SUAMI DARI MARS

SUAMI DARI MARS
Telur Busuk



...•••...


Hari ini Tedjo dan Yumi akan pulang ke Jakarta.


"Lu bedua pulang hari nih, pan?" tanya Pak Udin saat melakukan panggilan video dengan Tedjo dan Yumi.


"Iya, Beh." jawab Tedjo dan Yumi.


"Hati-hati dah ya! Jagain si Yumi, Djo. Jangan ampe dia ketinggalan." kata Pak Udin lagi.


"Iya, Beh. Tapi kalo Yumyum ditinggal juga nggak kenapa-napa kan, Beh?" canda Tedjo.


"Kagak ngapa-ngapa sih. Si Yumi juga kerjaannya ngabisin nasi doang." Pak Udin tertawa.


Yumi pura-pura tersenyum padahal ia sangat geram dengan Tedjo dan Pak Udin.


"Babeh, aye kangen, tau!" teriak Yumi di dekat telinga Tedjo.


"Gue rindu juga ama lu. Terutama sama oleh-olehnya. Kagak lupa kan lu?" tanya Pak Udin memastikan.


"Terus kalo aye nggak bawa oleh-oleh, Babeh nggak inget gitu sama anaknya?"


"Hahaha... becanda gua. Serius amat idup lu."


"Neng Yumi nggak dijailin sama A Tedjo kan di sana?" tanya Bu Titin yang juga ikut mendengarkan percakapan mereka.


"Tedjo mana bisa sehari nggak ngejailin aye, Mak." jawab Yumi sambil menatap Tedjo tajam.


"Ya ampun, anak-anak Emak...." komentar Bu Titin haru.


"Tedjo, kamu inget nggak kesalahan kamu apa?" tanya Pak Selamet ikut menimbrung.


"Kesalahan apa, Pak?" tanya Tedjo balik.


"Kamu salah bawa daleman! Itu kan daleman Bapak. Ya ampun, Tedjo. Kamu ini ada-ada aja." Pak Selamet hanya geleng-geleng frustasi mengingat kelakuan Tedjo.


"Hahaha... abisnya daleman kita warnanya samaan. Tedjo jadi bingung milihnya. Jadi, Tedjo ambil aja yang kuning."


"Hah? Bapak mana ada daleman warna kuning?" Pak Selamet bingung.


"Terus, yang kuning itu apanya?" tanya Tedjo polos.


Pak Selamet dan Tedjo saling menutup mulut karena terkejut dengan kenyataannya.


"Kuning itu ampasnya. Mas Tedjo paham kan maksudku?" sambung Embun yang baru menyadari sesuatu itu.


"Ya udah deh. Lu bedua hati-hati dah ya? Assalamu'alaikum!" Pak Udin mengakhiri panggilan video itu.


"Iya, Beh. Wa'alaikumsalam!"


"Apanya yang kuning sih?" tanya Yumi tiba-tiba.


"Nggak usah nanya. Gue pengen ngapus ingatan gue." kata Tedjo lemas.


Yumi mengernyit heran.


...•••...


Sesampainya di Bandara Jakarta.


"Yumyum, tunggu dulu woi." kata Tedjo.


"Kenapa lo?" tanya Yumi.


"Gue mau ke toilet nih. Lo mau ikut, nggak?"


"Cabul! Pergi sono lu!"


"Jangan tinggalin gue lagi ya?!"


"Nggak bakal!"


Tedjo tersenyum sekilas.


"I love you!"


"Kalo lo lama, ya gue tinggalinlah." gumam Yumi tak sungguh-sungguh.


Tiba-tiba, dari belakang ada seseorang yang menyapanya.


"Yumi!" sapa Awang.


"Ung?!" Yumi kaget.


"Lo pulang hari ini juga ternyata." kata Ishak sambil tersenyum ramah pada Yumi.


"Iya nih. Sepupu gue sering masuk angin di sana, makanya cepet-cepet balik."


"Kasihan banget sepupu lo." komentar Baruna.


"Dia emang sering masuk angin gegara bawaan lahir."


Baruna mengangguk-angguk.


"Terus, mana sepupu lo?" tanya Karma.


"Dia lagi ke toilet." jawab Yumi sambil tersenyum kikuk. "Panggilan alam katanya."


Mereka semua mengangguk.


"Cieee... yang nanyain sepupunya Yumi. Padahal kemarin pas disodorin pura-pura jual mahal. Gampang baper lo ternyata ya, Bang." ledek Awang sambil cengengesan.


"Apanya?" tanya Yumi bingung.


"Biasalah, Yum. Soal masa depan Bang Karma." jawab Baruna asal.


"Woah! Lo?! Bukannya lo Beno?!" Yumi kaget saat menyadari seorang laki-laki di samping Awang.


Beno menggaruk lehernya yang tidak gatal.


"Hai... ini pertemuan pertama kita, kan?" sapa Beno gugup.


"Wah...." Yumi mendengus sebal. Ia tak menyangka dengan pertemuan tak terduga ini.


"Lo kenal sama Beno, Yum?" tanya Ishak penasaran.


"Emangnya dia siapa Abang?" tanya Yumi balik pada Ishak.


"Dia ini sepupu gue dari Bandung. Anaknya emang sedikit pemalu." jawab Awang, yang ternyata punya keterikatan dengan Beno si biang kerok.


"Pemalu ya...?" Yumi menatap Beno dengan sinis.


"Bang Awang?" kata Yumi.


"Ya?"


"Zaman sekarang ini banyak banget orang yang ngaku-ngaku keluarga. Padahal mah tuh orang cuman mau numpang hidup doang. Iya kan, Ben?" sindir Yumi pada Beno.


"Maksudnya gimana sih?" tanya Awang tak mengerti.


"Udah deh. Buat kali ini, gue anggap sebagai pelajaran hidup." balas Yumi. "Oh iya, Ben. Mana bini lo?"


"Bini? Beno mah belom nikah. Dia aja masih SMA." Awang tambah tak mengerti.


"Oho... gue paham sekarang. Ya udah deh. Gue pergi dulu ya. Bai, semuanya!" Yumi bergegas pergi.


"Jangan-jangan Yumi suka sama lo, Ben. Banyak banget pertanyaannya." ujar Baruna pada Beno.


"Biasalah, cewek." kata Beno sambil nyengir untuk menutupi kebohongannya.


"Oh, iya, iya...." komentar semuanya.


"Udahlah. Ayo cabut." ajak Karma.


...•••...


"Lama ya nunggu gue?" tanya Tedjo saat kembali dari toilet.


"Ya, iyalah. Gue masih bisa makan, jalan-jalan sambil nyulik bocil." jawab Yumi tak santai.


"Good girl. Cabut, yuk."


Mereka bergegas pergi karena jadwal penerbangan mereka sudah tiba.


Saat berada di pesawat....


Kali ini Tedjo langsung tidur di pesawat. Ia tidak menggangu Yumi seperti sebelumnya.


Karena tertidur, membuat kepala Tedjo terus saja mengangguk-angguk seperti sedang menikmati lagu.


"Duh, nih cowok kepalanya nggak bisa diem apa?" gumam Yumi kemudian dia meletakkan kepala Tedjo pada pundaknya.


Tedjo pun senyam-senyum sendiri. Ternyata dia pura-pura tidur.


...•••...


Sesampainya di Bandara Jakarta, 05:30.


"Hoam! Ngantuk banget gue." kata Tedjo sambil meregangkan otot-ototnya yang tegang.


"Kan lo dari tadi kerjaannya molor doang. Masih aja ngantuk. Heran." komentar Yumi tak habis pikir.


"Tadi gue mimpi lagi ulangan matematika. Makanya gue kecapekan."


"Ya, elah. Bolos aja kan bisa." timpal Yumi.


"Di mimpi tadi tuh, gue jad siswa teladan." jawab Tedjo lemas.


Yumi geleng-geleng, tak mau menanggapi Tedjo lagi.


"Aa! Eneng!" panggil Bu Titin sambil melambaikan tangannya pada anak dan menantunya.


Begitu juga dengan Pak Selamet, Pak Udin dan Embun, mereka juga melambaikan tangan.


"Kita dijemput?" tanya Yumi pada Tedjo.


"Iyalah. Buktinya mereka ada di sini." jawab Tedjo.


"Gue tau. Tapi, kenapa pake dijemput segala?" tanya Yumi lagi.


"Ayo, tanyain langsung." Tedjo menarik tangan Yumi dan segera menghampiri keluarga mereka.


"Aa Tedjo! Neng Yumi!" sorak Pak Selamet, Pak Udin, Bu Titin dan Embun. Lebih tepatnya Bu Titin yang ingin bersorak-sorai seperti itu. Yang lainnya hanya ikut-ikutan saja.


Yumi menutup wajahnya karena malu. Sedangkan Tedjo ikut-ikutan bersorak.


"Wajar nggak sih?" tanya Yumi pada Pak Udin yang sudah ada di dekatnya.


"Tau, dah. Gua ikut-ikutan doang." jawab Pak Udin pasrah.


"Terus, kenapa Babeh pake kumis palsu?" tanya Tedjo bingung.


"Gua kalah main yoyo. Terus, ini hukumannya. Tolong, abaikan gua." Pak Udin benar-benar pasrah.


"Ayo kita pulang." ajak Embun yang sudah jengah menyorakkan nama Tedjo dan Yumi di keramaian.


"Ayo." sahut Tedjo.


"Eh, mau kemana kamu, Djo?" tanya Pak Selamet.


"Ya, mau pulanglah, Pak."


"Maksud Bapak?"


"Sekarang kamu berangkat ke sekolah dulu."


"Hah? Sekarang? Tapi, Tedjo nggak bawa baju sekolahnya."


"Aku udah bawa kok." kata Embun dengan santainya. "Aku juga bawain seragamnya Mbak Yumi. Bapak yang nyuruh."


"Kalian tuh udah liburan selama enam hari. Padahal batas liburannya cuman lima hari. Makanya, sekarang kalian harus pergi sekolah." jelas Pak Selamet tanpa diminta.


Tedjo lemas mendengar penjelasan itu. "Tapi...."


"Nggak ada tapi-tapian. Ini demi kebaikan kalian berdua." potong Pak Selamet. "Tapi, kalo Yumi nggak mau sekolah hari ini, juga tidak apa-apa."


"Ya udah. Kalo gitu Tedjo nggak sekolah aja deh." kata Tedjo sambil bernapas lega.


"Kalo kamu harus sekolah, Djo." perintah Pak Selamet.


"Belum apa-apa, udah keliatan pilih kasihnya. Lo sekolahlah, Yum. Masa gue doang?" bisik Tedjo pada Yumi.


"Aye sekolah aja deh, Pak." kata Yumi. "Kasian, ada orang yang nggak bisa hidup tanpa aye, Pak." sindirnya pada Tedjo.


Yumi pun bergegas pergi.


"Yumyum, tunggu woi!" seru Tedjo.


"Cepetan makanya! Lama bener!"


"Udah gede aja mereka ya...." komentar Bu Titin haru.


"Makin gede, makin banyak lauk yang abis" gumam Pak Udin.


"Pulang, yuk. Lama-lama aku ikutan tua karena sering gabung sama kalian." kata Embun enteng.


...•••...


Sesampainya di sekolah....


"Mana makasihnya?" Yumi memulai pembicaraan.


"Buat apa?"


"Dasar nggak tau berterimakasih. Udahlah! Lupain! Kalo ntar kayak gini lagi, gue nggak bakal bilang makasih ke elo!" omel Yumi.


Tedjo menatap Yumi baik-baik.


"Jangan ngeliatin gue begitu!" seru Yumi untuk menutupi saltingnya.


Tedjo merutuki Yumi dalam hati.


Yumi kemudian melesat masuk ke kelasnya.


"Makasih, sayang!" teriak Tedjo dari luar kelas Yumi.


Yumi hanya diam sambil melihat Tedjo yang berlalu pergi ke kelasnya.


"Lho? Bang Ishak sama Bang Awang juga sekolah hari ini?" tanya Yumi yang kaget dengan kedatangan Ishak dan Awang di sekolah.


"Emangnya kenapa? Kenapa lo kaget gitu pas ketemu kita? Kita ini cowok populer di sekolah. Kalo kita nggak datang, ntar cewek-cewek di sekolah ini pada nyariin kita." jelas Awang.


"Ya, begitulah, Yum." timpal Ishak sambil tersenyum lebar.


"Wah... tingkat kepercayaan diri lo berdua, emang patut di rendahin." kata Yumi sambil terpaksa tersenyum.


Ishak dan Awang balas tersenyum bangga.


"Oh iya, Bang Awang... gimana sama sepupu lo, si Beno?" tanya Yumi penasaran.


Awang menghela napas sejenak. "Ternyata dia bukan sepupu gue yang dari Bandung. Dia cuman mau numpang pesawat ke gue. Ketipu gue, 4njir." jawab Awang sedih.


"Bisa-bisanya lo ketipu begitu." komentar Yumi.


"Gue liat-liat kok lo sering banget sih nanyain si Beno, Yum. Suka lo?" tanya Ishak.


"Emangnya gue nggak boleh nanyain dia?" balas Yumi sekenanya.


Tiba-tiba, bel tanda masuk pun berbunyi.


Pak Bos yang berstatus kepala sekolah pun masuk dengan membawa gadis bersamanya.


"Selamat pagi semuanya!" kata Pak Bos.


"Pagi, Pak Bos!" sahut semua murid.


"Hari ini kalian kedatangan murid baru dari Surabaya. Silahkan perkenalkan dirimu."


"Hai, Assalamu'alaikum. Aku Caca. Nama panjangku Caca Maricaheihei. Mohon bantuannya." kata gadis bernama Caca itu sambil terus menunduk malu.


"Manis banget." komentar Awang.


"Oi, Bang Awang?" panggil Yumi.


"Apa?"


"Lo udah lupa sama Embun?"


"Maksud lo apaan? Gue masih suka sama Embun kok."


"Terus, kenapa lo muji cewek lain?" tanya Ishak geram.


"Nggak apa-apa itu mah. Embun tetap nomor satu di hati gue. Kalo Caca nomor dua."


"Kayak mereka mau aja sama lo." goda Ishak.


"Baiklah, Caca Maricaheihei. Silahkan duduk di depan Awang. Awang acungkan kelingkingmu." perintah Pak Bos.


Awang mengacungkan tangannya. "Di sini, Ca!"


Caca malu-malu menghampiri tempat duduknya yang ada di depan Awang.


"Hai... lo manis banget sih." goda Awang sambil tersenyum manis sehingga membuat matanya tertutup.


"Kamu juga manis." balas Caca malu.


Ishak dan Yumi yang ada di dekat mereka hanya melongo melihat keuwuan itu.


...•••...


Selesai jam pelajaran terakhir, Yumi langsung melesat menunggu Tedjo di depan gerbang. Siapa tahu saat menunggu seperti ini, ia bisa bertemu Baruna.


Tuhan rupanya mendengarkan doa Yumi.


Dari kejauhan Yumi melihat sosok Baruna yang sedang dihadang oleh beberapa pria. Sepertinya siswa drop out.


"Ketemu juga kita akhirnya." kata salah satu cowok gendut. Mungkin dia ketua gengnya.


"Lo pada kenapa berdiri begitu sih? Lo semua nggak ada sangar-sangarnya. Muka pelawak kok jadi preman." kata Baruna dengan santainya.


"Gue bakal jadi pelawak di kehidupan lo, Bar! Sikat, bro!" perintah cowok itu pada anak buahnya.


Baruna hanya menyeringai.


Begitu perkelahian dimulai, Yumi yang sedari tadi melihatnya dengan sigap melempar apa saja yang ada di dekatnya.


"Hiaaaaaaaat!"


Ung?


Telur busuk mengenai rambut Baruna yang tertata rapi dan wangi.


"Apaan nih?" Jungkook lalu mengusap rambutnya dan mencium aroma busuk yang dikeluarkan telur itu. "Ya Allah, bau banget!"


"Ada yang ngelempar telor noh!"


"Bukan kita ya! Kita nggak pernah main kotor!"


"Udahlah. Kita mau cabut dulu. Sore ini kita ada les privat! Kalo kita nggak sibuk, udah abis lo kita hajar! Yuk, cabut bro!" kata ketua geng itu kemudian pergi begitu saja.


Sementara itu, Yumi masih bersembunyi di balik pohon.


"Gue tau lo ada di sana. Ke sini nggak lo, sebelum gue bertindak lebih jauh." kata Baruna masih dengan santainya.



"Lo tau ini gue?" tanya Yumi polos sambil keluar dari tempat persembunyiannya.


"Elo ternyata. Kenapa lo ngelempar telor busuk ke gue?" tanya Baruna bingung campur kesal.


"Nggak usah bilang makasih ke gue. Gue udah biasa nolongin orang kayak lo. Lo pasti udah capek banget dibuli." jawab Yumi bangga.


"Hah?" Baruna bingung.


"Udah.... Sekarang lo tenang aja. Tuh orang nggak bakal berani lagi kok gangguin lo. Gue bakal ngelindungin lo." kata Yumi sambil tersenyum.


"Gue nggak dibuli dan mereka itu teman-teman gue." jelas Baruna.


"Hah? Tapi, tadi... mereka semua kan mau nyerang lo. Lo yakin, lo ini temanan sama mereka?"


"Lo pikir temen gue cuman Bang Karma, Bang Ishak sama Bang Awang doang?"


"Nggak usah bercanda deh. Lo juga nggak perlu malu. Orang yang dibuli itu kan, bukan berarti lemah."


"Gue bukan korban buli, Yum. Plis, percaya sama gue napa." rengek Baruna.


"Kenapa lo mohon-mohon kayak gitu? Iya, iya... gue nggak bakal ngasih tau siapa-siapa kok kalo lo abis dibuli."


Baruna benar-benar pasrah sekarang. Sepertinya Yumi salah paham padanya. Sekarang di mata Yumi, Baruna adalah cowok yang lemah.


"Lo beneran nyangka kalo gue dibuli?" tanya Baruna frustasi.


"Gue paham kok. Nggak semua orang bisa bilang kalo dirinya itu dibuli. Beberapa orang, contohnya kayak lo ini, kadang takut ngelaporin kasus pembulian."


Baruna menghela napas lelah.


"Sekarang panggil gue si penyelamat!"


Yumi tersenyum manis membuat Baruna terpesona.


"Lo harus lebih berhati-hati lagi, Run!" Yumi kemudian pergi meninggalkan Baruna.


Baruna terhenyak saat Yumi memanggilnya seperti itu. Panggilan itu terdengar aneh karena tidak ada orang yang memanggilnya dengan sebutan seperti itu. Tetapi, lucu juga.


"Terus, rambut gue gimana?" tanya Baruna setelah beberapa detik kemudian.


"Tinggal pake sampo doang, elah." jawab Yumi dengan entengnya.


"Yumi?"


"Hm...."


"Lo masih ingat nama gue?"


"Iyalah. Nama lo Run. Baruna." jawab Yumi tanpa menoleh ke arah Baruna.


"Woi! Lo suka pacaran, nggak?!" teriak Baruna karena Yumi sudah jauh dari penglihatannya.


"Nggak denger tuh anak." gumam Baruna sambil mengulum senyumannya.


...•••...