
...•••...
"Yumi." panggil Pak Udin membuat Yumi menatapnya. Semua orang juga menatap ke arah Pak Udin penuh tanya.
"Ya."
"Tedjo bilang tadi lo nyelinapin Baruna di rumah." kata Pak Udin membuat Tedjo terperangah.
"Nggak. Jangan bilang begitu." gumam Tedjo dengan gemasnya.
"Lu bohongin kita ya, Yum?" lanjut Pak Udin dengan wajah polosnya.
Tedjo hanya bisa pasrah sekarang. Setelah ini, ia yakin akan menjadi lembu geprek.
"Lo fitnah gue?" tanya Yumi dengan tatapan penuh arti.
"K-kagak. Gue cuman nebak doang. Iya, gue tau gue salah. Hehe...." cengir Tedjo takut.
"Kamu nyelinapin Baruna di rumah, Nak?" tanya Pak Selamet kemudian.
"Nggak mungkin Mbak Yumi begitu, Pak. Dari tadi sore aja Mbak Yumi sama kita. Embun nggak liat Bang Baruna datang ke rumah." bela Embun
"Iya. Dari tadi aye di rumah doang, Pak." kata Yumi.
"Iya, Babeh. Tedjo percaya kok omongan Yumi. Hehe...." cengir Tedjo lagi.
"Beneran lu? Tadi lu bilang lu nggak bakal percaya." tanya Pak Udin yang membuat Tedjo gelagapan.
"Emang Tedjo ada bilang gitu?" tanya Tedjo pura-pura tidak tahu.
"Lu bilang bakal ngehukum Yumi kalo sampe dia ketauan bohong. Kita ngomong lewat telepati barusan. Lu lupa?" jelas Pak Udin membuat Tedjo semakin panik.
"T-tedjo cuman bercanda itu, Beh. Mana mungkin Tedjo serius bilang gitu." elak Tedjo dengan keringat dingin mengucur di wajahnya.
"Eleh... kagak usah bohong lu, Djo. Lu yang ngomong begitu tadi. Masih segar di kuping gua omongan lu." kata Pak Udin tanpa rasa bersalah.
Yumi menatap Tedjo lekat-lekat.
"Jangan dengerin omongan Babeh, Yum. Babeh sering ngigo pas makan paha ayam." kata Tedjo begitu gugup.
"Suara ketawa yang lo pikir dari Baruna tuh sebenarnya suara ketawa Embun." kata Yumi seadanya.
"Hah?" Tedjo mengernyit.
"Lo nuduh gue bawa Baruna ke rumah gara-gara suara ketawa cowok, kan?" tanya Yumi.
Semua orang terdiam.
"Yang ketawa tuh Embun." kata Yumi menahan kesal. "Lo sendiri yang bilang kalo sesekali suara kodam Embun tuh bisa keluar."
"Hah? Jadi, Embun yang ketawanya?" tanya Tedjo tak habis pikir. "Woi, Mbun! Ketawa lo coba!"
"Nggak mau. Nggak ada yang lucu." kata Embun.
"Iya juga sih." kata Tedjo.
"Jadi, lu nyelinapin Baruna apa kagak sih, Yum?" tanya Pak Udin tambah membuat Tedjo ketar-ketir.
"Jangan dibahas lagi." ujar Tedjo geram.
Mendengar pertanyaan Pak Udin membuat Tedjo semakin merasa bersalah.
Yumi hanya menatap Tedjo dengan kecewa.
"Ini nggak kayak yang lo pikirin, Yum. Gue bisa jelasin semuanya." kata Tedjo.
"Nggak perlu. Gue nggak mau denger lo ngomong." balas Yumi.
Tedjo mengutuk dirinya dalam hati. Bagaimana bisa dia bertindak sebodoh itu? Dia pasti sudah melukai hati Yumi dengan menuduhnya di depan keluarganya.
"Yumyum...." panggil Tedjo lembut.
"Udah deh. Semuanya udah jelas. Lo udah fitnah gue yang bukan-bukan." kata Yumi kesal, terlebih kecewa.
"Makanya tadi tuh lo jangan aneh-aneh." bela Tedjo.
"Gue cuman dandan bukan operasi plastik. Lo punya dendam ya sama gue? Lagian buat apa gue nyembunyiin Baruna di sini?"
"Gue mau jelasin semuanya biar lo nggak salah paham sama gue."
"Gue udah ngasih tau lo, tapi lo aja yang keras kepala."
"Aa, Neng. Kalian tenang dulu ya. Nggak baik berantem depan makanan. Nanti kalian bicarain baik-baik." kata Bu Titin menengahi.
Tedjo dan Yumi terdiam sejenak sambil menghela napas.
"Gue nggak mau sekamar lagi sama lo." ujar Yumi sebal.
"Maksud lo apaan?"
"Gue mau tidur sama Embun aja."
Tedjo menatap Yumi sedih. Dari ekspresinya, dia menyesali perbuatannya yang sudah keterlaluan itu.
Pak Udin, Pak Selamet, Bu Titin dan Embun hanya bisa diam sambil memandang satu sama lain penuh tanya.
Yumi bangkit dari duduknya diikuti dengan Embun. Mereka kemudian bergegas pergi ke kamar.
Tedjo menghela napas berat.
"Kayaknya si Eneng lagi marah banget sama Aa." kata Bu Titin memperburuk suasana hati Tedjo.
"Sekarang lu pasti ngerasa bersalah, kan?" goda Pak Udin sambil cengengesan. "Jangan nyalahin diri lu sendiri, tapi kali ini emang salah lu sih." ledeknya dengan tawa khasnya.
"Ya Allah, Babeh!"
Tedjo kemudian mengacak-acak rambutnya frustasi.
"Aku butuh Tata." kata Tedjo lagi. "Tata Janeeta."
"Kasian banget si Aa." kata Bu Titin iba.
...•••...
Saat ini Tedjo berada di depan pintu kamar Embun. Dari tadi dia hanya memandang pintu kamar itu tanpa mengetuknya.
"Yumyum...." panggil Tedjo.
"Lo udah tidur ya?" tanya Tedjo.
"Mbun... bukain pintunya dong! Gue juga mau tidur sama lo!" teriak Tedjo di tengah malam.
"Berisik!"
Bukan Yumi yang menyahut melainkan Embun, membuat Tedjo sontak kaget.
"Pergi sono lu!" seru Embun dari dalam kamarnya.
Tedjo memandang pintu kamar itu dengan tatapan sendu.
"Iya...." balas Tedjo lesu. "Mbun... bilang sama Yumi jangan lupa bangunin gue besok pagi ya?"
Tak ada jawaban. Tedjo pun akhirnya melangkahkan kakinya menjauh dari kamar Embun.
...•••...
Besoknya di sekolah....
"Bar...." sapa Tedjo dengan wajah lesu.
"Jangan manggil gue kalo congor lo manyun begitu." peringat Baruna membuat Tedjo tersenyum lebar dengan terpaksa.
"Bagosss...." komentar Baruna sambil memakan satenya.
"Kenapa gue sedih banget ya hari ini?" tanya Tedjo pada Baruna.
"Kenapa lo, Bang? Kenapa lo nanya ke gue? Yang tau hati lo itu ya lo sendirilah sama Sang Pencipta tentunya." gerutu Baruna tak habis pikir. "Lagian lo udah nggak kesel lagi sama gue, Bang? Kenapa lo ngajak gue ngomong?"
Tedjo hanya menghela napas. "Gue minta sate lo ya."
Dengan sigap, Baruna menyembunyikan satenya di belakang punggungnya sambil memelototi Tedjo.
"Lagi galau berat gue, Bar. Gue mau makan." Tedjo mencoba mengambil makanan Baruna.
"Tapi, ngapa kudu sate gue, Bang?" tanya Baruna tak rela berbagi sate dengan Tedjo.
"Pelit banget sih lo." kata Tedjo.
Baruna masih memelototi Tedjo.
"Satu tusuk doang, elah. Lo mau gue mati kelaparan?" Tedjo memelas.
"Kasian banget sih lo, Bang. Tapi sayangnya, gue nggak kasian sama lo. Hahaha...." ledek Baruna.
Tedjo tiba-tiba diam membuat Baruna jadi cemas.
"Lo begini bukan semata-mata mau minta sate gue kan, Bang?" tanya Baruna hati-hati membuat Tedjo menggeleng pelan.
Baruna menghela napas lega. "Ya udah deh, makan tuh. Habisin aja semuanya."
Baruna lalu memberikan satenya pada Tedjo.
Tedjo pun memakan sate itu dengan kecepatan maksimum.
Slurp...!
Slurp...!
Slurp...!
Tedjo bersendawa sambil memegangi perutnya yang membesar.
"Udah abis. Gue kenyang. Gue pergi dulu." pamit Tedjo sambil bangkit dari duduknya.
"Woi, Bang!" Baruna menarik Tedjo untuk duduk kembali.
"Lo abis begadang ya, Bang? Sebenarnya lo kenapa sih? Lo ada masalah?" tanya Baruna benar-benar khawatir.
"Kenapa nggak nanya dari tadi sih lo, Bar? Dasar...." kata Tedjo bersemangat. "Denger."
Tedjo menceritakan apa yang sudah terjadi dengan dirinya dan juga Yumi semalam dengan kecepatan penuh, membuat Baruna pusing mendengar ocehannya.
"Gini ceritanya.... Yumi seperti itu.... Pak Adul tuh.... Jadi, begitu...." jelas Tedjo panjang lebar.
Baru a mengedipkan matanya berkali-kali untuk meredakan kepalanya yang seketika pusing.
"Gitu ceritanya." Tedjo mengakhiri cerita.
"Wah... Bang Tedjo... lo bener-bener...." Baruna menghentikan ucapannya sejenak sambil menatap Tedjo dengan mata berbinar. "Jahat banget sih lo, Bang. Bisa-bisanya lo nuduh Yumi begitu."
"Sama aja lo."
"Apaan?"
"Lo juga nyalahin gue."
"LO EMANG SALAH, CICIT DUGONG." pekik Baruna geram.
"Terus gue kudu gimana?"
"Firasat gue mengatakan kalo lo harus bujuk si Yumi sih." saran Baruna benar-benar tidak membantu.
"Gue maunya sih begitu. Tapi, si Yuminya kepala batu banget. Susah dibujuknya tuh anak."
"Perlu bantuan gue kagak?" tanya Baruna sesuai ekspektasi Tedjo.
"Kerjain aja PR gue. Itu udah ngebantu gue banget ." kata Tedjo dengan entengnya.
"Kalo lo, gue gantung ke tiang bendera, gimana, Bang?" Baruna menggeram.
"Udahlah. Gue mau ke kelas aja." Tedjo pun bergegas pergi.
Sementara itu Baruna ke kasir untuk membayar yang ia dan Tedjo makan tadi.
"Semuanya lima puluh ribu." kata ibu kantin.
"Hah? Mahal amat, Bu? Harga satenya emang udah naik?" tanya Baruna kaget.
"Si Tedjo mesan lima mangkok bakso sebelumnya. Katanya, kamu yang mau bayar semuanya." jelas ibu kantin membuat Baruna kesal sampai ke ubun-ubun.
"WOI, BANG! NIPU GUA LU YA!"
...•••...
"Yumyum. Nih, seblak buat lo. Lo suka, kan?"
"Gue beliin lo es krim rasa mengkudu. Lo mau?"
"Nih, buat lo."
Begitulah yang dikatakan Tedjo sambil bolak-balik ke kelas Yumi dan memberikan hadiah padanya.
Ishak, Awang, Caca dan Baruna yang melihat itu pun hanya terheran-heran dengan kelakuan Tedjo hari ini.
Tapi sayangnya, Yumi yang masih jengkel pada Tedjo hanya mendengus lalu berlalu pergi meninggalkan Tedjo serta hadiahnya.
"Bukan gitu konsepnya, Bang. Ya Allah... anak siapa sih lo?" Baruna yang baru saja menghampiri Tedjo, terkejut saat melihat hadiah-hadiah laki-laki itu.
"Maksud lo apaan?" tanya Tedjo bingung.
"Emang ada orang suka es krim mengkudu?" perjelas Baruna.
"Noh. Si Yumi." jawab Tedjo dengan muka polosnya.
"Sabar, Bar, sabar." komentar Awang sambil mengusap-usap dada Baruna agar bersabar menghadapi Tedjo.
"Lagian siapa sih yang jual es krim mengkudu begitu?" Baruna mulai sebal.
"Udahlah. Tedjo yang bener. Kita salah. Tedjo nggak pernah salah." kata Ishak agak tertekan melihat kreatifitas Tedjo.
"Tabahkan hati lo, Bar." kata Caca yang sama tertekannya.
Kemudian semua orang meninggalkan Tedjo yang masih terpaku dengan hadiah-hadiahnya yang ditolak Yumi.
"Yumi biasanya juga suka es krim mengkudu. Baruna nggak tau aja." gumam Tedjo dengan mencebikkan bibirnya lucu.
...•••...
"Assalamu'alaikum!" sapa Yumi sambil masuk ke rumah yang diikuti Tedjo di belakangnya.
Hari ini Yumi pulang dengan naik bus. Mereka hanya tidak sengaja sampai ke rumah bersamaan saja, sehingga Tedjo ada di belakangnya.
"Lo mau ngomong ke orang rumah kalo gue pulang bareng Baruna?" tanya Yumi wanti-wanti.
"Gue nggak mau ngomong begitu kok." kata Tedjo yang sudah menyesal dari semalam. "Gini aja deh. Gimana kalo kita...."
Yumi menunggu perkataan Tedjo selanjutnya.
"Nutup nih pintu lebih dulu." cengir Tedjo sambil menutup pintu rumah.
Yumi menatap Tedjo bingung.
"Ayo ke kamar. Lo pasti capek. Wah... anak Babeh Udin emang cakep ye." goda Tedjo membuat Yumi makin tidak mengerti. "Apa kabar lo, Yum?"
"Jangan tanya apapun. Lo kedengeran kayak psikopat." komentar Yumi membuat Tedjo terdiam.
Sesaat Tedjo dan Yumi melangkahkan kakinya menuju kamar, tiba-tiba saja seorang anak kecil yang berlari menabrak mereka.
"Aouw!" Anak kecil itu meringis lucu.
"Lah?"
Yumi membelalakkan matanya tak percaya.
"Kenapa lo?" tanya Tedjo pada Yumi.
"Kok lo di sini sih, Yul?" gumam Yumi bertanya-tanya entah pada siapa.
"Hai, Tante Yumi!" sapa anak kecil tadi sambil tersenyum ramah, tapi tampak menyebalkan di mata Yumi.
Yumi menepuk dahinya frustasi. Anak kecil itu masih saja memanggilnya dengan sebutan Tante.
"Lu bedua udah pulang ternyata." sapa Pak Udin begitu melihat Tedjo dan Yumi.
Tanpa basa-basi lagi, Yumi langsung bertanya pada Pak Udin.
"Babeh, kok Yuli di sini sih?" tanya Yumi.
"Iya. Nih bocah bakal tinggal beberapa hari ama kita. Gara-gara Om ama Tante lu mau pergi ke luar kota buat ngurusin bisnis di sono." jelas Pak Udin sambil menggendong Yuli, anak perempuan tadi.
Tedjo dan Yumi hanya manggut-manggut.
"Wah... ganteng banget. Boleh kenalan kagak?" tanya Yuli terus-terang.
"Centil banget sih nih tuyul." komentar Yumi geram.
"Tante diem ya." balas Yuli membuat Yumi merengut. Tapi lain halnya dengan Tedjo dan Pak Udin, mereka malah terkekeh melihat dua perempuan yang sama menggemaskannya itu.
"Tedjo, lu maklumin aja nih bocah. Yumi ama si Yuli emang suka berantem, tapi tuh bocah dua saling sayang kok." jelas Pak Udin membuat Tedjo terkekeh.
"Siapa bilang aye sayang sama Tante Yumi. Kagak kok." kata Yuli sambil membuang mukanya lucu.
"Aye juga kagak sayang ama tuh tuyul." Yumi mendengus dan ikut membuang muka.
"Udah kayak seumuran Yuli aja lo, Yum. Atau... lo malah lebih muda dari si Yuli." goda Tedjo terkekeh geli.
Yumi diam sesaat, kemudian berkata. "Heh, tuyul. Panggil gue Kakak. Jangan Tante. Gue masih muda, tau." geram Yumi.
"Aye kagak bisa manggil Kak Yumi."
"Itu pan contoh, Tante Yumi."
"Dasar tuyul lo." rutuk Yumi.
Tedjo menghampiri Yuli sambil tersenyum manis ke arahnya.
"Hai, Yuli. Lo mau nggak temenan sama Abang?" tanya Tedjo ramah.
"Mau dong, Abang ganteng." jawab Yuli dengan senyumannya yang tampak menggemaskan.
"Imut banget sih kamu." ujar Tedjo gemas.
Tedjo kemudian mengambil alih Yuli dari gendongan Pak Udin.
"Ya udah. Lu bedua sono dah bawa si Yuli istirahat. Capek kayaknya tuh bocah." pamit Pak Udin kemudian berbalik pergi.
"Iya, Beh."
"Aye denger-denger lu bedua udah nikah ya?" kata Yuli seperti orang dewasa membuat Tedjo terbelalak kaget. Apa Yuli itu orang dewasa yang terjebak di tubuh anak kecil?
"Jangan kaget lo. Nih bocil keabadian emang suka gosip. Nih bocil juga cepet ngerti kayak orang gede. Pokoknya dia tuh udah kayak sepuh dah di keluarga gue." jelas Yumi masih jengkel pada Yuli yang tidak mau memanggilnya kakak.
"Wow...." kata Tedjo takjub. "Let's go kita main bungee jumping."
Yumi terkejut mendengar ucapan Tedjo.
"Woi. Apa lo bilang?"
"Hehe.... Becanda gue." cengir Tedjo.
"Boleh juga, Bang." sahut Yuli dengan menampilkan senyuman gusinya.
"Hah? Lo mau, Yul?" tanya Tedjo tak percaya.
"Hehe.... Becanda gue." kata Yuli menirukan suara bariton Tedjo.
"Dasar nih bocil keabadian." gumam Yumi sambil terkekeh kecil.
Kemudian, Tedjo mengajak Yuli ke halaman belakangnya yang diikuti Yumi.
...•••...
Malam harinya, begitu selesai makan malam Tedjo, Yumi, Yuli, Pak Udin, Pak Selamet, Bu Titin dan Embun berkumpul di ruang keluarga. Mereka tampak saling melemparkan canda dan terdengar pertengkaran yang berasal dari Yumi dan Yuli.
Masalahnya kali ini karena Yuli yang terlalu manja dengan Tedjo, yang baru saja ia kenal siang tadi. Bahkan Tedjo terus menggendong Yuli layaknya anak koala.
"Woi, Tedjo. Kagak capek lo gendong tuh bocil mulu?" kata Yumi terdengar kesal. "Woi, Yul. Lo kok deketin Tedjo mulu sih? Risih gue ngeliatnya."
"Ngapa dah?" tanya Yuli dengan wajah tak bersalah. "Tante Yumi mau di posisi aye emang?"
"Hahaha.... Gue? Mau di posisi lo? Yang bener aja." tawa Yumi terdengar garing.
"Udah, Tan. Nggak usah malu-malu. Aye tau kok kalo Tante lagi cemburu sama aye?" goda Yuli dengan menyunggingkan senyumannya.
"Sok tau lo." kata Yumi agak gugup. Sepertinya ia benar-benar cemburu.
"Kayaknya si Yuli bener, Yum. Pipi lu merah tuh. Hahaha...." goda Pak Udin sambil tertawa puas, membuat semua orang yang mendengarnya ikut tertawa.
"Aye cuman lagi kepanasan kok." Yumi mengelak. Ia memukul wajahnya berkali-kali untuk menghilangkan semburat merah jambu di pipinya itu.
"Iya. Kepanasan ngeliat Yuli deket-deket sama Mas Tedjo kan, Mbak?" goda Embun membuat pipi Yumi makin memerah.
"Diem lo, Mbun." geram Yumi.
"Kentara banget tuh, Mbak, cemburunya." balas Embun sekenanya.
Yumi hanya bisa menghela napas panjang dan dalam.
"Neng Yumi beneran cemburu sama Yuli?" tanya Bu Titin terkejut dengan sikap Yumi yang tak seperti biasanya.
"Alhamdulillah ya, Bu, kalo si Eneng beneran cemburu." sambung Pak Selamet.
"Udah kerasa getaran-getaran cinta ya, Bro." kata Pak Udin semakin bersemangat menggoda Yumi. "Yum, lu minta aja sono ke Tedjo buat ngegendong lu juga."
"Tante malu ngomongnya ya?" tanya Yuli sambil tersenyum jahil.
"Dasar tuyul centil!" seru Yumi semakin geram.
"Tante Yumi galak. Wleeek. Hahahaha...." balas Yuli sambil meleletkan lidahnya lucu ke arah Yumi.
"Apa? Lo bilang gue galak?" Yumi memelototi Yuli tak terima.
"Hahahahahahaha...." Tedjo dan semua orang hanya tertawa melihat pertengkaran Yumi dan Yuli yang menggemaskan itu. Sedangkan Yumi sibuk menutupi pipinya yang sudah merah padam dengan tangannya.
"Udah deh, Tan. Biarin Bang Tedjo jadi milik aye malam ini. Kalau ahjumma tidak mengizinkannya, aku akan mengambil paksa Taehyung oppa." ancam Yuli sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Kenapa minta izin segala? Ambil saja kalau kau mau." Sohyun menggeram.
Yumi kemudian mendekati Yuli.
Dan....
Glitik~ Glitik~
"Huweeeee!!! Ampun Tante Yumi! Ampun! Hahahahahahaha...." rengek Yuli sambil tertawa geli karena Yumi yang menggelitik perutnya pelan.
"Berani lo ama gue, hah?" tanya Yumi sambil menampilkan seringainya.
"Argh... iya, iya. Maafin aye, Tan. Tapi, ngapa aye doang yang diserang? Bang Tedjo ama yang laen juga godain Tante kok." kata Yuli mengalah.
"Gue dendamnya cuman ama lo." jawab Yumi bercanda dengan muka serius.
Glurp!
Yuli menelan salivanya takut.
"Hahaha.... Udah, udah. Jangan berantem lagi dong lo berdua. Kayak kucing ama tikus aja." Tedjo geleng-geleng tak habis pikir dengan kelakuan Yumi dan Yuli yang tidak pernah akur.
"DIEM!" seru Yumi dan Yuli bersamaan.
"Hah? Kenapa gue yang dimarahin?" cibir Tedjo. "Ya udah. Kalo lo berdua nggak bisa dibilangin, gue bakal pake kekerasan."
Dengan perlahan, Tedjo mencoba menangkap Yumi dan Yuli yang sudah lari terbirit-birit.
"Mau kemana lo berdua, hah?"
Tedjo berjalan seperti zombie untuk menakut-nakuti Yuli yang pontang-panting. Dan itu terlihat sangat menggemaskan.
"Beginilah gambaran kalo Tedjo sama Nak Yumi punya anak." bisik Pak Selamet pada Bu Titin.
"Emak jadi pengen cepet-cepet nimang cucu. Tapi, Emak sadar kalo mereka masih sekolah." kata Bu Titin sedih.
"Tedjo, tuh bocah dua lagi sembunyi di belakang sofa." kata Pak Udin cepu.
Tedjo kemudian berjalan perlahan mendekat ke arah sofa.
"Dapet lo bedua!"
"Aaaaaaaaahhhh! Lariiiiiiiii!" seru Yuli sambil menarik tangan Yumi.
Yumi dan Yuli tampak kucar-kacir menghindari Tedjo.
Karena tak mau kalah dan terus dikejar-kejar, akhirnya Yumi dan Yuli bekerjasama mengalahkan Tedjo. Mereka membawa bantal sofa sebagai senjata dan memukuli Tedjo habis-habisan.
"Woi, curang, woi! Gue sendiri sedangkan kalian berdua!" celetuk Tedjo yang sibuk menangkis serbuan bantal itu.
"Siapa suruh nggak bawa pasukan." kata Yuli sambil tertawa puas.
"Hahahahahahaha...." Pak Udin, Pak Selamet, Bu Titin dan Embun yang menonton perkelahian itu hanya tertawa geli melihat Tedjo yang teraniaya.
"Woi! Lo berdua punya dendam ama gue?" tanya Tedjo yang sadar dirinya menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga.
"Rasain tuh, Bang Tedjo. Hahaha...." ledek Yuli bersemangat.
"Hahaha.... Muka lu lucu banget dah, Djo." kata Pak Udin sambil tertawa puas yang menyebabkan wajahnya ikut memerah.
"Aa, Neng Yumi sama Yuli... pergi gih tidur. Kamu juga, Mbun. Pergi sana tidur." kata Bu Titin membubarkan pertempuran itu.
"Iya...."
"Selamat malam, anak-anak." kata Pak Selamet.
"Selamat malam, Pak."
"Selamat malam juga, Om Selamet ganteng." balas Yuli membuat semua orang terkekeh geli.
Setelah itu mereka semua masuk ke kamar masing-masing. Dan Yuli yang digendong Tedjo ke kamarnya.
...•••...
Di kamar Tedjo dan Yumi....
"Bang Tedjo." panggil Yuli.
"Ya."
"Bang Tedjo pasti kesusahan ngadepin Tante Yumi, kan?" tanya Yuli yang langsung diiyakan Tedjo, membuat Yumi menatapnya tajam.
"Bener banget lo, Yul. Tapi, gue bisa kok ngatasinnya." kata Tedjo sambil tersenyum lembut.
"Woi, tuyul. Nggak usah caper lo." tukas Yumi sambil memaksakan untuk tersenyum.
"Tante jangan senyum. Bikin aye kesel aja."
"Woi, Yuli. Lo kenapa sih nggak pernah akur sama gue?" kata Yumi sambil mencebikkan bibirnya membuat Tedjo senyum-senyum. "Lo lupa kalo dulu gue pernah gantiin popok lo?"
"Ya karena itu aye manggil Tante, Tante."
Yumi menghentakkan kakinya frustasi, lalu menampilkan senyumannya yang tampak tertekan itu.
"Lo berdua emang udah cocok banget. Yang satu alien dan yang satunya lagi tuyul." kata Yumi kemudian keluar dari kamar dengan hati yang jengkel.
"Dasar tuyul centil~" batin Yumi sebelum benar-benar keluar.
Begitu Yumi pergi, Yuli kembali mengajak Tedjo berbicara.
"Udahlah, Bang Tedjo. Cuekin aja Tante Yumi. Dia emang selalu begitu." kata Yuli enteng.
"Yuli... kalo Abang boleh tau nih ya, kok lo berdua kagak pernah akur sih? Lo beneran nggak suka sama si Yumi?" tanya Tedjo penasaran.
"Ya, nggaklah. Kita sering berantem, ya karena aye suka aja gangguin Tante Yumi. Dia satu-satunya cewek yang bisa aye ajak bercanda. Aye suka liat muka Tante Yumi pas lagi kesel. Tante Yumi cantik kan, Bang?" goda Yuli membuat Tedjo mengangguk mengiyakan.
"Makanya Bang Tedjo nikah sama Tante Yumi, kan?" goda Yuli lagi sambil cekikikan.
Tedjo pun ikut cekikikan dibuatnya.
"Jadi gini, Bang... konsultasi aja sama aye kalo ada keluhan Abang selama hidup bersama Kak Yumi?" tanya Yuli yang memanggil Yumi dengan sebutan kakak. Tentu saja karena saat ini Yumi tidak ada bersamanya. Yuli benar-benar hanya ingin menggoda Yumi saja. Yang perlu diingat mereka itu saling menyayangi, hanya saja cara penyaluran kasih sayangnya yang sedikit berbeda dari yang lain.
"Nggak apa-apa emang, gue cerita ke elo?" tanya Tedjo sedikit ragu.
"Gini aja." Yuli diam sejenak. "Aye tau kok kalo Bang Tedjo sama Kak Yumi lagi berantem. Iya, kan?"
"Wah... kok lo bisa tau?" tanya Tedjo bingung.
"Aye denger omongannya Om Udin, Om Selamet sama Tante Titin sebelum Bang Tedjo pulang sekolah." jelas Yuli membuat Tedjo manggut-manggut paham.
"Jadi, Bang Tedjo fitnah Kak Yumi kalo dia udah nyelinapin Bang Baruna di sini?" tanya Yuli dengan muka serius dan itu terlihat lucu di mata Tedjo.
"Udahlah, Yul. Gue emang salah. Udah banyak yang bilang kalo gue salah." kata Tedjo lesu.
"Bang Tedjo bener kok. Bang Tedjo bilang kayak gitu karena Bang Tedjo khawatir sama Kak Yumi. Abang nggak mau kehilangan orang yang Abang sayang." kata Yuli membuat Tedjo tersenyum sumringah.
"Cees banget sih kita kalo kata gue mah."
"Iyalah. Kita kan sefrekuensi." balas Yuli sambil cengengesan.
"Yang kudu Bang Tedjo lakuin sekarang tuh cuman... nurutin kemauan Kak Yumi dengan senang hati." lanjut Yuli.
Saat itu juga, pintu kamar terbuka dan memunculkan sosok Yumi dengan memegang mug berisi susu.
"Yuli, lo mau tidur di sini?" tanya Yumi kemudian.
"Emang boleh, Tan?"
Yumi mengangguk.
"Aye mau!"
"Ya udah. Minum susu dulu biar pertumbuhan lo bagus. Nggak kayak yang itu tuh...." kata Yumi sambil melirik ke arah Tedjo.
"Anggap aja gue nggak denger." gumam Tedjo.
Setelah memastikan Yuli menghabiskan susu itu, Yumi kembali berkata.
"Kalo mau tidur sama kita, harus ada syaratnya." kata Yumi membuat Yuli menatapnya bingung.
"Apa tuh, Tan?" tanya Yuli.
Yumi berjongkok mensejajarkan pandangannya dengan Yuli. "Panggil gue Kak Yumi." katanya.
Yuli pun mendekatkan wajahnya ke wajah Yumi. "Tante Yumiiiiiii yang tidak rajin menabung...." kata Yuli bernada sambil mencubit pipi Yumi dan menggerakkannya ke kiri dan ke kanan dengan gemasnya.
Yuli kemudian menampilkan cengirannya yang khas.
"Dasar nakal." kata Yumi bersiap akan mengejar Yuli yang sudah kabur dibantu Tedjo.
"Woi! Jangan kabur lo berdua!"
"Tangkap kita kali Tante bisa!"
"Awas aja lo ya!"
...•••...
Saat ini, Yuli sudah tidur di tengah-tengah Tedjo dan Yumi. Sedangkan dua orang itu masih saja belum mau mengistirahatkan matanya. Masih ada pertanyaan dan pikiran yang menari-nari di kepala mereka berdua.
"Yumyum."
"Jangan berisik. Yuli udah tidur." peringat Yumi membuat Tedjo merengut.
"Kalo gitu, ayo kita ngobrol di kamar mandi aja." saran Tedjo asal.
Yumi menoleh ke arah Tedjo dengan tatapan tajam yang menghujam.
"Lo mau nenggelamin muka gue ke dalam bak ya? Kebaca gue isi pikiran lo. Lo pikir lo bisa ngibulin gue." omel Yumi. "Udah deh. Gue mau ke dapur aja. Haus gue."
Yumi bangkit dari tempat tidur dan langsung melesat ke dapur.
"Polos bener pikiran bini gue. Bukan begitu maksud gue, istri Adudu. Maksud gue tuh berplok-plok ria di kamar mandi." gerutu Tedjo dengan geram, lalu mengikuti Yumi ke dapur.
Saat di dapur, mereka terdiam cukup lama sampai akhirnya Tedjo membuka mulut. "Lo masih kepikiran? Lo nggak betah kalo nggak ngomong sama gue, kan? Oke deh. Ayo kita omongin tuh masalah dulu."
"Nggak malu lo ngomong begitu ke gue? Geer banget sih lo, hah." dengus Yumi.
"Iya, iya. Gue emang curiga sama lo kemarin. Semua orang juga bakal berpikiran kayak gitu pas liat kelakuan aneh lo. Lo dandan seolah-olah mau pergi. Terus sikap lo juga tiba-tiba manis ke gue. Siapa yang nggak su'uzhon kalo lo begitu, coba?" kata Tedjo terus-terang.
"Gue kan udah bilang gue cuman pengen bikin suami gue seneng." balas Yumi dengan malas.
"Nah, gara-gara omongan lo tuh. Gimana gue nggak su'uzhon. Wajar aja gue curiga. Gelagat lo udah kayak penyelundup, tau nggak." omel Tedjo.
"Pikiran lo aja noh yang kemana-mana. Apa lo tipe alien yang nggak suka dicuekin?" tanya Yumi kesal.
"Manusia juga nggak suka dicuekin." balas Tedjo geram. "Iya deh, iya. Gue emang salah. Jadi, gue mau minta maaf sama lo. Gue emang banyak salahnya daripada benernya."
"Kedengeran nggak tulus." komentar Yumi.
"Terus gue kudu gimana biar kedengeran tulus? Ada-ada aja lo."
"Gue baru tau kalo alien bisa minta maaf."
"Ya Allah, Yum...."
"Ternyata lo tuh alien yang rendah hati ya...." kata Yumi bernada.
"Udah, Yum, udah. Gue udah minta maaf."
"Lo kalah, gue menang." kata Yumi dengan bernada lagi.
"Ayo, ikut gue. Gue bakal buat lo teriak." goda Tedjo membuat Yumi menatapnya tajam.
"Woi!"
"HAHAHAHAHA...."
Tawa Tedjo terhenti, saat ponselnya tiba-tiba berdering.
"Assalamu'alaikum, Bang. Hah? Kok lo pada nggak ngajakin gue sih? Oke deh. Gue ke sana. Iya...."
Sambungan teleponmu berakhir begitu saja.
"Kenapa? Ada masalah?" tanya Yumi begitu melihat perubahan ekspresi wajah Tedjo yang panik.
"Gue keluar dulu ya, Yum." kata Tedjo tergesa-gesa.
"Mau pergi ke mana lo malam-malam begini?" tanya Yumi.
"Ke rumah Bang Karma. Ada Baruna, Awang sama Bang Ishak di sana. Mereka ngumpul nggak ngajakin gue."
"Tapi, ini udah jam sebelas."
"Gue janji bakal cepet pulang." kata Tedjo. "Ya udah. Gue pergi dulu ya."
"Iya."
Tedjo pun melesat pergi.
"Kenapa ya? Kenapa Tedjo panik banget pas dia tau kalo nggak diajak ke rumah Bang Karma?" gumam Yumi bingung.
...•••...