Sungguh Mencintainya

Sungguh Mencintainya
Chapter 48


Di kamar hotel, Ashana yang masih berada tertidur di atas kasur dengan posisi saling berpelukkan dengan Yashbi.


"wangi maskulin" ucap Ashana mengendus-endus perlahan membuka matanya dan menyadari posisi mereka


Ashana segera terbangun melihat ke arah Yashbi yang masih pulas tertidur. Wajahnya memerah.


"apa yang aku lakukan? aku sudah menaruh dua bantal guling di tengah-tengah kasur tapi ke mana perginya" ucap Ashana mengedarkan pandangan melihat bantal guling posisi acak di dekat ranjang


"dia yang melakukannya? tidak mungkin. Bisa saja tidur kami seperti cacing kepanasan sehingga bantai guling menjadi seperti itu" ucap Ashana beranjak dari kasur perlahan agar tidak membangunkan Yashbi


Ashana tersenyum tipis. Dalam hati dan pikirannya hubungan mereka mengarah ke arah yang lebih baik lagi. Padahal?


Hujan sudah reda, Ashana menuju ayunan berukuran cukup untuk dua orang yang berada di pinggir kolam renang. Jam menunjukkan 04.00


Kruuuk


Kruuuuk


Perut miliknya meminta untuk diisi.


"perutku perih sekali" ucap Ashana memegangi perutnya


Di hadapannya berdiri seseorang yang tidak lain adalah wujud lain dari Yashbi. Menyodorkan sebuah makanan yang terbungkus daun. Ashana mendongakkan wajahnya


"kau... makanan ini untukku?"


Dia hanya tersenyum hangat seperti biasanya.


Ashana meraih makanan itu dari tangannya.


"makanan apa ini? aku baru pertama kali melihatnya" ucap Ashana sembari membuka daun yang menutupi makanan itu


Seketika matanya berbinar melihat makanan yang selama ini dia inginkan. Ya, makanan itu adalah burger dengan ukuran sedang berisikan daging tebal. Saat sekolah dulu dia, selalu ingin memakan burger tapi apa daya uang yang dimilikinya tidak cukup jadi untuk bisa memakannya dia harus menabung terlebih dahulu. Ashana tanpa ragu memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya.


"enak sekali. Kau mendapatkannya dari mana? burger ini belum pernah aku melihatnya" ucap Ashana dengan mulut dipenuhi makanan pipinya terlihat gembul


Wujud lain dari Yashbi tertawa tanpa mengeluarkan suara.


Ashana beranjak dari ayunan dna berdiri sejajar dengannya. Tangan Ashana memegang pipi wujud lain dari Yashbi itu.


"apa yang aku katakan kau selalu tersenyum tanpa berkata apapun. Jika kau merasa terganggu atau tidak katakan saja. Aku pasti akan mendengarkanmu" ucap Ashana yang sama tersenyum hangat


Tangan Ashana yang berada di pipi dipegang oleh tangan wujud lain dari Yashbi itu. Pandangan mereka saling bertemu.


Tiba-tiba, Ashana teringat sesuatu kejadian-kejadian dahulu. Dia mengerjapkan matanya. Wujud lain dari Yashbi menyadarinya dia menepuk tempat duduk di ayunan menandakan untuk duduk bersampingan. Ashana pun menurutinya dan melanjutkan memakan burger itu.


"dilihat sedekat ini wajahmu mulus dan halus sekali. Tidak ada lubang satu titikpun. Aku iri sekali. Sedangkan wajahku..." ucap Ashana memegang wajahnya


Wujud lain dari Yashbi memetik bunga di dekat ayunan mensejajarkan dengan wajah Ashana dan mengacungkan jempolnya.


Ashana tertawa terbahak.


" kau... bagaimana bisa bunga secantik itu disamakan dengan wajahku yang jelek ini?" ucap Ashana dibarengi tawanya


Karena tawa Ashana cukup keras membuat Yashbi terbangun. Yashbi beranjak dari kasur melangkah menuju arah suara tertawa Ashana. Yashbi hanya melihat Ashana tertawa sendiri dan bunga melayang di dekat wajahnya. Untuk memastikan Yashbi mengucek kedua matanya namun penglihatannya sama.


"dia bicara dengan siapa? jangan-jangan dengan makhluk berbahaya" batin Yashbi melangkahkan kaki mendekati Ashana


Ashana menyadari kedatangan Yashbi.


"kenapa denganmu? pagi buta seperti ini tertawa sendirian. Sudah gila?"


Yashbi melihat daun yang membungkus makanan tadi. Dia mengendus-endus ke arah wajah, mulut Ashana jarak keduanya sangat dekat. Wajah Ashana terlihat memerah.


"gila? apa aku terlihat gila?"


"ya, kau tertawa terbahak dan bicara sendirian. Bukankah itu salah satu perilaku orang gila?"


"aku... aku hanya..." ucap Ashana melirik ke arah wujud lain dari Yashbi yang masih duduk santai di ayunan menyaksikan perdebatan mereka


Ashana meninggalkan Yashbi begitu saja yang masih mematung di dekat ayunan dan kolam renang. Tangan Yashbi meraih daun yang membungkus makanan tadi yang di makan Ashana. Tanpa disadari, wujud lain dari Yashbi menatap ke arahnya.


Ashana menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Di pandang dirinya sendiri yang berada di pantulan cermin.


Sementara Yashbi tengah terlihat sedang berenang. Matahari sudah mulai menampakkan dirinya. Cukup lama dia berenang.


Ashana yang berada di pantry sedang menyeduh teh dan kopi hitam. Berpikir jika Yashbi pasti menyukai kopi hitam.


Dengan membawa kedua minuman itu di kedua tangannya berjalan melangkah menuju kolam renang wangi kopi membuat Yashbi menghentikan aktivitas renangnya. Saat akan beranjak kakinya terasa kram.


"Ash... Ashana" ucap Yashbi dengan nada tingginya dan suara baritonnya


Ashana terperanjat dari ayunan. Menatap ke arahnya.


"bantu aku"


"kenapa?" ucap Ashana sembari menghampiri Yashbi


"kakiku kram... aku..." ucapan Yashbi terhenti menahan gengsi dalam dirinya


Tanpa basa basi Ashana masuk ke dalam kolam renang membantu Yashbi.


"aku akan mencari minyak urut" ucap Ashana beranjak


"tu... tunggu"


"apalagi?kau pasti keinginan jika terlalu lama dengan kondisi seperti itu"


"kau jangan keluar dengan penampilan seperti itu"


Ashana menyadari jika lekuk tubuhnya terlihat jelas akibat bajunya basah kuyup. Pipinya memerah.


"te... tentu saja. Aku tidak akan mungkin keluar dengan basah kuyup seperti ini" ucap Ashana yang berusaha menahan rasa malunya


Melihat tingkah Ashana membuat Yashbi merasa gemas sendiri.


Beberapa saat kemudian,


Ashana menemukan minyak urut di dalam nakas dan bergegas membalurkan ke kaki Yashbi.


"jika terasa sakit katakan saja"


"euumphh..."


Yashbi melihat wajah Ashana yang terampil memijit.


"cukup cantik" gumam Yashbi yang masih terdengar jelas oleh telinga Ashana


Ashana memijit kaki Yashbi dengan cukup keras hingga Yashbi mengeluh kesakitan.


"apa kau ingin membunuhku?"


"jangan lebay. Mana ada orang yang terbunuh gara-gara dipijit"


Ashana beranjak meninggalkan Yashbi yang melangkah menuju secangkir kopi yang sudah dingin tapi tetap meminumnya hingga habis.


"lumayan enak"


Yashbi menyusul Ashana yang sedang duduk di depan televisi.


"kapan kita pergi dari sini?" tanya Ashana tanpa melihat Yashbi


"kenapa? kau merasa bosan? sebentar lagi kita akan sarapan. Sarapan di sini atau ke rooptop?"


"apa bedanya? ini baru pertama kali untuknya" ucap Ashana polos


Pantas saja reaksi yang diberikan Ashana saat memasuki pelataran hotel hingga kamar tidak berhenti dia mengatakan kekagumannya dengan bangunan pencakar langit itu dengan mata berbinar.


"sama saja. Hanya di rooptop kau akan melihat pemandangan paling atas tempat ini" ucap Yashbi menatap ke arah Ashana yang terlihat jelas mengharapkan untuk pergi sarapan ke rooptop


"baiklah. Kita sarapan di rooptop saja. Cepat mandi dan gantian pakaianmu"


Ashana mengacungkan jempolnya dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi.


Wujud lain dari Yashbi bagian yang menghitam di sekitar tubuhnya menghilang secara perlahan seperti kulit tembok rapuh.