
Dewi tidak pernah tahu kalau kalau Azka tidak pernah bertunangan dengan Pamela karena Pamela melarikan diri dan memutuskan jalinan percintaannya dengan Azka karena cemburu sama Dewi.
Kedua orang tuanya juga tidak pernah menjelaskan kepada Dewi bahwa di pesta ulang tahun Azka, Pamela tidak datang karena sudah memutuskan jalinan kasihnya dengan Azka. Karena keesokan harinya ketika Dewi sudah boleh pulang, Dewi langsung merengek untuk berangkat ke Yogyakarta karena hari senin nya dia mengklaim bahwa dirinya harus bekerja, karena jurnal magangnya menanti untuk segera dikerjakan.
"Papa masih ga rela kamu berangkat ke sana loh, De! Gimana kalau Papa kangen sama kamu? Gimana kalau nanti kamu makannya sulit? Kamu makan belum bisa masak, jadi Papa takut kalau kamu lagi lagi pingsan, karena kurang asupan gizi." rengek papa Sena kepada Dewi. Sama sekali mereka tidak membahas masalah apakah namun lebih mementingkan bahwa sebentar lagi mereka akan berpisah dengan Dewi, anak perempuan satu-satunya yang sangat disayangi oleh papa Sena.
"Astaga papa, ini anaknya aja udah bulet kayak begini masih saja dikatakan kurang gizi, lah kalau Dewi itu kurang gizi lalu anak-anak yang ada di kamp pengungsian itu apa? Kurang kurang kurang kurang kurang gizi? Papa jangan bikin lelucon garing." kata Dewa dengan nada mengejek, Papanya ini terlalu berlebihan, anaknya sudah super gitu kok masih dikatain kurang gizi.
"Ya sudah papa izinkan kamu pergi dan menginap di rumah nenek David di Jogja tapi dengan satu syarat, setiap hari Kamu harus menghubungi papa setidaknya 3 kali sehari. Lalu kalau kamu makan maka sebelum makan kamu harus menghubungi papa...."
"Stop! Pa, kamu berlebihan!" sergah mama dengan nada kesal. Suaminya itu emang sangat over kalau menyangkut masalah Dewi, Untung saja papa Sena tidak mengetahui tentang kelakuan Azka kepada Dewi. Kalau tidak Keluarga Cemara akan terancam bubar gara-gara permasalahan Dewi dan Azka yang tidak berujung dan tidak berpangkal.
Itulah Kenapa Dewi mau menyelesaikannya sendiri tanpa turut campur dari kedua orang tuanya maupun keluarganya karena ini bisa berimbas sangat panjang terhadap kelangsungan Keluarga Cemara yang sudah dipupuk sejak mereka masih berusia belasan tahun.
Bahkan dengan bijaksananya Dewi juga tidak mengatakan kepada kedua sahabat oroknya itu supaya kisah ini tidak ada satu orang pun yang tahu. Biarlah dia menyembuhkan lukanya sendiri dan melupakan Azka dan impiannya untuk mengejar Azka.
" Tenang saja Pak nanti Dewi selalu akan Menelepon papa baik pagi siang maupun malam kalau bisa 1 jam sekali Dewi akan mengirimkan pesan untuk papa." sahut Dewi dengan nadakesal.
"Bagus! Papa suka itu..." Astaga tadi Dewi cuman bercanda ya ampun! Masa kayak begitu dianggap serius sama Papanya.
"Jadi kapan kamu berangkat?" tanya Mama dan kak Dewanya dengan serius. Ini hari minggu, masa ia habis keluar dari rumah sakit langsung mengepak barang-barangnya dan segera berangkat ke ke Yogyakarta, karena katanya hari Senin jurnal magangnya sudah masuk dan harus dikerjakan dengan segera.
"Malam ini, naik pesawat aja! Jadi senin jurnal makan itu sudah bisa langsung ditandatangani dan diakses sehingga Dewi cepat menyelesaikan kuliah Dewi yang hanya tinggal selangkah lagi." katanya dengan bersemangat.
"Baiklah kalau itu mau kamu, kak Dewa akan mencarikan tiket pesawat untuk malam hari ini sehingga kamu sesampainya di sana bisa beristirahat, sehingga hari Senin kamu bisa melakukan jurnal magang mu dan menyelesaikannya dengan cepat supaya kamu bisa segera mengambil alih beberapa kewenangan di perusahaan dan membantuku menyelesaikan beberapa masalah di perusahaan." kata Dewa dengan nada tegas, yang segera di Iya in sama Dewi.
Dewi senang karena ia secepatnya bisa bebas dari udara yang sama dengan Azka dan akan segera menyusun rencananya untuk membalas dendam dengan Azka.
***
Sementara itu di rumah keluarga Jayaprana, Azka hnya sibuk termenung dengan kenyataan bahwa sekarang dirinya jomblo dan gak ada yang mengganggunya. Dewi sudah resmi resign hari sabtu kemarin , pas dia berulang tahun.
Tentunya bukan Dewi yang datang untuk menyerahkan surat Resign, surat itu hanya dititipkan kepada Dewa.
Azka semakin bingung karena saat ia ke rumah sakit rupanya Dewi sudah pulang ke rumah, dan herannya ia tidak mengabari dirinya. Padahal biasanya Dewi paling heboh dengan Azka.
Azka hanya ingin berterimakasih atas hadiah yang ia terima, karena jujur saja ini adalah hadiah terbaik kedua setelah ayahnya yang memberikan rumah mewah di lingkungan keluarga Cemara, karena pada awalnya Azka sudah meminta ijin kepada orang tuanya untuk melamar Pamela menjadi tunangannya, yang akhirnya malah gagal karena insiden Dewi pingsan itu.
Tok tok tok
"Kak, dipanggil mama untuk makan malam." panggil adiknya dengan nada keras saat ini,
"Sebentar..."
Azka lalu membuka pintu dan melihat kalau adiknya hendak pergi dari situ menuju ke bawah, lalu spontan Azka menarik tubuh adeknya lalu mengajaknya bertukar pikiran. Ia tahu kalau adiknya punya hubungan yang sangat baik dengan Dewi.
"Kamu tahu kabar terakhir tentang Dewi?" tanya Azka dengan nada menyelidik.
"Tahulah!" katanya sambil mengangguk anggukan kepalanya dengan bersemangat.
"Oh ya? Apa kabarnya?" tanya Azka dengan mata berbinar.
"Dewi melanjutkan jurnal magangnya di Jogja dan ia berangkat malam ini." kata Nolla menjelaskan dengan ekspresi datar dan biasa-biasa saja.
Tapi perkataan dari adiknya itu membuat Azka terkejut karena mungkin hanya dirinya seorang yang tidak tahu-menahu tentang kepergian diri malam hari itu.
"Apa? Yang bener?" tanya Aska yang Rupanya masih tidak percaya bahwa Dewi sudah berangkat ke Jogjakarta tanpa memberitahu kepada dirinya, yang anehnya lagi Keluarga Cemara pun tidak mempersiapkan farewell party untuk melepaskan Dewi ke Jogjakarta. Bukankah biasanya Keluarga Cemara itu paling top markotop untuk masalah party party begituan?
"Kok kakak tidak dikasih tahu?" tanya Azka dengan heran.
"Emangnya kakak ingin tahu? Selama ini yang ada di dalam pikiran Kakak bukannya Pamela? Jadi nggak ada pentingnya juga untuk memberitahukan Kakak tentang permasalahan Dewi kan? " tanya Nolla sambil memutar bola matanya dengan kesal karena perkataan dari kakaknya itu menurutnya sangat aneh, pada saat Dewi ada disini dan mengejar-ngejar dirinya tidak pernah sedikitpun kakaknya ini memperhatikan dan menganggap bahwa Dewi ada.
Eh Sekarang orangnya sudah berangkat ke Jogjakarta dan tidak memberitahu dirinya kok malah sewot?
.
.
.
TBC
Maaf ya readers, kemarin agak ada masalah dalam pengupload an... jadi hari ini akan diganti oleh thor. Doakan authornya kuat double up. Jangan lupa kasih like, hadiah dan vote ya. Mau crazy up apa double up? Happy Reading. Salam dari author kece badai.