
Tiba-tiba didalam cermin menampilkan rumah Sandi yang dikungkung oleh makhluk dengan wujud monyet.
"ini...."
Buku milik Ashana yang berada sebuah ruangan terbuka dengan sendirinya halaman demi halaman dan berhenti dihalaman Zeys bersama beberapa binatang peliharaannya.
Dan disekitar Zeys perlahan muncul gambar monyet persis seperti makhluk yang sedang mengukungkung rumah Sandi.
"ini salah satu makhluk terdahulu. Mereka bermunculan karena adanya..." ucap Yashbi terhenti. Lidahnya terasa kelu saat harus mengucapkan jika Clara adalah iblis.
Yashbi masih berharap jika Clara bukanlah iblis. Tidak mengapa jika Clara bukan manusia dia tetap akan mencintainya sama seperti sebelum mengetahui hal tentang Clara.
Zeys mengambil buku milik Ashana diruangan itu dan segera muncul dihadapan Yashbi dan Anzel. Sontak mereka kaget.
Tatapan Yashbi terpaku pada buku yang dibawa Zeys.
"ah buku ini... apa kau tertarik?" tanya Zeys santai.
Yashbi menyadari jika Anzel dapat melihat Zeys.
"dia bisa melihatku karena mata yang dia miliki. Tapi aku tidak keberatan jika dia bisa melihatku. Aku menyukainya"
"apa kau kakaknya Ashana?"
Anzel hanya menjawab dengan anggukkan kecil.
"lebih tepatnya kakak angkat. Karena Ashana bukan anak siapa pun dan tidak tahu asal dia dari mana"
"euuumphh..."
"baiklah aku tidak ingin mempermasalahkan hal seperti itu" ucap Zeys sambil membuka buku itu.
"buku ini sebelumnya ibumu yang menggambarnya" ucap Zeys membuka halaman dimana ibu Yashbi menggambar Zeys.
"tidak buruk, bukan?"
Yashbi dengan susah payah menelan salivanya.
"ibumu salah satu wanita yang malang. Memiliki suami yang hanya mencintai uangnya saja. Dia mati dengan cara seperti itu aku merasa senang mewakili perasaan ibumu"
"walaupun saat itu ibumu selalu memaafkan tingkah dan perilakunya yang seenaknya bermain. Entah ibumu yang berhati mulia atau ibumu yang bodoh" nada Zeys sedikit meninggi.
"setelah kepergianmu sepertinya kau mengetahui apa yang sedang kami alami?" tanya Yashbi.
"tentu saja. Apa yang kalian alami sekarang ini aku yang sudah mnegaturnya sedemikian rupa. Untuk menyelamatkan mereka berdua"
"mereka berdua?" jawab serempak Yashbi dan Anzel.
Dalam satu kedipan mata mereka berada didunia yang Zeys dirikan. Terlihat normal seperti didunia manusia. Tapi Yashbi dan Anzel merasa heran karena yang mereka lihat hanyalah perempuan dan anak-anak. Tidak ada laki-laki dewasa, bapak-bapak bahkan kakek sekalipun. Rumah dengan bangunan dan warna yang senada.
Terlihat Merisa dan Tuti sedang berjalan membawa tas belanjaan masing-masing. Wajah yang berseri dan adem. Itu menurut pandangan Yashbi dan Anzel.
"a.... apa maksudnya ini?" ucap Yashbi dengan perasaan heran.
"ini dunia yang kubangun. Dunia yang dikhususkan perempuan dan anak-anak. Yang dapat dihuni oleh perempuan dan anak-anak "
"sebenarnya kau... kau ini siapa?" kembali Yashbi bertanya.
Zeys tersenyum tipis.
"belum saatnya kalian mengetahuinya. Dan satu lagi ada seseorang yang ingin aku perlihatkan padamu"
Seketika mereka berada di Minedenhall. Tempat dengan dipenuhi es.
Terlihat seseorang termenung memandang tempat itu. Seorang wanita yang sangat cantik. Menyadari kedatangan seseorang wanita itu menoleh. Langkah Yashbi dan Anzel seketika terhenti.
"I... ibu" serempak ucap mereka.
"kau tahu jika ibumu sudah mati. Dia hanya ruh yang kuambil dari wadahnya"
"ja... jadi jasad ibu menghilang itu karena ulahmu?" geram Yashbi.
"apa maksudnya semua ini?" kembali Yashbi geram. Kemarahannya sudah diubun-ubun.
"ssssst kau dilarang marah ditempat orang lain jika tidak tempat ini akan memakanmu"
"ruh yang diambil otomatis wadah, jasadnya akan menghilang. Apa kau tidak menyadari hal ini?"
"dengar, Yashbi. Dunia manusia saat ini dengan mudah dimasuki makhluk lainnya karena akibat manusia itu sendiri"
Deugh
"ya tidak mati. Kejadian saat itu (kejadian Robin dan Nelly istrinya berencana membunuh ayah dan ibu Yashbi tapi sayang, mereka hanya berhasil membunuh ayah Yashbi) aku mendatangi ibumu dan melakukan penawaran akhirnya ibumu menyetujuinya dan saat ini berada ditempat ini "
" intinya dia juga akan menghilang setelah melakukan sesuatu untuk anak semata wayangnya " ucap jelas Zeys.
Seketika Yashbi dan Anzel berada kembali diruangan kerja Yashbi begitu juga Zeys.
" jika ingin cepat berakhir kau, kalian harus melenyapkan beberapa makhluk terdahulu. Adanya makhluk itu ditempat manusia ini berakibat cukup fatal menjadikan manusia bersikap dan berperilaku seperti makhluk lainnya (setan, iblis)"
Wujud lain dari Yashbi muncul dihadapan mereka. Hampir seluruh tubuhnya menghitam.
" kau tidak lupa kan apa yang kukatakan tempo hari? "tanya Zeys menatap Yashbi datar.
Jika wujud lain dari Yashbi menghitam secara keseluruhan maka Yashbi akan mati tanpa sisa sedikit pun.
" mungkin kau tidak menyadari apa yang kau lakukan terhadap perempuan sekarang ini"
.
.
.
Orang-orang Lani sedang berada ditempat Lani berusaha membebaskan Lani. Tapi itu tidak mudah karena orang-orang yang menjaga Lani lebih kuat hingga beberapa orang dari Lani tumbang.
Lani masih seperti sebelumnya. Menganggap jika patung-patung mirip Ashana adalah Ashana yang sesungguhnya. Lani terus mencabik-cabik patung itu membabi buta.
Avril dengan penyamarannya mendatangi Lani.
"apa kau sudah puas?"
Kegiatan Lani spontan terhenti menoleh kearah Avril.
"a... aku tidak merasa puas sama sekali. Setiap melihat dirinya aku merasa ingin sekali melenyapkannya seketika. Menghilang dari hadapanku" ucap Lani dengan wajah pucat dan bibir kering.
Dihadapan mereka ada sebuah meja dan dua kursi.
"duduklah dihadapanku" ucap Avril lembut.
Avril memberikan beberapa gelas minuman tanpa menaruh curiga Lani meminumnya.
"pilihlah salah satu dari gelas itu dan kau harus meminumnya"
"seseorang sedang menunggumu. Seseorang yang berhati dan berjiwa bersih menunggumu dengan damai" ucap Avril. Maksud Avril adalah anak Lani yang masih berusia tiga tahun.
Minuman itu adalah minuman yang sudah diberi mantra oleh Avril agar Lani pulih seperti semula.
Avril bersikap demikian karena mengenal dekat Lani. Lani adalah salah satu pelanggan cafenya.
.
.
.
Ditempat Silfa...
Silfa berjalan menapaki jalan setapak yang berada disalah satu gunung. Hujan gerimis menemaninya.
"sudah satu setengah jam aku berjalan ditempat seperti ini"
Beberapa saat kemudian...
Silfa menemukan sungai dengan air yang sangat jernih. Dia membasuh wajahnya yang terasa lengket saat mengedarkan pandangan dia melihat seorang laki-laki berada dibawah guyuran air terjun.
"apa dia orangnya?" gumam Silfa mengingat ucapan Avril yang mengatakan ciri-ciri Anuya yang suka berada dibawah guyuran air terjun.
Anuya yang saat itu dalam kondisi lemah karena melakukan Ruil/pertukaran untuk Robin dan benda berharga miliknya yaitu teleskop mini.
Anuya merasa jika tubuhnya akan ambruk tapi sudah tidak kuasa lagi menahannya akhirnya menjatuhkan dirinya sendiri kedalam sungai. Silfa melihat hal itu segera menolongnya.
*macan hitam dan Bills masih bertarung satu sama lain. Sangat sengit. Meski macan hitam berasal dari dunia manusia tapi dia bisa mengimbangi kemampuan Bills yang berasal dari Sata'n World*
Hai, hai readers tersayang dan terhormat maaf sungguh maaf jika ceritanya seperti ini, tidak memuaskan πππ
Tapi Minceu akan selalu berusaha untuk membuat cerita lagi yang lebih dan lebih baik lagi. Maka dari itu mohon dukungannya like komen favorit dan bunga mawarnyaπ
Terima kasih, terima kasih banyak sebanyaknya πβΊοΈ