The Sweet Revenge

The Sweet Revenge
44.


"Aku punya ide!Kamu pulang naik ojol, ambil mobilku dan taruh di parkiran hotel, dan kamu bisa mengambil motormu kembali. Bayaran kamu akan kudobel hari ini. Jangan kamu kasih info apa apa sama temanku itu, bilang aja aku menurunkan kamu ditengah jalan dan kamu gak tahu aku kemana." kata Azka sambil menurunkan Anto dan segera memasuki hotel dan apartemen itu.


Walau bingung Anto segera mengikuti apa yang menjadi perintah dari bos besarnya itu. Ia sangat kagum dengan bos Azka yang walau kaya raya tapi ia tak pernah terlihat menonjolkan kekayaannya bahkan cenderung apa adanya.


Anto segera membuka ponselnya memesan ojol yang sebenarnya tak jauh dari tempatnya meninggalkan bos besarnya itu. Tak selang berapa lama ia pun mendapatkan notif kalau apa yang ia cari tak jauh dari situ.


Ia sudah menemukan ojolnya, karena pengemudi yang berjaket hijau itu sudah menghampirinya.


"Dengan pak Anto?Sesuai aplikasi?" tanya driver ojol motor itu seperti biasanya dan tampak lega ketika Anto menjawab dengan senyuman dan anggukan kepala.


Perjalanan yang dekat membuat driver itu sanggup mengantar Anto dalm waktu kurang dari 5 menit, lalu Anto masuk ke cafe setelah memberikan tips sama driver ojol tersebut.


Anto menatap sahabat bos besarnya yang masih menikmati kopi dan juga makanan berat yang memang juga di sediakan di sana.


"Mana bos kamu?" tanya Dewa dengan nada berat.


"Saya tidak tahu,pak!Soalnya saya hanya disuruh pulang naik ojol sedangkan motor saya dibawa sama bos Azka." sahutnya sesuai dengan apa yang dititahkan oleh bosnya tadi.


"Waduh gimana nih, Wa!Kamu sih kalau ngomong gak pernah di saring." kata Bella dengan nada cemas, ya iyalah cemas, kan nasib pernikahan sahabatnya diujung tanduk, melihat kereesahan Bela dan BYan, ia hanya bisa meringis dan menggaruk kepalanya yang sebenranya tidak gatal. Ia ceroboh!Ia bahkan tidak menjaga perasaan adiknya sendiri.


"Aku juga gak tahu kalau kejadiannya sampai seperti ini." kata Dewa dengan nada melas, beda dengan kearogansiannya tadi. Ia bisa digorok sama mama dan papanya juga orang tua Azka kalau begini padahal pernikahan mereka cuman tinggal 2 hari saja.


"Kalau sampai Dewi kemudian mogok dan gak mau nikahan gimana coba?" tanya Byan dengan nada kebingungan, padahal itulah yang saat ini dipikirkan oleh Dewa.


Pernikahan itu hanya selangkah lagi, walau sudah menandatangani surat dan sudah sah, tapi gak ada seorang pun yang tahu tentang itu, mana papa dan mamanya memang sangat menyayangi Dewi, bisa habis Dewa kali ini.


"Jangan nakutin aku ya..."


"Kamu kalau ngomong lain kali disaring dong!Kasihan si Azka juga nih, nyariin adek kamu. Coba kamu hubungi adek kamu gih!" kata Bella dengan nada cemas yang membayang, bagaimana nanti sulitnya Azka untuk membujuk dan mencari Dewi.


Tanpa banyak bicara Dewa langsung memenuhi apa yang menjadi perintah sahabatnya itu untuk segera menghubungi Dewi dengan ponselnya.


Namun seperti yang dapat diduga bahwa Dewi tidak akan mungkin mengangkat ponselnya apakan saat ini ponselnya dalam keadaan mati karena Dewa hanya mendapatkan pemberitahuan dari operator Bahwa saat ini telepon yang sedang ia tuju dalam keadaan tidak aktif.


"Gawat! Coba kamu hubungi ponselnya Azka."


"Aku ..."


"Sudah kamu singkirkan dulu rasa sungkan itu, kamu kan kakak iparnya..."


"Ya udah!" kata Dewa dengan nada kesal karena ia sekarang meraasa terpojok.


Dewa langsung menekan nomor ponsel Azka, namun seperti hal-nya Dewi, Azka pun mematikan ponselnya.


"Fix! Kita hanya bisa menunggu kabar dari mereka berdua karena ini adalah masalah intern rumah tangga, kita tidak bisa memasuki jauh lebih dalam, karena ini bukan ranah kita sama sekali, tapi kita juga tidak salah memberitahukan kedatngan Pamela supaya mereka berjaga jaga." kata Byan dengan bijaksana.


Ia sadar mereka harus berkata jujur tentang kedatangan Pamela supaya Azka dan juga Dewi bisa waspada. Tapi mereka tak bisa berbuat banyak juga karena apa yang mereka lakukan itu mesti dalam kontrol juga dan tak bisa terlalu mencampuri pernikahan Azka dan Dewi.


"Ya sudahlah kalau begitu kita habiskan dulu makanan yang kita pesan dan membayar, setelah itu kita berkeliling-keliling. Siapa tahu kita bisa menemukan mereka berdua di jalan, karena jujur saja perasaan aku sendiri juga merasa tidak enak." kata Byan.


"Oke, kita tanya sama pegawainya Azka tadi dimana ia terakhir ditinggalkan oleh Azka, kita bisa mencari disana." kata Dewa mengambil keputusan. Ia juga akan mencari Dewi sampai ketemu karena ia bertanggung jawab untuk menjelaskan kepada adiknya itu tentang kedatangan Pamela tanpa membuat Dewi menjadi emosi.


.


.


.


TBC


Jangan lupa untuk memberikan like , vote dan jug hadiah yaaa...


Spam komen dinantikan, karena selalu kubaca berjamaah... wk wk happy reading!