SUAMI DARI MARS

SUAMI DARI MARS
Salting



...•••...


Di pelataran parkir....


Yumi celingak-celinguk mencari keberadaan Tedjo. Cowok paling menyebalkan nomor satu di dunia.


Gadis itu kemudian membuka pintu mobil dengan hati-hati. Ia sedang malas adu mulut dengan Tedjo karena sudah terlalu lama menunggunya.


"Lama banget sih lo."


Tedjo tiba-tiba muncul dari kursi belakang. Ia sampai tertidur karena menunggu Yumi.


"Sejak kapan lo di situ?" tanya Yumi kaget.


"Sejak dua hari yang lalu." balas Tedjo asal. "Lo lupa kalo gue nungguin lo dari tadi, hah?"


"Emangnya kalo gue nggak sengaja ngelakuinnya, apa lo percaya?" tanya Yumi balik yang membuat Tedjo mengernyit bingung.


"Maksud lo?"


Yumi tidak menjawab, ia hanya tersenyum terpaksa.


"Hah? Apaan nih?" Yumi mengamati benda berwarna merah jambu itu dengan bingung.


"Kaos kaki." Tedjo gemas melihat tingkah Yumi.


"Kaos kaki apaan? Ini kan boneka."


"Terus, kenapa pake nanya kalo lo udah tau? Heran gue."


"Lo beliin buat gue ya?"


"Maunya sih gitu, tapi sayangnya nggak gue beli. Gue pake usaha dulu. Main mesin capit, terus ngabisin lima ratus ribu buat dapetin boneka monyet."


"Enak aja boneka monyet. Ini kan pinguin." kata Yumi tak bisa menutupi rasa senangnya. "Terus tadi lo bilang apa? Lo ngabisin lima ratus ribu buat dapetin nih boneka? Hahaha... tuhkan. Lo nggak jago main mesin capit. Belagu sih lo."


"Udahlah, buang aja."


"Kenapa dibuang sih? Gue suka tau. Ini kan mirip lo."


"Lo bisa dapetin yang aslinya, tapi kenapa lo lebih milih duplikatnya sih?"


"Emangnya lo bisa bahasa pinguin?"


"Gue bisa bahasa keluarga Pingu."


"Coba. Hahaha...."


"Kenapa ketawa lo? Jangan ketawa." kata Tedjo geram.


Tedjo akhirnya menjalankan mobilnya untuk pulang.


Ting!


Bunyi notifikasi dari grup WhatsApp.


"Grup apaan nih?" tanya Yumi.


"Pasti grup keluarga yang baru. Bapak yang bikin tuh." jawab Tedjo sambil fokus menyetir.


"Wah... ternyata keluarga lo komunikatif banget ya. Oh iya, emangnya grup keluarga yang lama kenapa?"


"Banyak aib di situ."


Yumi hanya mengangguk.


"Chatnya apaan?" tanya Tedjo yang penasaran dengan isi pesannya.


"NGGAK MUNGKIN!" pekik Yumi membuat Tedjo kaget campur panik.


"Kenapa, Yum?"


"Mereka lagi diculik. Terus penculiknya ngasih kita alamat ini. Kita harus ke sana, Djo."


"Lo nggak ngerasa aneh? Kenapa penculiknya malah nyulik orang dewasa?" tanya Tedjo.


"Mana gue tau! Udahlah! Kita ke sana aja!" Yumi panik.


Tedjo mengangguk.


...•••...


Setibanya di alamat yang diberikan penculik....


Tedjo dan Yumi terpaku saat melihat rumah mewah di hadapannya.



"Mereka beneran disekap di sini?" tanya Yumi.


"Kaya banget pasti tuh penculiknya...." gumam Tedjo.


"Tedjo, lo yang masuk duluan gih."


"Kenapa harus gue sih?"


"Ya, lo kan lebih tua dari gue. Cepetan!"


Tedjo berjalan duluan dan Sohyun mengikutinya dari belakang. Mereka mengendap-endap saat memasuki area rumah mewah itu.


Tanpa terasa, Tedjo dan Yumi sudah ada di depan pintu rumah penculik itu. Raut wajah mereka tampak tegang.


Tedjo membuka perlahan pintu rumah yang dibiarkan tidak terkunci itu.


Krek... pintu rumah itu terbuka.


"Selamat datang di rumah!"


Seketika konfeti memenuhi ruangan.


"Allahu Akbar!!!!" Tedjo dan Yumi tersentak kaget.


Pak Udin, Pak Selamet, Bu Titin dan Embun bertepuk tangan. Sementara Tedjo dan Yumi masih syok dengan apa yang terjadi.


"Aa sama Neng, sini deh." kata Bu Titin senang. "Wah... kalian seneng pisan kelihatannya ya."


"Tertekan sih kayaknya." komentar Embun.


"Ini rumah...." Tedjo berpikir.


"Iya, Djo. Ini rumah baru kalian." kata Pak Selamet. "Kita akan tinggal sama-sama di sini sesuai permintaan Yumi."


"Jadi, ini bukan rumah penculiknya?" tanya Tedjo masih belum mengerti.


"Maksudnya?" tanya Pak Selamet balik.


"Kan katanya kalian semua diculik?" tanya Tedjo lebih jelas.


"Hahaha... akting itu mah. Bagus pan akting kita?" Pak Udin yang menjawab.


Tedjo dan Yumi tak habis pikir.


"Bagus kok, hehe. Sekarang boleh nggak Tedjo akting mukul kalian, hah?" Tedjo geram melihat kelakuan keluarganya yang di luar dugaan.


...•••...


Kediaman Baruna, pukul 18:07....


Baruna melemparkan dirinya ke atas ranjang begitu selesai mandi. Sekarang dia sedang memainkan ponselnya untuk membalas pesan di grup.


Grup Ganteng-ganteng Seksi.


Baruna: Woi, gais. Siapa di sini yang suka ikan buntal?


Tedjo: Gue suka ikannya. Buntalnya kagak.


Awang: Apaan cerita buntal?


Karma: Lo ngigo?


Ishak: Orangnya langsung ngilang.


Awang: Lagi cosplay jadi ikan buntal kali wkwk.


Ishak: Baruna mah gitu. Udah bikin orang penasaran eh malah ditinggal.


Tedjo: Lo cuman ngechat di grup buat nanyain gitu doang, Bar? Ga penting banget ege.


Baruna: Maap, Bang. Gue abis keramas tadi gegara si Yumi tuh.


Awang: Hah? Maksud lo gimana? Ambigu banget.


Tedjo: Lo ngapain sama Yumi ampe keramas segala?


Ishak: Ngapain sih keramas?


Baruna: Lo pada ngeres banget sih. Bukan gitu woi.


Karma: Ya makanya kasih tau maksud lo apaan.


Tedjo: Iya nih buntelan kelinci.


Baruna: Lo pada mikirin apa sih. Serius nanya gue.


Tedjo: Ngapain lo keramas, Baruna?! Pake ngomong gegara si Yumi, lagi.


Baruna: AWOKAWOKAWOK


Awang: Buru jawab, Bar. Ah elah.


Baruna: Gue keramas gegara Yumi ngelemparin ke gue telor busuk.


Ishak: Kok bisa sih?


Baruna: Ya, bisalah. Jangan ngeres makanya otak lo pada.


Tedjo: Lo sih ngetik chat setengah-setengah.


Baruna: Suka-suka guelah wkwk.


Awang: Emang udah ege anaknya sih, Djo.


Tedjo: Baruna ege!


Ishak: AWOKAWOKAWOK.


Sementara itu, Tedjo langsung melesat menghampiri Yumi yang sedang belajar.


"Woi, kenapa diri di situ? Pantat lo bisulan makanya nggak bisa duduk?" tanya Yumi saat melihat Tedjo yang diam sambil memelototinya.


"Lo udah kenal sama Baruna?"


"Hm...."


"Jawab yang bener. Jangan cuman 'hm' doang lo."


"Udah. Emang napa sih? Kenal doang, ribet amat lu."


Tedjo diam sebentar. "Gue cuman mau ngeja nama dia yang bener ke elo. B-A-R-U-N—"


"B-A-R-U-N-A! Baruna! Lo pikir gue bego kayak elo?! Pergi sono! Jangan ganggu gue!" potong Yumi.


Rasanya Tedjo sangat ingin menjitak kepala Yumi, tapi diurungkannya sebelum Yumi mengetahuinya.


...•••...


Makan malam, pukul 19:22....


"Aa, Neng... gimana liburan kalian kemarin? Seru, nggak?" tanya Bu Titin.


"Seru dong, Bu. Jadi pengen liburan lagi hehe. Iya kan, Yum?" cengir Tedjo.


Yumi hanya tersenyum kikuk sambil manggut-manggut.


"Terus, gimana sikap Aa sama Eneng?" tanya Bu Titin lagi.


"Uhuk... uhuk...." Yumi tersedak. "Baik kok, Bu. Tedjo baik banget. Aye jadi terharu hehe."


"Iya. Tedjo kan emang baik dari orok ya kan, Bu. Hehe...." kata Tedjo dengan senyum paksa.


Yumi menatap Tedjo dengan sinis.


"Kalian kok duduknya jauh-jauhan gitu sih? Kalian nggak lagi berantem, kan?" tanya Pak Selamet perhatian.


Tedjo dan Yumi saling pandang.


"Nih bocah dua pan baru nikah, ya masih malu-malulah, Bro Selamet. Ntar juga deket-deket mulu." ujar Pak Udin.


"Bener tuh, Beh. Terus ada lagi, Beh. Katanya nggak boleh sering deket-deket ntar pertumbuhannya kurang maksimal." goda Tedjo.


Sekarang Pak Udin, Pak Selamet, Bu Titin dan Embun yang bergantian saling pandang. Kemudian mereka bersamaan menjauhkan tempat duduknya.


...•••...


Tedjo dan Yumi sedang menggosok gigi....


"Mau taruhan, nggak?" tanya Tedjo.


"Taruhan apaan sih?" tanya Yumi balik.


"Siapa yang paling cepat gosok gigi, dia bakal jadi raja dan yang kalah jadi babunya." jelas Tedjo.


"Serah deh serah."


Tedjo menggosok giginya dengan kekuatan penuh sementara Yumi ikut menggosok giginya dengan tenaga dalam. Sesekali mereka saling menggosok gigi satu sama lain dengan tatapan sinis. Apa ini yang bisa di katakan romantis?


Dalam sepersekian detik, Yumi kalah dalam pertaruhan itu.


"Cepet pijat kaki gue." perintah Tedjo sambil tersenyum menang.


Yumi mendengus kesal.


Mereka pun naik ke atas ranjang, kemudian Yumi memijat kaki Tedjo.



"Aouw!"


"Kenapa sih lo?" tanya Yumi gusar.


"Lo ngapain nyabut bulu kaki gue? Sebegitu sukanya lo sama bulu gue?"


"Ngomong apa sih lo? Gue gemes doang liatnya."


Mereka terdiam untuk beberapa detik.


"Kayak udah kerja aja lo, kecapean gini." cibir Yumi.


"Gue udah kerjalah. Emangnya elo."


"Hah? Kerja apaan lo? Kerjain orang?"


"Ya kerja di restoran Babeh lo lah. Gue sering bantu-bantu di sana. Lo yang anaknya aja pemalas banget." ledek Tedjo.


"Apa lo bilang? Enak aja lo. Sejak kapan lo kerja di restoran Babeh gue? Nggak usah ngawur deh!"


"Udah... buru pijat kaki gue nih. Gunain tangan lo yang bener. Pakai tenaga juga dong lo." perintah Tedjo membuat Yumi kesal.


"Nih kamar cuman punya satu tempat tidur doang ya?" tanya Yumi sambil celingak-celinguk.


"Emangnya kenapa? Gue kan udah jadi suami lo bukan selingkuhan lo. Kenapa lo sebegitu paniknya tidur bareng gue?"


"Ogah gue. Ntar lo sagne." tukas Yumi.


"Aneh lo. Banyak cewek di luaran sana yang pengen jadi bini gue. Lo yang udah gue nikahin malah ogah-ogahan gitu." ujar Tedjo kesal. "Sagne kan juga sama bini sendiri."


"Tiap orang punya seleranya masing-masing. Dan lo bukan selera gue." balas Yumi.


"Terus, selera lo kayak apaan? Seksi? Ganteng? Hot? Gue udah punya semuanya."


"Udah kayak dispenser aja lo, hot-hotan."


"Jangan ngeremehin gue. Gue bisa buat lo suka sama gue."


"Coba aja kalo lo bisa." tantang Yumi enteng.


"Oke. Yuk, tidur bareng." goda Tedjo.


"Nggak!" Yumi panik.


"Tuh kan! Kenapa lo nggak mau sih?! Terus, gimana caranya biar lo suka sama gue kalo lo diajak tidur aja nggak mau?" Tedjo frustasi.


"Emang cuman itu caranya?"


"Nggak juga sih. Tapi, gue yakin lo pasti ngenikmatinnya." kata Tedjo sambil menyeringai.


"Argh! Dasar lu, alien mesum!"


"Lo mah begitu. Pura-pura nggak mau tidur sama gue padahal lo pengen banget, kan?" goda Tedjo.


"Apa muka gue keliatan pengen banget?" balas Yumi.


"Iya. Muka lo udah sagne banget."


"Sembarangan lo."


"Hahahaha...."


"Tedjo...." kata Yumi. Kali ini ekspresi wajahnya berubah serius.


"Hm, paan?" gumam Tedjo.


"Kita ini kan belum dewasa, kok udah ngelakuin hal-hal orang dewasa sih?" Yumi sedih.


"Hal dewasa apanya? Lo aja nggak mau ngelakuin itu sama gue." Tedjo sengaja menggoda Yumi agar gadis itu tidak sedih.


"Ya Allah, nih cowok otaknya cabul banget sih!" seru Yumi sebal.


"Emang kenapa sih? Gue kan ngelakuinnya sama lo. Lo kan bini gue. Cabulnya dimana coba? Apa jangan-jangan... lo ini nggak normal?" cengir Tedjo.


Yumi kaget mendengar perkataan Tedjo.


"Woi!"


"Lo nggak punya nafsu ya, Yum?" Tedjo nyengir sambil menatap Yumi baik-baik.


Wajah Yumi langsung memerah. Ia mulai geram pada Tedjo.


"Muntah gue yang ada ngeliatin muka lo." sanggah Yumi.


"Nggak mungkin itu alasannya. Pasti karena lo tuh nggak normal." Tedjo kembali nyengir sambil terus menjahili Yumi yang wajahnya sudah seperti kepiting rebus.


"Bisa diem nggak lo!" Yumi memukul lengan Tedjo, tapi cowok itu berhasil menangkis pukulannya.


"Lo nggak normal ya?" goda Tedjo semakin bersemangat.


"Berisik!"


Yumi yang menyerah, akhirnya berniat keluar dari kamar. Tapi sebelum Yumi berhasil keluar, tangan Tedjo tiba-tiba mencengkeram lengannya. Sehingga membuat Yumi berada di bawah Tedjo.


Lalu dalam sekejap....


"ARGHHH!!"


Yumi teriak karena saat ini wajah Tedjo begitu dekat dengan wajahnya.


"Apa-apaan nih!!! Dia ngeliat gue blushing nggak ya?" batin Yumi.


"M-mau ngapain lo, hah?!" tanya Yumi panik membuat Tedjo tertawa.


"Menurut lo... gue ganteng nggak kak diliat dari dekat gini?" tanya Tedjo dengan tatapan mata tajamnya.


Yumi menghindari kontak mata dengan Tedjo. "Nggak ada bedanya! Lo tetap jelek!"


"Masa sih? Apa ini kurang deket?" tanya Tedjo dengan seringainya yang mengintimidasi.


"Jangan macam-macam lo! Kalo lo nekad, gue bakal laporin lo ke Babeh!"


"Laporin aja. Gue nggak takut."


"Tedjo!" Yumi mulai geram.


"Ayolah, Yum. Sekarang waktunya udah. Sekali aja."


"Lo nantangin gue?"


"Iyalah. Lo takut, kan?" Tedjo mendekatkan wajahnya ke wajah Yumi.


Dengan ragu, Yumi membalas Tedjo dengan mendekatkan wajahnya. Padahal ia tidak berani melakukan hal itu.


"Udah berani ya sekarang." goda Tedjo membuat Yumi merinding ketakutan.


"Argh! Babeh!!!"


Saat Tedjo berniat menggoda Yumi dengan lebih mendekatkan wajahnya, tiba-tiba....


"Kenapa sih...?" tanyanya terhenti.


Tedjo dan Yumi bersamaan melihat ke arah pintu.


Pak Udin terhenyak, menyesali apa yang baru saja ia lihat.


Tedjo kemudian buru-buru menjauh dari Yumi.


"Tadi gua denger Yumi tereak. Gua kira lu berdua berantem lagi. Ternyata...." Pak Udin berhenti bicara karena malu.


Tedjo dan Yumi menyembunyikan pipi mereka yang sudah memerah.


"Kita nggak berantem kok, Beh. Iya kan, Yum?" Tedjo tersenyum kikuk.


Yumi cepat-cepat mengangguk.


"U-udah deh. Pelanin aja suara lu berdua."


"I-iya, Beh."


Pak Udin pun buru-buru pergi.


Yumi malu sekali, tampak dari wajahnya yang begitu tegang. Sedangkan Tedjo hanya menghela napas lega.


"Tedjo kampret!" Yumi memukul dada Tedjo karena geram.


"Mana gue tau kalo Babeh bakal masuk." cengir Tedjo. "Lagian kenapa lo nggak kunci pintunya sih tadi?"


Yumi kemudian keluar kamar.


"Mau kemana lo, Yum?"


"Nyari selingkuhan!" sahut Yumi kesal setengah mati.


Tedjo terkekeh. "Lo mau ngelanjutin yang tadi, nggak?"


"Diem lo!"


...•••...