
...•••...
Seusai jam pelajaran terakhir, Tedjo langsung melesat ke kelas Yumi dan menunggunya di luar.
Begitu Yumi keluar kelas, mereka segera menuju pelataran parkir.
Tedjo merangkul Yumi tapi gadis itu menepisnya.
"Sehari aja nggak gangguin gue bisa nggak sih lo?!"
Tedjo tertawa kecil.
"Yumyum?"
"Hm...." gumam Yumi pada Tedjo.
"Gimana hari pertama lo sekolah bareng gue? Lo nggak ada niatan pindah ke kelas gue?" tanya Tedjo ngawur.
"Beneran bego lo ya? Gue masih kelas satu sedangkan lo udah kelas dua. Gimana ceritanya beda angkatan bisa sekelas. Ngadi-ngadi lo." jawab Yumi.
"Gue bisa ngelakuinnya kalo lo mau." goda Tedjo sambil menaik-turunkan alisnya.
"Ngawur lo." kata Yumi sambil buang muka.
"Lo nggak percaya sama gue?" gumam Tedjo.
"Percaya sama lo tuh dosa. Oh iya, lo pasti kaget sama apa yang mau gue ceritain." kata Yumi.
"Emangnya apaan? Lo jangan buat gue penasaran."
"Pala gue kena bola basket." kata Yumi.
"Hah? Terus?" Tedjo mengernyitkan dahinya.
"Yang ngelakuinnya cowok."
"Maksud lo apaan sih? To the point aja lo, gue bilang!" kata Tedjo tak sabar.
"Gue ketemu sama cowok tadi." jelas Yumi.
Tedjo diam sebentar. "Ganteng nggak?"
"Ya gantenglah. Emanglah elo."
Tedjo mendengus. "Lo mau buat gue cemburu?"
Yumi menatap Tedjo heran, lalu tertawa.
"Dia emang beneran ganteng, tau. Lagian ngapain juga gue buat lo cemburu? Gue nggak boong ya kalo dia itu ganteng daripada lo." goda Yumi sambil berjalan mendahului Tedjo.
"Yumyum!!!" Tedjo mengejar Yumi.
Yumi tertawa.
"Lo nggak boleh dong muji-muji cowok lain ganteng!"
Yumi berbalik melihat Tedjo. "Kenapa sih lo? Jadi lo mau gue boong, gitu?"
"Jaga omongan lo!"
"Hahaha...." Yumi masuk ke mobil.
Tedjo ikut masuk ke mobil di kursi pengemudi.
"Santai aja kali. Gue nggak bakal mungkin pacaran sama dia." kata Yumi tapi Tedjo masih saja kesal dibuatnya.
"Diem! Nggak usah ngomong lo!" Tedjo cemberut dan tidak mau menyetir.
"Lo marah? Jangan marah dong. Lo nggak mau pulang apa? Gue udah laper nih." bujuk Yumi.
Tedjo menghela napas. "Kita bakal pulang kalo lo mau pegangan tangan sama gue."
"Lo tuh kenapa sih?"
"Lo mau pulang nggak?" tanya Tedjo.
"Heh, woi!!!" teriak Yumi sebal.
"Tiga... dua... satu... pegangan tangan sama gue atau kita nggak pulang?"
"Iya, iya! Pegangan tangan sama lo!" jawab Yumi sambil menggenggam tangan Tedjo dengan terpaksa.
"Good girl. Ayo kita pulang." kata Tedjo dengan muka datar tapi sambil menahan tawa karena hatinya sudah melompat-lompat kegirangan.
Yumi cemberut.
...•••...
"Assalamu'alaikum!" sapa Tedjo setelah masuk ke rumah bersama Yumi.
"Aku rela walau hidup susah~ Asal saja aku bahagia~ Asalkan kau tua sudah bau tanah~"
Hingar-bingar musik langsung terdengar saat Tedjo dan Yumi tiba di ruang tengah.
Tedjo dan Yumi melongo begitu melihat Pak Udin, Pak Selamet dan Bu Titin yang heboh bernyanyi dan menari.
"Ada apaan nih?" gumam Yumi.
Tedjo menghela napas lelah. "Lo nggak ingat ya?"
"Ingat apaan?"
"Orang tua kita kan emang selalu begitu kalo udah ngumpul." kata Tedjo. "Lo liat noh. Emak gue napa kayak laki banget gayanya?"
Bu Titin menoleh ke arah Yumi dan Tedjo.
"Ya ampun! Ternyata kalian udah pulang, Nak."
Yumi tersenyum kikuk. "Iya nih, Bude."
"Neng Yumi teh mau nyanyi sama-sama?" tanya Bu Titin sambil mengerlingkan matanya.
Yumi berpikir keras mencari cara agar bisa menolak dengan sopan.
"Kayaknya belum saatnya deh, Bude." jawab Yumi.
"Belum saatnya gue permaluin diri gue depan lo semua." batin Yumi.
"Ayo atuh, Neng. Bude belum pernah dengarin Neng nyanyi." kata Bu Titin.
"Iya, Nak Yumi. Pilih aja lagu kesukaanmu." kata Pak Selamet.
"Tinggal nyanyi doang elah. Kalah lu ama gua yang udah tua?" goda Pak Udin.
"Wah, Babeh nantengin aye nih? Ayo, deh. Aye terima tantangannya. Tedjo bakal bikin kalian terpukau dengan suara emasnya." kata Yumi sambil menarik Tedjo.
"Kok gue sih?"
"Ya udahlah... anggap aja ini permintaan Babeh gue ke elo." potong Yumi.
Tedjo yang tidak tahu apa-apa hanya bisa pasrah.
"Giginya ompong menggerong ranto gudel mendehem nyungsep~ Thuyul gundhul ke sana sini mengempit gendul~"
Suasana menjadi riuh. Tedjo, Pak Udin, Pak Selamet dan Bu Titin menari dengan hebohnya.
"Tedjo!" Yumi yang duduk terus menyoraki Tedjo sambil tepuk tangan untuk memberi semangat.
Setelah lagu itu berakhir, Tedjo bernyanyi lagu yang selanjutnya.
"Kau memang cinta pertamaku~ Dan aku pun berharap~ Mulai hari ini, saat ini, engkau cintanya aku~"
Meskipun ada beberapa lirik yang diubah Tedjo, tapi dia menyanyikannya dengan serius. Itu membuat Yumi terpukau.
Kini, giliran Yumi yang menyanyi dengan suara cemprengnya.
"Semalam ku tahan, ku tahan semalam~ Lama lama rindu tak mampu ku tahan~ Tapi sayang cintamu cuma semalam~ Kini kau pergi menghilang~"
"Yumyum!" Sorak Tedjo menyemangati Yumi.
Akhirnya, kemudian suasana menjadi semakin kacau karena mereka yang terus menari begitu heboh.
Tiba-tiba....
"Assalamu'alaikum."
Embun yang baru saja pulang sekolah, tersentak kaget begitu melihat kekacauan di depan matanya.
...•••...
"Dua hari lagi kite bakalan jadi besan nih, Bro Selamet." kata Pak Udin di suatu malam, saat mereka semua berkumpul di meja makan.
Yumi yang sedang makan dan mendengar itu langsung tersedak.
"Pelan-pelan kalo makan tuh, Yum. Keselek kan lu." kata Pak Udin sambil memberikan Yumi air minum.
Setelah minum, Yumi mulai bicara.
"Maksud Babeh, pernikahannya tinggal dua hari lagi, gitu?" tanya Yumi.
Pak Udin mengangguk membuat Yumi murung.
"Ada apa atuh, Neng?" tanya Bu Titin.
"Nggak ada apa-apa kok, Bude." Yumi memaksakan untuk tersenyum.
"Gila. Gue harus apa nih?" batin Yumi.
...•••...
Kamar Tedjo....
"Allahu Akbar!!! Woi! Kalo mau masuk tuh ketok pintu dulu kali!" seru Tedjo kaget karena Yumi yang tiba-tiba masuk saat ia sedang memakai baju.
Yumi hanya diam, kemudian duduk di sofa dengan wajah yang sedih.
"Lo kenapa? Lagi sedih lo? Lo sedih gegara nggak sempat ngeliat gue tanpa baju?" goda Tedjo tapi Yumi malah mencibir.
"Yumyum~"
Yumi masih diam.
"Gara-gara pernikahan kita ya?" tanya Tedjo.
"Lo kenapa sih jahat banget sama gue? Kenapa lo ngerebut gue dari Babeh gue, hah? Gue ini masih 16 tahun dan lo tuh masih 17 tahun. Apa pantes bocah kayak kita ngomongin nikah-nikahan?" Yumi berterus-terang.
"Tapi kan kita udah sepakat. Lagian kita juga tetap tinggal sama-sama, kan? Lo nggak bakal ninggalin Babeh lo." jelas Tedjo.
Yumi menunduk sedih.
"Kalo lo masih ragu, anggap aja pernikahan ini buat nyatuin persahabatan kita selama-lamanya. Nggak boleh ada yang selingkuh dari sahabatnya. Gimana?" kata Tedjo.
"Kalo gue punya pacar?" tanya Yumi polos.
"Ya itu berarti lo nyelingkuhin gue, ege. Apa omongan gue nggak masuk ke otak lo?" Tedjo menoyor pelan kepala Yumi.
"Tedjo! Ini kepala!" Yumi balas menjitak kepala Tedjo.
"Emangnya siapa yang bilang kalo itu dengkul?! Pergi sono lu dari wilayah kekuasaan gue!"
Yumi pergi dari kamar Tedjo sambil melihat ke arah Tedjo geram.
"Selamat malam calon istri! Ummmcccaaahhh!" seru Tedjo begitu bersemangat.
"Diem lo! Berisik!"
Yumi cepat-cepat pergi dari sana.
"Serah guelah! Congor, congor gue!" Tedjo diam-diam terkekeh.
...•••...
Tedjo memakaikan cincin pernikahan itu ke jari Yumi.
Semuanya berjalan lancar seperti harapan.
Namun, sebelum orang itu datang.
Pyuuu!
Suara tembakan itu tepat mengenai jantung Tedjo, membuatnya berlutut.
"Ya Allah... apaan nih? Dada gue berdarah." Tedjo mengusap dadanya dengan panik.
Sedangkan Yumi memilih pergi bersama laki-laki yang menembak Tedjo.
"Akhirnya kamu jemput aku, Sayang." kata Yumi sambil menggandeng tangan laki-laki lain itu.
"Yumyum! Tunggu! Jangan pergi lo! Yumyum!" seru Tedjo.
Yumi berbalik ke arah Tedjo.
"Lo ganteng sih. Tapi, gue nggak suka sama lo. Maafin gue ya." kata Yumi dengan entengnya.
"Apa-apaan lo?!"
Kemudian laki-laki yang digandeng Yumi pun ikut berbalik.
"Oi, Bang! Gue Baruna, sahabat lo. Lo nggak keberatan kan, kalo gue bawa Yumi kabur dari sini? Oh iya, maaf udah nembak jantung lo, Bang. Sakit banget ya?" kata Baruna sambil tersenyum manis.
"Woi, Bar! Kenapa lo ngelakuin ini, hah?! Lo udah nyakitin gue tau nggak! Lo nggak mau ngeliat gue bahagia?! Jangan ajak Yumi kabur, plis! Gue mau nikah, ege!" teriak Tedjo sambil memegang dadanya yang sakit.
"Tedjo, gue kan udah bilang kalo gue nggak mau nikah sama lo! Gue suka sama Baruna! Gue suka sama sahabat lo! Sekarang nikmatin aja kematian lo! Dadah! HAHAHA."
Yumi dan Baruna pergi begitu saja meninggalkan Tedjo dan para tamu undangan.
Tedjo berusaha mengejar Yumi tapi kakinya sangat berat untuk melangkah.
"Kenapa kaki gue susah digerakin? Yumyum! Jangan tinggalin gue! Kita mau nikah dan punya tujuh orang anak serta empat anak kucing!"
Tapi, Yumi tetap pergi bersama Baruna.
"YUMYUM! NGGAK!"
"WOI!" Yumi menepuk-nepuk pipi Tedjo dengan kasar.
Tunggu dulu. Kenapa Yumi...?
Zap!
"NGGAK!"
Tedjo melihat ke kiri dan ke kanan dengan wajah bingung. Kenapa ia malah ada di kamar? Bukannya tadi ada di acara pernikahan?
"Bangun juga lo." Yumi menghela napas lega. "Susah banget sih dibangunin!" serunya kesal.
"Hah?" tanya Tedjo seperti orang linglung.
Ternyata di kamarnya juga ada Pak Selamet, Bu Titin, Pak Udin dan Embun.
"Aa minum obat dulu ya. Badan Aa panas banget." kata Bu Titin sambil membantu Tedjo meminum obatnya.
"Apa kita tunda aja nikahannya?" tanya Pak Udin pada Pak Selamet.
"Baiknya sih gitu. Tedjo juga masih sakit." jawab Pak Selamet membuat Tedjo terbelalak.
"Nggak, nggak. Apaan? Tedjo nggak mau pernikahannya ditunda. Tedjo nggak sakit kok." tolak Tedjo.
Pak Selamet dan Pak Udin terkekeh.
"Ya udah. Kalo gitu lu kudu cepet sembuh." kata Pak Udin.
Yumi menatap Tedjo tajam.
"Lo nih apa-apaan sih! Kenapa nggak ditunda aja?! Lo mau meriang di hari pernikahan lo?!" omel Yumi.
"Diem aja lo udah! Gue kan bakal minum obat biar cepet sembuh!" kata Tedjo.
"Iya, dah. Serah lu." kata Yumi terpaksa mengalah.
"Kalian berdua pada kenapa sih? Apa nggak capek berantem mulu? Harusnya kalian tuh sayang-sayangan. Kan bentar lagi mau nikah. Seenggaknya pura-pura aja." kata Embun membuat Tedjo dan Yumi diam.
"Ya udah. Aa istirahat dulu atuh kalo nggak mau pernikahannya di tunda." kata Bu Titin sambil mengusap kepala Tedjo.
Kemudian mereka semua keluar dari kamar Tedjo. Namun sebelum benar-benar pergi, Yumi menjitak kepala Tedjo.
Tedjo hanya menatap Yumi tajam.
"Awas aja lo kalo gue udah nikahin elo." gerutu Tedjo.
"Oh iya. Baruna kok masuk ke mimpi gue ya? Aneh banget." gumam Tedjo.
...•••...