Sungguh Mencintainya

Sungguh Mencintainya
Chapter 39


Di ruangan milik Robin, Robin tampak kesal karena rencana untuk menghancurkan Yashbi lagi, lagi gagal. Setiap yang direncanakan Robin dengan hasil kegagalan akan berdampak terhadap anak tersayangnya yaitu Clara.


Clara yang sedari tadi mengintip apa yang dilakukan ayahnya seketika berteriak memegangi kepalanya menjamak rambutnya sendiri dengan kedua tangannya. Terdengar oleh Robin dan segera menghampirinya.


"Clara" ucap Robin kaget dengan mata membulat sempurna


Robin segera membawa anak perempuannya itu ke dalam kamarnya. Berusaha menenangkannya tapi Clara terus menerus berteriak sembari menjamak rambutnya dengan kedua tangannya.


Seorang wanita yang dipercaya untuk menjaga Clara segera menghampiri ketika melihat Robin dan Clara berada dalam kamar.


"ma... maaf tuan, saya..." ucapannya terpotong saat tatapan mereka bertemu


"kenapa kau membiarkannya keluar dari kamar ini?" ucap Robin


"sa...saya sedang tidak enak badan. Jadi barusan keluar sebentar untuk mencari obat" ucap pelayan perempuan dengan menundukkan kepalanya


"jika terulang lagi kau tahu aku akan melakukan apa?" tanya Yashbi


"y... ya, tuan" jawab pelayan


"berikan itu padanya" ucap Robin beranjak meninggalkan Clara namun langkahnya terhenti saat tangan anaknya itu memegang lengannya


"apa yang kau lakukan padanya? apa ini ada hubungannya dengan keadaanku saat ini?" tanya Clara wajah pucat teringat apa yang diucapkan ayahnya sebelumnya (di ruangan milik ayahnya, Robin)


Robin tidak menjawab menyingkirkan tangan anaknya dengan lembut dan kembali menuju ruangan rahasia miliknya itu.


" Clara sudah mengetahui ruangan ini. Aku harus lebih hati-hati lagi" gumam Robin membuang kaca yang menjadi bubuk ke dalam tong sampah di sekitar ruangan itu beserta poto Morina yang telah sobek menjadi beberapa bagian


"nona, minumlah ini agar keadaanmu cepat membaik" ucap pelayan menyodorkan sebuah benda bulat seperti obat berwarna hitam pekat dan bau yang tajam


"apa ini?" tanya Clara heran


"ini hanya obat. Keadaanmu akan cepat membaik jika rutin memakan obat ini" jelas pelayan untuk meyakinkan Clara


Robin mendapatkan obat itu hasil dari wujud lain dari dirinya sendiri. Robin yang memiliki sifat dendam, iri dan benci yang teramat dalam kepada Yashbi dan keluarganya membuat Robin dapat berkomunikasi secara langsung dengan wujud lainnya itu. Berbeda dengan Yashbi dia, tidak dapat berkomunikasi langsung dengan wujud lain dirinya karena ada satu sifat yang menjadi penghalang dirinya dengan dirinya yang lain yaitu berkhianat dan tidak ketulusan.


Di dalam rumah tangga sebelumnya, Yashbi dan Dinara menjalani rumah tangga harmonis dalam waktu lima tahun dan membuahkan cinta mereka, Morina . Tapi keharmonisan rumah tangga mereka tidak berlangsung selamanya karena pengkhianatan oleh Yashbi. Ya, Yashbi melakukan itu bukan tanpa sebab. Dinara setalah melahirkan Morina ke dunia mengalami gangguan jiwa karena melihat makhluk dengan macam-macam bentuk. Keadaan ini membuat Yashbi mencari wanita untuk dijadikan pelampiasan di luar sana tapi tidak sampai melakukan hal yang menjijikan (perzinahan) yang dilakukan Yashbi hanya menjadikan wanita-wanita itu untuk menemaninya minum hingga pagi hari.


Suatu hari, Dinara kabur dari ruangannya seperti ada seseorang yang menuntunnya ke suatu tempat. Dan seketika matanya melotot sempurna melihat Yashbi tengah bersama wanita lain dalam keadaan cukup mesra. Ya, saat dalam keadaan seperti itu Dinara hanya mengingat suaminya Yashbi namun apa yang dilakukan oleh suaminya itu membuat dirinya hancur dan menabrakan diri ke arah mobil yang melintas yang tidak lain mobil yang dikemudian oleh Yashbi. Tapi, hingga saat ini jenazahnya tidak ditemukan. Aneh bukan?


Robin yang tengah berkomunikasi dengan wujud lain darinya.


"aku ingin sekali membuatnya terpuruk hingga terkubur dalam tanah bila diperlukan" ucap Robin


"kau bisa melakukan semua yang kau inginkan. Tapi kau harus melakukan sesuatu juga" ucap wujud lain dari Robin


"ya, aku tahu. Kau bisa melihatnya saat ini aku sedang berusaha untuk memperkuat rasa iri dan benciku padanya" ucap Robin


Terlihat wujud lain dari Robin itu mulai terlihat utuh layaknya wujud lain dari Yashbi namun memiliki tanduk di tengah dahinya. Seketika Robin kaget membulatkan matanya sempurna.


"kau... kau ini wujudmu yang sesungguhnya?" ucap Robin terbatas kusangking melihat wujud lain dirinya yang selama ini hanya bisa dia lihat di balik kegelapan


"biar kuberitahu aku ini wujud lain dari dalam dirimu sendiri lebih tepatnya sifat yang tidak mungkin manusia lain bisa hindari dalam keadaan apapun" ucap wujud lain dari Robin


"aku terlahir lagi dari keluarga ini. Keluarga yang memiliki sifat iri dan kebencian yang sangat dalam dan tinggi terhadap keluarga lainnya. Terutama keluarga Dzon"


Robin hanya terdiam terpaku menyimak apa yang diucapkan oleh wujud lain darinya.


"ya... untuk ketiga kalinya aku terlahir dari keluarga Igor"


Deugh


"ja... jadi?"


"sebelumnya aku terlahir karena sifat iri dan benci dari kakekmu setelah itu ayahmu dan saat ini dirimu sendiri" ucap wujud lain dari Robin


"setiap turun temurun keluarga Igor dan Dzon selalu berseteru hanya karena apa yang sudah dimiliki oleh orang lain. Menyedihkan. Tapi aku cukup menikmatinya. Karena setiap wujud yang terbentuk memiliki perjanjian yaitu pemilik wujud itu mati atau orang yang sangat disayanginya yang mati atau mungkin saja bisa keduanya. Hebat bukan? tidak ada pilihan yang menguntungkan ataupun merugikan. Mati ditangan sendiri atau ditangan keluarga Dzon"


Deugh


"omong kosong!!!" bentak Robin


Tubuh Robin sedikit gemetar mendengar ucapan itu.


"kau jalani saja seperti biasanya. Semakin kuat sifat itu maka semakin kuat diriku"


"aku sudah mengikat orang yang sangat kau sayangi. Dia berubah mengagumkan aku sangat menyukainya. Aku bisa mematikannya jika kau berhenti begitu saja. Aku akan memberitahumu tentang kakek dan ayahmu itu. Tapi tidak sekarang" ucap wujud lain dari Robin yang perlahan menghilang


"kau lakukan yang sebelumnya. Ikuti saja saranku"


Robin berkeringat dingin setidaknya dia mengerti apa yang diucapkan wujud lain darinya.


"aku tidak akan berhenti"ucap Robin yang sekilas mengingat keadaan perusahaannya dan dipermalukan dirinya dan ayahnya oleh keluarga Dzon terutama ayah Yashbi dan Yashbi sendiri


" aku akan semakin membencimu "


Robin menyiapkan poto Morina di atas kaca anti panas dan pecah. Dinyalakan api di bawah kaca itu lalu menaburkan sesuatu hingga berwarna hitam.


Dalam waktu bersamaan Morina yang terlentang di kasurnya di temani sopir yang berdiri di daun pintu. Mata Morina melotot mengarah ke langit-langit kamar berguling ke sana kemari tubuhnya merasa kepanasan yang lebih dari sebelumnya. Melihat anak dari tuannya sopir segera bergegas mendekati sesaat bingung harus melakukan apa. Dia segera menghubungi Yashbi dan menjelaskan apa yang sedang terjadi.


Yashbi yang masih berada di halaman rumah depan Ashana bersama Ashana. Tanpa berpikir lagi dia segera menggendong Ashana seperti karung beras.


"lepaskan, lepaskan. Apa yang kau lakukan?"


"cepat turunkan aku"


Ashana berontak agar diturunkan oleh Yashbi. Merasa tidak nyaman.


Indra penciuman Yashbi mencium bau darah (luka dari botol pecah yang menggores pinggang Ashana) milik Ashana seketika tergiur. Dia berpikir ingin setiap saat selalu dekat dengan Ashana.


Dari kamar Ashana, terlihat Lani menyaksikan mereka dan membuatnya semakin membenci Ashana dan ingin sekali membunuhnya. Terukir senyum jahatnya diwajahnya yang cantik.