
...•••...
Kriiiiiiiiing!!!
Alarm terus berbunyi, tapi pemiliknya tak bergeming sedikit pun. Bahkan jika bencana alam terjadi, ia mungkin tidak sadar.
"Woi, Yumi! Lu belon bangun juga, hah?! Lu mau liat gua ngeluarin jurus seribu bayangan biar lu bangun?! Asal lu tau aja ya Yum, ini tuh udah malem! Jadi, lu kagak perlu bangun pagi sekarang!" teriak Pak Udin, ayah Yumi yang sangat tampan.
Sementara itu, di dalam kamar, Yumi menggeliat dan merutuki ayahnya itu berkali-kali. Gadis itu akhirnya bangkit dan membuka pintu dengan rambut dan wajah yang kusut.
Yumi menghela napas berat. "Babeh, aye tuh kagak bego ya. Babeh napa sih bangunin aye pagi-pagi buta begini? Air liur aye aja belon keluar noh."
"Etdah, nih bocah." ujar Pak Udin sambil menarik telinga Yumi yang membuat gadis itu kesal. "Lu kagak malu ama ayam yang dari tadi udah bangun?! Sono mandi lu! Abis tuh sarapan. Mau lu telat ke sekolah gara-gara keduluan ayam?!"
Pak Udin berlalu pergi setelah mengatakan itu.
"Iya, iya...." balas Yumi malas. "Emangnya aye satu sekolah ama ayam? Lagian kenapa sih aye di bandingin mulu ama unggas?"
...•••...
"Kok ada tumpeng? Siapa yang lagi ulang tahun? Kayaknya ini bukan hari brojol aye deh, Beh." kata Yumi sambil menyeruput teh milik ayahnya.
"Emang begini nih cara lu memperlakukan orang yang lagi ulang tahun?!" pekik Pak Udin.
Yumi terbelalak. "Hah?!"
"Apa sih lu?" tanya Pak Udin bingung sambil melihat anak gadisnya itu.
"Sejak kapan ulang tahun Babeh di ganti jadi hari enih?"
"Bukan ulang tahun gua yang di ganti, tapi isi pala lu noh yang harusnya di ganti. Etdah, nih bocah. Cepet abisin makanan lu."
"Siap, Bos!"
...•••...
Selesai sarapan, Yumi segera bergegas berangkat ke sekolah. Ia menaiki motornya, memakai helm dan menyalakan mesinnya.
"Babeh! Aye berangkat ya!"
"Hati-hati lu! Jangan ngebut!"
"Iya!"
...•••...
Seperti biasa, sekolah hari ini tidak ada yang spesial. Hanya saja ada beberapa kejadian yang membuat Yumi kesal setengah mati.
Bagaimana tidak, entah dari mana datangnya, tiba-tiba saja bola kasti mendarat mengenai kepalanya. Kejadian itu membuat kepalanya benjol.
Sepulangnya dari sekolah, Yumi menelusuri jalanan dengan motornya. Sesekali ia berselisih dengan orang-orang yang juga baru pulang dari sekolah .
Jangan berpikir itu hantu. Itu hanya makhluk hidup biasa.
"Woi! Minggir! Arrrggghhh!!!"
Yumi terjatuh di aspal yang ada genangan airnya.
"Woi! Lo nggak ada niat minta maaf ke gue?!" teriak Yumi pada cowok yang pergi begitu saja setelah membuatnya jatuh.
"Ck... seragam dia kok nggak kotor sih kayak gue?" gumam Yumi tak terima sambil membersihkan roknya yang sudah basah dan kotor.
"Woi!!!" Yumi segera melepaskan sepatunya dan melemparkannya tepat ke arah kepala cowok itu.
Cowok itu berhenti lalu menoleh ke arah Yumi.
Yumi mengamati cowok itu dari jauh.
Wuih! Keren....
Cowok itu mengambil sepatu milik Yumi yang ada di dekatnya.
"Ngapain lo lempar sepatu busuk lo ke gue?" tanya cowok itu setelah menghampiri Yumi yang masih tercengang. Kemudian, membantu Yumi bangkit.
"Ganteng banget...." kata Yumi.
"Lo bilang apaan?" tanya cowok itu.
Yumi langsung menampar wajahnya sendiri setelah sadar apa yang baru saja di katakannya.
"Nggak. Gue nggak bilang apa-apa. Lo salah denger kali hehe." Yumi menyengir malu.
"Ini sepatu lo?" tanya cowok itu lagi.
"Ya. Ini sepatu gue. Kadang dia bisa terbang kemana aja pas dia lagi nggak mau di kaki gue." balas Yumi.
Cowok itu mengerutkan dahinya.
"Kayaknya sepatu lo belum dicuci tuh." ujarnya lagi sambil memberikan sepatu Yumi.
"Lo bener. Gue belum nyuci nih sepatu sejak gue dalam kandungan. Puas lo." balas Yumi sarkas.
"Oh, gitu."
Cowok itu berlalu pergi meninggalkan Yumi yang sudah kesal setengah mati.
"Tuh cowok... ngingetin gue sama seseorang yang nyebelin. Argghhh!"
Yumi menghentakkan kakinya dengan geram.
...•••...