
...•••...
"Yumi, lo nggak usah dengerin yang gue omongin sebelumnya." kata Baruna mencoba menenangkan Yumi yang sedang mengendap-endap mengikuti Tedjo ke kantin. "Kadang-kadang gue emang suka ngelantur. Hehe...." cengirnya terlebih karena gugup.
"Gue cuman mau mastiin omongan lo. Gue nggak bakal curiga sama dia lagi kok." sahut Yumi yang jengah melihat Baruna terus mengikutinya.
"Semua gara-gara muncung Bang Awang nih." gerutu Baruna dalam hati.
Dan benar saja. Saat ini Baruna dan Yumi memang sedang memperhatikan Tedjo di kantin dari kejauhan, mencari tahu sosok gadis yang dimaksudkan Awang.
"Tunggu bentar, Yum." gumam Baruna membuat Yumi terkesiap begitu melihat seorang gadis menghampiri Tedjo di sana.
"Gue nggak bisa denger apa-apa kalo diri di sini." kata Yumi mengeluhkan jaraknya dan Tedjo yang terlalu jauh.
"Tenang. Lo punya kelinci di sini." kata Baruna sambil menaik-turunkan alisnya bangga.
"Kuping lo nggak sepanjang itu ya, Run!" tukas Yumi.
Baruna mencebikkan bibirnya lucu.
Kemudian Baruna dan Yumi kembali memperhatikan Tedjo dan gadis itu. Pandangan mereka bergerak turun lalu ke atas, memperhatikan penampilan gadis yang bersama Tedjo itu.
"Apa-apaan...." gumam Yumi tak percaya dengan apa yang barusan dilihatnya.
"Allahu Akbar... Om Udin? Ngapain Om Udin pake daster?" gumam Baruna bertanya-tanya.
"Baruna." panggil Yumi geram.
"Ya?" Baruna menyahut dengan tampang polosnya.
"Jadi, lo nyamain Babeh gue sama tuh cewek?!" seru Yumi tak habis pikir dengan Baruna yang sudah membohonginya.
"Beneran, Yum. Bukan Babeh lo yang gue maksud." bela Baruna ikut frustasi dengan apa yang dilihatnya. "Bang Tedjo tuh suka cewek cantik. Bukan sama Balmon."
"Hahaha...." tawa Yumi terdengar dipaksakan. Mungkin karena ia tertawa untuk menutupi kekhawatirannya. "Sembarangan lo ngatain Babeh gue."
Baruna menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Tapi, ngapain Babeh gue pake daster begitu?" tanya Yumi heran.
"Mungkin ada festival deket sini."
"Iya juga...."
"Udahlah. Mending kita ke kelas. Ayo, Yum." ajak Baruna.
Namun, ketika Baruna dan Yumi akan melangkah pergi menuju kelas, Tedjo tampak menyapa seorang gadis yang membuat gadis itu menghampirinya.
Yumi mematung saat melihat Tedjo tersenyum pada gadis itu. Senyuman yang jarang sekali ia tampakkan pada Yumi.
Baruna mendengus miris. "Bang Tedjo tetap aja baik sama dia... setelah semua yang dia lakuin." gumamnya.
Yumi mengernyit mendengar ucapan Baruna. "Maksud lo apa, Run...?"
"Masa lalu doang kok, Yum. Lupain saja." sahut Baruna sambil melihat ke arah Tedjo dengan murung.
Yumi semakin tidak mengerti dengan apa yang terjadi sebelum ia bertemu kembali dengan Tedjo.
...•••...
Suasana hati Yumi yang kacau saat di sekolah, ia bawa sampai ke rumah. Ia terus diam dengan siapapun yang mengajaknya bicara, terlebih Tedjo.
Menyadari hal itu, Tedjo diam-diam memperhatikan Yumi yang sedari tadi hanya diam dengan mencebikkan bibirnya.
"Kenapa lo? Ada masalah?" tanya Tedjo yang tiba-tiba, membuat Yumi spontan menoleh.
"Mana gue tau!" kata Yumi sewot.
"Mana gue tau?" ulang Tedjo sambil menirukan gaya bicara Yumi. "Lo selalu aja begitu. Mana gue tau, mana gue tau. Kenapa nggak sesekali tempe sih?"
Yumi menatap Tedjo gusar, membuat laki-laki itu mengusap tengkuknya karena salah tingkah.
Namun, tiba-tiba saja Yumi menangis keras seperti anak kecil.
"Huweeeeeeeee...."
"Ngapa lo tiba-tiba nangis? Lo nangis gara-gara denger gue ngomong?" tanya Tedjo cemas.
Yumi tidak menjawab. Ia terus menangis di depan Tedjo yang tidak tahu apa kesalahannya hari ini.
Hiks crooot!
"Nih." Tedjo memberikan kotak tisu pada Yumi. "Gue tau... lo nggak bakal mau kalo gue yang nyeka tuh air mata. Jadi, lakuin sendiri."
Yumi terisak hebat. Semakin banyak Tedjo bicara, semakin keras tangisannya. Gadis itu sampai sesenggukan sekarang.
"Nggak usah ngomong sama gue!" seru Yumi membuat Tedjo semakin cemas.
"Yumi...?"
"Gue nggak mau ngomong sama lo!"
"Sebelum itu terjadi, biarin gue ngomong sebentar sama lo." bujuk Tedjo merasa sedih melihat Sohyun seperti itu. "Ngomong sama gue apa yang bikin lo nangis? Gue ada salah ya sama lo?"
Yumi berusaha menghentikan tangisannya. Ia menghela napas panjang dan dalam.
"Tedjo...?" kata Yumi sambil menatap Tedjo dengan tatapan sedih.
"Ya?" sahut Tedjo sambil membalas tatapan Yumi dengan lekat.
"Ayo pergi makan es krim...." cengir Yumi. Jujur saja, perasaannya lebih baik setelah menangis di depan Tedjo tadi.
Tedjo langsung mengangguk mengiyakan. Ia sangat khawatir dengan keadaan Yumi yang tak biasanya menangis seperti itu.
"Ayo." ajak Tedjo sambil menampilkan senyuman manisnya.
"Gue siap-siap dulu ya...." kata Yumi lembut.
Bahkan gaya bicara gadis itu tidak terdengar seperti biasanya.
Selang beberapa menit kemudian, Tedjo dan Yumi menuju ke mobil untuk pergi ke luar. Hari ini mereka akan kencan. Kencan dadakan tanpa persiapan yang khusus.
Ketika Tedjo dan Yumi akan masuk ke mobil, tiba-tiba....
"Bang Tedjo mau kemana?" tanya Yuli yang tiba-tiba muncul di depan Tedjo dan Yumi.
"Gue mau ngajak Yumi ngedate. Kita udah ngedate dua kali." jawab Tedjo sambil tersenyum manis pada Yuli.
"Aye boleh ikut, kagak?" tanya Yuli penuh harap.
"Lo yakin mau ngajak dia? Ntar bisa-bisa dia nangis depan umum." kata Yumi sambil tersenyum geram pada Yuli.
"Itu nggak mungkin, Tante. Aye ini kan wanita yang berkelas." balas Yuli sekenanya, membuat Yumi mendengus sebal.
"Oke. Lo boleh ikut kita kok." kata Tedjo sambil meraih tangan Yuli bak putri kerajaan.
"Pikiran dulu baik-baik, woi." bujuk Yumi.
"Kali ini kita kencan bertiga ya?" pinta Tedjo membuat Yumi mencebikkan bibirnya lucu.
"Jangan cemberut gitu. Di kamar kan kita masih bisa berduaan." goda Tedjo.
"Diem." geram Yumi.
"Bang Tedjo, boleh nggak aye duduk di samping Abang?" tanya Yuli membuat Yumi naik pitam.
"Boleh dong...."
"Apa-apaan ini?" gumam Yumi merasa tergantikan.
Yuli tersenyum menang ke arah Yumi.
"Gue kayak lagi nemenin orang pacaran aja, tau nggak."
"Tante cemburu?"
"Nggak."
Kemudian, Yuli dengan tiba-tiba mencium pipi Tedjo ringan.
"Tante Yumi mau nyoba?" goda Yuli membuat Tedjo senyum-senyum sendiri membayangkan kalau Yumi benar-benar mencium pipinya.
"Nggak, makasih."
"Lo beneran cemburu?" tanya Tedjo bermaksud menggoda Yumi yang semakin sebal.
"Buat apa gue cemburu sama tuh tuyul sok imut? Gue nggak masalah, mau dia nyium pipi lo atau meluk lo! Gue nggak peduli!" balas Yumi sewot.
"Ya... begitulah wanita, Bang Tedjo. Kadang mereka nggak mau ngaku kalo lagi cemburu. Mereka lebih mementingkan gengsinya." goda Yuli sambil cekikikan.
Yumi memalingkan wajahnya ke luar jendela mobil. Karena bagaimanapun juga, yang dikatakan Yuli itu ada benarnya. Yumi memang sedang cemburu, terlebih karena seseorang yang ditunggu-tunggu Tedjo sudah kembali.
Ketika sampai di toko es krim pukul 14:17....
Yumi dan Yuli langsung mengamati jenis-jenis rasa es krim di sana.
"Tante Yumi mau pesan yang rasa apa?" tanya Yuli.
"Gue mau es krim stroberi pake topping chocochips." kata Yumi sambil tersenyum puas.
"Kalo gitu, aye juga mau yang rasa itu!" kata Yuli bersemangat. "Tapi ukurannya lebih gede ketimbang es krim Tante Yumu ya!" lanjutnya pada pelayan toko es krim yang gemas melihat tingkah Yuli.
"Lo mau apa, Djo?" tanya Yumi.
"Waffle topping es krim cokelat dengan saus stroberi." kata Tedjo.
"Wah... kayaknya es krim Bang Tedjo juga enak...." gumam Yuli sambil mencebikkan bibirnya lucu.
"Ntar gue kasih lo nyobain deh, Yul." kata Tedjo.
"Yeay! Makasih Bang Tedjo!"
Tedjo terkekeh, begitu gemas dengan Yuli.
"Yumi?" panggil Tedjo dengan berbisik pada Yumi.
"Apa?" sahut Yumi sambil mempertajam pendengarannya.
"Yuli gemesin banget ya?"
"Iya. Emangnya kenapa? Lo mau makan dia?" tanya Yumi asal. "Meskipun Yuli tuh nyebelin, tapi gue nggak bakal biarin lo makan tuh tuyul."
"Ayo kita buat yang kayak Yuli, Yum...." bisik Tedjo membuat bulu kuduk Yumi merinding.
"Iiihhhhhhh! Apa-apaan sih lo! Dasar mes*m!"
Seketika orang-orang di sekitar mereka pun melebarkan matanya kaget begitu mendengar teriakan Yumi.
"My husband... my husband...." cengir Yumi pada orang-orang di sekitarnya, berusaha memperbaiki keadaan agar tidak ada kesalahpahaman.
Tedjo yang mendengar Yumi mengatakannya suaminya, hanya bisa mengulum senyumnya karena salah tingkah.
"Nyesel aye ikut nih orang dua. Aye kayak jadi umpan nyamuk...." gumam Yuli yang menyesal karena merasa dirinya seperti nyamuk di antara Tedjo dan Yumi.
Saat Tedjo, Yumi dan Yuli akan menikmati es krim mereka....
"Tedjo!" panggil seseorang, membuat Tedjo menoleh dan langsung mengembangkan senyumannya, membalas senyuman seseorang itu.
Yumi ikut tersenyum setelah seseorang itu juga tersenyum ke arahnya.
"Hai, Thea." sapa Tedjo balik, membuat senyuman di bibir Yumi memudar seketika.
Yumi tercekat begitu tahu siapa gadis yang ada di depannya sekarang.
"Astaga...." pekik Yumi dengan suara tertahan. Jantungnya berdegup dengan cepat.
"Lo juga ke sini? Sama siapa?" tanya Tedjo pada Thea.
"Gue ke sini sendiri. Tiba-tiba gue pengen makan es krim." jawab Thea dengan tatapan yang tak pernah lepas dari Tedjo.
Yumi menyadari gelagat itu. Gelagat yang sama dengan Tedjo.
Tedjo dan Thea yang saling mencintai, mungkin.
Selama beberapa saat, Yumi hanya terdiam sambil menatap Thea tanpa berkedip.
Tedjo sendiri sudah sibuk dengan Thea, mempersilahkannya duduk bersama, berbicara berdua dengan gadis itu dan mengabaikan Yumi dan Yuli.
Di samping Yumi, Yuli menarik napas panjang.
"Tante Yumi."
"Ya?"
Yumi tahu. Jika Yuli sudah memanggilnya dengan panggilan yang seharusnya, itu berarti Yuli sedang serius dan merasakan apa yang dirasakan kakaknya.
"Apa kita pulang aja?" tanya Yuli ikut sedih begitu menyadari raut wajah Yumi yang murung.
"Kita perginya bertiga, jadi kita juga harus pulang bertiga." kata Yumi memberi pengertian pada Yuli.
"Kita lanjutin makan es krimnya aja ya? Liat tuh! Es krim Yuli udah cair." Yumi berusaha menghibur Yuli.
"Tante Yumi."
"Hm...."
"Tante nggak usah khawatir. Bang Tedjo tuh cinta banget sama Tante. Aye tau itu." kata Yuli dengan senyuman gusinya.
Yumi hanya terkekeh, menutupi kesedihannya.
"Kenapa gue sakit hati pas ngeliat Tedjo bahagia sama cewek lain? Bukannya gue cuman nganggep Tedjo sahabat?" batin Yumi.
Akhirnya es krim Yumi dan Yuli pun habis. Sementara es krim Tedjo sudah mencair karena belum disentuhnya sama sekali.
"Ayo kita pulang." ajak Tedjo setelah Thea pamit pulang terlebih dahulu.
"Lo nggak makan tuh es krim dulu?" tanya Yumi.
"Es krimnya udah cair. Lagian gue kan alergi stroberi." cengir Tedjo.
"Lo alergi kacang, bukan stroberi." kata Yumi geram.
"Hehe... gue cuman mau lo merhatiin gue kayak pas gue alergi kacang waktu itu." Tedjo berasalan. Padahal dia sudah tidak berniat makan es krim karena terlalu senang bertemu dengan Thea.
"Es krimnya nggak bakal cair kalo Bang Tedjo langsung makan dan biarin cewek tadi duduk sendirian." sahut Yuli blak-blakan.
"Hah...?" Tedjo tidak menyadari maksud Yuli yang bermaksud menyindirnya.
"Udahlah. Ayo pulang. Lo pasti udah capek." ajak Yumi menyudahi perdebatan itu. "Lo kan udah ngobrol hampir dua jam sama dia...." lanjutnya dengan tatapan sendu.
Tedjo meneguk ludahnya pelan. Ia sudah sadar dan sekarang perasaan bersalah menjalar di dadanya.
...•••...
Akhirnya Tedjo, Yumi dan Yuli pulang ke rumah.
Tanpa ba-bi-bu lagi, Yumi langsung melesat pergi ke kamar, meninggalkan Tedjo yang termangu.
"Yuli... lo tau nggak, Yumi kenapa?" tanya Tedjo pada Yuli yang masih digendongnya.
"Tanya aja sendiri sama Tante Yumi." kata Yuli cuek. "Turunin aye deh, Bang Tedjo. Aye capek nunggu Bang Tedjo ngobrol tadi. Lama banget."
Yuli turun dari gendongan Tedjo dan berlalu begitu saja ke kamarnya.
Setelah itu, Tedjo masuk ke kamarnya dan menghampiri Yumi yang sudah berkutat dengan laptopnya.
Mereka terdiam cukup lama. Tak ada yang berniat membuka pembicaraan. Sampai akhirnya, Tedjo tidak tahan.
"Yumi, lo kenapa dah?" tanya Tedjo bingung melihat Yumi yang hanya diam sejak pulang dari toko es krim.
Yumi tidak langsung menjawab. Ia terdiam sejenak sambil menoleh ke arah Tedjo perlahan.
"Ada masalah apa sih? Lo marah sama gue?" tanya Tedjo lagi.
"Gue nggak sedih." jawab Yumi tidak nyambung dan itu membuat Tedjo mengernyit bingung.
"Maksud lo apaan?"
Yumi gelagapan begitu menyadari apa yang baru saja dikatakannya.
"Nggak. Nggak apa-apa. Lupain aja. Kadang gue emang suka ngelantur. Hehe...." cengir Yumi menutupi rasa sedihnya.
"Jujur lo kalo ngomong."
"Heh! Lo lagi peduliin gue apa ngeledek gue, anj*r?! Dasar alien montok!"
Yumi berusaha bersikap seperti biasa agar Tedjo tidak menyadari kalau ia sedang cemburu.
Kemudian Yumi melesat pergi dari kamar itu.
"Bini gue tuh emang aneh. Hihi...." gumam Tedjo dengan cengirannya yang khas.
...•••...
Besoknya di sekolah....
"Bang Ishak! Woi, Bang!"
Ishak menoleh begitu mendengar suara itu. Selain Caca, teman perempuannya, siapa lagi yang memanggilnya kalau bukan Yumi. Suara Caca lebih berat seperti laki-laki dibandingkan suara Yumi yang cempreng dan berisik.
Gadis itu berjalan menghampiri Ishak yang sedang duduk di bangku kantin.
"Kenapa, Yum? Lo nyariin gue?" tanya Ishak begitu melihat Yumi sudah di hadapannya dengan napas ngos-ngosan.
Yumi menampilkan cengirannya sebelum menjawab pertanyaan Ishak.
"Ada yang mau gue tanya sama lo, Bang."
"Apaan? Tanyain aja."
"Masa lalu Tedjo." kata Yumi dengan suara memelan.
"Masa lalu Tedjo... masa lalu Tedjo...." gumam Ishak mencoba mengingat-ingat.
"Kenapa? Bang Is nggak tau?"
"Masa lalu Tedjo tuh banyak. Gue mana tau yang mau lo pengen denger." jawab Ishak frustasi.
Yumi terkikik. "Masa lalu Tedjo dan Thea...."
"Hah? Lo... lo udah ketemu sama Thea?" tanya Ishak kaget.
"Kenapa lo sekaget itu, Bang?" tanya Yumi pura-pura tidak tahu untuk menutupi kesedihannya. "Ayolah, Bang. Gue mau tau masa lalu mereka. Mereka punya hubungan spesial ya sebelumnya?"
"Lo yakin mau tau semuanya, Yum?"
"Gue yakin banget, Bang."
Ishak menyadari keganjilan pada sikap Yumi. Gadis itu memang sedang menampakkan senyumannya, tapi matanya malah menyiratkan rasa sedih dan takut.
"Lo ada masalah ya sama Tedjo?" tanya Ishak hati-hati.
"Nggak ada kok, Bang." jawab Yumi dengan senyuman palsunya. "Sebagai sahabat yang baik, gue cuman mau tau gimana hubungan dia sama Thea di masa lalu. Cuman itu."
Ishak menghela napas berat. "Oke deh. Tapi, sebelum gue mulai cerita... kan lebih enak kalo ngobrol sambil ngunyah sesuatu, Yum. Hehe...." cengir Ishak membuat Yumi mendengus.
"Dasar.... Bang Ishak kenapa udah kayak Bang Awang aja sekarang? Bener-bener ngasih pengaruh buruk kalo temenan sama Bang Awang ya, Bang." sungut Yumi bercanda.
Ishak tergelak mendengar gerutuan Yumi.
Setelah Yumi memesan dua mangkuk bakso beserta minumannya, Ishak akhirnya mulai bercerita.
"Hm... sebenarnya ini nggak boleh gue ceritain ke siapapun lagi." kata Ishak.
"Kok gitu sih, Bang?" tanya Yumi.
"Iya. Soalnya ini terlalu pahit buat diingat." lanjut Ishak. "Gue dan anak-anak yang lain hampir aja kehilangan Tedjo...."
Ishak tidak melanjutkan kalimatnya, menyadari konsekuensi yang akan muncul jika ia menceritakannya pada Yumi. Ia berpikir ulang.
"Plis, ceritain semuanya ke gue, Bang." bujuk Yumi dengan tatapan memelas.
Selama beberapa saat, Ishak hanya diam sampai ia dapat meyakinkan dirinya untuk menceritakan masa lalu Tedjo yang kelam itu.
"Dulu... Tedjo sempat ada niatan buat ngakhirin hidupnya." Ishak mulai bercerita. "Waktu itu... Tedjo ngalamin depresi berat sampe berani ngelukain dirinya sendiri dan juga orang lain."
Yumi menatap muram Ishak yang raut wajahnya sudah berubah murung.
"Seseorang yang mengalami gangguan distimia bakal susah buat ngerasa senang, bahkan pada saat-saat bahagia sekalipun. Pengidap digambarkan memiliki kepribadian yang suram, terus menerus mengeluh dan nggak bisa bersenang-senang...." Ishak terdiam sejenak, tampak menerawang mengenang masa lalu yang menyakitkan itu. "Tedjo mengalami gangguan distimia saat itu. Selama beberapa bulan, dia terus ngelukain dirinya dan ngelukain siapa aja yang berusaha nyegah dia. Gue, Baruna, Awang dan Bang Karma cuman bisa pasrah sama sikap Tedjo yang nggak mau diselamatin siapapun. Dia ngusir kami yang mau nemenin dia selama proses penyembuhan. Dia bilang... nggak ada gunanya buat tetap temenan sama orang gila kayak dia. Waktu itu, kita bener-bener hancur ngeliat Tedjo yang terus nolak kehadiran kami."
Ishak menatap Yumi. "Dan itu karena... Thea. Tuh cewek udah ninggalin Tedjo demi cowok lain."
"Mereka pacaran?" tanya Yumi setelah Ishak menyelesaikan ceritanya.
"Mereka nggak sempat pacaran kok, Yum. Cuman setau gue nih ya, Thea tuh selalu marah kalo Tedjo deket sama cewek lain." jawab Ishak. "Gue nggak tau pasti sih cerita begimana. Cuman ya... awalnya tuh Tedjo nggak depresi. Tedjo bisa kok nerima kenyataan kalo cintanya bertepuk sebelah tangan. Tapi, Tedjo mulai depresi pas Thea mulai serakah. Meskipun Thea nggak cinta sama Tedjo, Thea selalu ngancem Tedjo buat lukain dirinya sendiri kalo Tedjo pergi ninggalin dia. Singkatnya, Tedjo nggak boleh bahagia sendiri tanpa dia."
Ishak mengusahakan senyum. "Terus, apa yang ngebuat Tedjo sembuh dari depresi itu?"
"Kalo masalah itu mah gue bener-bener nggak tau, Yum. Tapi yang jelas... waktu itu, dia bilang cinta pertamanya udah balik ke dia." jawab Ishak. "Mungkin karena itu, Tedjo jadi semangat hidup."
"Kira-kira siapa ya cinta pertama Tedjo, Bang? Denger dari cerita Abang, kayaknya bukan Thea deh." Yumi mengernyit bingung, membuat Ishak hanya manggut-manggut.
"Udahlah, Yum. Nyeritain masa lalu, bikin gue tambah laper. Ayo, Yum, dimakan. Biar lo yang bayar punya gue. Hahaha...."
"Woi, Bang! Lo mau morotin gue?!"
"Bukan gitu, Yum. Ah elah... elu mah. Tapi, lo ada benarnya juga sih."
"Hahaha. Dasar lu, Bang...." Yumi hanya geleng-geleng pasrah. Sementara Ishak terkekeh geli melihat Yumi yang mencebikkan bibirnya lucu. "Oh iya, Bang... lo tau nggak alamat rumahnya?"
"Hah? Siapa"
...•••...
Malam harinya, Yumi sedang berkunjung ke rumah seseorang setelah mencari-cari alamatnya ke sana kemari.
"Assalamu'alaikum." sapa Yumi sambil sedikit membungkuk.
"Wa'alaikumsalam. Lo yang bareng Tedjo kemarin, kan?" tanya seseorang itu.
Sudah jelas kalau seseorang itu adalah Thea.
"Iya. Hm... kita bisa ngomong bentar nggak, Kak?" tanya Yumi tanpa basa-basi membuat Thea sedikit terkejut.
"Bisa kok. Silahkan masuk."
Thea mempersilahkankan Yumi masuk ke rumahnya. Kemudian, mereka duduk di sofa dengan teh hangat yang baru saja diantarkan oleh pelayan di rumah itu.
"Kalo boleh tau, lo mau omongin apa ke gue...?" tanya Thea dengan senyuman manisnya.
"Sebelumnya, kenalin... gue Yumi. Gue udah tau nama lo dari teman-teman Tedjo." Yumi membuka pembicaraan begitu ia meyakinkan dirinya untuk segera mengatakan apa yang ingin dikatakannya pada Thea.
Thea mengangguk sambil tersenyum canggung. "Salam kenal ya, Yum."
Yumi hanya manggut-manggut seperti orang orang kikuk.
"Kak Thea...."
"Ya?"
"Kenapa lo balik lagi sih?"
"Apa...?"
"Tedjo udah bahagia begitu lo ninggalin dia. Terus, kenapa lo nyusahin dia lagi?"
"Gue nyusahin dia?"
"Ninggalin Tedjo demi cowok lain dan balik lagi tanpa rasa bersalah. Apa itu nggak nyusahin namanya? Lo bersikap seenaknya gini karena lo tau dia cinta sama lo, kan?" Yumi begitu kesal melihat gadis yang lebih tua lima tahun darinya. "Kalo lo nggak cinta sama dia, terus kenapa lo ngasih dia harapan?"
Bahkan Yumi saja tidak tahu maksud dari pertanyaannya itu. Bukankah ia seperti memberikan pertanyaan pada dirinya sendiri? Yumi tidak mencintai Tedjo sebagai suaminya, kan? Lalu, kenapa ia bisa setakut itu kalau Thea merebut Tedjo kembali?
"Apa lo juga cinta sama Tedjo?" tanya Thea dengan tenangnya. Ia menatap Yumi tepat di manik mata gadis itu. Tatapan Thea begitu teduh. Ia tidak terlihat seperti gadis yang jahat. Lebih tepatnya, watak gadis itu tidak sejahat dulu.
Mendengar pertanyaan Thea, membuat Yumi tertegun.
"Tinggalin Tedjo. Nggak usah lo balik lagi ke dia. Cukup dulu aja lo buat Tedjo menderita." kata Yumi kemudian, tanpa menjawab pertanyaan Thea.
Raut wajah Thea berubah sedih. "Tapi, gue cinta sama dia...."
"Lo cinta sama dia...? Terus, kenapa lo ninggalin dia?" tanya Yumi dengan suara lirih. "Harusnya lo nggak ninggalin dia waktu itu! Tapi... karena lo ninggalin dia, Tedjo yang bodoh malah ngerasa dirinya nggak berguna! Apa lo nggak pernah mikirin perasaan dia?!"
"Maka dari itu!" seru Thea sambil menatap Yumi nanar. "Maka dari itu... kasih gue kesempatan buat memperbaiki semuanya. Gue mau balik lagi ke Tedjo."
"Apa lo bilang? Memperbaiki semuanya?" Yumi tergelak, yang terdengar begitu menyakitkan. "Harusnya lo nggak perlu balik lagi ke sini!"
"Yumi!"
Yumi dan Thea menoleh begitu mendengar suara bariton itu.
"Apa yang lo omongin ke Thea?!" seru Tedjo emosi.
Dada Yumi terasa begitu sesak terlebih karena Tedjo sudah memeluk Thea untuk menenangkannya.
"Apa-apaan...." gumam Yumi sambil mendengus miris.
"Udah, Yum! Nggak usah memperburuk keadaan!" bentak Tedjo.
"Gue belain lo, brengsek!"
Yumi segera keluar dari rumah itu dan menghentikan sebuah taksi.
Yumi meninggalkan Tedjo dan Thea begitu saja. Ia tidak sanggup berlama-lama di sana sambil melihat kemesraan mereka.
Yumi pun pulang ke rumah dengan suasana hati yang kacau.
...•••...