Sungguh Mencintainya

Sungguh Mencintainya
Chapter 46


Sebelumnya, di mansion milik ibu Yashbi, Helis dan Sidero. Helis yang terganggu kejiwaannya akibat kerap kali melihat makhluk lain sama persis seperti yang dialami Ashana. Saat masih bayi Helis sudah bisa melihat makhluk lain dengan berbagai macam bentuk dari yang rupawan hingga mengerikan dan menjijikan. Helis semakin menjadi melihat makhluk-makhluk itu ketika menikahi Sidero.


Robin dan Nelly mendatangi mansion orang tua Robin dengan tujuan menghabisi nyawa mereka. Beberapa saat sebelum pergi mereka melakukan ritual terlebih dahulu dan rencananya sesuai berjalan dengan lancar. Robin dan Nelly menaburkan abu mayat seseorang di depan pintu dan halaman depan mansion.


Robin dan Nelly berdalih meminta maaf pada Sidero agar mengembalikan perusahaan mereka seperti sedia kala. Ya, pertemuan pertama kali mereka terpicu api cemburu dan sifat Sidero berubah drastis semenjak menikah dengan Helis. Dia menjadi sangat berani, tegas dan akan menghabisi siapa saja yang menganggunya. Ini karena pengaruh kekayaan milik Helis. Nelly merasa sakit hati karena Sidero mengabaikannya saat di pesta tempo hari. Bukan tanpa alasan Sidero bersikap seperti itu Sidero sendri sakit hati karena Nelly mengkhianatinya.


Robin dan Nelly berkali-kali menundukkan badannya di hadapan Sidero berharap perusahaannya dikembalikan seperti sedia kala. Tapi tidak membuahkan hasil. Sidero mengusir mereka kasar. Mau tidak mau mereka pergi meninggalkan mansion. Saat kaki mereka melangkah keluar dari pintu gerbang yang menjulang tinggi tiba-tiba, kepulan asap hitam menyelimuti mansion seolah-olah mansion itu menghilang dalam sekejap.


"apa ini akan berhasil?" tanya Nelly


"tentu akan berhasil. Lihat saja" ucap Robin melihat jam tangannya


"kau percaya diri sekali. Aku sangat takut jika polisi akan menemukan barang bukti dan menangkap kita" ucap Nelly yang terlihat khawatir karena baru kali ini melakukan hal tersebut. Terlebih dengan suaminya sendiri


"tenang saja. Mereka tidak akan menemukan barang bukti apapun. Yang kita taburkan tadi adalah abu mayat jadi abu itu akan menghilang dengan sendirinya ketika sudah menyelesaikan pekerjaannya"ucap Robin enteng


" kau tahu cara ini darimana? "tanya Nelly dengan perasaan was-was


" hal seperti ini sudah lumrah di tempat ini. Tapi hanya sebagian kecil manusia yang mempratikkannya karena keberanian dan nyali mereka tidak cukup besar "


" dunia ini masih banyak menyimpan rahasia"


"kau pasti mengira aku manusia biasa saja, kan?"


"euumphh... dan nyatanya kau luar biasa" ucap Nelly


"kita harus memeriksa keadaan mereka" ucap Robin melangkahkan kaki masuk kembali ke dalam mansion


Dan benar saja, Sidero sudah tergeletak tak bernyawa dengan botol minuman dan sloki berisikan minuman yang sudah tumpah di lantai tidak jauh darinya.


"aku akan mencari wanita itu" ucap Nelly beranjak memastikan Helis sudah tidak bernyawa sama seperti Sidero


Sampai di depan pintu kamar Helis,


Helis tengah bicara dengan seseorang tapi tidak terlihat wujudnya. Hanya dalam satu kedipan mata mereka menghilang dari pandangan Nelly. Betapa terkejutnya Nelly membulatkan kedua matanya sempurna menutup mulut dengan satu tangan. Karena penasaran Nelly, mengedarkan pandangan membuka pintu secara kasar. Benar saja mereka menghilang. Nafas Nelly mulai terengah-engah dan pingsan.


Kembali saat ini...


Robin mengecek keuangan di ponsel miliknya ternyata keuangan sudah berkurang dua ratus juta. Dia sangat kesal mengetahui siapa yang sudah mengambil uang itu.


"Merisa..." ucap Robin meremas ponsel


Robin menghampiri Merisa yang berada di ruang tengah bersama Anuya.


"Merisa..." panggil Robin dengan nada datar


Plaaak


Satu tamparan mendarat di pipi halus Merisa.


"kau selalu bertindak seenaknya. Apa kau tahu kondisi kita saat ini bagaimana? hah" bentak Robin yang membangunkan Nelly yang tidur di kamarnya


"kenapa kau menamparku?" ucap sinis Merisa


"anak itu saja yang sudah menghabiskan uang dengan jumlah lebih banyak dari ini kau sama sekali tidak mempermasalahkannya" ucap Merisa dengan nafas terengah-engah


"apa karena dia sakit? sakit yang kau buat sendiri. Itu kan maksudmu, ayah" ucap Merisa


Ya, Merisa mengetahui jika Clara bertindak seperti orang gila hilang kendali itu karena ulah ayahnya.


"kenapa kau tidak membunuh anak itu saja sekalian? aku tidak tahu apa yang sedang ayah lakukan tapi...?"


Plaak


Satu tamparan lagi mendarat di pipi mulus Merisa.


"dia bukan anakmu, tuan Robin. Aku sudah tahu semuanya. Dia anak pungut yang sengaja masuk dalam kehidupan kita"


"kau dan mamah memungutnya di suatu tempat di belahan bumi ini. Menyedihkan" ucap Merisa meraih tasnya yang berada di dekat Anuya


"kau ingin uang itu, bukan? cepat pergi dari sini. Aku akan memberikannya" ucap Merisa pada Anuya yang duduk santai menyaksikan pertengkaran seorang ayah dan anaknya


Nelly dan Robin mengadopsi Clara yang masih bayi merah di sebuah panti asuhan berniat untuk menemani Merisa. Saat kecil Merisa selalu dibully oleh teman-temannya karena tidak bisa bicara tapi dia memahami dan mengerti apa yang orang lain bicarakan. Dan yang menjadi penolong Merisa adalah Clara. Tapi sikap Merisa terhadap Clara sama sekali tidak ramah dia selalu melampiaskan kemarahannya terhadap Clara. Yang parahnya Clara di larang memiliki teman jika sampai memiliki seorang teman saja Merisa mengancam akan membunuhnya. Clara termasuk anak baik dan polos dia menurut saja itung-itung balas budi untuk Nelly dan Robin yang sudah mau mengangkatnya sebagai anaknya. Hingga saat ini pun Merisa selalu melakukan tindakan kasar terhadap Clara. Verbal ataupun psikis.


Teringat kejadian itu saat Robin dan Nelly meminta ijin pada Merisa untuk mengambil Clara dari panti asuhan respon yang diberikan Merisa tersenyum lebar seolah-olah menyetujuinya. Ya, memang Merisa belum bisa bicara.


Nelly menghampiri Robin yang berdiri mematung di ruang tengah.


"ternyata..." kalimat Robin terhenti


"sudahlah. Dia memang keras kepala. Bagaimana pun dia tetap anak kita satu-satunya" ucap Nelly mengusap pundak Robin


Dari awal pembicaraan Merisa dan Robin tadi Clara mendengarnya di balik tembok.


"tapi dia sama sekali tidak berubah. Kau ingat saat dia masih kecil dan dibully dulu" ucap Robin


"ya, aku tentu masih mengingatnya" ucap Nelly


Saat masih kecil Merisa di taman bermain di sekolah, dia meminjam beberapa mainan pada teman lainnya namun dia merusak seluruh mainan yang dipinjamnya hingga akhirnya dibully.


"anak kita lah yang memiliki gangguan kejiwaan dan itu muncul sejak dia berusia lima tahun" lirih Robin


Makanya dari itu Robin dan Nelly memutuskan mengadopsi Clara selain untuk menemani Merisa Clara juga menjadi pengalihan perhatian Robin karena tidak bisa menerima keadaan Merisa anaknya sendiri.


Yang terjadi pada Merisa adalah akibat dari perbuatan kedua orang tuanya sehingga anak sendiri lah yang harus menanggung perbuatan mereka.


Kejadian Robin dan Nelly saat membunuh Sidero dan Helis secara halus, Helis tengah bicara dengan seseorang dan mereka menghilang dalam satu kedipan mata dari pandangan Nelly. Sebenarnya kejadian ini, seorang yang tengah bicara dengan Helis adalah Zeys. Zeys membawa Helis ke suatu tempat yang damai dan menenangkan. Dia memperlihatkan tindakan yang dilakukan Robin dan Nelly saat di mansion di sebuah sungai yang mengalir tenang di depan mereka.


"apa yang ingin kau lakukan pada mereka?"


Helis tersenyum kecut.


"jadi mereka yang membunuh suamiku" lirih Helis


"seperti yang kau lihat. Wanita itu adalah kekasih terdahulu sebelum menikahimu dan masih terikat satu sama lain. Lalu wanita dan laki-laki itu saling bekerja sama untuk membunuh suamimu karena suamimu sudah membuat perusahaan yang sudah berdiri bertahun-tahun dijadikan sarang laba-laba"


"dendam. Baik wanita itu ataupun suamimu mereka menaruh dendam masing-masing.


" apa maksudmu? apa mereka masih saling mencintai satu sama lain? setelah puluhan tahun menikah, menikah dengan pilihannya masing-masing "


" apa kau yakin orang yang sudah menikah tidak akan mungkin mencintai orang lain? terlebih mereka sebelumnya pernah menjalin hubungan satu sama lain"


Helis hanya terdiam memandang lurus ke depan.


"wanita itu menikah dengan laki-laki ini hanya karena menginginkan hartanya tidak lebih. Dan hati (menunjuk dada Helis) yang dia miliki masih terikat dengan suamimu begitu juga sebaliknya"


Di atas permukaan air sungai itu memperlihatkan hubungan sedekat apa mereka (Nelly dan Sidero dulu). Dan penyebab berubah sikapnya Sidero yang jarang pulang, mabuk-mabukkan dan bermain dengan wanita lain disebabkan oleh Nelly.