
...•••...
Di kamar, pukul 23.07....
Saat ini Tedjo sudah tidur di ranjangnya, tapi lain halnya dengan Yumi. Gadis itu tampak enggan tidur satu ranjang dengan Tedjo.
"Arum pacar Tedjo? Arum pacar Tedjo? Arum pacar Tedjo?" batin Yumi. Ia memandang Tedjo dengan tatapan curiga.
Cowok setampan Tedjo, mana mungkin tidak punya pacar. Tapi Yumi, kan...?
"Ehem." Tedjo berdeham.
Yumi hanya diam dengan muka cemberut sambil duduk di sofa kamarnya.
"Hey, Baby." sapa Tedjo dengan cengiran di wajahnya.
"...."
"Lo kok nggak balas panggilan gue sih? Balas kek 'iya sayang', 'iya suami' atau panggilan menarik lainnya." rengek Tedjo.
"Kayak ada yang ngomong. Nyamuk kah?" Yumi pura-pura memukul-mukul udara sekitarnya.
"Yumyum, ngapa lo duduk di situ sih? Jauh amat. Lo nggak mau bobok bareng suami lo ini?" tanya Tedjo.
"Kayaknya nih kamar angker deh. Ada suara-suara misterius." balas Yumi sekenanya.
"Masih marah lo ya? Kapan sih lo berhenti nyuekin gue?" tanya Tedjo mulai frustasi. Ia kewalahan menghadapi sikap Yumi.
"Makin ngeri aja nih kamar satu." komentar Yumi masih bodoh amat dengan Tedjo.
"Iya. Terus aja lo kayak gitu. Anggap gue ini kentut. Cuman angin lalu doang." Tedjo geram.
"Lo emang kentut, kan? Makanya lo bilang begitu."
"Hah?" Tedjo mengernyit. Ia dibuat bingung dengan ucapan Yumi. Tapi, apa yang dibingungkannya?
"Baruna nggak pernah nyakitin gue asal lo tau!" seru Yumi.
Tedjo mengubah posisinya menjadi duduk karena geregetan pada Yumi.
"Gue juga nggak pernah nyakitin lo asal lo tau! Lo aja yang selalu salah paham sama gue. Lo nuduh gue pacaran sama Arum, tapi kenyataannya gue dan Arum cuman sebatas teman sekelas." jelas Tedjo.
"Emangnya teman sekelas nggak bisa pacaran?" tanya Yumi kesal.
"Ya! Lo bener! Kalo gitu lo sama Baruna juga bisa pacaran, kan? Kalian kan timin sikilis!" Tedjo benar-benar geram.
Yumi mendengus. "Dih!"
"Yumyum?" panggil Tedjo dengan suara yang melunak.
"Hm...?"
"Ngomong ke gue kalo lo masih kesel. Apa yang lo keselin?" pinta Tedjo.
Yumi menghela napas dengan berat.
"Gue nggak mau lo berpikir buruk soal gue lagi." kata Tedjo muram.
Yumi menatap Tedjo sesaat, kemudian berkata.
"Waktu itu... pas gue ngeliat lo berlutut di depan Arum dan nyatain cinta, lo bilang itu buat pentas drama. Tapi sehari setelahnya, gue malah ngeliat lo mau nyium Arum. Lo masih mau bilang kalo itu bagian dari drama juga, hah?!" tanya Yumi sambil menahan kesalnya.
"Lo pasti nggak liat adegannya sampe selesai, kan?" tanya Tedjo memastikan.
"Dih! Siapa yang mau liat!"
"Sini lo. Bakal gue kasih liat ke elo adegannya kayak apa."
Tedjo kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Yumi dan dalam sekejap....
Plak! Plak!
Tedjo menampar pipi Yumi pelan.
"Aouw!"
"Nggak ada gue nyium dia. Yang ada adegan nampar biar sang putri bangun dari tidur kebonya." jelas Tedjo. "Kalau cemburu itu jangan berlebihan. Menyusahkan sekali."
"T-tapi...."
"Apa, hah? Lo mau bilang apa lagi?"
"Tapi, cerita macam apa yang ngebiarin pangeran nampar sang putri biar bangun dari tidur, hah?! Bohong lagi kan lo sama gue?!"
"Gue nggak bohong, Yum. Ya Allah, gini amat punya bini cemburuan. Lagian gimana mungkin pihak sekolah ngasih izin buat adegan gituan. Ini pentas seni buat sekolah, tau!"
Yumi hanya nyengir. "Hehe...."
Kemudian, Yumi cemberut untuk menyembunyikan senyumannya.
"Dasar... bukannya cari tau dulu lo. Atau seenggaknya lo kudu liat sampe selesai." seru Tedjo geram.
"Iya. Minta maaf gue. Ngapa lo jadi ngomelin gue mulu?"
"Lo tinggal pilih aja. Mau diomelin apa dicium?" Tedjo menampilkan seringainya.
"Najisss~"
"Woi!"
"Maap yak, Djo." Yumi tersenyum manis.
"Gue juga minta maaf."
"Okeee!"
"Masya Allah... istriku baik sekali~"
"Jaga omongan lo, Brengsek!"
"Lo kan emang istri gue. Gimana sih lo?"
"Jangan ingetin gue!" tukas Yumi tidak suka.
"Tedjo dan Yumi adalah pasangan suami-istri yang bahagia~" Tedjo bernyanyi asal.
"Astaghfirullah. Tedjo... Tedjo...! Bener-bener dah."
Tedjo terkekeh melihat Yumi yang begitu menggemaskan.
"Hm... Tedjo?"
"Hm... apaan?" tanya Tedjo bingung. Kali ini, Yumi menatapnya serius.
"Sebenarnya gue sama Baruna nggak pacaran. Dia cuman mau mancing lo biar ngaku soal hubungan lo sama Arum waktu itu." Yumi akhirnya mengaku.
"Oho...." Tedjo mengangguk-angguk.
Yumi mengernyit melihat reaksi Tedjo.
"Lo... nggak cemburu?" tanya Yumi ragu.
"Hah?" Tedjo masih tak mengerti.
"Lo nggak cemburu ngeliat gue sama Baruna?" tanya Yumi dan kali ini Tedjo mengerti arah pembicaraannya.
"Kagak." jawab Tedjo singkat membuat Yumi sedikit kesal mendengarnya. Padahal tadi ia sudah sangat serius, tapi kenapa Tedjo tampaknya sangat tenang?
"Kenapa nggak?" tanya Yumi sebal.
"Ya karena nggak."
"Lo psikopat ya?"
"Hah?"
"Psikopat cenderung nggak punya perasaan dan juga nggak peka terhadap lingkungan." jelas Yumi tiba-tiba.
"Jadi, gegara itu lo bilang gue psikopat?" tanya Tedjo membuat Yumi mengangguk perlahan. Terlebih karena takut jika fakta bahwa Tedjo adalah psikopat itu benar.
"Gue nggak mungkin cemburu sama tuh kelinci bahenol."
"Hah?"
"Lo mau gue cemburu ya? Udah... lakuin aja sesuka hati lo." kata Tedjo dengan santainya.
Yumi mendengus. Ia menyesal tidak berteriak di depan wajah Tedjo tadi.
"Gue percaya sama lo dan Baruna. Lo berdua nggak mungkin ngelakuin itu." kata Tedjo mulai serius.
Yumi bergeming, tapi....
"Ngelakuin apaan? Emangnya lo lagi mikirin apa, hah?" tanya Yumi tidak nyambung.
"Woi! Lo ngetes gue ya?! Bukannya lo yang tadi nanya?!"
Tedjo mengejar Yumi yang sudah melesat masuk ke kamar mandi di kamarnya.
"Woi! Buka pintunya! Gue mau masuk!" Tedjo menendang pintu kamar mandi itu dengan pelan.
"Segitu doang kemampuan lo?"
"Dasar.... Awas aja lo! Kalo lo keluar, gue bakal ngehukum lo di ranjang!"
"Woi! Gila lo ya?!"
"Iya! Baru tau lo?!"
Yumi kalah. Ia hanya bisa menendang pintu kamar mandi itu saking kesalnya.
...•••...
Besoknya di sekolah....
"Gue lagi nyari Kak Arum. Ada nggak orangnya?" tanya Yumi pada salah satu cewek di kelas itu, saat berada di kelas Tedjo dan Arum. Untung saja, Alien tampan itu sedang tidak berada di kelas. Jadi, Yumi bisa leluasa bicara pada Arum.
"Ya? Eh, elo Yum? Kenapa nyariin gue?" tanya Arum begitu berhadapan dengan Yumi.
"Masih mau tebar pesona juga lo sama alien sok ganteng itu?" Yumi merapatkan giginya karena sangat geram, sehingga Arum tidak terlalu jelas mendengar pertanyaan Yumi.
"Hah? Lo ngomong apaan?"
"Gue ke sini mau ngajak lo open donasi. Biar kalo kita baku hantam, kita nggak perlu ngeluarin duit sepeser pun. Lo nggak nyadar apa emang lo nggak bisa berantem kayak wanita sejati sampe-sampe lo ngegoda Tedjo pake muka cakep lo itu?." cercah Yumi.
"Woi, Yum. Kenapa ngelamun lo?" tanya Arum saat Yumi diam saja di depannya.
Benar. Yumi memang diam sedari tadi. Dia belum bicara tentang maksud dan tujuannya datang ke sana.
Yumi menyengir. "Ada yang mau gue bilang sama lo, Kak."
"Mau bilang apa emangnya?"
"Sebenarnya Tedjo tuh anak pertama dari dua bersaudara."
"Hah? Random banget." Arum bingung.
"Kak Arum emang deket banget ya sama alien sok ganteng itu?"
"Maksud lo... Tedjo?"
Yumi mengangguk.
"Dia udah nggak bisa bantuin lo lagi, Kak. Dia sibuk banget akhir-akhir ini, tapi dia nggak bisa ngasih tau lo. Anaknya emang nggak enakan soalnya. Jadi, bisa yuk, Kak! Sudahi jadi bebannya." kata Yumi sambil tersenyum lebar.
"Wah... keren lo! Gue mau kalo gitu!" seru Arum begitu antusias.
"Hah? Gampang banget mujuknya." Yumi terbelalak saking bingungnya.
"Iya, Yum. Lagian gue juga nggak enak hati sama Tedjo. Tedjo udah banyak bantuin gue. Sampein makasih gue ke dia ya?" kata Arum sambil tersenyum manis.
"Kenapa nggak bilang sendiri aja, Kak? Lo berdua kan sekelas. Tapi, ya udahlah. Kalo gitu gue cabut dulu ya, Kak. Makasih."
"Iya, sama-sama!"
Yumi menyunggingkan senyumannya. "Baik juga tuh orang."
...•••...
"Hai, Bangtol!" sapa Yumi saat bertemu dengan Awang di kantin.
"Bangtol? Ngomong jorok lo ya?" tanya Awang sewot.
"Kagak." balas Yumi sambil tersenyum licik.
Awang pasrah. "Bangtol, bangtol pala lo."
"Kayaknya lo lagi kesel sama Awang ya, Yum? Emangnya apa yang udah dia lakuin ke elo? Dia gangguin lo lagi?" tanya Karma yang sedari tadi duduk di samping Awang, tapi tadi dia malah diam sambil mendengarkan Yumi dan Awang berdebat.
Yumi menghela napas. "Nih makhluk hidup satu emang selalu gangguin gue, Bang. Udah kayak setan aja." adu Yumi.
Awang memelototi Yumi agar tidak mengadu pada Karma.
"Dia gangguin lo?" tanya Karma.
"He-eh. Dia bilang Tedjo sama Arum pacaran, tapi ternyata omong kosong doang." jawab Yumi membuat Awang frustasi karena takut dimarahi Karma.
"Mulai sekarang anggap aja semua omongan Awang tuh bohong." saran Karma.
Yumi mengangguk.
"Tapi, entar. Lo sampe nyari tau faktanya, Yum?" tanya Awang curiga.
Yumi terbelalak. Bagaimana bisa dia keceplosan tadi?
"Lo suka sama Tedjo ya? Xixixi ngakak abizzz!" goda Awang. Sekarang, ia tahu kartu mati Yumi.
"Kagak. Gue nggak begitu." elak Yumi mulai panik.
"Lo emang nggak bilang begitu, tapi gue yang bakal bilang ke Tedjo. Xixixi!"
"Bang Awang!" teriak Yumi sebal.
"Ya Allah, Wang. Udahlah. Lo gangguin Yumi mulu perasaan. Udah kayak emak tiri lo." lerai Karma.
"Iya dah, Bang." Awang pasrah.
"Wah... ternyata ungkapan 'buaya takut pada pawangnya' tuh emang benar ya?" ledek Yumi.
"Awas aja lu!" ancam Awang.
"Hehehe... nggak takut gue." Yumi terkekeh melihat Awang yang sudah merengut. "Oh iya, Bang Ishak sama Caca mana?"
"Lagi pacaran kali." jawab Awang masih cemberut.
"Ciee... yang udah pasrah." ledek Yumi.
"Ciee... yang udah stalking tapi ngakunya sahabat. Sahabat apa tuh? Sahabat Kekeyi?" balas Awang.
"Woi! Diem lo, Bangtol!"
"Hahaha...."
Karma hanya tertawa melihat kelakuan Yumi dan Awang yang saling ledek itu.
"Aaaa... Bang Karma baik banget sama gue. Nggak kayak Bangtol." Yumi memuji Karma karena sudah membelanya.
"Kalo gue, gimana?" tanya Awang.
"Lo nggak denger tadi? Bang Karma tuh baik, nggak kayak Bangtol."
"Bangtol siapa sih?" tanya Awang mulai kesal.
"Ya elolah!"
"Lo kali!"
"Lo!"
"Iya, gue!"
"Iya, elu!"
"Nggak ada apa ya tempat tenang buat gue makan?" tanya Karma lelah melihat pertengkaran dua orang itu.
"Hah? Bang Karma makan tempat?" tanya Awang ngebug.
"Gue pengen makan di tempat yang tenang. Jangan ada tuyul kayak lo pada."
"Bangtol noh tuyulnya!"
"Woi! Dasar lu ya! Buat gue haus aja! Air! Gue mau air!" Awang mengambil botol minuman dan langsung meneguknya.
"Dasar anak ikan." goda Yumi.
"Heh! Hati-hati sama ucapan lo kalo nggak mau nih tempat jadi danau!" omel Awang.
...•••...
Suasana kelas langsung riuh begitu guru keluar dari sana. Tiba-tiba....
Ting!
baruna_k: Gue mau ngajak lo makan siang bareng. Mau, nggak?
"Ngapa nggak ngomong langsung aja sih? Nih cowok lupa kalo sekelas sama gue?" gumam Yumi.
^^^yumihim1: Nggak mau! Gue nggak mau ditipu lagi!^^^
baruna_k: Nggak terima penolakan! Lagian siapa yang mau nipu lo sih?
^^^yumihim1: Terus kenapa nanya gue kalo gitu?^^^
baruna_k: Emangnya apa salahnya nanyain lo? 'Malu bertanya sesat di jalan.' Lo belum pernah denger tuh pribahasa apa? Atau nilai Bahasa Indonesia lo jelek?
^^^yumihim1: Gue nggak mau ditipu lagi. Jadi, gue nggak mau.^^^
baruna_k: Lo nggak liat gue lagi ngechatin lo sekarang?
^^^yumihim1: Dahlah. Lo tuh mau ajak gue makan siang atau makan malam? Lama bener pergerakan lo.^^^
baruna_k: Bilang aja kalo lo udah nggak sabar makan siang bareng gue.
^^^yumihim1: Wah... gue udah nggak sabar banget, Mas Baruna!😍^^^
[Dibaca]
^^^yumihim1: Balasnya sebulan lagi aja lu!🤬^^^
baruna_k: Gue lagi sibuk, tau.
^^^yumihim1: Sibuk apaan lo? Dari tadi gue liatin lo duduk doang sambil mainin hape.^^^
baruna_k: Gue sibuk liatin kucing lagi praktek poligami.
^^^yumihim1: Jangan ditiru ya adik-adik:)^^^
baruna_k: Kalo sama elo, gue nggak bakal begitu kok.
^^^yumihim1: Maksud lo?^^^
[Read]
Setelah sepuluh menit berdebat, akhirnya Baruna dan Yumi mendatangi suatu tempat untuk makan siang bersama di sana.
"Lo yakin di sini tempatnya?" tanya Yumi sambil mengamati sekelilingnya.
Baruna mengangguk mantap. "Iya."
"Makan siang di sini? Nggak salah lo, Run?" tanya Yumi kurang yakin.
"Jangan pasang muka bahagia kayak gitu. Boleh aja sih, tapi jangan kentara banget." Baruna tersenyum bangga.
"Baruna?"
"Iya, sama-sama. Gue tau gimana perasaan lo kok. Lo terharu, kan?"
"Woi, Baruna! Ngapa lo ngajak gue makan siang di kandang kambing sih?!!"
Mbeeeeeeeeeeeeeeek!!!
"Ssst... jangan ngomong gitu lo. Ntar Bang Awang marah. Dia nggak suka peternakannya dibilang kandang."
"Hah?!" Yumi terbelalak kaget.
Seketika Awang dan Pak Selamet muncul.
"Bang Awang? Pak Selamet...?" Yumi tergagap. Dan ia memang sengaja memanggil Pak Selamet dengan namanya karena bagaimana pun Baruna dan Awang belum mengetahui kalau Pak Selamet adalah mertuanya.
Pak Selamet hanya tersenyum ke arah Yumi.
"Lah? Lo berdua ngapain di sini?" tanya Awang yang sama kagetnya melihat kehadiran Baruna dan Yumi.
"Lo bolos ya, Bang?" tanya Baruna tanpa menjawab pertanyaan Awang.
"Lo juga bolos." balas Awang.
"Ya kagaklah. Gue sama Yumi mau makan siang dimari."
"Ya udah sih. Gue di sini juga mau jagain kambing-kambing gue dari pencuri kayak lo." ujar Awang berhati-hati.
"Apaan pencuri?" Baruna tak mengerti.
"Awas aja kalo lo nyuri kambing gue diem-diem." peringat Awang.
"Maaf nih ya, Bang, tapi gue nggak tertarik ngelakuin tindakan kriminal kayak gitu." balas Baruna.
"Lo berselfie-ria sama kambing gue kan semalam? Lo bilang lo nggak tertarik? Bahkan ada salah satu kambing gue yang lo pakein bando. Dasar...." cercah Awang kesal.
"Kan lucu, Bang. Dasar, nggak tau seni." bela Awang.
"Kan lo juga yang bilang dulu sama gue kalo lo susah ngebedain mana betina mana jantan. Ya udah, gue bantuin lo kayak gitu. Dasar... nggak tau berterimakasih lo, Bang." jelas Baruna.
"Makasih! Tapi, ini terakhir kalinya lo nyentuh kambing-kambing gue!" seru Awang.
"Emangnya ngapa sih?!" tanya Baruna tak terima jika ia dipisahkan dengan kambing-kambing itu.
"Kambing gue suka sama lo!"
"Hah?" Semua orang bingung.
"Gue masang foto lo di rumah kambing gue biar tuh kambing mau makan!" ujar Awang benar-benar kesal mengingatnya.
"Hahaha.... Ketar-ketir kan lo, Bang."
"Dasar...."
"Kambing Bang Awang tuh sehat-sehat semua, Om! Jadi, Om nggak bakal nyesal udah nanam saham di peternakan lele enih!" teriak Baruna karena tempatnya berdiri cukup jauh dari Pak Selamet dan Awang.
"Hahaha.... Bener kata kau, Baruna. Saya sampe nggak bisa bedain mana kambing mana si Awang. Sama-sama gemesin soalnya." goda Pak Selamet membuat Awang tersenyum simpul.
"Bisa-bisanya gue disamain sama mbek." gumam Awang.
"Ya udah, Baruna. Lanjutin aja makan siang kamu sama Yumi. Jangan hirauin kami." kata Pak Selamet.
"Oke, Om."
Baruna kembali menatap Yumi yang masih syok.
"Yumi?
"Hah?"
"Ayo kita cari tempat yang bagus buatu makan siang."
"Oke...."
Baruna dan Yumi kemudian makan siang bersama dengan makanan yang baru mereka beli selama perjalanan ke peternakan Awang.
Sebenarnya Yumi ingin muntah karena bau kandang yang sangat menyengat. Tapi, ia mencoba menahannya karena tidak ingin Baruna kecewa. Melihat Baruna sesenang itu membuat Yumi ikut senang.
"Enak, kan?" tanya Baruna.
"Enak banget." jawab Yumi. "Lima jempol dah pokoknya."
"Siapa dulu dong yang milih? Barunalah." ujar Baruna sambil tersenyum manis membuat Yumi membalas senyumannya.
Bersama Baruna, entah kenapa Yumi merasa lebih bahagia. Tapi, bukan menutup kemungkinan jika bersama Tedjo dia tidak bahagia. Dia juga bahagia dengan alien tampan itu. Hanya saja rasanya sedikit berbeda.
"Yumi, fotoin gue sama Deby dong." kata Baruna begitu mereka selesai makan siang.
"Deby? Siapa tuh?" tanya Yumi sambil celingak-celinguk.
"Tuh dia." Baruna kemudian menangkap salah satu domba dan menggendongnya.
"Kalah bagus sama nama lo, Run." goda Yumi.
"Tapi, lo suka sama yang namanya Baruna, kan?"
"Hah?"
"Fotoin kita dong, Yum ." Baruna langsung mengalihkan pembicaraan.
"Oke."
Jebret!!!
"Lucu banget. Deby makin hari makin hot aja. Bangga gue." Baruna tersenyum sumringah.
"Hahaha... Raja Baruna dan Ratu Deby."
"Kenapa nggak Raja Baruna dan Ratu Yumi aja?"
Yumi hanya tersenyum manis, membuat Baruna terpesona melihatnya.
"Ke sana yuk, Yum." ajak Baruna.
"Ayo."
Baruna dan Yumi berlari di padang rumput yang sangat luas dan hijau. Tak lupa juga Baruna membawa Deby.
"Baruna."
"Hm...."
"Lo suka sama Deby?"
"Ngapa tiba-tiba lo nanyain si Deby?"
"Emangnya nggak boleh?"
"Boleh aja sih. Cuman random banget."
Yumi terkekeh.
"Sebenarnya dari dulu tuh gue pengen banget punya teman cewek. Makanya gue—"
"Jadi selama ini, lo nganggap gue kambing?" potong Yumi begitu terkejut dengan jawaban Baruna yang belum selesai.
"Ngapa jadi kambing sih? Lo kan pacar gue." kata Baruna membuat Yumi makin kaget.
"Hah?!"
"Kenapa? Kita pacaran, kan?" tanya Baruna dengan tenangnya.
"Kan Tedjo nggak ada di sini. Ngapain lo akting gitu, Run. Lagian gue juga udah ngaku ke dia kalo kita nggak benar-benar pacaran." jelas Yumi.
"Oh, gitu. Ngomong-ngomong, gimana masalah lo sama Bang Tedjo?"
"Semuanya udah jelas. Ternyata Tedjo nggak pacaran sama Arum. Apalagi sampe ngamilin. Tedjo cuman mau bantuin nyokap Kak Arum yang lagi ngandung delapan bulan."
"Makanya, mulai sekarang jangan percaya sama omong kosong kayak gitu lagi ya, Yum." saran Baruna sambil menepuk-nepuk pundak Yumi.
"Tapi, lo percaya juga kan, Run?" tanya Yumi.
Baruna terkekeh.
"Awalnya gue nggak percaya. Nggak mungkin Bang Tedjo ngelakuin itu." kata Baruna.
Yumi mengangguk-angguk.
"Tapi, kalo dipikirin lagi... kenapa lo sepeduli itu sama urusan asmara Bang Tedjo? Lo... suka...."
"Apa? Lo mau bilang apa? Ngelantur lo."
"Gue cuman mau bilang... lo suka Deby, nggak? Kenapa lo terus ngebela dia?"
Tanpa sadar, Yumi sudah mengelus puncak kepala Deby sedari tadi.
"Hahaha... bulunya lembut banget."
"Kayak apa?" canda Baruna.
"Kayak bulu lo! Bulu kaki lo! Dasar kelinci montok!"
Yumi melengos pergi ke tempat lain.
"Hahaha... Yumi, tunggu!"
"Nggak mau! Lo c*bul kayak Tedjo!"
"Hah?!" Baruna kaget. "Emangnya lo udah sejauh mana sama Bang Tedjo?"
"Berisik!"
"Hahaha...."
Yumi naik ke ayunan. Tak di sangka ternyata di peternakan Awang ada ayunan juga.
"Woi, Yum. Lo jangan naik tuh ayunan!" seru Baruna panik.
"Hah? Kenapa?" Yumi spontan berdiri.
"Soalnya gue mau naik. Hahaha...."
"Dasar lu ya, Run! Cepat turun! Gue yang dapetin duluan."
"Udahlah, Yum. Ngalah aja sama cowok."
"Nggak mau! Gue yang naik ini lebih dulu."
"Sekali doang, elah."
Yumi merengut.
"Iya, iya. Cepat naik." Baruna turun sambil menatap Yumi jengkel ditambah gemas.
Yumi tersenyum sumringah.
"Andai aja ada cowok baik hati yang mau ngayunin gue. Gue pasti seneng banget dan ngerasa ketolong."
"Lo mau diayunin? Baiklah, tuan putri. Saya akan mengayunkanmu dengan tenang dan damai." Baruna peka.
Awalnya Baruna mengayunkannya dengan perlahan, tapi makin lama malah makin kencang dan seakan membuat Yumi terbang ke angkasa.
Perasaan Yumi jadi tidak enak.
"Woi, Baruna! Maksud lo apaan dengan tenang dan damai?! Lo mau ngebunuh gue?!"
Baruna terus-menerus mengayunkan ayunan itu sekencang mungkin.
"Woi, Baruna ege!"
Beberapa saat kemudian....
"Ini hukumannya bagi siapa pun yang berani menganggu tuan putri." kata Yumi.
Baruna hanya bisa pasrah dengan tangan dan kedua kaki yang sedang diikat.
"Hahaha... selamat bobok di kandang kambing, Baruna."
Yumi melengos pergi.
"Woi! Yumi! Maafin gue, plis! Gue nggak bakal jailin lo lagi! Janji gue!"
Tiba-tiba, Baruna teringat kata-kata Tedjo.
"Ada tips buat lo, Bar. Jangan pernah nyari gara-gara sama Yumi. Kalo lo nggak mau dikubur hidup-hidup."
"Ternyata Bang Tedjo nggak bercanda waktu itu." gumam Baruna.
Beberapa saat kemudian, Awang pun muncul bersama dengan Pak Selamet.
"Lah? Lo masih di sini, Bar?" tanya Awang.
"Iya, Bang. Oh iya, Yumi mana?" tanya Baruna balik.
"Setelah bilang kalo lo diikat sama Deby, Yumi balik lagi ke sekolah." jawab Awang.
"Tapi, gimana mungkin kambing ngikat Baruna sekuat ini?" Pak Selamet berpikir keras. "Baruna, Yumi ya yang...."
"Anu, Om...." Baruna malu mengakuinya.
"HAHAHAHAHA." Tawa Awang dan Pak Selamet meledak seketika.
"Lo kalah sama cewek, Bar? Hahahahaha...." ledek Awang.
"Ada kata-kata yang mau disampein nggak, Bar?" goda Pak Selamet.
"Lo belum ngerasain aja, Bang, tenaga si Yumi. Kuat banget tuh cewek." Baruna mengadu. "Buka dulu ikatannya nih."
"Ciee... ikatan cintanya kuat banget nih kayaknya!" goda Awang membuat Pak Selamet terkekeh geli.
"Aja-aja ada kalian ini. Jadi, ingat pas jaman saya muda dulu." kata Pak Selamet.
Pak Selamet dan Awang mendorong lengan Baruna dengan lengan mereka juga.
"Jangan malu-malu begitu lo." Awang semakin semangat menggoda Baruna.
"Matanya ijo, Wang!" seru Pak Selamet.
"Kenapa ijo? Om pikir Baruna tuh tuyul apa?" Awang menggeram.
"Hahaha... lucu banget lo, Bar. Hahaha...."
Baruna yang sudah tidak tahan akhirnya ikut-ikutan tertawa.
"Hahaha... gue kuat kok, Bang?" tanya Baruna sambil tertawa frustasi meratapi nasibnya.
"Iya, iya... hahaha...."
"Saking kuatnya elo, sekarang gue sama Om nyelamatin lo, ege."
"HAHAHA...."
...•••...
Kediaman Keluarga Selamet, pukul 16.20....
"Kok dalam beberapa hari enih, Arum nggak minta tolong ya?" tanya Tedjo.
Jantung Yumi tiba-tiba berdegup kencang karena Tedjo tiba-tiba membahas hal itu.
"Mana gue tau. Kenapa lo nanyain gue dah?" sahut Yumi.
"Gue bukan nanya elo. Gue lagi nanya sama diri gue sendiri."
"Kalo gitu jangan ngomong depan gue! Bisa-bisanya nanya ke diri sendiri. Aneh banget!"
"Ngeliat lo kayak gini, malah elo yang aneh jadinya!" seru Tedjo.
"Siapa yang lo bilang aneh?!" tanya Yumi dengan nada tinggi.
"Ya guelah!" balas Tedjo tidak mau memperpanjang masalah.
Yumi menatap tajam, membuat Tedjo memandangnya gamang.
"Pantas aja Arum nggak mau minta tolong ke gue lagi. Ternyata.... Eh, entar." Tedjo tampak berpikir. "Lo kan yang ngelarang Arum buat minta tolong sama gue?"
"Emangnya gue siapa sampe dia mau nurutin perintah gue?"
"Lo kan bawel. Jadi, bisa aja lo nyuruh dia begitu. Lo begini kayak orang lagi cemburu, tau nggak." kata Tedjo menatap Yumi curiga.
"Cemburu apaan? Emang gue keliatan cemburu, gitu?"
"Emang keliatan banget kok."
"Lo tidur di luar ya~" kata Yumi geram sambil tersenyum.
Senyumannya tampak menyeramkan di mata Tedjo.
"Hiiiiiiih!" Tedjo mendelik takut, lalu pergi begitu saja.
"Mau kemana lo?"
"Mau ke toilet. Mau ikut kagak? Ada yang baru lho."
"Dasar gila!"
"Hahaha...."
Karena Tedjo sudah tidak ada, rasanya sangat sepi dan garing. Makanya Yumi bermain-main dengan peliharaan Tedjo yang sempat menduduki posisi teratas dalam mencari perhatian Tedjo.
Dan tiba-tiba saja....
Ceting!!!
Yumi melihat ke layar ponselnya, lalu membekap mulutnya sendiri saking kagetnya melihat notifikasi dari seseorang itu.
Apa dia ingin marah karena Yumi sudah mengikatnya di pohon sentul?
Yumi membuka pesan itu.
baruna_k: Ada waktu nggak, Yum?
^^^yumihim1: Lagi santai nih gue. Kenapa emang?^^^
baruna_k: Mau ngedate lagi sama pacar lo ini, nggak?
"Hah? Apa? Nih cowok bilang apa? Akting pacarannya masih lanjut? Tapi kalo dipikir-pikir.... Aaaaa bahagia banget kalo gue beneran pacaran sama Baruna. Tapi, gimana sama alien hijau itu?" gumam Yumi.
^^^yumihim1: Nggak takut gue sama lo. Ayo-ayo aja gue mah.^^^
baruna_k: Gue jemput ya.😍
^^^yumihim1: Jangan, woi!^^^
baruna_k: Kenapa jangan?
^^^yumihim1: Rumah gue berantakan.^^^
baruna_k: Udah, nggak apa-apa.
^^^yumihim1: Janganlah, woi. Lo nggak usah jemput gue.^^^
"Bisa berabe kalo Baruna sampe datang ke rumah. Dia bakal tau kalo gue sama si Tedjo kutu kupret udah nikah. Nggak, nggak, nggak. Gue nggak mau kebahagiaan gue hilang gitu aja. Oke... saatnya bersikap senatural mungkin." gumam Yumi.
baruna_k: Emangnya kenapa sih gue nggak boleh jemput pacar gue sendiri?
^^^yumihim1: Hm... di sekitar rumah gue tuh banyak bencong.^^^
baruna_k: Hah? Bencong? Beneran?
^^^yumihim1: He-eh. Bencong bertebaran dimana-mana seperti bunga di musim gugur.^^^
baruna_k: Mereka turun dari langit?
^^^yumihim1: Yeah! Bisa dibilang kayak bidadari gitu. Lo juga bisa nyuri selendang salah satu dari mereka kalo lo mau.^^^
baruna_k: Nggak mau. Tapi kalo selendang lo, mau aja gue mah. Xixixi.
^^^yumihim1: Tapi, gue bukan bencong!😡^^^
baruna_k: Bukan gitu maksud gue.😴 Udahlah. Jadi, gue nunggu lo di xxxx jam delapan malam ya, Yum. Jangan lupa datang ya pacar dan jangan bawa guru BK!
^^^yumihim1: Gue pasti dateng.😍^^^
baruna_k: Lo dateng karena tau mau makan, kan?
^^^yumihim1: Kalo nggak makan, lo mau ngajak gue berantem, gitu? Ayo, dah. Sini lo. Gue nggak suka basa-basi.^^^
baruna_k: Hahaha... makasih deh. Gue nggak suka berantem sama bencong.
^^^yumihim1: Woi!^^^
baruna_k: Sampe ketemu ya pacarku~ i lob you.
^^^yumihim1: Woi. Ejaan lo salah.^^^
baruna_k: Tapi, cinta gue nggak salah kok.😡
^^^yumihim1: 😴^^^
baruna_k: 😏
^^^yumihim1: Kenapa pake emot stroke?^^^
baruna_k: 😟
^^^[Dibaca]^^^
"Kenapa senyum-senyum lo ngeliatin hape?" tanya Tedjo yang muncul tiba-tiba.
Spontan, Yumi melempar ponselnya ke sembarang arah.
"Kenapa lo lempar hape lo?" tanya Tedjo heran.
"Lagi olahraga gue." Yumi ngeles.
"Emangnya ada olahraga lempar hape?" tanya Tedjo sebal.
"Jadi, kau mau berolahraga denganku malam ini?" tanya Yumi balik, tak bermaksud apa-apa.
"Hah? Maksud lo apa sih, Yum? Lo mau ngajak gue olahraga malam?" Tedjo terbelalak saking senangnya.
"Paan?! Woi! Bukan begitu maksud gue! Sekarang gue mau lempar pala lo sebagai gantinya!"
"Nggak usah malu-malu gitu. Kita kan udah sah, jadi bebas mau lakuin apa aja." goda Tedjo makin menjadi-jadi membuat Yumi malu.
"Dasar otak mes*m!"
Yumi berlalu pergi.
"Woi, Yumyum! Sampe kapan lo terus nolak gue?! Woi! Budek lo ya?!"
"Gue nggak denger!"
"Ayo kita lakuin!"
"Diem, woi! Berisik!"
"Sampe kapan lo terus nolak gue?!"
"Jangan ngulangin kata-katanya!"
"Sampe kapan woi?!"
Yumi tidak menyahut.
"Tega banget sih." gumam Tedjo dengan lesu.
...•••...