Sungguh Mencintainya

Sungguh Mencintainya
Chapter 116


Anzel dengan perasaan gugup dan panik bagaimana cara menjelaskannya pada Yashbi tentang Clara.


"sebaiknya kita keruangan dimana tuan Robin berada sepertinya dia ingin menyampaikan hal begitu penting" ucap Anzel terbata.


"kenapa kau menyuruhku? apa kau tidak bisa melakukan hal lain" ucap ketus Yashbi.


Yashbi yang masih khawatir dengan kondisi Morina yang masih belum tersadar.


"sebentar lagi dia akan terbangun" ucap Ashana lembut.


Ashana seakan tahu apa yang membuat Yashbi termenung.


Dan benar saja, perlahan Morina membuka matanya. Pertama yang dia lihat adalah Yashbi.


Yashbi segera memeluk Morina.


"apa kau baik-baik saja? apa tubuhmu ada yang sakit?" tanya Yashbi sangat lembut.


Doni tidak begitu memperdulikan keadaan sekitar. Dia menatap keluar melalui jendela yang terbuka.


"jadi selama ini aku merawat seorang anak yang berasal dari dunia lain. Yang tidak lain adalah iblis" batin Doni.


Doni mengingat kala itu Clara yang masih kecil mendatangi panti asuhan miliknya. Padahal diluar sana hujan turun lebat tapi tubuh Clara tidak basah sedikit pun. Kejanggalan-kejanggalan Clara yang tidak makan, minum, mandi bahkan sekedar buang air. Dia tidak mandi sekalipun tapi tubuhnya sangatlah wangi.


Seketika hancur panti miliknya dan hanya menyisakan dirinya dan Clara sementara yang lainnya lenyap hilang begitu saja. Doni yang berada dibawah reruntuhan bangunan panti melihat kearah Clara yang tersenyum bahagia.


"ini hanya sedikit permainan yang kumainkan karena aku merasa bosan berada didekat mereka terus" ucap Clara yang tidak memperdulikan Doni dibawah sana yang tubuhnya tertindih reruntuhan bangunan panti.


"aku semakin yakin jika hilangnya penduduk kota sebelah akibat ulahnya" gumam Doni.


Doni membalikkan badan bersamaan dengan itu Anzel membawa Robin dengan memakai kursi roda. Robin terlihat seperti mumi.


Morina bersembunyi dibalik punggung Yashbi. Memegang erat tangan ayahnya.


"waktunya tinggal lima jam tiga puluh lima menit. Sebaiknya anda mengatakan apa yang anda ketahui" ucap Anzel.


"apa maksudnya dengan waktu yang kau katakan barusan?" tanya Yashbi menaikkan satu alisnya.


"aku akan segera menjemput kematianku" ucap Robin terbata karena memang sebagian tubuhnya sudah tidak berfungsi.


"apa kau mengenal seseorang yang bernama Floir?"


Deugh


"Floir... laki-laki itu..." gumam Yashbi.


Sesekali Morina mencuri pandang pada Ashana.


"ya, dia masih hidup. Aku tahu kau dan anak buahmu mencarinya selama ini"


"dia masih hidup dan saat ini berada di bangunan yang bernama Yaebud"


"Yaebud adalah bangunan yang entah siapa yang mendirikannya hingga saat ini tidak ada yang mengetahuinya" ucap Doni.


"itu bukan bangunan biasa. Itu hanya kamuflase. Hanya orang tertentu yang dapat melihat wujud asli bangunan itu"


Anzel teringat beberapa kali melihat bangunan Yaebud dalam wujud asli namun beberapa saat terlihat kembali seperti bangunan biasa.


"wujud aslinya apa seperti...." ucap Anzel



Yaebud....


Semua orang serempak memandang kearah Anzel.


"bagaimana kau mengetahuinya?" tanya Robin terbata.


"mata yang kumiliki sejak kecil bisa mengetahui apa yang disembunyikan orang lain. Apalagi dengan sesuatu hal kebenaran" ucap Anzel.


"kalau begitu kau bisa melihat wujud asli Clara?" tanya kembali Robin.


Anzel terdiam. Pandangannya mengarah kearah sang tuan.


"ya, aku tahu beberapa saat kejadian yang lalu"


"memangnya apa yang terjadi sebelumnya? kenapa aku tidak mengetahuinya?" ucap Yashbi dengan penuh penekanan.


"tuan, nanti akan aku perlihatkan padamu apa yang sudah terjadi. Sebaiknya kita dengarkan apa yang ingin dikatakan oleh tuan Robin"


"aku mengorbankan apa yang kupunya hanya untuk mengungkapkan kebenaran yang terjadi"


"jelaskan apa maksdumu" ucap tegas Yashbi.


Anzel mengeluarkan flashdisk dari sakunya. Ada dua flashdisk.


"tuan, maaf aku lancang. Aku meminjam laptop milikmu" sambil berucap Anzel menuju meja dan menyalakan laptop milik Yashbi.


Yashbi menatapnya tajam menaikkan satu alisnya.


Robin selama ini memantau kegiatan yang ada di Yaebud. Dimulai dari datangnya orang-orang berkuasa, melakukan persembahan dan pemujaan dimana orang-orang itu seketika seperti ditebas darah berhamburan.


"awalnya untuk merekam kegiatan mereka aku menggunakan benda sihir yang kubuat tapi mereka mengetahuinya dan menghancurkannya"


"ya, mereka itu adalah Clara, Floir dan anak muda yang bernama Anuya"


Anzel memperlihatkan apa yang tayang dilayar laptop dan sesuai apa yang dilihat Robin.


Mereka yang melihat itu dibuat tercengang.


Terlihat juga Anuya yang merapalkan mantra dan seketika orang-orang yang sedang melakukan persembahan bersimbah darah dan menghilang begitu saja menyisakan benda berharga seperti perhiasan yang dipakai anting, kalung, cincin, jam tangan dan lainnya.


Anuya memungut perhiasan yang sudah terkena darah si pemilik. Dengan wajah tanpa dosa alias tersenyum.


"Anuya..." gumam Anzel melirik kearah Robin.


Dilayar laptop tidak terlihat Clara namun, terlihat Floir dan Anuya berbicara satu sama lain seperti ada orang ketiga. Sekilas terdengar suara familiar ditelinga Yashbi. Seseorang yang memiliki suara tersebut adalah Clara.


"kita harus segera melenyapkan mereka. Salah satunya sudah aku bereskan. Tinggal tersisa satu lagi yaitu keluarga yang bernama Dzon" ucap seorang wanita yang terdengar familiar ditelinga Yashbi.


Deugh


Yashbi tersenyum kecut.


Robin menyerahkan sebuah benda yang sedari tadi dia pegang.


"ambillah benda ini. Suatu saat bisa saja benda ini berguna"


Yashbi meraih benda itu. Benda dengan bentuk batu merah berukuran lumayan besar. Sama seperti batu yang tadi saat memadamkan api yang membakar dua ular.


"lalu, dimana Clara?" celetuk Yashbi.


"dia menghilang ketika bertemu seorang laki-laki. Ya, laki-laki itu tadi sempat mendatangi ditengah-tengah kekacauan"


"kekacauan?"


Anzel pun memutar rekaman cctv dilaptop kejadian beberapa saat lalu. Dan tetap saja Clara tidak terlihat begitu juga Zeys dan dua ular itu.


"Anzel..." ucap tegas Yashbi.


Anzel segera beranjak untuk mengambil sesuatu dan meninggalkan ruangan.


Beberapa saat suasana hening.


Morina menatap intens Ashana yang berdiri tidak jauh darinya.


"apa pelayan juga harus ikut dalam pembicaraan ini?" celetuk Morina seketika Yashbi menoleh kearah anaknya.


"apa kau sadar anak kecil. Yang kau panggil pelayan saat ini adalah orang yang menyelamatkan nyawamu" celetuk kesal Doni.


Doni yang sedari tadi mengetahui jika anak sahabatnya ini tidak menyukai keberadaan Ashana.


"memangnya apa yang bisa dia lakukan? dilihat bagaimana pun dia ini hanya perempuan lemah"


Doni mengerutkan dahinya.


Yashbi memijit pangkal hidungnya.


Doni segera mengambil laptop dan mendekatkan pada Morina. Untuk memperlihatkan apa yang dilakukan Ashana saat diruangan itu. (kejadian Ashana yang melawan Zig si ular dan Clara).


Tapi karena Zig dan Clara tidak terlihat dalam rekaman itu membuat Morina tertawa.


"apa apaan ini? dia bicara sendiri? apa dia gila? jangan-jangan pelayan kau tolong ini sebenarnya memang orang gila" ucap Morina menatap Yashbi.


"pelayan yang ditolong?" gumam Ashana namun bisa terdengar oleh mereka.


"kenapa kau malah membuatnya bekerja di rumah kita? seharusnya dia diberi hukuman saat mencuri uangmu"


Pandangan Ashana dan Yashbi bertemu. Ashana dengan tatapan penuh tanda tanya awalnya tapi dia segera merubah tatapannya menjadi seperti biasanya.


"nona tenang saja. Jika sudah selesai aku akan segera pergi tanpa disuruh" ucap Ashana dengan senyum tipis.


"apa yang dia katakan?" batin Yashbi menatap Ashana intens.


"wanita yang saat ini ada bersamamu dia yang ikut serta membantumu, Yashbi" celetuk Robin dengan masih terbata.