
...
...•••...
Baruna dan Yumi mengendap-endap membuntuti Tedjo dengan gelagat yang mencurigakan.
"Lo udah siap, Yum?"
"Udah, Run!" seru Yumi mantap.
"Gue pikir lo belum siap deh." kata Baruna sambil melihat ke arah benda yang sedang berada di wajah Yumi.
"Ini termasuk penyamaran, Run." kata Yumi sambil merapikan masker wajahnya.
"Lepasin aja dulu, Yum. Belum keliatan ini." ujar Baruna memberi saran.
Yumi melepaskan masker wajahnya, lalu membuangnya begitu saja. "Oke. Sekarang gue bener-bener udah siap."
"Oke. Kita pake rencana A dulu. Ayo." ajak Baruna.
Yumi tampak bingung. "Baruna, tunggu!"
"Kenapa?"
"Seingat gue kita nggak ada buat rencana deh."
Baruna menepuk-nepuk kepala Yumi pelan.
Yumi bergeming.
"Oh iya, gue lupa." kata Baruna.
"Kalo lo yang lupa, kenapa kepala gue yang jadi sasarannya?" omel Yumi.
"Itu tanda sayang." balas Baruna.
Yumi hanya mendengus kesal.
"Terus kita ngapain? Kita ngeliat Tedjo dari deket kayak begini doang?" tanya Yumi.
"Kalo kayak gini, udah deket belum?" tanya Baruna balik.
Tiba-tiba....
"Woi! Ngapain lo ngeliatin gue begitu, anjim?!" seru Tedjo karena Baruna dan Yumi benar-benar memperhatikannya dari dekat.
Mereka bukannya bersembunyi dari Tedjo tapi malah menatap wajah Tedjo dekat-dekat. Kalau begitu, bukan mata-mata namanya.
"Lo pake parfum apa sih, Bang?" tanya Baruna dengan cengirannya.
"Seksi konsumsi." jawab Tedjo sekenanya.
"Pantesan. Baunya kayak rinso."
"Dasar ya lo, Bar. Buntelan kelinci lo." rutuk Tedjo kesal.
Yumi menepuk jidatnya tak habis pikir dengan Tedjo dan Baruna.
"Pergi sono lo berdua. Ngapain sih kalian ngintilin gue mulu? Main sono, jauh-jauh!" usir Tedjo sambil berlalu pergi.
"Baruna."
"Ya."
"Harusnya gue nggak minta bantuan lo." gumam Yumi masih kesal.
"Ini masih awalan, Yum. Ntar kita coba lagi ya. Nggak usah nangis lo." kata Baruna sambil menghapus air mata Yumi.
"Ini tuh keringat, tau!"
...•••...
Percobaan berikutnya....
Baruna dan Yumi sedang memperhatikan Tedjo yang akan pergi ke suatu tempat.
Baruna mengangguk mantap bermaksud memberi aba-aba pada Yumi untuk mengikuti Tedjo.
Yumi pun membalas anggukan Baruna.
Mereka mulai mengikuti Tedjo dari kejauhan. Kali ini mereka benar-benar serius dan terlihat seperti detektif sungguhan. Baruna rolling ke depan, kemudian Yumi mengikuti dengan merangkak karena takut roknya terbuka.
"Ngapain lo ngikutin gue kalo takut rok lo kebuka?" Baruna tak habis pikir pada Yumi.
"Lupa gue kalo lagi pake rok. Gue pikir lo yang pake rok, gue pake celana." balas Yumi asal.
Namun tak berapa lama, Tedjo sadar jika ada yang mengikutinya dan segera melihat ke belakang.
Baruna dan Yumi yang tidak sempat bersembunyi pun hanya bisa diam mematung sambil membelakangi Tedjo.
"Tuh anak dua lagi ngapain sih?" gumam Tedjo, lalu kembali melangkah.
Baruna dan Yumi mulai mengikuti Tedjo lagi. Dan lagi-lagi, Tedjo melihat ke arah belakang.
Terus saja seperti itu, sampai akhirnya Tedjo yang merasa terganggu mulai berlari kencang untuk menghindari Baruna dan Yumi.
Baruna dan Yumi segera melesat cepat mengejar Tedjo. Tapi perjalanan tak semudah itu, mereka harus melewati kelompok bermain gobak sodor dan engklek.
Mereka berhenti berlari dengan napas yang ngos-ngosan setelah melewati permainan itu. Dan akhirnya, mereka sampai di bangunan kosong belakang sekolah, tempat yang baru saja Taehyung masuki.
"Ngapain tuh cowok masuk ke sana?" tanya Yumi pada Baruna.
"Mana gue tahu. Mau gue tanyain langsung ke Bang Tedjo?" goda Baruna sambil menurun-naikkan alisnya.
Yumi tersenyum terpaksa untuk menanggapi Baruna.
"Ayo." ajak Baruna kemudian.
Baruna dan Yumi mengendap-endap untuk menguping pembicaraan Tedjo dan Arum. Kepala Baruna dan Yumi muncul dengan lucunya dari belakang tembok.
"Nih makanan bagus buat bumil." kata Tedjo membuat Baruna dan Yumi terbelalak.
"Nggak mungkin." Yumi menahan suaranya.
"Iyalah. Ya kali Bang Tedjo kayak gitu." kata Baruna tak percaya.
"Kalo bayinya kenapa-napa, lo bakal tanggungjawab, kan?" tanya Arum pada Tedjo.
"Iya. Gue bakal tanggungjawab." jawab Tedjo mantap.
Yumi terdiam.
"Ini pasti cuman salah paham." kata Baruna pada Yumi.
"Salah paham apanya? Udah jelas kalo Tedjo tuh bapaknya."
"Lo cemburu ya?" goda Baruna.
"Haha... nggaklah." Yumi tertawa terpaksa.
"Udahlah, Yum. Ngaku aja. Gue dulu juga pernah kok ngerasa cemburu. Jadi, lo nggak usah bohong sama gue."
"Emangnya apa yang bisa buat gue cemburu sama dia?" tanya Yumi berusaha menahan rasa kesalnya.
"Jadi, lo nggak cemburu nih?"
"Ya, nggaklah."
"Kalo sama gue, cemburu nggak?"
Yumi frustasi. "Nggak apa-apa kali ya kalo gue jorokin lo ke sungai?"
"Sebelum itu terjadi, gue yang bakal jorokin lo duluan." Baruna tersenyum manis dengan menampilkan deretan giginya yang rapi.
Tiba-tiba....
Pok ame-ame belalang kupu-kupu~
Baruna dan Yumi terbelalak saat ponsel Baruna tiba-tiba berbunyi.
"Siapa tuh woi?!" seru Tedjo.
"Ayo." Baruna menarik pelan tangan Yumi untuk mengajaknya berlari.
Setelah berhasil melarikan diri dengan selamat....
"Nada dering hape lo kok ganti terus sih? Heran gue." tanya Yumi frustasi.
"Gue juga nggak tau kenapa bisa begitu." jawab Baruna.
"Ya Allah, Run. Lo buat gue frustasi aja."
"Kasian banget lo." gumam Jungkook. "Yumi?"
"Hah?"
"Sampe di sini aja ya penyelidikan kita hari ini. Gue pikir itu udah cukup buat lo patah hati."
"Siapa bilang gue patah hati?"
"Tuhkan. Masih aja lo bohong. Kalo lo nggak patah hati, kenapa muka lo cemberut begitu?"
"Ini tuh... gue...."
"Lo kenapa? Hati lo sakit, kan?"
"Gue... mau ke toilet!" Yumi bergegas pergi meninggalkan Baruna yang masih termangu.
"Yumi! Sini lo dulu, woi! Ada yang kececer di sini! Hahahahaha...." seru Baruna sambil senyum-senyum sendiri.
"Woi! Sembarangan lo ya!"
...•••...
Lima menit Yumi menunggu Tedjo untuk pulang bersama, dan akhirnya yang ditunggu pun datang.
"Woi, ege." Tedjo menghampiri Yumi dengan cengiran khasnya.
Yumi mengepalkan tangannya kuat sambil memijatnya secara bergantian seolah ingin mengajak Tedjo berkelahi.
Tedjo menelan ludahnya perlahan. "Kenapa lagi lo?"
Yumi memasang kuda-kuda dan melompat-lompat kecil maju dan mundur, kemudian dengan kedua jarinya ia menyuruh Tedjo mendekat.
"Woi, Yumyum. Lo kenapa lagi sih? Lo mau ngajak gue nari?" tanya Tedjo dengan polosnya.
Mendengar perkataan Tedjo, Yumi pun diam mematung. Bagaimana bisa Tedjo berpikir jika Yumi akan mengajaknya menari.
"Tedjo..." Yumi tersenyum terpaksa.
"Apaan?"
"Sini berantem sama gue. Gue nggak suka kita temenan." kata Yumi geram melihat Tedjo.
"Kita kan udah suami-istri. Bukan temenan lagi."
Yumi mendengus kesal. Bisa-bisanya Tedjo membuatnya tambah kesal.
"Jangan ingetin gue soal itu. Gue jadi nggak mood buat ngehajar muka lo sampe bonyok." Yumi kemudian masuk ke mobil yang di ikuti Tedjo.
"Bilang aja kalo lo nggak tega ngehajar muka ganteng gue. Iya, kan?" goda Tedjo sambil nyengir.
"...." balas Yumi seadanya.
"Laki lo ini ganteng, tau." Tedjo makin bersemangat menggoda Yumi.
Yumi pura-pura tidak dengar.
"Hah? Lo nangis? Kenapa lo? Lo kesel karena gue terlalu ganteng?" tanya Tedjo khawatir.
Yumi menatap Tedjo dengan sinis. "Diem lo."
"Ya Allah... Yum, Yum." Tedjo mulai menyetir sambil mengomeli Yumi dalam hati.
Yumi sebenarnya ingin tertawa, tapi sebisa mungkin ia menahannya.
"Jangan di tahan." ledek Tedjo.
Yumi mengerutkan keningnya berusaha menetralisir rasa ingin tertawanya.
"Gue bilang jangan di tahan."
"Diem lo sebelum gue ngelempar lo keluar dari nih mobil!"
"Ya Allah, Yum. Gue cuman mau bilang lo jangan nahan tuh jendela mobil." ujar Tedjo geram.
"Ehem." Tedjo berdehem bermaksud menggoda Yumi.
"Yumyum! Liat noh! Ada cowok ganteng di sono, noh!" seru Tedjo.
"Mana?" Sadar kalau sedang di bohongi, Yumi menatap Tedjo tajam.
Tedjo menyunggingkan senyumannya melihat tingkah Yumi.
...•••...
Pukul 19.14....
"Mau ke mana lo?" tanya Tedjo saat melihat Yumi yang sudah cantik dengan gaunnya.
"............." Yumi tidak menjawab.
"Dahulu kala ada seorang putri yang cerewet dan juga keras kepala. Sang putri itu hanya diam saat di tanya kemana ia pergi. Singkat cerita, akhirnya sang putri pun di kutuk menjadi batu untuk selama-lamanya. Tamat."
Lagi-lagi, Yumi hanya diam tanpa menoleh sedikitpun ke arah Tedjo.
"Woi! Jawab dulu pertanyaan gue? Puasa ngomong lo? Lo kenapa sih nyuekin gue terus? Kalo gue ada salah sama lo, kasih tau gue. Jangan diem doang kayak kambing."
Yumi tetap diam.
"Padahal gue mau traktir lo pecel."
"...."
"Woi, Yumyum! Lo kenapa begini amat sih? Salah gue apa, coba?"
"...."
"Ya udah, deh. Nggak apa-apa kalo lo mau nyuekin gue. Tapi lo nggak lupa, kan?" tanya Tedjo yang berhasil membuat Yumi mengernyit bingung, lalu memalingkan wajahnya ke arah lain.
"........" Yumi berlalu begitu saja.
"Nyebelin banget sih tuh cewek. Bini siapa sih?" gerutu Tedjo.
"Yumyum! Jangan lupa bawa autan, woi!"
...•••...
Kafe Pulu-pulu....
"Baruna." panggil Yumi sambil melambaikan tangannya begitu melihat Baruna yang sedang celingak-celinguk mencarinya.
Baruna tersenyum manis, lalu menghampiri Yumi.
Malam ini, Baruna dan Yumi akan makan malam bersama. Aouw!
"Cepet banget lo dateng? Nggak sabar banget emang mau ketemu sama gue, hm?" goda Baruna.
"Gue cuman nggak mau lo bosen nungguin gue sambil ngemilin piring di sini." balas Yumi bercanda.
Baruna tertawa renyah.
Baru saja Baruna dan Yumi akan memesan makanan, tiba-tiba saja....
"Tiarap!"
Yumi segera mengajak Baruna bersembunyi di bawah meja.
"Kenapa nih, Yum?" tanya Baruna bingung.
"Ledakan emosi."
Yumi tercekat melihat sosok yang ada tak berapa jauh darinya sekarang. Awalnya ia ingin menghampiri orang itu, tapi segera diurungkannya begitu seorang gadis muncul di depannya.
"Udah lama nunggunya, Djo?" tanya Arum pada Tedjo.
"Nggak kok." Tedjo tersenyum manis.
Setelah itu, Tedjo dan Arum terlihat bahagia saat berbincang satu sama lain.
"Tedjo...?" gumam Yumi sambil menggeram.
"Tuh anak dua pacaran, Yum?" tanya Baruna pada Yumi. Baruna belum menyadari perubahan raut wajah Yumi yang kesal.
"Mana gue tahu. Tanya aja langsung sam orangnya. Nyebelin banget."
"Bang Tedjo kok nggak ngasih tau gue sama yang lain, kalo udah punya cemewew? Woi, Yum. Lo nyium bau kebakar, nggak?" kata Baruna pura-pura serius begitu menyadari kalau Yumi sedang cemburu.
Yumi mengendus bau tersebut tapi ia tidak menemukan baunya. "Kagak."
"Hati gue yang kebakar...." kata Baruna membuat Yumi tertawa terpaksa.
"Tuh anak dua norak banget kan, Run? Terutama yang cowok noh. Ngeselin banget tuh mukanya." gerutu Yumi.
"Bang Tedjo emang suka tebar pesona sama cewek-cewek. Makanya semua cewek langsung terhipnotis." goda Baruna.
"Awas aja kalo dia pulang ke rumah. Bakal gue gelindingin tuh orang kayak semangka." gumam Yumi yang tidak terdengar jelas oleh Baruna.
"Woi, Yum. Lo kenapa?" tanya Baruna, kali ini serius. "Lo cemburu?"
"Haha... ya kali. Mana mungkin gue cemburu sama cowok yang bentukannya begitu! Gue khawatir aja sama tuh cewek. Lo kan tau Tedjo tuh mantan playboy."
"Tapi, keliatannya nggak kayak gitu. Lo emang cemburu, kan? Tapi, ngapain lo cemburu sama Bang Tedjo? Lo suka?" goda Baruna.
"Hahaha... gue cuman nggak mau dia pacaran sama orang yang nggak tepat. Lagian ngapain sih tuh orang sok kecakepan segala?" dengus Yumi geram.
"Ayo pergi ke tempat lain yuk, Yum. Gue tau tempat yang cocok buat ngelampiasin emosi."
"Hah? Nggak. Gue nggak emosi."
"Kalo lo nggak emosi, ngapain lo nginjak kaki gue kayak punya dendam begini?" Baruna meringis.
"Oh? Ini kaki lo?"
"Kagak. Kaki ayam." balas Baruna frustasi.
"Maafin gue ya. Ya udah, Run. Ayo, ikut gue. Gue tau tempat yang cocok buat dinginin pikiran lo."
"Kenapa jadi gue yang kena? Kan lo yang lagi galau? Kenapa jadi pikiran gue? Yang lo injak tadi tuh kaki gue, bukan pala gue."
"Lo nggak mau? Ya udah, deh. Ayo. Gue tau tempat yang cocok buat motong kaki."
"Kaki gue sakit dikit doang kok, Yum."
"Ini demi keamanan lo, Run."
Yumi menarik tangan Baruna pelan dan mengajaknya pergi dari Kafe Pulu-pulu.
"Padahal dia yang lagi cemburu...." gumam Baruna.
...•••...