
Kemudian Anzel menatap tangan Yashbi dan Ashana yang saling berpegangan. Anzel tersenyum tipis.
"kenapa reaksimu seperti itu?" tanya Yashbi heran dan menatap intens Anzel yang tidak memakai baju.
"penampilanmu seperti pertama kali aku menemukanmu saat itu" Yashbi melangkah mendekati Silfa.
"apa yang terjadi? kau hutang penjelasan padaku"
"bukankah seharusnya anda bisa melihatnya dicermin itu"
"mungkin karena belum sempurna cermin itu jadi tidak berguna"
Anzel teringat jika barang yang sudah tidak berguna Yashbi akan menghancurkannya tanpa sisa.
"a... apa kau menghancurkannya?" tanya terbata Anzel.
"berisik. Aku harus segera melakukan sesuatu padanya (Silfa)"
Anuya angkat bicara.
"tolong selamatkan dia" ucap Anuya menatap Yashbi.
Yashbi hanya membalas dengan tatapan.
Yashbi mengeluarkan semacam kapur hitam dari saku celananya.
"Ashana..." panggil Yashbi yang terdengar lembut.
Anzel sedikit kaget dengan cara Yashbi memanggil Ashana.
"apa dia sudah tahu jika..."
"kalian tolonglah balikkan badan kalian" titah Ashana.
Tanpa banyak kata Anzel dan Anuya membalikkan badannya.
Ashana akan membuka baju Silfa tapi sedikit kesulitan tanpa aba-aba Yashbi merobek bagian atas baginya tepat dipundaknya.
Sreek
"apa yang kau lakukan? bajunya kan..." protes Ashana.
"sudahlah. Aku cepat menyelesaikannya"
Perasaan Yashbi tidak karuan sedari tadi ada sepasang mata tertuju padanya.
Di pundak Silfa Yashbi menuliskan semacam mantra menggunakan kapur hitam tadi dan sisa kapur hitamnya dia remukkan menggunakan kedua tangannya dan menaburkannya tepat diatas kepala Silfa. Seketika asap hitam keluar dari tubuhnya dan benda disekitar yang terkena asap hitam akan lenyap tanpa sisa salah satunya burung yang terbang yang tidak jauh dari posisi mereka, dedaunan, ranting, rumput, semut dan serangga bahkan tanah pun seolah terkikis.
"ini akibat kekuatan yang bersemayam terlalu lama dan kekuatan yang dia gunakan untuk memenuhi ambisinya" ucap Anzel.
"siapa pemilik dari kekuatan ini?"
"Floir..."
Yashbi tersenyum simpul.
"pantas saja. Lalu dimana dia sekarang?"
"dia... dia sudah mati"
"aku terkejut sekali mendengarnya. Siapa yang sudah melakukannya?"
"....." Anzel
"siapa yang sudah melenyapkanya?"
"itu...."
"An..." ucap Anuya terhenti kala melihat Anzel memberi isyarat untuk tidak memberitahunya.
"saya kurang tahu karena tidak mengenalnya"
"euuumphh... sepertinya terjadi pertarungan sengit di tempat ini. Apa tebakanku benar?" ucap Yashbi menatap Anzel.
Silfa mulai tersadar. Melihat sekeliling tapi masih buram.
"mereka...."
Silfa memegang tangannya.
"aku... aku hidup"
"tentu saja. Kau masih hidup" ucap Ashana.
Silfa menoleh kearah suara itu dan tersenyum tipis.
"Yashbi apa kau yang menolongku?"
Yashbi hanya menoleh memberitahukan jika memeng dirinya yang menolongnya.
"ini... kenapa... baju ku..." ucap Silfa khawatir. Dan melihat telapak tangan yang hitam yang berasal dari kapur hitam tadi.
Silfa menatap kearah Yashbi dengan tatapan kesal.
"Anzel..." ucap datar Yashbi.
Anzel diam mematung.
Anuya menatap Silfa dengan tatapan senang.
"Anzel, siapa kau sebenarnya?"
Deugh
Anzel dan Yashbi saling beradu pandangan.
Yashbi mengetahui pertarungan Anzel dan Floir karena daerah pertarungan (tanah milik Yashbi) mereka tersambung ke kamera cctv yang berada di rumah Yashbi. Bisa terekam karena itu pertarungan antar manusia bukan makhluk lain. Lalu, makhluk yang dikendalikan Floir tidak terekam tapi Yashbi tahu jika Anzel bukan hanya melawan Floir saja.
"apa kau lupa. Tempat yang kau gunakan untuk melawan pak tua itu milik siapa? hah"
"barang, benda yang kumiliki tentu saja akan selalu dalam jangkauan penglihatanku"
"sejak awal menemukanmu aku dan ibuku mencari tahu siapa kau ini sebenarnya. Tapi, bukannya kami menemukan kebenaran malah tanda tanya itu semakin besar didalam sini (menunjuk keotak)"
Yashbi tersenyum simpul. Teringat sesuatu.
"lalu, naga itu... kau bisa melihatnya langsung sedangkan aku harus mengorbankan sebagian darahku untuk dapat melihatnya"
"dan aku sadari naga itu menatapmu dengan tatapan penuh ketakutan"
"katakan siapa kau sebenarnya? hah"
Anzel menatap Yashbi yang sedari terus saj bicara tentangnya.
"satu hal lagi. Kota tempatmu tinggal yaitu kota sebelah. Menghilang dalam sekejap mata bersamaan dengan jatuhnya bintang yang dinamakan Canis Major dan bangkai bintang itu tidak ditemukan meskipun kekuatan bintang itu beralih ke wadah lain tapi bangkai itu seharusnya masih bisa ditemukan"
Yashbi memperlihatkan beberapa poto dimana Anzel selalu ada dalam setiap kejadian. Dan Tertera tanggal, tahun beserta jam disetiap poto.
Poto dimana Anzel berada dalam kamar ibu Yashbi tepat ibu Yashbi menghilang
Poto dimana Anzel berdiri seorang ditengah hancurnya lenyapnya kota sebelah
Poto dimana Anzel menenangkan Morina saat Morina hiteris. Anzel berdiri dihadapan Morina yang terduduk dilantai
Poto dimana Anzel berdiri tidak jauh dari ayah Yashbi yang meregang nyawa akibat ulah Robin beserta istrinya. Robin dan istrinya saling berhadapan dengan Anzel
"Robin beserta istrinya dipoto ini menjelaskan melihatmu tapi mereka tidak pernah membicarakan tentang dirimu, Anzel"
Kenapa Yashbi bisa mengetahuinya?. Karena ada seekor makhluk yang sedari dulu menjadi kamera cctv berjalan Yashbi. Sedari sebelum Yashbi terlahir lebih tepatnya makhluk itu sudah ada pada jaman nenek moyang Yashbi dan makhluk itu tidak bisa dibunuh dan mati kecuali keturunan Dzon sudah tidak ada. Makhluk yang berbentuk sangat kecil lebih kecil dari nyamuk. Dan hanya Yashbi yang mengetahuinya.
"baiklah, baiklah aku akan memberitahumu siapa aku sebenarnya tapi persiapkan mentalmu. Mungkin setelah mengetahuinya kau tidak akan ingin bertemu denganku"
Anzel berubah wujud secara perlahan. Kemudian mereka sontak kaget melihat wujud Anzel sebenarnya.
"apa kau ingat denganku?" tanya Anzel sinis.
"tentu saja kau melupakanku. Setelah memiliki kemampuan itu dengan sempurna kau melupakan keberadaanku. Hah"
"apa kau tahu aku selalu menunggumu. Menunggu kau memuja dan memohon padaku itu adalah terindah untukku. Melihat kesungguhanmu tanpa ragu aku mewujudkannya"
"tapi... tapi apa yang kau lakukan padaku? hah"
"kau menginginkan kekuasaan, kekayaan dan kekuatan aku mewujudkannya. Ahhh... bukan hanya kau saja tapi manusia lainnya yang memuja dan memohon padaku dengan bersungguh-sungguh meminta hal sama padaku"
"tanpa imbalan apapun aku mewujudkannya. Hanya saja setelah keinginan kalian terpenuhi dengan sangat mudahnya kalian melupakan dan membuangku" ucap Anzel dengan tawa pecah.
"apa kalian... kau ingat dimana tempatku? tentu saja kalian tidak akan ingat. Tempatku satu-satunya dihancurkan dan aku dibuang begitu saja".