
...•••...
"Bantuin gue ya, Bang." kata Baruna dengan muka memelas.
"Iya, gue bakal bantuin lo. Ini demi PS lima yang lo janjiin ke gue." jawab Tedjo bersungguh-sungguh.
Baruna pun memberitahu rencananya pada Tedjo.
Tedjo mengerutkan alisnya. "Yakin lo, Bar?"
Baruna mengangguk mantap.
Tedjo menghela napas panjang dan dalam, lalu berkata lagi. "Coba ulangin lagi. Gue nggak denger lo ngomong apaan tadi."
Baruna mendengus kesal melihat kelakuan sahabatnya itu. "Kuping lo kemasukan air ya, Bang?"
Tedjo terkekeh dengan wajah polosnya. "T*i kuping gue kepenuhan kali."
"Jorok lo, Bang."
...•••...
Tedjo mencari-cari keberadaan Yumi di sekeliling sekolah. Dan akhirnya, ia berhasil menemukan gadis itu.
"Yumyum." panggil Tedjo.
"Kok gue ketemu lo mulu sih?" tanya Yumi dengan muka malas.
"Ya namanya juga jodoh. Pasti ketemulah." jawab Tedjo dengan wajah menyebalkan di mata Yumi.
"Lo sama temen lo mau ngedance lagi depan gue?" tanya Yumi mencoba menebak gelagat aneh Tedjo.
"Gue nggak lagi bercanda. Gue serius."
"Tumben lo serius?" tanya Yumi heran.
"Gue mau cepet-cepet main tuh PS lima. Jadi, ayo ikut bareng gue." kata Tedjo sambil meraih tangan Yumi.
"Lo mau bawa gue kemana?!" tanya Yumi spontan.
"Ke tempat sepi." jawab Tedjo sambil menyeringai.
Yumi terperangah. "A-ayo aja. Gue nggak takut. Lo pasti gertak doang."
"Asal lo tau ya, gue nggak suka ngegertak." balas Tedjo.
Tanpa ba-bi-bu lagi, Tedjo langsung menarik tangan Yumi dan mengajaknya pergi.
Yumi menelan ludahnya perlahan.
Tedjo membawa Yumi ke ruang auditorium. Mereka masuk dan mengamati suasana auditorium yang sunyi-senyap.
"Duduk di sini. Jangan kemana-mana lo. Awas aja kalo sampe lo cabut." kata Tedjo sambil menempatkan Yumi di kursi paling depan.
"Terus, lo mau kemana? Lo mau ninggalin gue di sini?"
Perlahan Tedjo mendekatkan wajahnya ke wajah Yumi. "Di sini bukan tempat kita, sayang." Suara Tedjo terdengar menyeramkan dari sebelumnya.
Ketika Tedjo akan pergi, tiba-tiba Yumi menarik lengannya.
"Sebenarnya ada apa sih, Djo?" tanya Yumi. Kali ini, dia benar-benar serius.
Tedjo tersenyum tipis sambil menatap Yumi tajam. "Kita mau senang-senang."
Tedjo pergi begitu saja meninggalkan Yumi sendirian di auditorium.
Ketika Yumi ingin melangkah keluar dari sana, tiba-tiba lampu panggung menyala terang.
Yumi mengernyitkan dahinya sambil menerka-nerka siapa orang yang sedang berdiri di atas panggung.
"Yumi!" Sebuah suara menyebut namanya. Yumi kenal suara itu.
"Babeh?!!!" Yumi kaget saat melihat Pak Udin berdiri di atas panggung. Bukan hanya ayahnya saja, Tedjo pun juga ada.
"Mereka lagi ngapain sih? Mau nyanyi lagi? Ya Allah... kapan cobaan ini akan berakhir?" kata Yumi lemas.
"Mainkan musiknya!" seru Tedjo.
Baruna tiba-tiba muncul di atas panggung dengan menggunakan kostum kelinci. Ia tersenyum manis ke arah Yumi yang melongo.
Baruna mulai bernyanyi. "Mungkin, aku terlalu cinta~ Aku terlalu sayang, nganti~ Ra kroso dilarani~"
Pak Udin mulai menyanyikan lirik bagiannya. "Pancen, ku akui ku salah~ Terlalu percoyo mergo~ Mung nyawang rupo~ Saiki aku wes— Argh! Allahu Akbar!"
Pak Udin kaget karena tiba-tiba Tedjo mengayunkan tangannya seperti sedang main pedang. Awang pun muncul di atas panggung, lalu menganggu Baruna.
"Rungkad~ Entek entek an~ Kelangan koe sing paling tak sayang~ Bondoku melayang tego tenan~ Tangis tangisan~ Rungkad~ Entek entek an~ Tresno tulusku mung dinggo dolanan~ Stop mencintaimu—" Baruna dan Pak Udin berhenti menyanyi karena musiknya tiba-tiba mati.
"Hah? Kok musiknya mati?" tanya Baruna kemudian.
Dan pelakunya adalah Yumi.
Yumi naik ke atas panggung.
"Ngapain sih kalian nyanyi terus depan gue? Pake acara ngajak-ngajak Babeh gue segala lagi." ujar Yumi kepalang kesal.
"Iya juga ya, Yum. Ya udah deh, Bar. Ngomong deh baik-baik sama Yumi. Kita cabut dulu yak." kata Awang sambil merangkul Pak Udin dan Tedjo untuk mengajak mereka pergi.
"Bar, jangan lupa PS lima gue!" seru Tedjo sambil berlalu.
Sekarang hanya ada Baruna dan Yumi di atas panggung itu.
"Baruna, gue mau ngomong soal pembulian itu."
"Lo nggak bisa apa, ngelupain masalah itu? Plis, jangan nganggep gue korban atau pelaku buli. Semuanya nggak bener, Yum. Meskipun penampilan gue begini, tapi kelakuan gue Insya Allah baik kok." jelas Baruna hati-hati.
"Jadi, lo bukan korban atau pun pelaku?" tanya Yumi.
"Dengar. Tutup mata lo sekarang."
"K-kenapa gue harus tutup mata?"
"Karena gue nyuruh lo."
Yumi menutup mata.
"Anggap aja ini pertemuan pertama kita. Hapus semua ingatan lo soal kejadian itu. Gue bukan Baruna yang lo liat waktu itu. Gue adalah Baruna saat posisi kedua lutut yang ditekuk dan tumpuan tubuh terletak pada telapak kaki."
Yumi membuka mata, lalu mengernyit. "Kenap definisi jongkok lo bawa-bawa?"
Baruna frustasi. "Gue stres, Yum. Lebih baik di anggap korban dah. Daripada dianggap pelaku. Sekarang, serah lo aja deh mau ngomongin gue sama orang-orang kayak gimana. Nggak apa-apa kalo mereka ntar bakal nganggep gue lemah."
"Baruna...."
Yumi terpaku mendengar perkataan Baruna.
"Oke deh. Udah cukup kayaknya kita berdua ngomong. Sekarang Gue harus lenyapin sesuatu." Baruna mengeluarkan gunting rumput dari balik kostum kelincinya.
Yumi terbelalak kaget. "Lo mau ngapain, Run?"
Baruna menyunggingkan senyum, yang terlihat menyeramkan di mata Yumi. Kemudian tanpa mengatakan apa-apa lagi, Baruna mendekati Yumu.
"Lo tenang aja. Ini semua bakal berakhir kok. Gue bakal ngelakuinnya dengan lembut. Sekali digunting, pasti putus." kata Baruna sambil memainkan gunting rumput itu.
Yumi melangkah mundur.
"Baruna! Lo harus tenang! Jangan bertindak bodoh lo! Gue mohon, lo tenangin diri lo!"
"Ini nggak sakit kok, Yum."
"NGGAK!!!" Yumi menutup matanya karena takut.
"Yumi, lo kenapa?" tanya Baruna.
Yumi membuka salah satu matanya, memeriksa kalau Baruna belum sempat membunuhnya.
"Hah? Guntingnya mana?" tanya Yumi gugup.
"Gunting apaan? Dari tadi gue nggak bawa apa-apa. Nih, buktinya. Tangan gue kosong."
Ternyata, itu hanya halusinasi Yumi saja.
"Baruna."
"Ya?"
"Gue benar-benar minta maaf sama lo." Yumi membungkuk untuk permintaan maaf.
"Kenapa lo yang minta maaf?" tanya Baruna gugup.
"Gue udah salah paham nilai lo. Maafin gue, plis." Yumi kembali berdiri tegak sambil menatap Baruna dengan wajah memelas.
"Jadi, lo udah tau semuanya? Terus, kenapa lo ngehindarin gue mulu?" tanya Baruna.
"Karena Tedjo bilang... lo mau ngabisin gue. Makanya gue lari." jawab Yumi.
"Terus sekarang kenapa lo nggak lari?"
"Buat apa? Gue udah ngerasa aman sekarang."
"Lo yakin?" Baruna kemudian mengeluarkan palu dari balik kostumnya.
Yumi kaget. "Baruna!!!"
Yumi berlari menjauh.
"HAHAHA.... Woi, Yumi! Gue bercanda doang!" Baruna menyusul Yumi yang sudah keluar auditorium.
...•••...
Yumi, Ishak, Awang dan Caca berjalan menuju kantin. Jam pelajaran Matematika tadi membuat mereka kelaparan.
Ketika mereka melewati kelas Tedjo, tanpa sengaja Yumi melihat ke dalam kelas. Saat itu, Tedjo sedang berlutut di depan gadis.
Lalu sesampainya di kantin, mereka langsung memesan dan duduk di bangku yang masih kosong.
"Bang Ishak?"
"Ya. Kenapa?"
"Abang liat kagak?" tanya Yumi.
Ishak mengangguk.
"Cewek yang tadi?" sambung Awang dengan suara yang pelan.
Caca pun ikut mendengarkan sambil menggaruk telinganya yang gatal.
"Tuh cewek siapa sih?" tanya Yumi serius.
"Namanya Arum. Dia emang suka deketin Tedjo." jawab Ishak tak kalah serius.
Wajah mereka sangat tegang sekarang.
"Kok lo nanyain sih, Yum? Lo cemburu ya? Tapi, wajar aja kalo lo cemburu. Tedjo kan ganteng." kata Caca secara gamblang.
"Terus... di mata lo... gue nggak ganteng, gitu?" Awang ngedumel.
"Bang Awang juga ganteng kok." jawab Caca sambil terkekeh.
Awang tersipu malu. "Caca juga cantik."
"Mau muntah gue dengernya." komentar Ishak.
"Muntahin aja ke Bang Awang." tambah Yumi.
"Oh iya, Yum. Gue denger-denger, Tedjo sama Arum tuh deket ada alasannya." kata Awang membuat Yumi deg-degan.
"Alasan apaan?"
"Mereka tuh pacaran."
"Hah?!!"
Awang senyum-senyum sendiri dan semakin bersemangat menggoda Yumi.
"Kalo gue jadi lo, gue bakal marah banget sama Tedjo." kata Awang mengompori.
"N-ngapain gue marah? Ya itu terserah dialah mau pacaran sama siapa." balas Yumi gugup karena menahan kesal.
"Emangnya bener ya? Gue pikir tuh anak—"
Awang segera menutup mulut Ishak.
"Bang Awang, jangan bohongin Yumi dong. Nggak baik, tau." kata Caca.
"Gue tau kok kalo Bang Awang lagi bohong. Mana mungkin gue percaya." kata Yumi yang tidak sinkron dengan apa yang sedang ia pikirkan sekarang.
...•••...
Jam pelajaran sekolah pun berakhir. Tedjo berniat menunggu Yumi di pelataran parkir, tapi gadis itu sudah menunggunya di depan mobil.
"Udah lama nunggu gue?" tanya Tedjo memulai pembicaraan.
Yumi hanya menggeleng dengan wajah datar.
"Gimana? Lo udah baikan sama Baruna?" tanya Tedjo lagi.
"Udah."
"Maafin gue karena udah nakut-nakutin lo ya. Baruna nggak mungkin nyakitin lo. Apalagi lo tuh cewek. Dia tuh baik banget sama semua orang." Jelas Tedjo yang belum menyadari suasana hati Yumi.
"Hm...." Yumi kembali diam.
"Lo kenapa sih?" tanya Tedjo begitu menyadari sikap Yumi yang tidak seperti biasanya.
"Ayo pulang. Biar gue yang nyetir." kata Yumi sambil mengambil kunci mobil di tangan Tedjo dan membukakan pintu mobil untuk Tedjo.
Tedjo melongo.
Yumi masuk ke mobil, lalu menjalankan mobilnya.
Tidak ada yang berbicara lebih dulu, membuat suasana di dalam mobil begitu mencekam. Tedjo merinding.
"Gimana sekolah lo hari ini?" tanya Yumi.
Tedjo terbelalak. Ini adalah momen langka. Sejak kapan Yumi pandai berbasa-basi dengan Tedjo.
"Biasa aja. Tumben lo nanyain gue?"
"Kayaknya lo lagi bahagia deh." jawab Yumi. Nada bicaranya terdengar datar dan dingin tapi dia juga tersenyum ramah.
"Aneh banget. Nggak biasanya lo kayak gini."
"Emangnya seaneh itu? Atau lo nggak suka gue bersikap baik sama lo? Kita nih udah nikah. Jadi, kudu perlakuin satu sama lain baik-baik. Nggak selingkuh, misalnya." Yumi mulai menyindir.
"Lo ngomong apa sih? Emangnya siapa yang selingkuh?" tanya Tedjo tak mengerti apa-apa.
"Nggak ada. Tapi, apa salahnya jaga-jaga doang." Yumi menjawab dengan tenang.
"To the point aja biar gue ngerti." perintah Tedjo serius.
"Lo nggak ngerti, kan? Sampe kapan pun lo nggak akan pernah ngerti." kata Yumi menahan kesal.
Tedjo bengong sambil mencerna kata-kata Yumi.
"Udahlah. Gue muak liat muka lo. Keluar!" seru Yumi.
"Hah?!" Tedjo mengerutkan alisnya.
"Keluar dari mobil gue. Gue mau pulang sendiri." kata Yumi lagi, tapi kali ini suaranya lebih lunak.
"Tapi, ini mobil gue. Lo kenapa sih, Yum? Lo masih marah karena gue udah bohongin lo soal Baruna?"
"Kagak. Gue cuman mau ninggalin lo di sini. Keluar lo, gue bilang." Yumi tersenyum manis.
Tedjo keluar dari mobil. Setelah itu, Yumi langsung memacu mobilnya.
"Woi! Yumi!"
...•••...