SUAMI DARI MARS

SUAMI DARI MARS
Malam Pertama



...•••...


"Tedjo."


"Apaan?"


"Gimana caranya kita ke hotel?"


Tedjo dan Yumi sama-sama terdiam. Hujan tiba-tiba turun dengan derasnya membuat mereka terjebak di teras restoran.


"Lo mau cara yang gampang, nggak?" tanya Tedjo setelah mendapatkan ide.


"Serah lo aja deh. Gue cuman pengen istirahat. Udah, itu aja." jawab Yumi pasrah.


"Ternyata lo udah nggak sabar banget ya." Tedjo tersenyum jahil.


"Singkirin pikiran cabul lo itu!" Yumi menatap Tedjo sinis.


"Geter banget muncung bini gue kayak setang becak." Tedjo menggenggam tangan Yumi. "Ya udah, ayo yang."


Yumi pun mengikuti langkah Tedjo di tengah derasnya hujan.



"Woi, Tedjo! Gila lo ya?!"


"Kenapa? Lo seneng?!"


Mereka meninggikan suaranya karena suara hujan yang ribut.


"Gue seneng kalo abis ini gue bisa mukul lo!" balas Yumi kesal.


Tedjo hanya tertawa.


Mereka pun berhasil naik taksi dan segera menuju ke hotel.


...•••...


Di hotel, pukul 19:54....


Setelah check-in, Tedjo dan Yumi pun menuju kamarnya.


"Kenapa ada dua ranjang?" tanya Tedjo putus asa, lalu menatap tajam ke arah Yumi karena dialah yang memesan kamar dengan dua ranjang itu.



"Ya iyalah. Kita kan berdua." balas Yumi sambil tersenyum puas.


"Tapi kita kan udah nikah, ege."


"Bodoamat."


"Koper lo berat banget sih?" tanya Tedjo yang kesulitan membawa koper Yumi. "Emang isinya apaan? Batu?"


"Iya." jawab Yumi enteng.


"Hah? Beneran bawa batu lo dari rumah? Gila nih cewek."


"Ya ampun, Tedjo. Gue cuman becanda."


Tedjo menghela napas sambil mengomel dalam hati.


"Tedjo...." kata Yumi geram karena menyadari ekspresi Tedjo yang meledeknya dari belakang.


Tedjo pun diam.


Setelah itu, mereka pun membereskan barang-barangnya.


"Tedjo?" kata Yumi membuka suara.


"Apa?"


"Makasih." kata Yumi tulus meskipun terdengar ketus.


Tedjo tersentak. "Tumben? Kesambet setan apa lo? Tuyul?"


Yumi diam sebentar. "Nggak usah bohong lo. Gue tau lo mana punya temen di sini. Jadi, gue mau berterima kasih sama lo karena udah nyariin gue sampe tidur lo jadi nggak nyenyak."


"Kalo gitu, tolong buat tidur gue nyenyak malam ini. Bisa kan lo?"


"Nggak usah ngomong lagi lo! Woi, Tedjo! Gue lagi serius! Kenapa lo becanda mulu sih?!"


"Kan gue ngomong bener. Udah jadi kewajiban lo buat bikin tidur gue nyenyak malam ini. Salah satu caranya adalah ngen...."


Yumi memelototi Tedjo dan bersiap-siap menerjang cowok itu jika ia berani bicara yang macam-macam.


"Ngenakin makanan." Tedjo yang menciut oleh tatapan tajam Yumi, akhirnya mengeluarkan alasan seadanya. "Maksud gue, lo harus masakin gue malam ini. Gue laper."


"Lo udah makan ya, ege. Lagian kalo lo lapar lagi, kan lo bisa mesen sama orang hotel." kata Yumi garang.


"Iya, sama-sama."


"Hah?" Yumi tak habis pikir.


"Kenapa?" Tedjo ikut bingung. "Kan lo tadi bilang ke gue, makasih. Ya gue bales, sama-sama."


"Tapi kan bukan itu yang lagi kita bahas barusan, Tedjo." Yumi mulai geram melihat Tedjo di hadapannya itu.


"Terus, mau lo gimana lagi?" tanya Tedjo balik.


Yumi mendengus kesal. "Nyesel gue udah bilang makasih sama lo." katanya merajuk.


"Makasih kembali, sayang. Lo harus ingat kebaikan gue itu. Puas lo? Tapi maaf, gue bukan alat pemuas."


Yumi menyeletuk kesal.


"Jangan marah lagi lo. Nggak kuat gue ngeliatnya. Saat-saat gini tuh, iman gue menipis." goda Tedjo sambil memperlihatkan senyumannya.


"Tedjo! Sekali lagi lo ngomong jorok begitu, lo gue tendang keluar ya?!" amuk Yumi.


"Canda gue mah." Tedjo terkekeh.


Yumi diam, lalu tiba-tiba mengelus rambut Tedjo. "Makasih ya, Djo."


Tedjo bengong. "Yumyum?"


"Apa sih?" sahut Yumi kembali ke mode sinis.


Tedjo menghela napas maklum. "Baru aja lo tadi baik ke gue. Sekarang udah keluar aja khodam lo."


"Nggak bisa gue lama-lama baik sama lo. Geli. Hahahahaha...." Yumi tertawa.


Tedjo terpaku. "Yumyum?"


"Hm." gumam Yumi.


"Tetap kayak gini ya? Tapi, kurangin dikit judesnya." kata Tedjo lembut.


"Ngatur lo? Suka-suka guelah. Emang lo siapa berani ngatur gue?" tanya Yumi menantang.


"Suami lo." balas Tedjo tak kalah sengit. "Kalo gue ninggal, jadi janda lo."


Yumi menatap Tedjo tajam.


"Lo nggak mau gue meninggal?" tanya Tedjo.


"Konyol tau nggak." rajuk Yumi lagi-lagi.


"Maafin ya, sayang. Nih mulut emang suka keceplosan. Lop yu...."


"Kalo lo meninggal ya gue nikah lagilah. Ngapain lama-lama jadi janda." kata Yumi enteng.


"Nggak ada cinta-cintanya lu ama gua. Kurang ajar jadi bini." Tedjo merengut.


"Makanya jangan meninggal lo. Ntar nggak ada orang yang bisa gue maki lagi."


"Yeuuuuh. Ngelunjak lo." Tedjo mulai kesal. "Ya udah deh, ayo. Gue mau nyobain."


"Nyobain apaan?" tanya Yumi tak mengerti.


"Porno lo! Porno maniak!" pekik Yumi tak habis pikir dengan jalan pikiran Tedjo.


"Jangan blushing gitu dong lo. Gue ngegertak lo doang, ege." jelas Tedjo agar Yumi percaya kalau ia tidak akan berbuat yang tidak-tidak.


Setelah perkelahian ringan itu, Yumi pun tidur di kasur sedangkan Tedjo tidur di sofa yang masih berada di dalam kamar itu.


"Tedjo."


"Hm...." sahut Tedjo yang masih kesal.


"Gue serius. Gue ucapin makasih ke elo."


Tedjo melirik ke arah Yumi sesaat, lalu mendengus.


"Beneran keracunan makanan lo? Lo kenapa pengen banget ngomong makasih setelah lo nyampakin gue?" tanya Tedjo kemudian.


"Maksud lo apaan, gue nyampakin elo?"


"Lo biarin suami lo tidur di sini. Sementara lo enak-enakan tidur di kasur pake selimut." Tedjo mulai drama.


"Stop bilang 'suami' kenapa sih? Gue nggak mau denger lo bilang kayak gitu. Geli gue."


Tedjo hanya ngedumel.


"Heh, woi!" seru Yumi. "Tedjo."


"Apaan lagi sih? Gue mau tidur nih." kata Tedjo sambil pura-pura memukul nyamuk. Padahal sudah jelas di dalam kamar tidak ada nyamuk.


"Manggil doang gue."


"Dasar lu." dengus Tedjo. Kemudian, melihat ke arah Yumi yang mulai memejamkan matanya untuk tidur. "Yumyum."


"Hm...."


"Semalem lo tidur dimana?" tanya Tedjo penasaran. Nada bicaranya terdengar khawatir jika ada sesuatu yang buruk terjadi pada Yumi.


Yumi diam sejenak, mencoba menyusun skenario palsu di kepalanya.


"Di teras rumah orang. Untung aja gue nggak disiram air pagi-pagi." Yumi beralasan.


"Ya nggak apa-apalah. Itung-itung mandi pagi." ujar Tedjo bercanda.


"Nyesel gue cerita sama lo." dengus Tedjo sebal.


"Kalo tau gitu, lo ikut gue aja tidur dipinggir jalan." ujar Tedjo semakin semangat menggoda Yumi.


"Gimana mau ngikutin lo? Kita kan sama-sama hilang." omel Yumi sambil melempar bantal ke Tedjo saking geramnya menanggapi perkataan cowok itu.


"Bener juga sih. Tumben lo pinter."


"Udah dari dulu kali. Cuman lo yang terlalu bego buat nyadarinnya." balas Yumi telak.


"Gemesin banget istri gue." komentar Tedjo.


"Udah gue bilang jangan panggil gue begituan!" Yumi semakin sebal pada Tedjo.


"Iya. Marah-marah mulu lo jadi istri. Heran gue."


"Terus tanggapan lo dari cerita gue tadi cuman begitu? Lo nggak khawatir sama gue?" tanya Yumi karena merasa tidak dipedulikan Tedjo.


"Mau gimana lagi? Gue udah bersyukur banget kalo lo nggak kenapa-napa. Makanya gandeng tangan gue biar lo nggak hilang-hilangan lagi. Kalo hilang kan kita masih bisa sama-sama." ujar Tedjo.


Yumi hanya diam. Dia terlanjur pada Tedjo.


Tedjo menghampiri Yumi, lalu merangkul gadis itu.


"Iya deh, gue minta maaf karena lama banget nemuin lo. Dari dulu gue emang payah kalo nyari sesuatu yang hilang. Pas mobil mainan gue hilang aja, gue berhari-hari nemuinnya. Eh ternyata, ada di bawah kolong kasur gue. Untung ketemu. Kalo nggak, gue bakal nangis sih kayaknya. Soalnya itu mainan kesayangan gue." cerita Tedjo.


Yumi menatap Tedjo lekat-lekat.


"Yumyum, mau gue buatin mie kagak? Sesekali nyobain mie buatan suami lo." tawar Tedjo sambil nyengir.


"Maulah. Tuyul gue nggak mau mie buatan lo." jawab Yumi sambil tersenyum sumringah. Ia tahu benar, dari dulu Tedjo memang ahlinya dalam membuat mie instan.


"Iya, lo kan dugong makanya mau." canda Tedjo membuat Yumi memukul lengannya beberapa kali. "Hahahaha... becanda gue. Yakali bini gue secantik ini mirip dugong."


"Bullshit lo." balas Yumi sambil merengut.


...•••...


"Nih." Tedjo memberikan pada Yumi mie instan yang ia racik sendiri.


"Hm... mantap bener." komentar Yumi sambil dengan lahap menyantap mie buatan Tedjo itu.


"Enak, kan?"


"Iyalah. Tedjo gitu lho yang buatin. Nggak nyangka gue, lo berguna juga jdi suami gue." ledek Yumi sambil menahan tawanya.


"Sialan lo."


"Hahahahahaha...." Tawa Yumi pecah setelah melihat wajah kesal Tedjo.


Mereka pun lanjut menyantap mie instan itu sambil kadang melontarkan candaan yang menyebalkan satu sama lain.


...•••...


Tedjo cemberut saat Yumi memberinya selimut. Itu berarti dia benar-benar akan tidur di sofa sendirian.


"Tidur sama gue dong, Yum. Kan kasurnya bisa di satuin." ajak Tedjo dengan wajah memelas.


"Nggak mau gue."


"Kok lo gitu sih? Lo takut kegoda sama gue ya?"


"Geer lo. Gue yang takut lo kegoda sama gue." balas Yumi.


"Seenggaknya malam ini kita tidur sekasurlah, Yum. Ini kan malam pertama kita. Momen penting nih, Neng." rengek Tedjo.


"Udah malam ketiga kalo lo lupa." Yumi membantu meralat.


"Lo nggak mau ngelakuin itu sama gue apa?" kata Tedjo gamblang.


"Tidur nggak lo?! Kalo lo ngomong gitu terus, gue nggak bakal mau tidur sama lo!" ancam Yumi.


"Kalo gitu, gue boleh kan tidur sama lo? Gue janji nggak bakal berisik."


Yumi berpikir keras. "Ya udah deh, tapi jangan ngapa-ngapain lo ya?" tanya Yumi memastikan.


"Hm... tapi gue boleh meluk lo, kan?" tanya Tedjo polos.


"Ya nggaklah. Gila ya lo?" Seketika pipi Yumi memerah malu.


"Kenapa sih? Gue kan suami lo."


"Lo nggak denger yang gue bilang tadi?" Yumi menatap Tedjo tajam.


"Tapi, gue nggak bisa tidur kalo nggak meluk sesuatu." rengek Tedjo.


"Lo masih punya guling buat dipeluk." balas Yumi tak mau kalah.


"Ngapain gue meluk guling kalo gue udah punya elo?" Tedjo mulai geram.


Yumi semakin intens menatap Tedjo. "Cabul lo! Jangan ngomong sama gue, lo!"


"Iya, iya. Gantinya gue megang tangan lo aja ya? Plisss...." Tedjo memelas.


Yumi menghela napas. "Iya, deh. Tapi, awas aja kalo lo ngelanggar peraturan."


"Oke!" Tedjo senang.


Tapi, tiba-tiba saja.... 


"Tedjo, lo pernah ciuman nggak?"


Tedjo terhenyak.


...•••...