja yang kena bodiseming adalah dirinya, orang yang bisa memotivasi diri sendiri untuk bangkit dari Bulian orang-orang yang melakukan body shaming.


Karena ada orang yang tidak bisa bangkit dari bullyan orang-orang yang melakukan body shaming sehingga bunuh diri atau melakukan membalasnya dengan cara yang tidak benar seperti membunuh atau menyakiti orang lain.


"Astaga, Apakah belum jelas apa yang kakak bilang kemarin bahwa kakak tidak akan mungkin kembali sama Pamela karena Pamela itu adalah orang yang kejam, dia memilih untuk pergi dari kakak, untuk kenapa Kakak menerima dia kembali? Sedangkan ia saja tidak pernah peduli dengan kakak waktu itu. Bahkan ia memaksa kakak untuk meninggalkan kamu yang sudah jelas-jelas pingsan dan tidak ingin Kakak membawa kamu ke rumah sakit. Itu kan sama dengan kejam?"


Azka mengatakan kesemuanya itu dengan nada yang datar dan dingin karena dia ingin memberikan pelajaran kepada istrinya supaya tidak selalu mengambil kesimpulan terlebih dahulu, padahal Dewi sama sekali belum mendengar yang harus dia dengar terlebih dahulu sebelum mengambil kesimpulan.


Dewi hanya bisa menundukkan kepalanya ketika mendengar sanggahan dari suaminya, ia merasa bahwa suaminya ada benarnya karena dia sudah mengambil kesimpulan di awal ketika melihat pelukan suaminya itu merenggang gara-gara mendengar Pamela kembali ke sini, bahkan di dalam pemikirannya suaminya itu telah memilih untuk kembali sama Pamela hanya gara-gara itu.


Azka berusaha untuk membelai tubuh dan punggung istrinya supaya Dewi merasa lega, dan tidak lagi menangis.


"Maafkan aku kak!" kata Dewi sambil masih menangis membuat dada dan kemeja suaminya itu basah karena air matanya.


Dewi kembali merasa tak percaya diri, padahal Dewi kan sudah tahu bahwa Pamela itu datang karena panggilan dari Aldo yang notabene tahu persis tokoh antagonis di dalam hidupnya itu adalah orang yang paling tidak ingin dia temui sebelum dia berhasil membereskan masa lalu dan trauma yang ada di dalam dirinya.


"Ay, perlu berapa lama lagi untuk membuat kamu tahu kalau aku mencintai kamu sepenuh hati dan benar benar tak bisa lepas darimu?" tanya azka dengan sendu.


Ya, masa lalunya yang membuat Dewi menjauh dari dirinya, dan nama wanita masa lalunya lagi lagi membuat Dewi akan pergi. Sial!!


" Jangan pergi, bukankah itu yang aku pinta darimu?" kata Azka dengan nada tegas.


"Maaf!"


"Jangan diulang, Ay! Aku tak mau kita balik ke titik yang sama, bukankah kita mau melangkah ke masa depan? Kalau Pamela adalah masa laluku, maka kamulah masa depanku! Penting mana? Masa depan kan?" cecar Azka dengan nada keras.


Melihat Dewi yang mengangguk-anggukan kepalanya di dalam pelukan hangat seorang Azka, membuat Azka menarik bibirnya ke belakang dan tersenyum meskipun istrinya tidak melihat reaksi yang yang diberikan oleh Azka kepadanya.


" Mau malam pertama disini saja?" goda Azka dengan nada lirih, ia hanya menggoda istrinya namun reaksi yang diberikan oleh istrinya membuat dirinya malah termakan godaannya sendiri,


Karena istrinya hanya mengangguk-anggukan kepalanya dan tubuhnya terlihat pasrah untuk diapa-apain aja sama suaminya.


"Astaga, yang benar, Ay?" tanya Azka memastikan sambil menarik tubuh istrinya yang yang bersandar pada tubuhnya karena saat ini mereka masih berpelukan.


.


.


.


TBC


Nah loooo... gol gak ya..?


Jangan lupa untuk kasih like, vote dan juga hadiah ya, dan tak lupa untuk selalu kasih komen penyemangat hadirnya kisah Dewi dan Azka.


Happy reading!!