
Dewi sudah mantap untuk melarikan diri ke Jogjakarta dimana dia akan berada jauh dari Pujaan hatinya.
Dewi sudah memikirkannya masak-masak bahwa dia akan tetap pergi walau tanpa izin dari kedua orang tuanya, padahal sebenarnya orang tuanya sangat berat melihat anaknya jauh disana karena biasanya Dewi itu sangat manja dengan papa Sena.
Lha ini anehnya, ia bahkan tidak membutuhkan ijin dari papa Sena untuk pergi jauh dan memasukan jurnal magangnya di Jogyakarta.
Tentunya ini adalah akal-akalan Dewi untuk berada jauh di luar jangkauan Azka, selama ini Azka dan dirinya berada di dalam lingkaran yang sama yaitu keturunan dari member Keluarga Cemara bahkan kedua sahabat oroknya pun dekat dengan keluarganya karena mereka adalah keturunan dari member Keluarga Cemara juga.
Hari sabtu sore itu, Dewi lewaati dengan menangis di ruangan rawat inap rumah sakit, karena baik Dewa dan kedua orang tuanya berada di rumah Azka karena mereka tidak enak, undangan perayaan ulang tahun Azka itu sudah mereka dapatkan sejak sebulan yang lalu, jadi tidak mungkin mereka mengingkari tidak hadir di rumah Azka, apalagi Dewi sebenarnya baik baik saja.
Dewi yang juga ingin sendiri, mengijinkan kedua orang tuanya juga kakak kandungnya untuk tidak usah menemaninya sore itu.
"Kenapa menangis? Apa masih ada yang sakit?" tanya seorang dokter muda yang tampaknya baru lulus sekolah kedokteran karena wajahnya yang masih imut imut, beserta seorang perawat yang tampak sudah sangat senior masuk ke dalam ruangan rawat inap milik Dewi karena ingin memeriksa kondisinya.
" AAh enggak sih, dok! Saya sudah baikan, cuman kesepian." kata Dewi dengan nada seakan baik baik saja.
"Oh gak ada yang nungguin? Gak punya pacar gitu? Ini kan malam minggu, bukan begitu dok?" tanya suuster perawat yag sudah senior itu, sambil mengerling jenaka pada Dewi dan juga dokter muda yang ampak tersenyum sambil konsen memeriksa denyut jantung dan juga nadi milik Dewi.
Dewi juga ga ngerti apa yang dilakukan oleh dokter muda itu, yah ketampanannya hampir 11 12 sama Azka deh, tapi gatengan Azka beberapa digit.
"Siapa yang mau sama wanita gendut kaya buntelan lemak kayak saya ini?" tanya Dewi mengeluh dan meringis lemah, seakan hopeless dengan apa yang dia alami saat ini.
"Loh, kamu itu cantik kok!" bela suster itu sambil menatap wajah pasien dihadapannya itu dengan wajah senyum sendu.
Dokter itu hanya bisa menghela nafasnya dengan nada datar kemudian menyuruh suster yang ada di sampingnya keluar dulu karena ia tampaknya ingin berbicara 4 mata dengan pasien yang ada di hadapannya itu, dan setelah suster itu keluar ia menghela nafasnya terlebih dahulu sebelum ia berbicara sama Dewi.
"Kamu gak usah rendah diri semacam itu, harusnya kamu bisa melawan perkataan-perkataan negatif itu, ingat kalau perkataan kita itu adalah doa, kalau kamu mau kurus atau bertubuh seksi Pastinya kamu harus berusaha untuk berolahraga dan menjaga pola makan kamu supaya tidak berlebihan sehingga Berat badanmu juga akan stabil di angka minimal. " nasihat dokter itu dengan nada menghakimi.
"Dok, kamu gak tahu apa yang saya alami, jadi jangan menghakimi saya seperti itu." kata Dewi sambil menangis lagi, membuat dokter itu sedikit resah karena secara tidak langsung dirinyalah yang meng akibatkan Dewi sampai menangis seperti itu.
" Saya sudah pernah mengalami maka saya bisa ngomong sama kamu seperti ini. kalau kamu kalah lah, yang akan bertepuk tangan atas kekalahan mu itu banyak!" kata dokter itu dengan suara lirih.
Dewi membulatkan matanya tanda dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh dokter muda itu, wajahnya yang tampan dan tubuhnya yang atletis membuat dirinya saja tadi tergoda dengan penampilan dari dokter muda itu, Siapa yang pernah menyangka bahwa kapal seperti itu pernah dalam kondisi seperti yang Dewi alami.
Dewi hampir tidak percaya ketika melihat foto yang tergambar disana sangatlah berbeda dengan penampilan sang dokter yang sekarang. Tapi sisa-sisa bentuk wajah dan juga rambut dari sang dokter tidak bisa dicuri. Memang itulah gambaran sang Dokter ketika di masa lalu.
"Benarkah itu?" tanya Dewi dengan raut tak percaya, melihat sang dokter menganggukkan kepala, mata Dewi berbinar ceria.
"Bagaimana caranya?"
" Tentunya dengan olah raga rutin, menjaga pola makan dan pola hidup supaya tetap disiplin. Mengurangi makanan dan minuman yang mengandung gula dan memperbanyak pembuangan kalori." kata dokter itu lagi.
" Tidak mudah! Semua proses itu tidak mudah! Tapi bersemangatlah! Tunjukan pada semua orang kalau kamu pasti bisa!" kata dokter itu lagi serta kemudian meninggalkan Dewi dalam kondisi merenung dan terdiam. Apa yang dikatakan oleh dokter itu sangatlah benar dan wajib untuk diperjuangkan. Ia pasti bisa dan semua proses menyakitkan itu harus ia lewati.
"Aku pasti bisa.." katanya sambil mensugesti dirinya dan menguatkan tubuhnya kalau ia pasti mampu.
"Aku akan membalas kamu Pamela! Aku juga akan membuat kak Azka mengemis cintaku. Dengan begitu ku akan bisa membalaskan dendamku! Dengan cara menerima cintanya lalu aku akan mencampakkannya setelah dia bersamaku." katanya dengan suara lirih.
" Hari ini adalah terakhirku menumpahkan Air Mata Untuk menangisi orang-orang yang tidak layak untuk aku tangisi, Dan aku berjanji sehabis ini aku akan melupakan semuanya dan move on dari yang namanya Langit Azka Jayaprana."lanjutnya dengan hati nelangsa.
Hanya satu hal yang paling tidak membuatnya bahagia. Papa Sena dan mamanya setuju dirnya berangkat ke Jogya dengn satu prasyarat, yaitu ia benar benar sudah sembuh dari penyakitnya dan ia benar benar sudah sehat sehingga di jogya nanti Dewi tidak akan membebani keluarga nenek David yang secara kebetulan memperbolehkan Dewi untuk menginap disana.
David sudah meminta ijin kepada neneknya kalau Dewi akan menginap disana, toh rumah itu sudah lama tak berpenghuni sejak neneknya pindah ke rumah pamannya yang ada di Sentul Bogor. Katanya sih biar dekat dengan anak anaknya.
Dewi sudah tidak bisa menahan rasa. Tinggal di bawah udara dan langit yang sama akan terasa menyakitkan, apalagi Azka memutuskan akan bertunangan dengan Pamela membuatnya sangat sakit.
Keputusan untuk pindah ke Jogja adalah sebuah keputusan yang tepat bagi Dewi agar ia bisa memungut puing puing hatinya yang berceceran akibat kesalah pahaman itu.
.
.
.
TBC