Sungguh Mencintainya

Sungguh Mencintainya
Chapter 90


Di dalam mobil, Sandi bersama sopirnya Jaka. Mereka telah sampai di depan rumah Ashana yang tengah hancur oleh ledakan tempo hari. Sandi keluar dari mobil diikuti Jaka.


"apa yang telah terjadi?" gumam Sandi yang masih bisa terdengar oleh Jaka.


"menurut informasi yang saya dapat ada seseorang yang sengaja melakukannya bertujuan untuk membunuh nona Ashana, tuan muda" ucap Jaka dengan hati-hati.


"siapa orang itu?" tanya Sandi dengan nada datar.


Sandi tidak percaya jika ada seseorang yang ingin mencelakai apalagi membunuh Ashana. Yang dia tahu Ashana sedari dulu tidak memiliki musuh bahkan semua orang senang berada dekat dengannya termasuk Sandi sendiri.


" seorang wanita dan beberapa hari lalu pindah didekat sini bertetangga dengan nona Ashana. Rumahnya yang ini tuan" ucap Jaka seraya menunjukan rumah Lani.


"lalu, bagaimana kabarnya? apa dia..." ucap Sandi yang berusaha tenang memikirkan apa yang segala terjadi didalam otaknya, memikirkan kondisi Ashana.


"tidak, tidak. Dia pasti baik-baik saja. Di berita tidak dijelaskan adanya korban jiwa" batin Sandi mengingat stasiun tv yang menayangkan tentang ledakan rumah Ashana.


"tuan.." ucap Jaka pelan.


Jaka khawatir melihat Sandi yang mengeluarkan banyak keringat di wajahnya. Menandakan jika tuannya saat ini tidak baik-baik saja. Ya, Sandi memang seorang laki-laki yang terlihat gagah dan tampan tidak jauh berbeda dengan Yashbi. Namun, Sandi memiliki kebiasaan overthinking jika memikirkan sesuatu atau seseorang yang penting didalam hidupnya.


Jaka segera mengambil botol air minum dingin.


"ini.... tuan.... minumlah" ucap Jaka masih dengan nada pelan dan Sandi meraih botol itu dan segera meminumnya.


"bagaimana keadaannya? apa kah sudah mencari tahu?" tanya Sandi dengan nada datar.


"sebelumnya, belum ada kabar tentang nona Ashana tapi saya sudah menyuruh seseorang untuk mencari tahunya secepat mungkin. Saya memberi waktu orang itu sekitar setengah jam dan dia..." ucap Jaka terhenti kala melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya.


" sudah waktunya. Ijinkan saya untuk menghubunginya "ucap Jaka menundukkan kepalanya karena Sandi menatapnya dengan tatapan dingin.


Dengan perasaan gugup Jaka merogoh ponselnya dan hampir saja terjatuh ponsel yang saat itu ada ditangannya.


Sandi beranjak melangkah menapaki reruntuhan rumah Ashana diikuti Jaka yang tengah menghubungi seseorang.


"tuan, sebaiknya anda kembali ke mobil. Takutnya tempat ini masih ada bom yang.." ucapan Jaka terhenti kala melihat tatapan Sandi yang seperti ingin membunuhnya.


Langkah Sandi terhenti saat melihat gantungan kunci yang tempo hari dia berikan pada Ashana. Gantungan kunci berbentuk artefak dinosaurus.


Sandi memungut gantungan itu dengan tangan gemetar.


"dia pasti baik-baik saja" batin Sandi menggenggam erat gantungan itu.


"tuan..." ucap Jaka lantang karena orang suruhan untuk mengetahui kondisi Ashana memberikan kabar sesuai yang diinginkan.


Sandi terperanjat dan spontan menendang Jaka.


"awwww..."


"apa kau ingin aku mati? hah" tanya Sandi kesal.


"eng... anu tuan, maaf" ucap Jaka memegangi pinggangnya yang terasa mau patah.


"katakan. Cepat"


"nona Ashana baik-baik saja. Saat ini dia sedang berada di rumah orang tuanya" jelas Jaka membuat mata Sandi berbinar dan tersenyum lebar.


"ayo kita ke sana" ajak Sandi dengan langkah semangat.


Namun, saat berada didekat mobil langkah Sandi mendadak terhenti menatap rumah Lani.


"kita akan memasuki rumah itu terlebih dulu"


Mereka berada didaun pintu masuk dan pintu terkunci. Sandi menatap Jaka dan Jaka tahu apa maksud tatapan itu.


Jaka mengambil sesuatu dibalik jasnya memasukan benda itu kelubang kunci dan pintu pun terbuka.


Mereka memasuki rumah Lani, Sandi mengedarkan pandangannya. Ya, rumah Lani adalah rumah Sandi dulu saat bertetangga dengan Ashana. Lebih tepatnya bukan bertetangga melainkan mengikuti kemana Ashana pergi.


"rumah ini terlalu besar kalau hanya ditempati satu orang"


Sandi teringat dulu saat tinggal di rumah itu seorang diri. Dia selalu memperhatikan Ashana dibalik jendela kamarnya. Cinta dalam keheningan. Ya, yang saat itu Sandi tidak berani mengungkapkan perasaannya pada Ashana. Sandi menyukai Ashana semenjak dari kecil ketika Sandi dan keluarga berada di vila dan vila tersebut kebetulan dekat dengan rumah ibu Ashana.


Sandi tidak mengungkapkan perasaannya karena merasa tidak pantas bersama Ashana terlebih mengetahui hubungan Ashana dan Indra.


Sandi yang malas belajar dan terbilang murid biasa sedangkan Ashana salah satu murid berprestasi membuat Sandi semakin tidak percaya diri untuk mendekati Ashana. Sebenarnya Sandi cukup pintar jika dia rajin membaca buku dan belajar giat. Namun, satu hal yang Sandi benci adalah membaca. Bahkan, dokumen perusahaan pun ada seorang yang khusus membacakan untuknya baru dia akan menandatangani. Aneh, kan? memang aneh laki-laki satu ini.


Sandi dan Jaka mencium bau amis darah memenuhi ruangan dapur.


Jaka menyodorkan masker untuk Sandi.


"bau amis?"


"sepertinya bau amis ini berasal dari darah" imbuh Jaka yang berjalan mengekori Sandi.


Saat sampai di ruangan dapur terlihat genangan darah banyak sekali. Hingga wajah Sandi pucat pasi.


"polisi... apa polisi tidak menangani hal ini?" tanya Sandi dengan mengangkat satu alis.


"polisi tentu saja menanganinya, tuan. Hanya saja tuan Yashbi memerintahkan agar kasus ini beliau sendiri yang mengurusnya dan menanganinya"


"Yashbi? ah, tentu saja dia ikut campur. Mengingat dia suami Ashana" ucap Sandi dengan wajah kecewa.


"tuan, jangan putus asa. Aku yakin hubungan mereka hanya status saja. Informasi apapun yang saya berikan pada anda semuanya akurat sembilan puluh sembilan persen" ucap yakin Jaka.


Jaka mengetahui betul jika Sandi menyukai Ashana sedari dulu.


"hah, kau selalu menghiburku padahal hiburan yang kau lontarkan untukku sama sekali tidak berpengaruh padaku"


Jaka mulai memasang wajah cemas. Takut jika Sandi terlalu berpikir maka kesehatannya akan menurun seperti saat itu dia, ingin sekali menemui Ashana tapi karena pekerjaan menumpuk dan tidak akan selesai dalam waktu cepat tiba-tiba pingsan dikursi kebesarannya. Pingsan dalam waktu tiga hari. Membuat Jaka ketar ketir. Belum lagi kondisi orang tua Sandi yang terbujur kaku di atas kasur namun masih bernafas normal segala pengobatan medis telah dilakukan tidak membuahkan hasil sama sekali.


Sandi yang saat itu masih satu sekolah dengan Ashana dan rumah berdekatan dengan rumah Ashana terpaksa pindah ke rumah orang tuanya setelah mendengar kondisi orang tuanya dari Jaka.


"ini darah hewan" ucap Sandi mendekati genangan darah di lantai dapur.


"sebaiknya kita pergi. Aku sudah tidak tahan" titah Sandi melangkahkan kaki cepat namun pergerakannya terhenti saat melihat gambar seorang laki-laki bersama beberapa binatang. Itu adalah gambar yang dibuat Ashana.


Sandi membawa gambar itu. Mereka masuk ke dalam mobil. Sandi segera melepas maskernya.


"sial. Rumahnya kotor sekali. Apa benar rumah itu ditempati seorang wanita?" ucap Sandi nada kesal. Yang dia pikir jika wanita menempati suatu ruangan, ruangan itu pasti terlihat bersih dan rapih.


"Jaka, bagaimana pekerjaan yang ku berikan padamu? apa kau sudah mengetahui jelas siapa Yashbi dari perusahaan VVV selain pekerjaannya menjadi pebisnis?"


Deugh


Jaka panik dan segera menghidupkan mesin mobil.


"apa kau tidak bisa berusaha lebih keras lagi?hah"


Sandi sangat kesal dengan kinerja Jaka yang cukup lambat.


Terlihat jelas raut wajah kesal Sandi dispion.