
Di dalam kamar mandi, Yashbi sedang membersihkan wajahnya. Melihat pantulan dirinya sendiri melalui cermin besar yang terpampang di depannya.
Bayangan Clara selalu menghantuinya.
Clara yang tersenyum manis ke arah Yashbi.
Yashbi teringat saat pertemuan pertama kalinya dengan Clara.
Yashbi yang sudah beranjak dewasa dia mulai belajar bisnis meski sedari lahir sudah menjadi anak yang berasal dari keluarga kaya di kota itu. Peringkat ke satu hingga saat ini. Auranya semakin terpancar semenjak sering kali mengobati orang yang diganggu oleh makhluk-makhluk. Bukan hanya pebisnis melainkan menyandang gelar yang orang jarang ketahui yaitu cenayang,paranoid, ahli sihir dan paranormal.
Yashbi mengunjungi kediaman Robin. Saat pertama kali masuk ke dalam rumah pandangannya tertuju terhadap Clara yang memiliki wajah sangat cantik dibanding wanita lainnya. Senyuman memukau, bola mata indah mampu menghoptis siapapun yang melihatnya.
Clara yang saat itu hingga saat ini menyukai manusia yang memiliki kepintaran diatas rata-rata membuatnya terbawa permainan sendiri. Clara sama sekali tidak memiliki perasaan yang sama dengan Yashbi. Dia hanya selalu ingin berdekatan dengan Yashbi saja.
Clara berubah total saat pandangannya bertemu dengan Anuya. Dia menghilang begitu saja tanpa Yashbi ketahui.
Hingga saat ini, Yashbi tidak mengetahui siapa Clara sebenarnya.
Apa mungkin istri pertama Yashbi yang menghilang ada sangkut pautnya dengan Clara sendiri?.
Istri pertama Yashbi menghilang jasadnya pada saat itu juga. Dan yang menyembunyikan jasadnya ialah Clara. Ya, Clara menyimpan jasad istri pertama Yashbi di Yaebud tepat di bawah permukaan tanah itu. Manusia biasa yang melihatnya hanyalah hewan besar seperti paus. Namun, siapa sangka jika itu adalah jasad istri pertama Yashbi.
Tujuan Clara adalah untuk memakai jasad tersebut yang menurutnya sangat cantik untuk ukuran manusia.
Yashbi yang selalu menghabiskan waktu berasa Clara perlahan dia melupakan mending istrinya. Ya, keadaan ini juga Clara yang ikut serta di dalamnya. Setiap kalimat dan ucapan yang keluar dari mulut Clara mampu membuat Yashbi tidak berdaya.
Memang benar, Yashbi juga bisa melakukan hal sama namun, terhadap Clara tidak mempan sama sekali. Mengingat siapa Clara dan juga Yashbi.
Yashbi yang tersenyum tipis mengingat senyuman manis Clara yang terbayang selalu diingatanya. Dia segera menuju tempat tidurnya berharap bisa memejamkan matanya. Namun, kali ini yang teringat bukanlah Clara melainkan Ashana.
Yashbi duduk di atas kasur menyugar rambutnya.
"sial, kenapa aku mengingatnya?" ucap Yashbi yang tidak lama ponsel miliknya mendapatkan notifikasi pesan masuk
Yashbi melihat pesan tersebut yang awalnya biasa saja namun, seketika menghembuskan nafas kasar.
"apalagi? dia benar-benar menginginkannya?"
Jari tangannya lincah mengusap layar ponsel.
Yashbi melihat bagaimana interaksi Ashana bersama Anzel.
Di rumah sakit, Lani menyusuri lorong dan melihat setiap pintu kamar pasien.
"tidak, dia tidak mungkin dirawat ruangan jelek seperti ini"
Lani menekan tombol lift menuju lantai paling atas di mana terdapat ruangan vvip.
"sebentar lagi tubuhmu akan berwarna merah, gadis kecil. Ya, merah. Warna yang sangat cantik dan indah" ucap Lani dengan senyuman liciknya.
Di dalam mobil, Doni mendengarkan perintah dari sopir Yashbi jika Doni harus segera ke rumah sakit karena Ashana dalam keadaan gawat.
Yashbi yang masih terduduk di sandaran ranjang.
"Ashana, apa benar yang Doni katakan?"
"aku harus meyakinkannya dengan caraku sendiri"
Yashbi teringat selama ini tidak ada petunjuk apapun tentang dirinya yang mencari Clara namun, saat beberapa hari Ashana masuk ke rumah miliknya ada petunjuk yang bermunculan. Terutama di baju patung yang mirip sekali Clara. Padahal Yashbi merapalkan mantra (termasuk patung itu) apapun agar mendapatkan petunjuk sama sekali tidak membuahkan hasil.
Yashbi tersenyum simpul.
"apa wanita disekitarku memiliki identitas misterius?"
*******
Di Yaebud, tepatnya di ruangan penyembahan dan pemujaan Anuya berdiri seorang diri menyilangkan kedua tangannya menatap ke bawah di mana hanya ada sedikit manusia yang didapat untuk melakukan penyembahan dan pemujaaan.
" mereka tidak cukup baik. Mereka hanya manusia biasa pada umumnya" ucap Anuya menghela nafas pelan.
"sebagian besar orang-orang kaya sudah mati dengan keinginan mereka sendiri"
"hanya ada satu manusia yang belum aku coba" ucap Anuya dengan senyum simpul.
Anuya teringat orang terkaya di kota itu yaitu Yashbi.
"sebelum melangkah ke tahap selanjutnya aku harus membereskan orang tua itu terlebih dahulu"
"sebaiknya kau segera mencari mereka dan membawanya ke tempat ini dengan jumlah sangat banyak. Aku mulai merasa bosan berada di dunia manusia ini" celetuk suara seorang wanita yang tidak lain adalah Clara.
Clara menatap Anuya dengan tatapan berbeda dari sebelumnya lebih dingin dan mengintimidasi.
Anuya seketika tidak mampu menjawab lidahnya terasa kelu.
"ada apa dengan lidahku?" batin Anuya.
"Anuya, apa kau sudah merasa puas bermain dengan orang-orang kaya? apa kau lupa siapa yang membuat mereka seperti itu?"
"Anuya, sebagian besar dari mereka memuja dan menyembah ku selain itu mereka mati dengan keinginannya sendiri. Lalu, sebagai imbalan aku mewujudkan keinginan mereka"
"memberikan benda yang diagungkan di dunia manusia ini"
Seketika turun hujan uang di ruangan itu dengan tawa Clara.
"dengan benda ini mereka menjadi seonggok sampah yang tidak berguna, Anuya"
"manusia terpintar sekalipun tidak akan mampu menolak benda yang mudah saja bagiku mendapatkannya"
"kau harus membawa mereka lebih banyak lagi aku sudah tidak sabar ingin menggunakannya dan bermain dengannya"