
Di ruangan rahasia, terlihat Yashbi dengan posisi berdiri menatap sinis Doni yang tidak sadarkan diri di atas ranjang.
"kau ingin bermacam-macam denganku, Doni. Kau ingin membawa keponakanmu pergi tanpa seijin dariku" gumam Yashbi.
"aku memberikan sedikit hukuman untukmu. Bagaimana jika aku memotong tanganmu yang membusuk ini? jangan terlalu ikut campur dalam kehidupanku meski kau teman dekatku. Teman hanya saat itu saja"
Sebelumnya, Yashbi bertemu Doni. Doni sedang mengobati seseorang yang tubuhnya tidak bisa menerima makanan dan minuman apapun hingga tubuhnya tinggal tulang dan kulit tempatnya tepat di tengah hutan. Namun, seseorang itu saat sedang diobati Doni berubah menjadi seekor makhluk mengerikan. Berubah menjadi bertubuh jangkung kurus, isi perut keluar, rambut panjang tipis, kaki dan tangan panjang kurus dan mata melotot mengeluarkan darah berbau busuk.
Terjadi saling kejar mengejar antara Doni dan makhluk itu. Doni beberapa kali menyerangnya mengenainya namun, tidak mengakibatkan apa-apa. Sehingga Doni merasa putus asa.
Dari arah lain, Yashbi sedang meninjau sebuah proyek yang tidak jauh dari Doni dan makhluk itu berada.
Doni menyadari ada seseorang dia, segera menghampiri Yashbi. Yashbi yang awalnya tidak menerima dan menerima terlibat bersitegang beberapa saat. Setelah melihat makhluk itu Yashbi memutuskan untuk melawan makhluk itu dan menaklukannya.
Yashbi menaklukkan makhluk itu dengan cara menggambarkan sebuah simbol di punggung makhluk itu dengan menggunakan darah Yashbi sendiri. Makhluk itu berubah menjadi wanita cantik dan menghilang begitu saja.
Beberapa saat, Doni dan Yashbi menjalin hubungan dan semakin dekat. Proyek yang dijalani Yashbi berjalan lancar hingga saat ini proyek itu masih berjalan lancar.
Kembali ke saat ini di mana Yashbi dan Doni berada di ruangan rahasia milik Yashbi.
Doni perlahan membuka kelopak matanya dengan meringis menahan rasa sakit yang semakin menjadi.
Terlihat Yashbi meracik ramuan di sebuah meja yang tidak jauh dari Doni.
"kau sudah sadar?"
"aku tidak akan bicara panjang lebar. Kau pilih saja apa yang kau inginkan. Aku mengobati tanganmu hingga pulih kembali atau aku harus memotong tanganmu yang sudah tidak berguna itu?"ucap Yashbi dengan nada penuh penekanan.
Doni menelan salivanya. Dia tahu arti ucapan Yashbi jika Yashbi mengetahui maksud keberadaannya.
" kau memang cerdik. Mengetahui niatanku padahal aku belum bercerita apapun dan pada siapapun "ucap Doni bersandar di ranjang.
" kau ingat apa yang kulakukan padamu sehingga aku bisa mengetahui apa yang kau pikirkan dan kau lakukan meski jauh dari pandanganku? "ucap Yashbi dengan senyuman tipis.
Ya, Yashbi dan Doni pada saat itu pernah bertukar meminum darah mereka. Doni meminum darah Yashbi begitu juga sebaliknya. Tapi, karena Yashbi manusia yang memiliki kemampuan keturunan dia tidak akan terpengaruh. Sebaliknya, Yashbi akan tahu apa saja yang dilakukan oleh Doni. Meski mereka tidak bertemu sekalipun.
"kau menipuku"ucap geram Doni.
" menipu? "ucap dingin Yashbi yang terus meracik ramuan herbal untuk Doni.
" seharusnya saat itu kita tidak perlu melakukan hal itu. Aku seperti orang bodoh. Kau bukan saja menipuku tapi Ashana. Ya, kau menipu Ashana. Aku tahu apa yang akan lakukan terhadapnya"
Yashbi menghentikan aktifitasnya dan menghampiri Doni.
"biar aku jelaskan agar tidak salah paham"
Yashbi menarik bangku dan duduk menghadap ke arah Doni dengan menyilangkan kedua kakinya.
"biar kuperjelas apa yang ada dipikiranmu dengan begitu kau bisa tidur nyenyak"
"ya, kau benar aku menikahi keponakanmu. Ah bukan, lebih tepatnya seorang anak yang kalian temukan. Karena agar aku tidak menghadapi kematian. Kau tahu saat aku mengobati kakakmu (ayah Ashana) terkasih nyawaku taruhannya. Tapi karena aku memiliki sedikit kemampuan jadi aku bertukar nyawa dengan wanita itu dengan cara menikahinya. Ya, Ashana. Dia akan hidup kurang lebih dua puluh bulan lagi"
"setidaknya dia bisa hidup layak di sini untuk sesaat sebelum kematiannya daripada di gubuk itu"
Doni geram mendengar ucapan Yashbi. Bagaimana bisa temannya ini berubah menjadi manusia jahat dan tidak berperasaan?.
"apa kaus sudah puas mendengar penjelasanku? jika begitu kembali lagi apa yang kau pilih? aku akan segera melakukannya"
Yashbi dengan senyum khasnya mengobati tangan Doni dengan telaten.
"kau tidak akan mungkin bisa menolongnya karena yang sudah ditukar tidak dapat dikembalikan"
Doni hanya terdiam memperhatikan patung Clara yang berdiri tidak jauh dari mereka.
"apa kau sudah menemukan kekasihmu?" tanya Doni memecah keheningan.
"sebentar lagi aku menemukannya"
"aku sudah tidak sabar menunggu hari itu"
"sebagai teman, apa aku boleh meminta sesuatu darimu?" tanya Doni dengan raut wajah yang tidak yakin.
"jika keinginanmu masih berada dikemampuan otakku aku pasti memenuhinya"
"jika kau sudah bertemu dengan kekasihmu itu kembalikan dia padaku. Ah... tidak maksudku kembalikan dia ke tempat semestinya"
Yashbi mengerutkan dahinya.
"Ashana sangat menyukai tempat tenang dan damai. Dia menyukai suasana pedesaan. Sejujurnya dia tidak terlalu menyukai rumah yang sudah hancur itu karena sebuah cita-cita mengharuskan dia tinggal di rumah itu seorang diri. Kakakku sangat menyayanginya berbeda dengan kakak iparku dia, tidak terlalu menyukai seorang anak. Yang aku tahu saat dia mengetahui kehamilannya dia langsung membunuh janin itu dengan cara meminum obat khusus"
"melihatmu sekarang ini kau pasti membelikan bahkan membuat tempat itu untuknya" ucap Doni dengan tatapan memohon.
Yashbi hanya terdiam. Jauh di dalam hatinya apa yang dia lakukan terhadap Ashana merasa sedikit bersalah. Namun, dia tidak ingin mati begitu saja karena mengobati seseorang.
"kau terlalu banyak bicara" ucap Yashbi menggeplak tangan Doni.
"kau sudah gila" rengek Doni.
Mereka berpikir dalam pikirannya masing-masing.
Di seberang sana, Anzel yang memasang alat pendengar berukuran sangat kecil di ruangan rahasia Yashbi, Anzel mendengar semua pembicaraan mereka. Anzel yang berada di etalase jendela kamar Ashana di rawat. Sementara Ashana sudah tertidur pulas.
"sialan..." geram Anzel mencengkram etalase jendela dengan tatapan nyalang lurus ke depan.
Anzel berjalan menghampiri Ashana, membetulkan selimutnya.
"maaf, maafkanku... Ashana" batin Anzel.
"aku harus menemuinya" ucap Anzel beranjak dan menuju sofa.
Di dalam kamar Morina, Morina dan Lani terlihat sangat senang. Terutama Lani.
"kita tidur di kamar ini? berdua?" ucap Lani tidak suka.
"iya. Memangnya kenapa? lebih seru tidur bersama jadi kita bisa banyak bercerita sebelum tidur" ucap polos Morina.
Lani menghela nafas kasar. Dia tidak menginginkannya bagaimana pun jika ada Morina dia tidak akan bebas melakukan apapun meski memiliki tujuan sama namun, daya pikir mereka jauh berbeda mengingat Lani memiliki suatu penyakit.
"aku akan mandi dulu. Letakkan saja barang-barangmu di sana biarkan nanti pelayan baru itu yang membereskannya" ucap Morina seraya masuk ke dalam kamar mandi.
Di dalam koper milik Lani terdapat beberapa alat tajam. Jadi dia tidak mungkin orang lain untuk membereskannya.
"kamar yang jelek. Aku tidak meyukainya sama sekali" gumam Lani membereskan beberapa pakaian yang dibawanya di dalam koper itu.