Sungguh Mencintainya

Sungguh Mencintainya
Chapter 52


Anak kecil yang terluka di bagian lehernya terlihat pingsan di pangkuan Ashana lalu si ibu segera mengambil alih anaknya, menangis terisak.


Wujud lain dari Yashbi sudah tidak ada di tempat.


Entah kenapa tubuh Ashana merasa sangat lelah. Dia mengedarkan pandangan. Pandangannya tertuju ke arah Sandi yang berdiri tidak jauh darinya.


Kemudian, Sandi menghampirinya dan benar saja, Ashana meminta tolong agar membawa anak kecil itu ke rumah sakit.


"San, tolong bawa anak ini ke rumah sakit. Aku takut terjadi apa-apa" ucap Ashana dengan tatapan penuh harap


"baiklah. Tapi aku butuh penjelasan, Ash. Kau tahu apa yang terjadi, bukan?" ucap Sandi menggendong anak itu


"ayo, bu ikut dengan saya"


Mereka pun pergi meninggalkan Ashana yang merasa sangat lelah. Merasa tubuhnya tidak memiliki tulang.


Sementara, Yashbi dengan menggunakan air mineral dalam botol yang di tumpahkan hingga membentuk simbol sehingga si tamu yang kerasukan itu berdiam diri tepat di tengah-tengah simbol itu. Seketika si kera hitam keluar dari tubuh si tamu dan hancur tanpa sisa, si tamu tergeletak di permukaan.


Simbol yang di buat dari tumpahan air dalam botol tembus hingga di dasar tanah bangunan hotel itu dan menghancurkan benda yang sudah lama tertanam yang berbentuk "orang mati dikafani".


Pekerjaan seperti ini membuat Yashbi harus kehilangan separuh tenaganya dan setiap selesai mengerjakannya dia akan tidur di ruangan sangat gelap dan menghabiskan waktu tidur sepuluh jam.


Dengan tatapan satu menahan kantuk Yashbi menghampiri Ashana.


"cepat kita pulang" ucap Yashbi dengan nada dingin.


Meeting pun gagal.


Di dalam mobil, Yashbi dan Ashana duduk di kursi penumpang karena semenjak tadi si sopir menunggu Yashbi dan Ashana check out dari hotel.


Di tengah perjalanan, tidak ada pembicaraan di ntar mereka. Akhirnya Ashana teringat sesuatu dan seketika bersemangat.


"apa hari ini kita akan melakukan perjanjian pernikahan ini dengan orang kepercayaanmu yang kau katakan kemarin?" tanya Ashana.


Yashbi yang merasa lelah mendengar pertanyaan Ashana barusan membuatnya geram.


"apa kau tidak lihat keadaanku? aku lelah, Ashana. Kau hanya memikirkanmu dirimu sendiri. Dasar wanita egois" bentak Yashbi tanpa melihat ke arah Ashana, pokus menghadap ke luar kaca jendela mobil.


Ashana tertegun. Baru kali ini mendengar Yashbi bicara nada tinggi dari sebelumnya.


Sampainya di gerbang pagar yang tinggi, halaman luas dan bangunan rumah mewah. Membuat Ashana berkali-kali mengerjakan matanya tidak percaya sekaligus kagum dengan bangunan rumah mewah itu.


Gerbang tinggi terbuka secara otomatis dan mobil masuk ke halaman rumah.


"silahkan, nona" ucap si sopir menoleh ke belakang.


Si sopir hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Tuannya, Yashbi tengah tertidur di bahu Ashana.


"bisa kau bangunkan tuanmu? bahuku pegal dan mati rasa" ucap kesal Ashana.


"ma... maaf, nona tapi saya tidak berani. Jika smapia membangunkannya bisa-bisa saya tidak ada lagi di dunia ini" ucap sopir.


Ashana menghela nafas kasar.


"anda dan tuanmu sama saja. Seenaknya sendiri" ucap ketus Ashana.


Saat sopir akan membuka pintu,


"tu... tunggu. Aku ingin bertanya sesuatu padamu. Kenapa kita berada tepat di depan bangunan mewah ini? memangnya apa yang akan kita lakukan?" tanya Ashana heran.


Karena suara berisik Ashana mengganggu tidurnya.


"ini rumahku. Kau harus ingat apa yang harus kau lakukan. Pura-pura menjadi pelayan. Cepat turun. Sampai kapan kau akan berada di mobil? " ucap Yashbi dingin.


Yashbi turun dari mobil. Pandangannya teralihkan melihat mobil yang dia kenal berada di parkiran.


"kenapa dia datang kemari?" gumam Yashbi


Ashana pun turun dari mobil mengekori Yashbi.


"siapa yang mengijinkanmu membawa orang asing?"


Anuya memakai pakaian Yashbi dan Merisa terlihat di perban di beberapa wajah dan tangannya.


"kau mabuk dengan seorang laki-laki lalu menabrak dan datang ke rumahku?" ucap Yashbi menatap dingin ke arah mereka.


Yashbi melihat mobil Merisa yang tidak karuan saat di parkiran tadi.


"kau sama sekali tidak berubah. Terserah lah. Bukan urusanku" ucap Yashbi menaiki lift dan menatap Ashana yang masih berdiri di tempatnya. Pandangan mereka bertemu.


"masuk. Cepat!"


Ashana hanya berlalu melewati mereka.


"siapa wanita itu?Yashbi tidak mungkin mengijinkan siapapun untuk menaiki liftnya kecuali Morina, anaknya. Tapi wanita itu... " gumam Merisa heran.


Anuya bisa menebak sikap Merisa akan seperti ini jika bersama laki-laki itu yang tidak lain Yashbi.


"aku yakin dia ada di sini. Tapi bagaimana aku mengetahuinya. Bangunan tempat ini sangat luas " batin Anuya.


Ashana yang masih mengekori Yashbi terpukau dengan interior mansion itu. Tapi sekilas dia merasa bulu kuduknya merinding.


"ingat. Kau harus pura-pura menjadi pelayan di sini. Setelah mengunjungi anakku kita bicara di ruanganku" ucap Yashbi membalikkan badannya menghadap Ashana.


"a... anak?" gumam Ashana heran.


Yashbi mendatangi kamar Morina, anaknya dan terlihat Morina yang terbaring.


Yashbi melangkah mendekatinya duduk di tepi ranjang tatapan lembut dan penuh kasih sayang. Itu yang Ashana lihat.


"maaf, aku tidak bisa melindungimu, Morina" ucap Yashbi membelai rambut Morina


"oh jadi namanya Morina. Jika diperhatikan dia masih sekolah menengah pertama" gumam Ashana.


Ashana melihat mengedarkan pandangannya interior kamar Morina yang di dominasi warna biru langit dan putih.


"seperti langit yang cerah" ucap Ashana tersenyum.


Sedari tadi Yashbi memperhatikan tingkah Ashana.


"kita bicara di ruanganku" ucap Yashbi melewati Ashana begitu saja.


"jangan karena suaramu kau mengganggu tidurnya" ucap Yashbi dingin.


Sampai di ruangan Yashbi, lagi-lagi Ashana dibuat terkejut. Interior ruangan yang dipandu hitam dan putih.


"terserah kau mau duduk atau tidak" ucap Yashbi yang segera mendaratkan bokong ya di kursi kebesarannya.


Yashbi memberikan pena dan kertas hvs dengan cara melempar ke atas mejanya.


"tulis apa yang kau inginkan setelah enam bulan bersamaku. Apapun yang kau inginkan akan aku penuhi"


"a.. apa maksudmu?"


"jangan pura-pura bodoh. Aku tahu kau sudah menaruh rasa padaku dan harapan dipernikahan ini. Ingat, Ashana aku menikahimu hanya untuk memancingnya keluar dari persembunyiannya"


Ashana menelan salivanya.


"bagus jika kau sudah mengetahuinya. Jadi kau tidak akan mudah bermain-main dengan namanya pernikahan. Meski aku jauh dari kata dewasa dibanding denganmu setidaknya aku tahu apa artinya menikah. Tidak sepertimu yang dengan mudah menikahi wanita dan bersikap semena-mena "


Yashbi yang masih lelah lalu mendengar ucapan Ashana membuatnya jengah. Tanpa disadari dia melemparkan vas bunga berukuran sedang ke arah Ashana tepat mengenai pelipisnya.


Ya, seperti inilah jika Yashbi merasa lelah dan terganggu. Sisi gelapnya akan muncul dan mempengaruhi wujud lain dari Yashbi sendiri. Warna hitam yang melekat di tubuh wujud lain dari Yashbi bertambah.


*setiap Yashbi menyakiti wanita, warna hitam akan bertambah di wujud lain dari Yashbi akan *