
...•••...
Kediaman Keluarga Selamet, pukul 16:39....
Baruna, Karma, Ishak dan Awang datang di kediaman Keluarga Selamet. Tapi, tunggu. Kenapa mereka bisa tahu alamat rumah barunya?
"Assalamu'alaikum, Om. Makasih udah ngundang kita ke sini. Hehe." kata Ishak ramah.
"Rumah baru Om besar banget ya. Nggak ada niatan gitu, Om, buat nambah anggota keluarga baru lagi?" tanya Awang sambil tersenyum manis.
"Maksud kamu apa, Wang?" tanya Pak Selamet tak mengerti.
"Maksud saya kayak... suami yang lucu buat anak Om." jawab Awang malu-malu.
"Tapi... Tedjo masih normal, Nak." kata Pak Selamet polos.
Awang menghela napas. "Om Selamet... emangnya anak Om cuman si Tedjo doang?" tanyanya geram.
"Dahlah, Wang. Embun tuh nggak tertarik sama lo." kata Karma tiba-tiba.
"Diem lo, Bang. Terluka gue dengernya." Awang mengusap dadanya.
"Eh, Om Udin di sini juga ternyata." sapa Ishak begitu melihat Pak Udin.
"Iya. Gua nemenin Bro Selamet di sini." Pak Udin berbohong. Tetap saja, ia harus menutupi bahwa ia dan Yumi tinggal bersama dengan Keluarga Selamet.
"Kalo gitu kita mau ketemu Bang Tedjo dulu ya, Om-om." kata Baruna bersemangat.
"Ya udah. Kalian ke kamarnya aja. Dia di dalem kok." kata Pak Selamet tanpa beban.
Baruna, Karma, Ishak dan Awang pun segera melesat ke kamar Tedjo.
"Lu ngomong apa barusan ama tuh anak-anak, Bro?" tanya Pak Udin bersiap mendengar kecerobohan Pak Selamet.
"Mereka mau ketemu sama Tedjo. Ya udah, saya bilang Tedjo ada di kamarnya." jawab Pak Selamet belum sadar dengan apa yang dilakukannya.
"Lu sadar nggak sih sama omongan lu entuh?" tanya Pak Udin geram.
"Hah?" tanya Pak Selamet dengan muka polosnya.
Saking geramnya, Pak Udin tidak bisa berkata apapun lagi. Dan saat itulah, Pak Selamet juga tersadar dengan ucapannya tadi.
"Ya Allah... maafin saya ya, Bang. Saya emang nggak pantes jadi asisten Dora." kata Pak Selamet menyesal sambil menepuk-nepuk mulutnya beberapa kali.
"Dora juga nggak mau mempekerjakan lu!" seru Pak Udin kesal.
Beralih ke tempat lain....
Sekarang Baruna, Karma, Ishak dan Awang sudah berada di depan kamar Tedjo.
Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Awang langsung membuka pintu kamar Tedjo.
Dan bersamaan itu, mereka melihat Yumi yang melemparkan bantal ke arah Tedjo dengan wajah kesal.
"Woah!!"
Mereka tersentak kaget begitu melihat Tedjo dan Yumi berada dalam satu kamar.
"Ng-ngapain lo berdua di...?" Ishak menggantungkan kalimatnya.
"Jangan-jangan...." Baruna menatap curiga ke arah Tedjo dan Yumi.
"Jangan-jangan apa, hah? Woi, Bar. Jangan bikin gue penasaran lo." kata Awang benar-benar ingin tahu.
"Jangan-jangan Bang Tedjo sama Yumi... lagi perang bantal tanpa sepengetahuan kita." kata Baruna dengan polosnya membuat Tedjo dan Yumi bernapas lega.
"Hehe...." cengir Tedjo dan Yumi.
"Kok lo ada di rumah Tedjo, Yum?" tanya Karma kemudian.
"G-gue...." Yumi gugup. Ia tidak menyangka akan menghadapi situasi yang seperti ini.
"Bang Karma belum tau ya?" kata Tedjo setenang mungkin.
"Tau apaan?" tanya Karma bingung.
"Koki enak tau!" seru Tedjo berusaha agar suasana tidak semakin canggung.
"Bukannya itu Koko?" canda Baruna.
"Kiko, Bar, Kiko." kata Awang gemas karena tidak ada dari mereka yang benar. "Ya Allah... sekali aja lo pada serius napa sih? Tedjo, ngapain lo berdua di kamar sama Yumi? Tinggal jawab doang, ege."
"Itu karena kita udah.... serumah." jawab Tedjo seadanya.
Yumi hanya mengangguk sambil menyengir untuk menutupi kegugupannya.
"Serumah?" tanya Ishak masih bingung.
"Iya, Bang. Rumah lama gue tuh udah digusur. Huhu...." jawab Yumi ragu, lalu pura-pura menangis untuk mengalihkan pembicaraan. "Padahal banyak banget kenangan di sana. Hiks croooooooot~"
"Jangan ngebahas soal rumah lamanya lagi. Yumi masih galau, woi." kata Tedjo yang tahu maksud tangisan Yumi.
"Tapi, ngapa kudu di rumah Tedjo sih?" tanya Awang benar-benar bingung. "Lo kan bisa ngontrak, Yum."
Yumi berhenti menangis dan menatap Awang tajam.
"Bapak Tedjo yang nyuruh gue sama Babeh gue tinggal dimari." jawab Yumi gemas pada Awang.
"Terus ngapain lo berdua sekamar?" tanya Ishak yang mengingatkan semua orang lagi tentang pertanyaan awal.
Yumi tersenyum kikuk sambil diam-diam mendorong lengan Tedjo untuk menyuruhnya memikirkan penjelasan.
"Kita... lagi tukar-tukaran kaos kaki." jawab Tedjo seadanya lagi.
"Tukar kaos kaki?" tanya Baruna.
"I-iya. Gitu dah." jawab Yumi semakin gugup begitu mendapatkan tatapan penuh tanya dari mereka semua.
"Ngapain tukeran kaos kaki?" tanya Ishak lagi.
"Ya soalnya... kalo tukar pikiran sama Tedjo, nggak bisa, Bang. Dia kan nggak punya pikiran. Hehe...." ledek Yumi di tengah-tengah kegugupannya.
"Hehe...." cengir Tedjo dengan geramnya karena mendengar perkataan Yumi.
"Lagian Tedjo tuh suka banget nyimpen kaos kaki bolong. Tadi mau gue buang, tapi malah ketauan sama Tedjo. Makanya kita jadi perang bantal." jawab Yumi asal.
"Oh...."
Mereka hanya ber-O ria.
"Oh iya monyong-monyong, ngapain lo pada ke rumah gue? Siapa yang ngasih tau lo pada alamat rumah baru gue?" tanya Tedjo mengalihkan pembicaraan.
"Om Selametlah. Om mau kita nginep di sini." jawab Baruna.
"Hah?!!" Tedjo dan Yumi memekik bersamaan.
Baruna, Karma, Ishak dan Awang hanya saling pandang dengan tatapan bingung.
"Ngapa dah...?"
...•••...
Kediaman Keluarga Selamet, pukul 02:57....
Saat ini Tedjo, Baruna, Awang, Ishak, Karma, Pak Udin dan Pak Selamet sedang berkumpul di depan meja makan. Mereka sedang minum kopi sambil mengobrol apa saja yang ingin dibahas.
"Embun kok dari tadi nggak kelihatan sih, Om? Dia kemana?" tanya Awang sambil celingak-celinguk melihat sekitarnya.
"Katanya lo ini gebetan dia, tapi kenapa lo nggak tau dia pergi kemana?" komentar Karma sinis.
"Emangnya gue bapaknya, tau segalanya soal Embun." balas Awang dengan muka julidnya, lalu meminta maaf pada Pak Selamet karena bersikap tidak sopan. "Maaf, Om."
"Emak gue sama Embun lagi pulkam ke Bandung. Ada urusan soalnya." jawab Tedjo bermaksud melerai.
"Terus kenapa Om nggak diajak?" tanya Awang.
"Kamu juga nggak diajak, Wang." canda Pak Selamet.
"Kalo saya kan bukan siapa-siapanya Embun, Om. Meskipun kelak saya bakal jadi bagian dari keluarga Om Selamet." kata Awang sambil menampilkan senyuman manisnya.
"Om Udin kok bohong sih sama kita. Om sama Yumi juga tinggal di rumah ini, kan?" tanya Baruna begitu mengingat kejadian tadi.
"Iya, sih. Tapi, gua ama Yumi cuman tinggal sementara di sini. Hehe...." jawab Pak Udin sedikit gugup.
"Gua nggak abis pikir ama Bro Selamet. Ngapain sih dia tiba-tiba ngundang anak-anak enih ke rumah? Kalo mereka pada tau Tedjo ama Yumi udah nikah, begimana?" batin Pak Udin.
"Tau tuh, Beh. Tadi tuh hampir aja ketauan asal Babeh tau." batin Tedjo membalas batin Pak Udin. Mereka sedang melakukan telepati tanpa sengaja.
"Yumi mana, Om Udin?" tanya Ishak yang mencari keberadaan Yumi.
"Dia biasanya udah tidur jam segini." jawab Pak Udin. "Ya udah, ayo dah kita tidur. Udah ngantuk juga nih mata gua."
Pak Udin berlalu pergi. Kemudian, menyusul Pak Selamet, Ishak dan Karma.
"Lo pada nggak tidur?" tanya Karma.
"Belum ngantuk kita mah." jawab Awang.
"Kurangin ngeghibahnya, Wak." komentar Karma.
"Met bobok." kata Ishak sambil melambaikan tangan.
"Met malam, ganteng."
"Dih! Najisss...."
Suasana berubah sepi begitu tinggal mereka bertiga saja.
"Abang-abang...?" panggil Baruna memecah keheningan.
"Hm...." sahut Tedjo dan Awang sambil menyeruput kopinya.
"Biasanya... cewek tuh suka apa ya, Bang?" tanya Baruna serius.
"Wah... kenapa ini? Tiba-tiba banget dah." goda Tedjo.
"Jawab aja pertanyaan gue, Bang." kata Baruna, malas diledek.
"Harta." canda Tedjo.
Baruna menghela napas panjang. Memang salah jika bertukar pikiran dengan Tedjo, pikirnya.
"Ngomong aja ke gue sama Tedjo, Bar. Kita bakal bantuin lo kalo kita baik." goda Awang.
"Sayangnya kita nggak baik kan, Wang?" kata Tedjo pada Awang sambil tertawa lucu. "Jadi, kita nggak bakal bantuin lo, Bar. Hahaha."
"Gue suka sama tuh cewek, tapi gue nggak tau perasaan dia ke gue." tanya Baruna lagi tanpa menanggapi ucapan mereka sebelumnya.
"Ditembaklah, ege." kata Awang.
"Btw, namanya siapa? Dia suka nonton Dora versi botak, nggak?" tanya Tedjo melantur.
"Nggak mau gue ngasih tau namanya ke lo berdua. Lo berdua kan bocor." ujar Baruna.
"Hah? Berarti cewek yang lo suka tuh kita kenal, gitu?" tanya Awang penasaran. "Bukan Caca, kan?"
"Caca udah gue anggap kayak bapak gue sendiri. Coba tebak yang lain." jawab Baruna seadanya.
"Awas aja kalo lo ngambil Caca dari gue." Awang berhati-hati.
"Gue aduin lo ama Embun, Bang." ancam Baruna.
"Mending ama gue biar cepet." timpal Tedjo.
"Oh iya, kan ada abangnya di sini." kata Baruna membuat Tedjo tersenyum bangga.
"Sialan lo pada." komentar Awang.
Tedjo dan Baruna tertawa melihat Awang yang sudah merajuk.
"Kalo gue suka sama Yumi, gimana, Bang?" tanya Baruna tanpa beban.
Dan itu membuat Tedjo terbebani. Seketika tawanya lenyap.
"Apa?!" teriak Tedjo syok.
Baruna dan Awang ikut tersentak kaget.
"Kenapa pake acara teriak-teriak segala sih? Kaget gue, ege." erang Awang.
Tedjo menelan ludahnya dengan gugup.
"L-lo... suka sama Yumi? Lo beneran suka sama dia? Lo udah gila, Bar?" tanya Tedjo setelah menyesuaikan rasa syoknya.
"Iya, Bang." jawab Baruna, tetapi sejurus kemudian nyengir lebar.
"Kok lo gitu sih?" tanya Tedjo.
"Maksud lo apa, Bang?" tanya Baruna balik.
"Kaget bener lo kayaknya, Djo." kata Awang.
"Kok lo bisa sih suka sama cewek modelan begitu? Nggak setuju gue. Cari cewek lain aja lo. Yumi tuh nggak cocok sama lo." omel Tedjo.
"Bang Tedjo...?" Baruna menatap Tedjo baik-baik.
"Jangan-jangan Bang Tedjo udah.... Nggak mungkin." Baruna menutup mulut dengan kedua tangannya.
Tedjo balas menatap Baruna dengan hati yang berdebar-debar. "Lo mikir apa, woi?"
"Bang Tedjo udah nyuci otak Yumi ya? Pantesan aja waktu tuh Yumi sikapnya aneh banget ke gue." lanjut Baruna kemudian.
"Kapan, ege? Mana ada gue nyuci otak dia. Sekarang baru ada niatan gue setelah lo bilang." balas Tedjo.
"Atau jangan-jangan... lo mau jodohin gue sama bencong dekat rumah lo ya, Bang? Bang Tedjo kan pikirannya agak laen sama orang pada umumnya." kata Baruna kesal.
"Lo salah, Bar. Bukan tuh bencong." kata Tedjo santai.
"Terus siapa dong Djo?" tanya Awang tak mengerti arah pembicaraan Tedjo dan Baruna.
"Sesuatu yang bahenol dan montok." jawab Tedjo seadanya.
"Gue nggak mau sama dugong!" seru Baruna tambah kesal.
"Ngapa dugong mulu sih yang ada di pikiran lo? Gue bahkan nggak kepikiran sampe situ." geram Tedjo.
"Emangnya apa yang bahenol dan montok selain dugong?" tanya Baruna ikut geram.
"Patrick." jawab Tedjo singkat.
"Tetap aja. Dia bukan selera gue, Bang!" seru Baruna lagi.
"Kalo diliat-liat Baruna sama Yumi cocok juga. Iya nggak, Djo?" tanya Awang serius.
"Hahaha... kenapa lo begini sih, Bar? Kan lo bilang lo sama Yumi udah pacaran. Hehehe...." tanya Tedjo sambil tersenyum sinis, mengira kalau Baruna sudah membongkar kebohongannya sendiri.
"Hah? Sejak kapan Baruna sama Yumi pacaran?" tanya Awang yang mulai frustasi karena ketinggalan berita.
"Bohongan doang itu mah, Bang. Waktu tuh biar lo ngomong soal hubungan lo sama si Arum. Kita nggak bener-bener pacaran." jawab Baruna santai.
"Lagian kenapa sih lo suka sama cewek begitu? Lo nggak budek apa dengerin dia ngoceh mulu?" kata Tedjo sewot.
"Gue suka yang berisik, Bang. Terus... jangan manggil gue kelinci bahenol lagi. Yumi jadi ikut-ikutan ngeledek gue kayak lo, Bang. Coba kalo gue manggil lo alien montok, terima nggak lo, Bang?" Baruna mencebikkan bibirnya lucu.
"Makanya jangan jadiin dia pacar! Bisa-bisa gendang telinga lo pecah denger dia ngomong!" seru Tedjo.
"Gue bisa ganti pake gendang yang laen, Bang!" seru Baruna.
"Ternyata cinta udah bener-bener ngebutain lo, Bar." kata Tedjo mulai jengah.
"Hah? Tapi, gue...."
"Woi, Bar." potong Tedjo. "Sampai kapanpun gue nggak mau ngerestuin hubungan lo sama Yumi. Camkan itu!"
"Iya dah iya. Kalo nggak bisa jadi pacar beneran Yumi, gue udah seneng banget bisa jadi sahabat dia. Dia tuh lucu banget. Gemes gue liat tuh cewek." jelas Baruna membuat Tedjo mendengus sebal.
"Lo nggak boleh jadi sahabat Yumi. Gue aja yang boleh." ujar Tedjo tak terima.
"Kok lo yang ngatur sih, Bang? Ya terserah Yumilah. Lo kok kayak takut gitu, gue ngerebut Yumi dari lo, Bang?" tanya Baruna heran.
"Pokoknya lo nggak boleh sahabatan sama Yumi. Titik. Gue juga nggak setuju lo nembak cewek modelan si Yumi." peringat Tedjo.
"Ya elah, Bang. Posesif banget. Baru jadi sahabat doang. Gimana jadi pacar lo?" Baruna dibuat sebal oleh Tedjo yang terkesan melarangnya agar lebih dekat dengan Yumi.
"Lagian nih ya, Bar. Kelinci bahenol kayak lo tuh belum boleh pacaran. Ntar kalo udah lulus sekolah baru bisa pacaran lo." kata Tedjo.
"Jangan manggil gue begitu, ege. Gue punya nama, Bang!" kata Baruna gusar.
"Emangnya ngapa sih kelinci bahenol gue?" goda Tedjo, lalu tergelak saat melihat Baruna cemberut.
"Lo mau ngetes kesabaran gue apa gimana sih, Bang?!" Baruna menggeram.
"Kelinci bahenol nggak boleh marah!"
"Dasar alien montok lo!"
"Kelinci bahenol lo!"
"Alien montok!"
"Woi, alien! Jangan lari lo! Atau gue yang jalan!"
"Lari aja kalo sempat!"
Baruna mengejar Tedjo.
Awang hanya tertawa sampai terjungkal melihat kelakuan dua makhluk itu.
Sampai pada akhirnya, Tedjo dan Baruna sama-sama kelelahan. Dan memilih untuk tidur.
"Pantes aja sepi. Udah tidur aja tuh bocah pada. Dasar...." gumam Awang sambil tersenyum simpul.
...•••...
Besok paginya, Tedjo sengaja meregangkan persendiannya di dekat Yumi.
"Wah... cuaca cerah begini, enaknya ke pantai sih. Tapi, siapa yang mau gue ajak ya? Gue juga mau beliin es krim rasa mengkudu." kata Tedjo sambil sesekali melirik ke arah Yumi bermaksud menggodanya.
"Ayo dah sama gue." kata Yumi tiba-tiba dengan bersikap manis.
"Allahu Akbar! Heh! Sejak kapan lo pindah dekat gue? Lagian gue nggak ngajak lo, tau." kata Tedjo.
"Gue tau lo lagi ngasih kode ke gue. Emangnya siapa lagi yang ada di sini kalo bukan gue, hah?" tanya Yumi sangat percaya diri.
"Ya udah. Ajak gue sekali lagi." pinta Tedjo.
"Nggak ada pengulangan kata."
"Mau es krim rasa mengkudu, nggak?" tanya Tedjo dengan intonasi menggoda.
"Nggak mau. Gue mau es krim yang rasa kangkung aja." jawab Yumi.
"Oke. Ntar gue beliin."
"Ayo, Djo. Ya ampun, sahabat gue ini emang kaya raya banget."
"Sahabat, sahabat. Gue laki lo, woi."
"Iya dah iya. Takut bener nggak dianggap."
"Let's go, Beb." ajak Tedjo.
Sesampainya di pantai....
"Yumi." panggil Tedjo.
"Hm...."
"Lo tau nggak kalo Baruna tuh playback?" tanya Tedjo.
"Playback?" tanya Yumi balik.
"He-eh. Cowok yang suka mainin cewek." jawab Tedjo.
"Itu playboy, Jamal!"
"Ya, itu maksud gue."
"Emangnya kenapa kalo Baruna playboy? Gue suka yang kayak gitu. Gue ngerasa tertantang." kata Yumi asal.
"Kalo gitu, gue juga playboy, Yum."
"Hahaha...."
"Ngapain lo ketawa?" tanya Tedjo bingung.
"Muka lo kayak Tuan Krab gini jadi playboy? Emang ada yang mau? Hahaha...." ledek Yumi.
"Pokoknya lo nggak usah deket-deket sama Baruna lagi." kata Tedjo memperingatkan.
"Kenapa emang? Gue sama Baruna cuman sahabatan doang kok. Sama kayak kita."
"Tapi, kita ini udah jadi suami-istri. Apa gue kudu ngingetin lo terus?"
"Kalo gue deket-deket sama Baruna, emangnya lo bakal kenapa?" tanya Yumi, berharap jawaban Tedjo kali ini serius.
"Sesek gue."
"Hah? Cemburu lo? Kalo gitu ini pertama kalinya lo cemburu sama gue."
"Cemburu apanya? Itu gara-gara baju yang gue pake kekecilan, ege!" jelas Tedjo.
"Ngeselin lo."
"Yumyum, lo lapar kagak?"
Yumi mengangguk.
"Ke sono, yuk. Gue mau beli jajan." kata Tedjo sambil menunjukkan ke arah mini market yang ada di dekat pantai.
Setelah membeli banyak jajanan, Tedjo dan Yumi duduk di pinggir pantai sambil menikmati jajanan itu.
"Kok es krim gue yang ini dah? Woi, Yum. Lo tuker es krim gue ya?" tanya Tedjo begitu sadar es krimnya tertukar dengan es krim Yumi.
"Iya. Kenapa? Lo nggak bisa makan tuh es krim?"
"Gue nggak mau rasa kangkung. Balikin, nggak?" paksa Tedjo membuat Yumi mendengus sebal.
"Tahan, Yumi. Sekali ini aja kok." gumam Yumi, lalu memberikan es krim yang sudah digigitnya pada Tedjo.
"Hm... es krim rasa stroberi dengan ekstra kacang enak banget dah." goda Tedjo.
"Apa, Djo? Coba lo ulangin omongan lo barusan." perintah Yumi.
"Yang mana?" tanya Tedjo bingung.
"Ulangin sekali lagi!" Yumi panik.
"Lo bego, gue pinter."
"Ya Allah, Tedjo." Yumi langsung merampas es krim yang ada di tangan Tedjo.
"Woi, Yum! Kalo lo mau nyoba es krim gue, ngomong aja. Jangan ngerampas begitu. Dasar nih cewek." tukas Tedjo.
"Tedjo! Lo nggak apa-apa makan kacang?" tanya Yumi membuat Tedjo terbelalak kaget.
"Hah? Kacang?"
"Lo kan alergi kacang, ege!"
"Nggak apa-apa kok, Yum. Gue kan kuat. Gue udah vaksin dua kali." kata Tedjo sambil menampilkan senyuman manisnya.
Namun, seketika itu juga Tedjo pingsan.
"Tedjo! Ya Allah, gimana nih? Gue kudu ngapain? Kenapa nih cowok makan kacang sih? Keras kepala banget emang nih anak." omel Yumi geram.
Kemudian, Yumi mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang dengan terburu-buru.
"Baruna! Lo ke sini dah buru! Tedjo pingsan gegara makan kacang!" seru Yumi panik.
"Apa?!" seru Baruna yang sama paniknya.
"Lo nggak dengar?!"
"Gue dengar. Kaget dikit gue tadi." jelas Baruna di telepon.
"Ya udah. Buru lo datang ke pantai!"
"Oke! Tunggu ya!"
Baruna pun datang setelah lama menunggu.
"Kelinci bahenol, buru gendong gue." kata Tedjo setengah sadar.
"Ngeselin lo, alien." balas Baruna.
"Run, buru bawa Tedjo ke rumah sakit." kata Yumi cemas.
"Nggak mau gue gendong tuh orang sebelum dia bilang makasih ke gue." kata Baruna.
"Gue nggak bakal bilang makasih ke elo, kelinci bahenol." racau Tedjo.
"Ya udah. Kalo gitu, selamat bersenang-senang di sini sampe ada yang ngejemput lo ntar, Bang." kata Baruna enteng.
"Maksud lo siapa, Run?" tanya Yumi.
"Malaikat maut."
"Ayolah, Djo. Apa susahnya sih bilang makasih?" bujuk Yumi.
"Anggota tubuh gue susah digerakin kalo berhubungan sama tuh kelinci bahenol, Yum." kata Tedjo.
Karena geram, Yumi akhirnya menyapit mulut Tedjo dengan tangannya kemudian membuka-tutupkan mulut Tedjo dengan lucu sambil mengatakan....
"Makasih, Baruna. Sekarang gendong gue ya...." kata Yumi sambil menirukan suara bariton Tedjo.
"Heh, Yum! Ini pemaksaan!" seru Tedjo dengan sisa tenaganya.
"Hahaha... diem lo, Bang. Lo mau gue selametin kagak? Hahaha... seneng banget dah gue hari ini." cengir Baruna.
"Jangan ketawa lo. Lo bikin gue kesal." kata Tedjo.
"Jangan bawel. Udah kayak orang kobam aja lo, Bang, begini. Sengaruh itu emang tuh kacang?" tanya Baruna tanpa perlu jawaban.
Mereka pun tiba di rumah sakit. Dan tak berapa lama, Tedjo dan Yumi pun keluar dari ruang periksa.
"Harusnya lo kudu liat-liat dulu kalo mau makan tuh. Jangan asal ngunyah aja lo." kata Yumi sambil memapah Tedjo yang masih lemas.
"Jadi, gue kudu bawa tuh makanan ke laboratorium dulu? Terus minta persetujuan dari BPOM, gitu?" gerutu Tedjo.
"Bukan gitu juga sih, Djo. Tapi, lo nggak inget apa pas lo makan kacang panjang? Tiba-tiba yang keluar malah genjer. Aneh banget." kata Yumi.
"Emang pernah gue begitu? Elo kali."
"Lo kayak pesulap makanan, tau nggak. Oh iya, kalo gue masukin semangka ke mulut lo, bakal berubah jadi durian nggak ya?"
"Lo mau ngebunuh gue pake gaya?"
"Ya Allah... berat banget sih lo, Djo? Lagian ngapain juga gue mapah lo begini? Kan kaki lo nggak sakit?" keluh Yumi begitu sadar sedang memapah Tedjo.
"Itu karena gue kesal ngadapin lo."
"Apa hubungannya? Terus kenapa sama nada bicara lo? Lo tuh alergi bukan m*bok." kata Yumi kesal.
"Biarin aja. Gue mau keliatan keren depan Baruna. Alergi bikin gue kayak orang bego."
"Lo berdua pada kenapa sih? Lo lagi berantem sama Baruna?" tanya Yumi.
"Dia mulai duluan. Dia selalu cari gara-gara sama gue."
"Lo juga sering ngerecokin dia."
"Lo ngebela tuh kelinci bahenol? Woi, Yum. Kapan lo ngebela gue, hah?"
"Emangnya lo amuba pake dibela segala?"
"Itu membelah bukan membela. Dasar bini gue lo."
"Tutup mulut lo, Jamal."
"Lo nggak apa-apa kan, Bang?" Baruna muncul setelah membayar biaya rumah sakit Tedjo.
"Kelinci buntal ini ya yang udah ngeracunin gue?" tanya Tedjo asal.
"Baruna yang nyelametin lo, tau!" bela Yumi.
"Lo emang malaikat penolong gue, Yumyum." puji Tedjo pada Yumi, bermaksud menggoda Baruna.
Baruna dan Yumi dibuat bingung oleh tingkah Tedjo.
"Dari mana aja lo, hah? Gue kenapa-napa begini, lo nggak tau, gitu?" tanya Tedjo pada Baruna.
"Gue yang udah gendong Abang ke sini." jawab Baruna seadanya.
"Makasih, Yumyum." goda Tedjo.
Yumi hanya geleng-geleng kepala melihat Tedjo yang sinis pada Baruna.
"Lo tau nggak, Bar, kalo gue lagi marah sama lo?" tanya Tedjo lagi.
"Hah? Bang Tedjo masih marah soal semalem emang?
"Kagak. Tapi, lo nggak tau apa kalo alergi tuh bisa ngebahayain gue? Terus kenapa lo lambat bener bawa gue ke rumah sakit?" tanya Tedjo memang ingin mencari gara-gara pada Baruna.
"Udah, woi. Dokter aja bilang alergi Lo tuh bakal sembuh setelah minum obat." lerai Yumi.
"Jangan ngebela tuh kelinci bahenol, Yum. Woi, Bar. Biaya rumah sakitnya berapaan?" tanya Tedjo dengan wajah serius.
"Abang mau ganti duitnya emang?" tanya Baruna heran.
"Denger ya. Kalo ada apa-apa sama gue lagi, lo yang kudu tanggungjawab bayar." cengir Tedjo.
"Huh.... Dasar alien." Baruna mendengus sebal. "Apa susahnya sih ngomong makasih ke gue?"
"Makasih udah ngantarin gue ke rumah sakit... Yumyum."
"Ya Allah, Bang Tedjo." Baruna memelas.
Tedjo tersenyum menang. "Ayo, Yum."
Sebelum Tedjo dan Yumi pergi, Baruna tiba-tiba mendapatkan ide untuk menjahili Tedjo.
"Bilang aja kalo Bang Tedjo nggak punya duit buat bayar." kata Baruna.
"Apa lo bilang?" tantang Tedjo tak terima.
"Bang Tedjo bokek. Nggak punya duit."
"Diam lo, buntal. Ganti sono popok lo. Udah penuh noh."
"Biarin. Ketimbang elo pake popok kain." ledek Baruna.
"Wah... nggak sadar diri nih anak."
"Sama kayak yang ngomong."
"Cabut lo sono." usir Tedjo.
"Iya, iya.... Nurut aja dah sama yang nggak punya duit." ledek Baruna lagi membuat Tedjo melemparnya dengan sepatu yang sedang dipakainya.
"Eits! Tidak kena!"
"Dasar lu ya!"
"Stop! Lo berdua pada kenapa sih?" tanya Yumi yang sudah muak melihat tingkah Tedjo dan Baruna.
"Ini semua salah tuh alien!" seru Baruna.
"Lo yang duluan nyari gara-gara sama gue!" seru Tedjo.
"Salah lo tuh, Bang!"
"Salah lo!"
"Enak aja. Salah lo lah!"
"Salah gue!"
"Hah? Ya, iya. Kan emang salah lo, Bang." Baruna jadi bingung sendiri.
"Kenapa jadi salah gue?" tanya Tedjo yang ikut bingung dengan ucapannya.
"Kan lo yang ngomong barusan, Bang."
"Itu tadi typo."
Yumi yang tidak tahan mendengar pertengkaran itu pun diam-diam pergi.
"Woi, Yum! Tunggu!" kata Tedjo dan Baruna bersamaan.
"Dia nungguin gue, bukan lo!" kata Tedjo.
"Ini momen penting buat yang muda kayak gue, Bang. Bukan yang tua kayak lo." kata Baruna tak mau kalah.
"Dasar kelinci buntal lo!"
"Alien buntal!"
"Awas aja lo!"
Begitulah seterusnya sampai mereka pulang ke rumah.
Tedjo dan Baruna tidak ada yang mau mengalah. Mereka terus merapalkan omelan secara diam-diam agar Yumi tidak mendengarnya.
...•••...