
Lengan patung yang mirip Clara terputus. Potongan lengannya terjatuh ke lantai.
Yashbi yang teramat mencintai dan menyayangi Clara. Sementara disisi lain Clara tidak memiliki perasaan yang sama halnya dengan Yashbi. Ya, Clara hanya bermain-main saja bersama Yashbi.
Hubungan mereka terjalin dan terikat satu sama lain. Tanpa mereka sadari hukum alam turut serta ke dalam hubungan mereka.
Perasaan Yashbi yang teramat dalam membuat Clara sedikit demi sedikit terluka dan tersakiti. Baik Yashbi dan Clara mereka tidak menyadarinya.
Bersamaan dengan lengan patung mirip Clara putus diseberang sana Clara merasakan sakit luar biasa tepat dilengannya hingga tubuhnya berada di atas lantai meringis kesakitan.
"a... apa yang terjadi dengan tubuhku?" gumam Clara.
Di ruang kerja, terlihat Yashbi wajah yang merah padam tangannya meraih potongan lengan yang berada di atas lantai.
Doni terlihat merinding menatap Yashbi yang menatap tajam ke arahnya.
"kau... kau jangan menyalahkanku. Kau sendiri yang melempariku dengan bantal itu. Reflek aku membuat pertahanan menggunakan patung..." ucap Doni terbata.
Yashbi merebut patung itu.
"apa aku pernah mengijinkanmu sekali saja untuk menyentuhnya? hah" tanya geram Yashbi menatap nyalang ke arah Doni.
Doni tertegun melihat reaksi Yashbi sebucin itu terhadap wanita yang bernama Clara.
"dengar, aku tidak bermaksud apapun" ucap jelas Doni.
Yashbi berusaha memasangkan kembali lengan patung itu tapi, tidak bisa. Dia menghela nafasnya kasar.
Yashbi merogoh ponselnya melihat Anzel beberapa kali menghubungi dan mengirimkan pesan. Niatnya dia ingin menghubungi pembuat patung itu.
"kau sudah gila" ucap ketus Doni.
"ada apa denganmu?" tanya datar Yashbi.
"kau menggilai wanita yang menghilang begitu saja"
"aku sadar jika Ashana tidak secantik wanita itu. Tapi...setidaknya kau menganggap gadis kecil itu sebagai istrimu. Kau mengatakan jika umurnya hanya dua puluh bulan lagi. Setidaknya bersikpalah baik layaknya seorang suami" ucap Doni penuh penekanan yang tidak tahan dengan sikap Yashbi yang terlihat bodoh hanya karena satu wanita. Padahal Yashbi memiliki banyak kelebihan dibanding laki-laki lainnya. Materi, tampang dan juga kekuatan yang jarang sekali dimiliki manusia lainnya.
Yashbi tertegun mendengar ucapan Doni barusan.
"gadis kecil itu saat ini berada di rumah sakit karena kejadian tadi pagi"
Doni membulatkan kedua matanya sempurna.
"bagaimana keadaannya?" tanya Doni cemas.
"besok pagi dia sudah diizinkan untuk pulang. Besok sopirku akan menjemputnya"
Doni mengerutkan dahinya.
Pintu ruang kerja Yashbi terbuka sedikit dan seseorang menguping pembicaraan mereka sedari tadi dengan senyuman liciknya.
Clara masih meringis menahan sakit luar biasa dilengannya. Sudah cukup banyak rapalan mantra yang dia ucapkan namun, tidak mengurangi apalagi menghilangkan rasa sakitnya yang berada di lengannya. Belum lagi beberapa bagian tubuh lainnya menghitam akibat apa yang terjadi pada Robin tempo hari.
"sebenarnya apa yang sudah terjadi denganku? kekuatanku tidak berguna" ucap kesal Clara beranjak memegangi lengannya.
Seseorang menghampirinya berjalan berlawanan menuju ke arahnya.
Clara mengerutkan dahinya.
"s... siapa?"
Langkah kaki yang elegan tidak menapak ke permukaan tanah.
Pertama kali terlihat oleh Clara adalah senyuman tipis dari seseorang itu.
Saat beberapa langkah berada di hadapannya. Clara membulatkan kedua matanya sempurna. Tidak percaya dengan seseorang yang ada dihadapannya saat ini.
"ada apa kau mendatangiku seperti ini?" tanya Ashana berusaha tenang dengan kedatangan seseorang yang saat ini ada dihadapannya.
"sudah jauh-jauh hari aku memperhatikanmu. Apa yang sedang kau lakukan di dunia manusia beberapa tahun ini"
Deugh
Clara tidak menyadari jika ada seseorang yang mengintainya selama ini.
"mungkin kau sudah mendengar dari pengikutmu di dunia sana,siapa aku..."
"dengar, sebelum adanya dirimu aku sudah melenyapkannya, hanya dengan menyisakan wanita-wanita di dunia manusia ini yang tidak berkualitas baginya"
Deugh
"Brennan Brone..." gumam Clara yang masih bisa terdengar jelas oleh Zeys.
"ya, tepat sekali" ucap Zeys dengan senyum tipis tersungging di sudut bibirnya.
"dengan lahirnya kembali pemimpin Satan's World membuatku tidak bisa mati dengan tenang. Karena setiap aku melenyapkannya pasti pemimpin sialan dunia itu akan kembali dengan wujud dan kekuatan yang berbeda" ucap Zeys dengan helaan nafas kasar.
"Brennan Brone dia muncul karena dunia manusia sebagian besar dihuni oleh perempuan. Perempuan yang sudah tidak memiliki urat malu"
"tidak hanya tampangmu yang memukau namun, otakmu sangat mengesankan" ucap Clara dengan mata berbinar menatap ke arah Zeys.
"bagaimana jika saling menguji kekuatan kita?"
Zeys hanya tersenyum simpul.
"bagaimana jika aku berhasil mengalahkanmu atau bahkan bisa membunuhmu?" tanya Zeys meremehkan.
Zeys tahu jika Clara belum sepenuhnya bangkit. Mengingat pemuja dan penyembah (manusia) untuk membangkitkan dirinya terbilang masih sedikit.
"apa kau mengira jika kekuatan yang kumiliki hanya dari manusia bodoh itu?" ucap Clara menyeringai.
Clara mulai merapalkan mantra dan berhasil mengurung Zeys dalam sebuah sel yang terbuat dari manusia-manusia yang memuja dan menyembah dirinya. Bau amis menyeruak. Sel yang diselimuti darah manusia.
" bagaimana? mereka melakukannya karena keinginannya sendiri. Aku menyukai manusia bodoh. Tapi aku lebih menyukai manusia pintar yang bisa diperalat olehku"
Zeys merapalkan mantra dan keluarlah sebuah pedang dari permukaan tanah. Menebas sel yang mengurung dirinya.
Sel-sel yang terbuat dari manusia yang memuja dan menyembah Clara seketika hancur dan berubah menjadi serpihan-serpihan cahaya yang menuju ke atas langit.
"sialan... kau!!!" teriak Clara.
"jadi selama ini yang menghalangi kebangkitanku adalah dirimu. hah" ucap Clara dengan amarah berapi-api.
"kau sudah menjawabnya jadi tidak perlu aku menjelaskan kembali"
Clara merapalkan mantra kembali. Muncul ratusan pengikutnya yang berada di Satan's World.
Zeys merapalkan mantra dan turunlah hujan bukan hujan air melainkan gelembung cahaya putih. Setiap gelembung mengurung tiga hingga lima makhluk pengikut Clara.
Zeys melenyapkan pengikut Clara yang berada dalam gelembung cahaya itu hanya dengan menyentuhnya dengan telunjuknya.
Clara membulatkan kedua matanya sempurna.
"apa kau masih belum mengerti, Clara Brone?" ucap tegas Zeys.
Zeys menghampiri Clara yang tidak jauh darinya.
"luka yang kau dapatkan ini adalah dari manusia yang sangat amat dalam mencintaimu" ucap Zeys memegang lengan Clara.
"kau sudah tidak lagi memiliki kekuatan untuk melawanku, Clara. Kita akan bertemu lagi saat kau bangkit sepenuhnya dan di parade dunia kita"
"saat ini aku tidak memiliki niat untuk melenyapkanmu dengan cepat. Itu terlalu ringan dan menyenangkan untukmu"
"aku ingin menyaksikan sejauh mana tali yang mengikat hubunganmu dengan manusia itu"
Clara mengerti sekali dengan ucapan Zeys.
"jika aku menggunakan kekuatanku di luar batas kau harus bisa menghentikanku" ucap Clara menelan salivanya.
"kenapa? kau berubah pikiran? bukankah kau ingin bermain dalam jangka cukup lama di dunia manusia ini" tanya Zeys melepaskan tangannya yang memegang lengan Clara.
Kondisi lengan Clara terlihat seperti tidak ada luka apapun tapi siapa tahu jika luka yang pertama kali di dapat perlahan menggegoroti tubuhnya karena terhubunganya perasaan dirinya dan Yashbi.
Perasaan Yashbi yang tulus mencintainya sedangkan Clara hanya mempermainkannya saja.
"ku beritahu kau satu hal. Ini menyangkut tentang dirimu"
"adanya dunia manusia, Satan's World dan dunia yang kubangun. Dunia-dunia itu terhubung satu sama lain. Dunia manusia dipermainkan oleh duniamu berasal lalu Satan's World bisa dikatakan dipermainkan oleh dunia yang kubangun"
"ah... tidak. Bukan seperti itu maksudku"
Zeys terlihat berpikir keras memegang dagu dengan tangannya.
"adanya duniaku. Aku hanya ingin menjadi penyelamat untuk manusia khususnya wanita dan anak-anak. Di dunia manusia yang tidak adil ini mereka hidup penuh dengan penderitaan. Aku sama sekali tidak menyukainya"
"apakah itu alasannya kau membangun duniamu sendiri dan perlahan mengikis dunia Satan's World?" tanya kesal Clara.
"bukan... bukan itu maksudku. Sungguh" ucap Zeys memberikan tanda peace dengan dua jarinya.
"selain tiga dunia tadi yang kusebutkan apa kau tidak berpikir ada sesuatu yang lebih berkuasa dari itu?"
Clara dan Zeys beradu pandang.
"alam semesta. Kekuatan dan energi alam semesta yang siapapun dan bagaimana pun caranya tidak akan dapat memilikinya"
Zeys mengedikan bahunya dan menghilang begitu saja.
Clara yang masih memegangi lengannya. Merasa lengannya sedikit berkurang rasa sakitnya daripada sebelumnya setelah dipegang oleh Zeys.
"dia mengobatiku?" ucap Clara menggerak-gerakkan lengannya.
Tiba-tiba sebuah suara menggema yang tidak lain adalah suara Zeys.
"aku tidak mengobatimu. Kau jangan berpikir sejauh itu. Aku sama sekali tidak berniat untuk melakukannya"
"dia... dia... masih mengintaiku? hah" batin Clara merasa kesal.