Sungguh Mencintainya

Sungguh Mencintainya
Chapter 95


Di dalam kamar ibu, terlihat ibu dalam posisi mengapung. Semua yang masuk ke dalam kamar terlihat tercengang terkecuali Yashbi.


"ada apa? kenapa reaksi kalian seperti itu?" tanya santai Yashbi melangkahkan kaki mendekati ibu dengan posisi mengapung seolah-olah sekarat mata melotot keatas hanya menyisakan yang putihnya saja.


Ashana melihat kondisi seperti itu hingga dia bersembunyi dibalik lemari yang berada disekitar ruangan kamar. Dengan tubuh gemetar.


"ibu..." lirih Ashana dengan mata berkaca-kaca.


Sandi segera mendekati Ashana berusaha untuk menenangkannya.


"Anzel..." bentak Yashbi.


Anzel segera mendekat menyerahkan sebuah benda. Benda yang berbentuk poc*ng seukuran telapak tangan Yashbi dan diletakkan diatas kasur sejajar dengan posisi ibu yang mengapung.


"apa anda yakin?" lirih Yashbi.


Yashbi menghela nafas.


"ini tugas dan pekerjaanku. Mau tidak mau aku harus melakukannya." ucap Yashbi yang terlihat lesu.


"apa tidak sebaiknya anda menjelaskannya terlebih dahulu padanya?" tanya Anzel seraya mereka (Anzel dan Yashbi) menoleh kearah Ashana secara bersamaan.


Yashbi susah payah menelan salivanya.


Anzel tahu betul jika soal menjelaskan sesuatu Yashbi terbilang payah dan bisa saja berakhir salah paham.


Yashbi menatap kearah Anzel seolah minta tolong tapi lidahnya kelu untuk mengatakan hal seperti itu.


Anzel bicara dalam hati mengumpat tuannya sekaligus sahabat serasa sodara baginya.


Dengan wajah tersenyum yang dipaksakan Anzel, mendekati Ashana dibalik lemari.


"maaf, tuan Sandi. Saya ingin bicara dengan nona Ashana jika berkenan mundurkan posisi anda agar sedikit menjauh dari kami" ucap Anzel dengan nada ketus.


"eng... itu..." ucap Anzel menggaruk pelipisnya yang sama sekali tidak terasa gatal.


"apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Ashana penuh selidik.


Ashana merasa heran dengan sikap Anzel.


"katakan" ucap Ashana dengan tatapan menggemaskan.


"baiklah. Kau dengar baik-baik. Apa kau tahu pekerjaan lain tuan Yashbi selain menjadi pebisnis?" tanya Anzel.


"aku belum tahu betul pekerjaan dia apa selain pergi ke kantor. Tapi, aku tahu pekerjaan dia selain itu hanya saja, aku tidak tahu harus menyebutnya apa."


"membantu dan menolong orang yang terkena suatu penyakit tapi tidak bisa disembuhkan dengan medis manapun."


"itu sama halnya dengan kau lakukan dulu, Ashana" ucap Anzel lembut.


Ashana mengerutkan dahinya.


"aku akan sedikit cerita padamu. Dulu ada seorang anak perempuan periang dan manis sekali. Dia tidak akan diam begitu saja saat mengetahui orang yang diketahui sedang dalam kondisi sakit. Dia akan memegang dengan kedua tangannya bagian yang sakit pada orang itu dan ajaibnya penyakit itu hilang seolah tertiup angin. Terbang ke atas langit" ucap jelas Anzel membuat Ashana terdiam.


"apa kau membicarakan tentangku?" tanya Ashana menatap Anzel dengan tatapan dalam.


"ya... itu dirimu saat masih berumur delapan tahun" ucap Anzel dengan mengumbar senyum tipis.


"apa kau salah satu orang yang kusembuhkan itu?" tanya kembali Ashana. Ashana tidak mengingat Anzel karena mengalami syok berat saat Anzel meninggalkan dirinya pada saat itu seorang diri.


"ah.. iya aku salah satu dari mereka" ucap berat Anzel. Anzel mengira jika Ashana telah mengingat dirinya.


"Anzel..." bentak Yashbi yang menunggu sedari tadi. Perihal Anzel menjelaskan pada Ashana tentang ibunya.


Anzel terperanjat begitu juga Ashana. Suara bariton Yashbi menggema diruangan kamar.


"perihal ibumu. Ibumu mengalami Anima Antrappolata dengan kata lain jiwa yang terjebak sama halnya dengan ayah mu dulu. Hanya saja kasus ibumu sedikit berbeda. Dia akan langsung pergi ke tempat tujuannya ketika tuan Yashbi membebaskannya dari jebakan itu. Kau mungkin pernah melihat makhluk yang sebelumnya tidak pernah kau lihat sama sekali."


" ya... itu adalah makhluk yang berhasil tuan Yashbi bebaskan dari manusia yang terjebak didalamnya. Tapi untuk hidup dan mati itu semua tergantung tergantung keberuntungan kehidupan yang manusia itu bawa sejak turunnya kedunia ini. " ucap panjang lebar Anzel dengan kalimat yang dikeluarkan dari mulutnya berusaha sehati-hati mungkin agar Ashana tidak terguncang.


" jadi... tuan Yashbi... "


" lakukanlah. Ini sudah termasuk pekerjaanmu jadi seharusnya kau segera menyelesaikannya" ucap Ashana menatap Yashbi sendu.


Deugh


Yashbi hanya mengangguk pelan.


"Anzel..." panggil Yashbi.


Anzel segera mendekati Yashbi. Memberikan kemenyan hitam.


Kemenyan itu Yashbi gunakan untuk dimasukkan kedalaman mulut ibu Ashana. Yashbi menaiki ranjang tidak lupa membuka sepatunya terlebih dulu.


Menutup mulut ibu dengan satu tangan Yashbi tapi tubuh ibu bergetar hebat hingga Yashbi menggunakan dua tangannya untuk menutup mulut ibu.


Seluruh tubuh Yashbi mengeluarkan keringat. Terlihat wajah yang dibanjiri keringat.


"akan terdengar dentuman yang cukup keras jadi sebaiknya kalian menutup telinga kalian" ucap Anzel.


Ashana tidak begitu mendengarnya dia terlalu pokus dengan apa yang dilakukan oleh Yashbi.


Beberapa saat kemudian, terdengar dentuman hingga tanah bergetar.


Tubuh ibu perlahan ditarik oleh poc*ng yang diletakkan Yashbi tadi diatas kasur dan ibu terbalut kain putih layaknya orang meninggal.


Yashbi turun dari ranjang dengan nafas terengah-engah dan pijakan kaki gemetar.


Jika saja dentuman tadi tidak berhasil Yashbi tahan maka akan terjadi ledakkan skala besar.


Saat tubuh Yashbi akan ambruk Ashana dan Anzel dengan sigap menangkap tubuh Yashbi.


"tuan...."


Pandangan Yashbi dan Ashana bertemu. Yashbi tersenyum hangat dari sebelumnya dengan mata lelahnya.


"kita bawa ke kamar yang sudah kubersihkan" titah Anzel yang khawatir dengan keadaan tuannya, Yashbi.


Mereka memapah Yashbi ke kamar yang telah dibersihkan Anzel sebelumnya.


"tuan, sebaiknya kita segera pulang" ucap Jaka terbata.


"tidak, sebelum aku bicara dengan Yashbi. Apa kau tidak melihat barusan jika..." ucapan Sandi terhenti saat melihat tubuh ibu bergerak berontak agar bisa terlepas dari kain yang membalut tubuhnya.


"tuan... sepertinya..." ucap Jaka yang bersembunyi dibalik punggung Sandi.


"kenapa kau bersembunyi? kau menjadikanku tameng? hah" ucap kesal Sandi yang sebenarnya dirinya juga takut. Apalagi Sandi paling tidak bisa nonton film horor. Ya, dia memang penakut.


Sandi yang terlihat cool dan gagah sangat takut dengan hantu. Dulu saat masih kecil dia bermain dengan Ashana didalam gudang. Ashana sengaja meninggalkan Sandi didalam gudang itu seorang diri dengan alasan ingin pergi ke kamar kecil padahal Ashana ingin menjahili Sandi. Ashana membuat rambut tebal dari rumput yang berukuran panjang, mengolesi seluruh bagian wajah hingga leher dengan tepung yang ada didapur, membuat lingkaran tebal hitam dikedua dengan spidol dan memakai topeng bibir merah.


Dari arah belakang dia mendatangi Sandi yang sedang menunggunya kebetulan hari sudah sore matahari mulai tenggelam. Benar saja ketakutan menjerit sangat kencang hingga kencing dicelana menangis dan lari terbirit dan parahnya jatuh ke dalam parit. Satu persatu bebek menginjak tubuh kecilnya karena belum sempat terbangun. Ashana melihat hal itu hanya tertawa terpingkal-pingkal.


Sebelumnya, Yashbi akan mengobati seseorang sama halnya dengan ibu Ashana. Dia dengan santai menjelaskan pada keluarga yang bersangkutan namun, berakhir salah paham karena Yashbi menjelaskan dengan kalimat yang membuat mereka salah paham dan Yashbi berakhir dikantor polisi. Karena pihak keluarga dari seorang yang akan diobati itu melaporkannya dengan tuduhan pembunuhan.


Yashbi memerintahkan Anzel untuk mengurusnya hingga tuntas. Anzel menghapus semua jejak mulai datangnya hingga pulangnya Yashbi dari rumah yang akan diobati tersebut. Karena hal tak kasat mata polisi tidak bisa menahan Yashbi dan juga pengaruh Yashbi dengan atasan polisi dikota sangat berpengaruh.


Karena kejadian itu, beberapa orang polisi yang menyentuhnya tubuh Yashbi tanpa ijin telah diberikan hukuman dengan memecatnya. Ya, Yashbi tidak menyukai orang lain menyentuhnya sembarangan.