
...•••...
Itu Tedjo!
Dia sudah sampai di rumah setelah Yumi meninggalkannya di jalanan. Kakinya hampir saja beranak kalau Tedjo jalan kaki untuk pulang.
Ting-tong! Ting-tong! Ting-tong!
Yumi yang pulang lebih dulu, berniat membukakan pintu. Tapi, langsung diurungkannya begitu melihat Tedjo dengan seorang gadis.
"Arghhhh!!!! Kenapa tuh cowok bawa cewek itu ke rumah sih?!!" gerutu Yumi dalam hati.
Harusnya tadi Yumi sudah tidak marah lagi pada Tedjo, tapi sekarang dia marah lagi.
Yumi kemudian membuka pintu rumah dan langsung melesat pergi ke kamarnya.
"Tadi tuh siapa, Djo?" tanya gadis yang bersama Tedjo.
"Siapa? Gue nggak liat siapa-siapa. Ayo masuk, Rum." elak Tedjo karena tidak mau Arum tahu kalau Yumi tinggal bersamanya.
Benar. Tedjo membawa Arum ke rumah.
"Makasih banyak ya, Djo. Akhirnya, lo mau ngajarin gue." kata Arum sambil tersenyum manis pada Tedjo.
"Nggak perlu bilang makasih. Gue seneng kok bisa ngebantu lo."
Arum mengeluarkan buku latihannya dan langsung mendekati Tedjo alias modus.
"Lo bisa geser sedikit, nggak? Gue mau jatuh gegara lo terlalu mepet ke gue."
Arum tersenyum kikuk karena penolakan Tedjo.
"Assalamu'alaikum, cantik. Temennya Tedjo ya?" Bu Titin muncul tiba-tiba, lalu ia sengaja duduk menyempil di antara Tedjo dan Arum.
"Wah... kalian lagi belajar apa nih? Sini, biar Tante bantu. Tante dulunya peringkat satu pas jaman PAUD."
Kemudian, Pak Udin ikut muncul dan duduk di antara Tedjo dan Arum agar mereka berjauhan.
"Lagi belajar apa lu bedua? Serius bener. Sini gua liat. Wah... pelajarannya susah banget. Nggak cocok gua ama pelajaran enih. Oh iya, biar gua panggilin Bro Selamet aja ya." Pak Udin memanggil Pak Selamet yang kebetulan lewat di depannya.
"Bro!"
"Iya, Bang."
"Lu ajarin dulu dong si eneng yang cakep enih. Dia kayaknya kesulitan mencerna pelajaran di sekolah dah. Mangkanya dia belajar ampe ke sini." sindir Pak Udin. "Lu duduk di dekat gua aja, Bro. Masih muat kok enih."
"Wah... kalian suka sempit-sempitan ya." Pak Selamet akhirnya ikut duduk di tengah-tengah, membuat Tedjo dan Arum makin berjauhan.
"Tedjo... harusnya kayak gini tuh lu bedua makan aja sono di kape-kape sambil belajar. Kalo ada cewek yang cemburu gimana coba? Lo nggak mikirin perasaan tuh cewek apa?" Sekarang Pak Udin sedang menyindir Tedjo.
Bisa dibilang kalau ini adalah teguran untuk Tedjo karena membawa gadis ke rumah. Bukannya pernikahan Tedjo dan Yumi masih rahasia, jadi kalau ada orang lain yang melihat mereka serumah akan repot nantinya. Dasar Tedjo. Tidak pikir-pikir dulu.
Dan sekarang, jadilah Pak Selamet yang mengajarkan Arum. Kira-kira isi kepala Pak Selamet seperti apa ya? Dia pintar sekali.
Setelah cukup lama bertamu, Arum akhirnya pulang setelah berpamitan pada Bu Titin, Pak Selamet dan Pak Udin yang dari tadi hanya menganggu mereka berdua.
"Kalian kok gitu banget sih sama Arum?" tanya Tedjo yang menyadari gelagat keluarganya.
"Kami baik kok sama dia." bela Pak Udin. "Oh iya, gua lupa bilang sama tuh anak biar nggak usah deketin lu lagi. Pan lu udah jadi laki orang."
"Ya Allah, Babeh." dengus Tedjo tak habis pikir.
"Aa jangan kayak gitu lagi ya? Gimana kalo Neng Yumi cemburu coba?" Bu Titin terdengar cemas.
"Mana mungkin tuh cewek cemburu. Tadi aja dia udah ninggalin Tedjo di jalanan dan pulang sendiri." kata Tedjo keceplosan.
"Hah?!!" pekik Pak Selamet, Bu Titin dan Pak Udin.
...•••...
Tedjo masuk ke kamar.
"Assalamu'alaikum. Yumyum?" sapa Tedjo. "Gue udah pulang nih. Jalan kaki. Mana pelukan hangatnya, sayang?"
Yumi diam.
"Lo masih marah sama gue?" tanya Tedjo tapi Yumi masih diam.
"Emangnya apa sih yang udah gue lakuin sampe lo marah begini?"
"Tedjo?"
"Apa?"
"Lo... ada niatan pacaran, nggak?" tanya Yumi ragu-ragu.
"Mana mungkin gue pacaran. Gue kan udah punya istri. Tapi, kalo lo mau jadi pacar gue... dengan senang hati tuan putri. Pangeran Tedjo akan menyanggupinya."
Yumi mendengus.
"Hm... ini tuh nggak ada sangkut-pautnya ya. Gue cuman mau nanya sama lo doang." kata Yumi wanti-wanti.
"Mau nanya apa?"
"Cewek yang tadi tuh siapa?"
"Yang mana?" Tedjo balik bertanya.
"Yang bicara sama lo tadilah." Yumi mulai jengah.
"Oh. Namanya Arum. Cantik, kan?" goda Tedjo.
Yumi menahan kesal. "Kok dia ke sini sih? Lo yang ngajak ya ?" Nada bicaranya terdengar datar dan dingin.
"Dia yang mau sendiri kok. Terus, katanya dia pengen jadi pacar gue." kata Tedjo. Ia sangat bersemangat menggoda Yumi.
"Jangan boong lu."
"Dia minta gue ngajarin dia beberapa pelajaran yang nggak dia ngerti." jawab Tedjo kemudian.
"Emangnya guru di sekolah nggak cukup ngajarin dia? Lagian kenapa lo mau-mauan sih? Nggak sekalian aja lo buka les privat?" Yumi mendengus kesal.
"Lo kenapa sih? Marah-marah mulu dah perasaan. Cemburu lo sama Arum?" goda Tedjo lagi.
"Nyebelin lo. Emangnya kalo gue nanya, gue cemburu, gitu?" Yumi mencoba menyembunyikan rasa sebalnya pada Tedjo.
"Dasar cewek. Tetap aja nggak mau ngaku. Padahal udah ketangkep basah." gumam Tedjo. "Ketara banget lagi tuh muka."
"Terus... hm... ngapain lo berlutut?" tanya Yumi akhirnya.
"Berlutut?" tanya Tedjo balik. Dia bingung mendengar pertanyaan Yumi.
"Gue ngelihat lo berlutut depan dia. Kayak lagi nyatain cinta aja~" Nada bicara Yumi tambah kesal.
"Terus lo percaya gitu aja?"
"Awalnya sih gue nggak percaya, tapi setelah gue pikir-pikir...."
Tedjo menghela napas. "Yang lo liat tuh cuman latihan."
"Latihan? Jadi, lo beneran bakal...."
"Gue sama Arum tuh lagi latihan drama." kata Tedjo terus-terang.
"Hah? Drama? Drama apaan?"
"Nggak percaya lo? Kalo lo nggak percaya, ya udah, tanya aja langsung sama Arum."
"Ngapain juga gue repot-repot?" sanggah Yumi. "Awas aja kalo gue liat lo kayak gitu lagi!"
"Cemburu kan lo?" cengir Tedjo sambil memperhatikan Yumi yang keluar kamar dengan wajah kesal.
...•••...
Rasa jengkel Yumi pada Tedjo masih tersisa. Tedjo juga merasa kesal sekali karena Yumi sudah meninggalkannya di jalanan. Sampai-sampai saat mereka makan malam bersama tak ada percekcokan yang terjadi. Semuanya diam.
"Kalian ini kenapa?" tanya Pak Selamet heran melihat Tedjo dan Yumi kumat.
Dengan cepat, Tedjo dan Yumi menggeleng.
"Kalian kok duduknya jauhan gitu? Kalian masih percaya sama mitos yang sering deketan bisa bikin pendek? Bapak udah baca bukunya dan isi dari buku itu menjelaskan kalo itu nggak benar." jelas Pak Selamet.
"Benaran, Mas?" tanya Bu Titin.
Pak Selamet mengangguk mengiyakan.
Bu Titin, Pak Udin dan Embun langsung mendekatkan kursinya di dekat Pak Selamet.
"Tapi kalo itu cuman mitos, kenapa aku nggak tambah tinggi?" tanya Embun.
"Makanya sering-sering minum susu lo biar tinggi kayak tiang tower." ledek Tedjo membuat Embun melemparkan telur dadar ke wajah Tedjo.
"Pertumbuhan lo udah maksimal kok, Mbun." Tedjo mengalah.
Begitu selesai makan malam, kini giliran Tedjo dan Yumi yang mencuci piring.
"Ehem." Tedjo berusaha memecahkan keheningan.
"Ehem. Yumyum?" panggil Tedjo sambil perlahan mendekati Yumi.
"Lo kenapa sih? Apa yang bikin lo marah sama gue? Lo marah karena gue ingkar janji?" tanya Tedjo.
Yumi menatap Tedjo penuh selidik.
"Gue ingkar janji gegara Baruna bilang bakal minjamin gue PS limanya dia. Gue kan pengen nyobain main pake PS lima." kata Tedjo dengan polosnya.
Yumi hanya menggeleng. Ia pikir Tedjo sudah sadar kesalahannya tentang .
"Woi. Jangan diem aja lo. Jawab pertanyaan gue. Lo nyuruh gue nebak? Lo pikir gue dukun, apa?"
Yumi menggeleng lagi.
"Terus lo mau apa, Yumyum? Lo mau es krim atau pecel? Biar gue beliin buat lo selagi gue baik."
Yumi diam membisu.
"Yumyum...?"
Tedjo mendorong Yumi dengan lengannya. Membuat gadis itu akhirnya jengah.
"Apaan sih lo!"
Saat Yumi akan membalas, Tedjo terlebih dahulu berpindah ke depan Yumi, sehingga gadis itu tidak bisa mendorongnya. Dan kini, Tedjo dan Yumi saling menatap. Wajah mereka sangat dekat dan Yumi rasa pipinya mulai memanas.
"Yumyum... lo mau nggak...." bisik Tedjo.
"Hah?"
Degup jantung Yumi lebih cepat dari biasanya.
Tedjo mendekatkan wajahnya ke wajah Yumi.
Dan tiba-tiba, Yumi menjatuhkan panci saking gugupnya. Tapi naasnya, panci itu adalah panci kesayangan milik Pak Udin.
Pak Udin, Pak Selamet, Bu Titin dan Embun langsung muncul di tempat kejadian perkara, membuat Tedjo dan Yumi merasa canggung.
"Panci gua...." Pak Udin menatap sengit ke arah pelaku. "Lu bedua pada ngapain sih, hah? Ampe panci gua jadi korban begini."
"Tedjo yang jatuhin, Beh. Jadi, maafin Tedjo ya." kata Tedjo melindungi Yumi.
Yumi menatap Tedjo merasa tidak enak.
"Udahlah, Bang. Tinggal beli panci yang baru lagi aja. Nanti saya temani." kata Pak Selamet menenangkan.
"Beli yang ukuran jumbo ya, Bro." ujar Pak Udin.
"Buat apa panci gede-gede? Om mau masak Bapak?" tanya Embun enteng.
"Bukan Bapak lu. Tapi, elu." balas Pak Udin yang diiringi tawa Bu Titin yang khas ibu-ibu.
...•••...
Tedjo berdiri di depan gerbang rumahnya. Gelagatnya aneh. Dia membawa tas bermerk cucci di tangannya.
Yumi tiba-tiba datang menghampiri Tedjo.
"Ngapain lo ngikutin gue? Di luar dingin, tau." kata Tedjo.
"Ternyata bener ya apa yang dibilang Baruna. Lo tuh nggak ketebak." kata Yumi dengan raut wajah cemberut.
"Jangan ngomongin dia di depan gue."
"Kenapa? Suka-suka guelah. Mulut, mulut gue juga."
"Gue nggak suka." balas Tedjo kesal.
"Gue juga nggak suka sama lo." balas Yumi balik.
Tiba-tiba....
"Woi! Tas lo dicolong, ege!" seru Yumi.
Tedjo segera memacu langkahnya dan mengejar pencuri tas itu. Tak mau kalah, Yumi juga ikut mengejar pencurinya.
Pencuri itu dengan gesit mengecoh Tedjo dan Yumi dengan mengajaknya berlari di gang-gang sempit.
Mereka masih kejar-kejaran. Sesekali pencurinya bersembunyi di balik tembok gang. Dan saat ketahuan, pencuri itu lari lagi.
"Arghhh! Cepet banget tuh maling larinya!" Napas Yumi ngos-ngosan.
"Kaki lo aja yang pendek." ledek Tedjo.
"Woi!"
Mereka terus kejar-kejaran. Sampai akhirnya, mereka kehilangan jejak si pencuri.
"Udah nggak ada harapan buat ngejar tuh maling. Ikhlasin aja ya, Djo. Anggap sedekah." kata Yumi sambil mengatur napasnya. "Emang isi tas lo itu apaan sih?"
"Nggak ada." jawab Tedjo singkat.
"Hah?!! Isinya bukan uang atau barang penting punya lo?!" tanya Yumi dengan nada tinggi. Ia heran melihat respon Tedjo yang terlalu santai.
"Nggak tuh. Itu cuman tas kosong. Tasnya juga udah rusak." jawab Tedjo seadanya.
Yumi mengernyitkan dahinya. "Terus ngapain lo ngejar tuh maling?"
"Gue tadi cuman mau buang itu tas. Eh, malah dicolong." jelas Tedjo.
"Terus?"
"Gue ngejar tuh maling gegara gue nggak mau dia jual itu tas sama orang. Yang beli pasti ngerasa ditipu karena udah beli barang rusak."
Yumi frustasi. "Ngapain sih gue nikah sama lo, Djo?"
"Karena gue ganteng...?" Tedjo nyengir.
"Ganteng aja nggak cukup. Perlu ini juga nih." Yumi mengetuk kepala Tedjo geram.
"Otak?" tanya Tedjo mencoba memancing amarah Yumi.
"Rambut!"
"Bisa ae lu. Hahahahaha...."
...•••...
Pukul 20.25....
Tedjo tiduran sambil melihat Yumi yang sedang belajar.
Tedjo menghela napas. "Kalo kayak gini terus, kita nggak bakal punya waktu ngebuatnya, Yum."
"Buat apaan?"
"Lupain. Lo juga bakal nolak kalo gue kasih tau."
"Woi! Bilang nggak! Selagi gue masih bisa nanya baik-baik ke elo!"
"Buah dari pernikahan kita, sayang. Lo ngerti, kan?" Tedjo mengerlingkan matanya.
Kontan muka Yumi langsung memerah. Dia menepuk wajahnya berkali-kali untuk menyadarkan dirinya yang sudah salah tingkah, lalu bergegas keluar kamar.
"Yumyum, lo mau kemana?"
"Dapur! Mau makan buah!"
"Pasti lagi malu tuh anak." gumam Tedjo sambil mengulum senyumnya.
Kembalinya Yumi dari dapur.
Tedjo sudah meraih jaketnya yang terletak di atas sofa, lalu mengenakannya.
"Mau kemana lo?" tanya Yumi.
"Gue ada janji sama anak-anak. Tumben nanya? Mau ikut?" tanya Tedjo.
"Nggak. Cuman basa-basi gue."
"Kalo gitu, ikut gue yuk. Gue mau ngenalin lo sebagai istri gue."
"Lo udah gila ya?"
"Iya." jawab Tedjo asal. "Jadi ikut nggak lo?"
"Nggak."
"Ya udah. Gue pergi dulu. Dadah sayangku~"
"Hiiiiiiiiihh!" Yumi mendelik geli.
...•••...