The Sweet Revenge

The Sweet Revenge
50.


"Bangunlah sayang! Aku menantikan kamu.." azka hanya bisa mengecup tangan Dewi yang dingin dan juga lemas lunglai, berharap supaya keajaiban terjadi malam ini...


Semalaman ini Azka berdoa untuk sebuah keajaiban yang indah buat dirinya dan juga istrinya, yang belum sah karena belum di apa apain sama sekali.


Hingga pas dini hari ini, tiba tiba ada sesuatu yang mengejutkan Azka yang saat itu ada di dalam ruang kamar hotel yang dipakai untuk kamar pengantin berubah menjadi ruangan untuk perawatan luka luka Dewi itu.


"Byy... sakit!" erang Dewi dengan nada manja, membuat Azka yang masih terjaga karena ingin menjadi orang pertama yang didirikan oleh Dewi saat Dewi sadar dari pingsannya.


"Sayang, kamu sudah sadar?" tanya Azka dengan nada gugup dan ketakutan. Ia takut kalau istrinya itu kenapa kenapa, by the way Azka sendirian di dalam kamar hotel itu, karena menurut dr Rogers, dewi sudha tak apa apa, hanya perlu mengganti perban saja dan meunggu lukanya sampai kering. Air dan obat pereda nyeri yang diresepkan oleh dr Rogers tadilah yang menjadi andalan dri Azka sekarang.


Ia bahkan sudah menyerahkan semua masalah Pamela Aldo sama Dewa cs, serta David cs.


"Sakit, by!" katanya dengan manja.


Azka langsung membantu istrinya untuk meminum obat pereda nyeri yang dirasakan oleh dokter tadi serta meminumkan air putih karena memang sesuai dengan permintaan dari dokter kalau istrinya sadar harus segera diberikan air minum Oleh karena itu Aska langsung membantu istrinya untuk meminum obat dan juga air putih supaya istrinya tidak akan merasakan kesakitannya terlebih lagi.


"By, maaf.."


"Kenapa minta maaf?"


"He he he acara nikahannya jadi amburadul gara gara aku ketusuk pisau kayak gini. Auch!"


"Yang mana yang sakit? Kita ke rumah sakit saja lah, Ay! Aku gak tega lihat kondisi kamu seperti ini." katanya dengan nada cemas, dan segera mengambil kunci dan juga ponselnya serta seegra menghubungi keluarganya yang masih mengurus masalah Pamela, karena Azka memang berbagi tugas dengan keluarganya.


"Ma, aku akan mengantar Dewi ke rumah sakit saja, aku takut kalau ia kenapa kenapa..."


""Emang ia sudah sadar," Mama Angel yang kebingungan langsung membombardir dengan cepat saat menantunya sadar.


"Sudah, tapi ia mengeluh sakit, apa gimana ya ma?" Tangan Azka digenggam oleh Dewi dan saat ia menengok ke arah Dewi, Dewi hanya menggelengkan kepalanya tanda ia tak mau diajak ke rumah sakit.


"Aku sudah gak apa apa, By!" katanya tak mau dibawa ke rumah sakit.


"Ay, katanya sakit?"


"Udah gak apa apa nih! "suaranya yang lirih membuat Azka gak tega.


"Kaaaaa, gimana Dewi?" tanya mama Angel, Azka lupa kalau ponselnya masih tersambung sama mamanya.


"Kalian kesini lah, bantu Azka memutuskan. Gimana mereka?" tanya Azka menannyakan tentang pelaku penusukan.


" Sudah, mereka tertangkap! Papa dan juga Dewa sudah mengurus segalanya, mereka takkan bisa lepas dari jeratan hukum. Aldo sebenarnya tidak tahu menahu, jadi mungkin ia akan dihukum ringan sedang Pamela memang sebagai pelaku dan dalang di balik semuanya itu jdi yah, kemungkinan bakl di hukum berat!" kata mama Angel dengan nada berat, ia enggan menguak luka lama, ia sangat kasihan dengan Dewi.


" By, jangan simpan dendam..."


"Lalu kamu pingin aku melepaskan mereka ? Mereka sudah melukai kamu, Ay?"


Dewi hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar karena ia sudah pernah ada di dalam posisi Azka, karena dendamnyalah hal ini terjadi.


Kedua orang itu, baik Aldo atau pun Pamela salah paham sama seperti dirinya setahun yang lalu, bedanya ia melampiaskan dengan hal yang positif, kalau mereka berdua melampiaskan dengan sesuatu yang salah.


"By, mereka sama kayak aku yang dendam dan keinginan membalas dendam itulah yang membawaku seperti ini. Apa yang aku tabur, maka aku jugalah yang menuai hal itu berkali lipat. Maksudkan sama apa yang aku katakan?"


Azka terdiam dan menundukan kepalanya, ia mulai mnegerti apa yang dikatakan oleh Dewi.


Kalau ia kembali menabur kebencian, maka bukannya akan berhenti lingkaran dendam dan balas dendam akan semakin melebar.


"Aku mengerti, Ay! Tapi susah untuk melepaskan rasa marah itu selain melampiaskannya kepada mereka." ujarnya dengan nada lirih.


"Lepaskan, By! Aku juga akan berusaha melepaskan.."


"Aku akan berusaha, Ay! Ini demi cintaku padamu.."


Dewi hanya bisa memutar bola matanya dengan kesal karena perkataan Azka yang terakhir itu, tapi ia yakin kalau suaminya akan melepaskan mereka karena ia tahu kalau suaminya memiliki hati yang seluas samudra.


"Nanti kita healing ya, Ay... sekalian bulan madu, makanya cepet sembuh, masa sudah sah, sudah pesta masa belum bisa malam pertama?" rajuk Azka kesal.


"Haha haha dasar suami mesum, nanti kamu boleh dobel deh..."


"Gak bisa kalau seperti ini kayaknya harus triple deh!"


"Ishhh dasar mesum..."


Mereka berdua memahami kalau dendam akan membuat mreka berjalan di sebuah lingkaran setan yang akan membuat mereka semakin dalam terlibas olehnya. Bagi Dewi dan Azka ini memang balas dendamnya yang termanis, tapi tak banyak yang bisa menyelesaikan dendam semanis mereka. Semoga hidup mereka akan happy ever after.


END


Tenang jangan anarkis readers, he he he, besok akan ada extra part ya..


See you in another story muachhh!!