
Clara memunculkan pisau melukai lengan Robin.
Sreeet
Darah segar keluar dari lengan Robin.
Bersamaan dengan itu lengan Clara pun terluka.
"lihat. Matamu masih bisa melihat dengan normal, bukan?"
"karena perasaanmu yang menjijikan itu membuatku seperti ini" ucap geram Clara dengan tatapan nyalang.
Robin meringis kesakitan hingga mengeluarkan keringat didahinya.
"Clara..." ucap Robin terhenti.
"sssst... jangan banyak bicara. Kau hanya tinggal lakukan apa yang kukatakan barusan. Baiklah, karena aku masih mau berbaik hati"
Clara menuliskan rapalan mantra di atas permukaan tanah dengan darah Robin.
"kau bisa membacanya, bukan? ini bisa lebih memudahkanmu"
Anuya yang memperhatikan mereka sedari tadi dia ternyata melakukan rapalan mantra yang dia miliki sendiri.
Robin menelan salivanya.
"aku akan melakukannya tapi, apa boleh aku meminta sesuatu padamu, Clara?" lirih Robin.
"katakan" jawab Clara datar.
"aku ingin memegang wajahmu untuk terakhir kalinya"
Clara mensejajarkan posisinya dengan Robin. Tangan Robin terulur memegang wajah Clara. Terlihat wajah Robin tersenyum lebar.
"dalam kondisi apapun kau tetap anakku, Clara" lirih Robin seraya membaca rapalan mantra yang ada di atas permukaan tanah itu.
Perlahan sebagian tubuh Robin menghilang. Seperti terhapus perlahan.
"jangan lupakan kami. Aku akan tetap menyayangimu apapun kondisinya" ucap Robin dan menghilang dari hadapan mereka.
"berisik sekali" ucap Clara kesal beranjak berdiri.
"semoga saja berhasil" batin Anuya.
"satu persatu manusia yang mengangguku telah lenyap. Kali ini siapa lagi?" ucap Clara keluar dari ruangan itu sambil berpikir.
Anuya yang mengikuti dengan perasaan cemas takut jika Clara mengetahuinya jika dirinya membantu Robin pasti akan dalam bahaya. Nyawanya terancam atau bisa dibunuh saat itu juga.
" kenapa? apa kau kurang baik?" tanya Clara menoleh ke arah Anuya.
"tidak, tidak. Aku baik-baik saja. Hanya saja aku cukup kaget dengan apa yang kau lakukan barusan"
"maksudmu aku seperti tidak memiliki perasaan sama sekali terhadap mereka yang bersamaku beberapa tahun ini. hah"
"jangan bercanda. Aku tidak akan dan tidak akan sudi memiliki perasaan menjijikan itu"
"sebaiknya kau membantuku bersenang-senang dengan mereka. Siapa lagi kali ini yang harus singkirkan?"
"kenapa kau tidak mendatangi kekasih manusiamu itu? setahuku dia mencarimu selama ini"
"euuumphh... sebenarnya aku ingin sekali bertemu dengannya hanya saja, hidangan utama sebaiknya aku makan dibagikan terakhir"
"kau menyamakan manusia dengan makanan?"
"benar karena itu layak untuk mereka. Mereka makanan untukku" ucap Clara dengan sorot mata dan mimik wajah menyeramkan.
...******...
Yashbi yang berada di ruangan yang hanya dirinya dan anak buahnya yang tahu. Beberapa pengawal dengan pakaian serba hitam menyambutnya. Saat itu mereka tengah bersantai dengan memainkan kartu, biliar dan minum-minum karena tugas dari Yashbi telah mereka selesaikan tanpa ada salah sedikit pun.
"apa kalian sudah melakukannya dengan benar?" tanya Yashbi dengan suara baritonnya menggema di ruangan itu.
"ya, tuan. Kami sudah melakukannya sesuai perintah"
"bawa wanita yang memuat berita sampah itu kehadapanku" ucap Yashbi dengan satu orang menyiapkan bangku untuk diduduki olehnya.
Tidak lama kemudian, seorang gadis dibawa kehadapannya dengan mulut tertutup lakban, kaki dan tangan terikat dia adalah Benedikta.
Benedikta didorong oleh pengawal yang membawanya hingga tersungkur dihadapan Yashbi.
Benedikta mengadahkan kepalanya untuk melihat siapa orang yang ada dihadapannya. Menyeramkan. Itu yang pertama kali melihat Yashbi pendapat Benedikta.
"tidak, tidak mungkin" batin Benedikta.
"Benedikta..." suara bariton Yashbi kembali menggema di ruangan itu.
Benedikta menelan salivanya. Pandangan mereka saling bertemu. Yashbi dengan tatapan nyalangnya sedangkan Benedikta dengan tatapan cemas sekaligus takut.
"kau seorang direktur percetakan" ucap Yashbi bersamaan seorang pengawal menyerahkan sebuah amplop coklat dan dia membukanya.
"seorang direktur percetakan yang kala itu sedang berada di atas angin namun, kali ini angin yang menerbangkan namamu sudah tidak berhembus kearahmu karena kau telah membuat berita palsu tentang satu perusahaan yang menyatakan jika perusahaan itu tidak membayar upah karyawan dengan layak"
Yashbi tersenyum simpul dan menatap rendah Benedikta.
"apa kau tidak tahu perusahaan itu milik siapa?" tanya Yashbi datar.
"apa kejadian tempo hari kau sudah melupakannya? hah"
Benedikta menelan salivanya tatapan Yashbi begitu mengintimidasinya hingga nafas pun terasa sesak.
"perusahaan itu milikku, milikku.... nona Benedikta " ucap Yashbi.
"akan aku beri kau sedikit waktu untuk mengingatnya"
Seorang pengawal menyodorkan napan dengan minuman kesukaan tuannya, Yashbi.
"silahkan, tuan"
"bagaimana dengan wanita yang satunya lagi?" tanya Yashbi menatap orang suruhannya yang berbaris dikedua sisi Yashbi.
"dia berada di ruangan xxxc dan sesuai perintah kami menghidupkan mesin pemanas ruangan dengan suhu tinggi"
Mendengar hal itu, Benedikta seketika terpaku dan kedua matanya melotot sempurna.
Ingatan Benedikta, saat itu ada dua orang laki-laki mengunjungi kantornya menyuruhnya untuk memuat berita palsu tentang perusahaan Yashbi dengan imbalan sejumlah uang dengan jumlah fantastis. Benedikta pun menerimanya karena tergiur dengan uang tersebut.
Dengan kekuasaan Yashbi, aksi Benedikta dalam waktu singkat diketahui oleh Yashbi dan Yashbi menyuruhnya menutup berita palsu tersebut dan tidak lupa menawarkan sejumlah uang dua kali lipat dari dua orang tadi.
"apa kau sudah mengingatnya?" tanya datar Yashbi menggoyangkan sloki ditangannya.
"seharusnya waktu itu aku menghabisimu"
Deugh
"lalu, sekarang kau membuat berita sampah ini" ucap Yashbi melemparkan poto-poto dirinya dan Ashana serta flashdisk.
Benedikta baru menyadari jika laki-laki dalam poto itu adalah Yashbi.
Dengan menggeret tubuhnya dia memohon pada Yashbi untuk memaafkannya.
Benedikta seraya memegang betis Yashbi.
Yashbi hanya menatapnya dingin. Di arah bersebarangan terlihat wujud lain dari Yashbi dan Yashbi menyadarinya hingga mengerutkan dahinya.
"aku bisa melihatnya?" batin Yashbi heran.
"aku akan memaafkanmu"
Ucapan Yashbi tersebut membuat kedua mata Benedikta berbinar.
"tapi ada satu hal yang harus kau lakukan"
"kau harus meniduri minimal tiga orang bawahanku lalu kau muat sendiri berita tentangmu dengan tiga orang bawahanku tadi. Jadi kau hanya perlu mempermalukan dirimu sendiri. Mudah, bukan?" ucap Yashbi beranjak berdiri melangkahkan kaki menjauh dari Benedikta.
Benedikta mulai bulir-bulir kristal dari matanya.
Yashbi berjalan mendekati wujud lain dari Yashbi. Terlihat warna hitam wujud lain dari Yashbi menambah, merambat kebagian tubuh lainnya.
Lagi, lagi Yashbi mengerutkan dahinya.
Yashbi ingin memegangnya namun, tidak bisa (tangannya tembus).
Wujud lain dari Yashbi hanya menatap datar sang pemilik.
Yashbi teringat saat Ashana memegang wujud lain dari Yashbi seperti memegang manusia pada umumnya. Tapi Yashbi tidak bisa (tangannya malah tembus) lalu, Mimika wajahnya hangat tersenyum pada Ashana tapi pada dirinya, tidak sama sekali.
"sialan! sebaiknya kau jangan menampakkan wujudmu dihadapanku"
Melihat aksi tuannya membuat bawahan dan pengawal merasa bingung.
"bawa wanita itu ke ruangan serta tiga orang yang bersedia menemaninya. Dan lakukan yang kukatakan barusan" ucap Yashbi membelakangi mereka.