
...
...•••......
Ketika Yumi sampai ke rumah, malam sudah semakin larut. Yumi pikir semua orang di rumah sudah tidur, sampai ia tersentak kaget saat mendapati Pak Udin duduk di ruang keluarga.
"Yumi?" ucap Pak Udin cemas, begitu melihat Yumi yang baru pulang dengan penampilan kacaunya. "Dari mana aja lu? Ngapa baru pulang jam segini?"
Amat perlahan, Yumi membalas tatapan Pak Udin. Tatapannya sendu dan matanya tampak sembab.
"Babeh... ayo kita balik ke Surabaya." ujar Yumi dengan suara serak.
Pak Udin terdiam sesaat. Ia menangkap kesedihan mendalam dari mata Yumi.
"Lu kenapa dah...?" tanya Pak Udin hati-hati.
Yumi menghela napas pedih. "Aye nggak kenapa-napa kok...."
Pak Udin menatap manik mata anak perempuannya itu dengan sedih. "Cerita ke gua apa yang terjadi ama elu, Yum."
Yumi balas menatap Pak Udin nanar. Selama beberapa saat ia hanya bungkam. Ia tidak sanggup lagi bicara. Ia sibuk menahan emosinya di tenggorokan, yang membuat dadanya semakin sesak.
Kemudian tanpa mengatakan apapun lagi, Yumi berbalik dan berlalu menuju kamarnya dengan langkah tersaruk-saruk.
"Yumi...." gumam Pak Udin makin cemas.
Namun kemudian, datanglah Tedjo yang tampak tergesa-gesa, mencari keberadaan Yumi.
"Tedjo... lu bedua pada kenapa, hah? Si Yumi kenapa? Lu bedua berantem lagi?" tanya Pak Udin beruntun begitu melihat kepulangan Tedjo.
"Tedjo minta maaf, Beh...."
Dengan segara Tedjo bergegas ke kamarnya untuk menghampiri Yumi, meninggalkan Pak Udin yang masih bertanya-tanya tentang apa yang terjadi pada mereka.
Sekarang, Tedjo sudah mendapatkan Yumi yang sedang mengemaskan pakaiannya ke dalam koper. Tedjo didera perasaan bersalah. Dalam kondisi itu, ia mencoba mengajak Yumi bicara.
"Ada yang mau gue omongin sama lo...." ujar Tedjo lembut, membuat Yumi menghentikan kegiatannya. "Gue nggak bermaksud ngebentak lo. Gue cuman—"
"Cuman pengen ngelindungin orang yang lo cintai." potong Yumi sambil menatap Tedjo lekat di matanya.
"Nggak gitu, Yum."
"Gue tau. Itu tuh adalah insting lo biar Thea ngerasa aman." sergah Yumi. "Gue cuman mau buat perhitungan sama dia karena udah ninggalin lo seenaknya aja. Gue bahkan nggak ada niatan buat nyakitin dia, tapi kenapa lo bersikap seolah gue penjahat di antara lo berdua?"
Tedjo mengerutkan alisnya. Ia terdiam.
"Tedjo...." ucap Yumi begitu mempersiapkan hatinya. "Kita cerai aja ya...."
"Yumi!" tegur Tedjo begitu kaget mendengar penuturan Yumi. "Lo ngomong apaan sih?!"
Yumi tersenyum miris, lalu menengadahkan kepalanya untuk menahan air matanya yang kapan saja siap keluar. Ia kemudian menatap Tedjo dalam.
"Terus, tujuan lo apa nikahin gue?!!" pekik Yumi dengan suara bergetar.
Tedjo kembali terdiam. Ia menatap Yumi lekat-lekat dan menangkap keraguan pada wajah cantik gadis itu.
Tatapan Yumi berubah nyalang, lalu menggeleng-geleng menahan emosi. "Kenapa lo maksa gue buat nikah sama lo?! Apa karena buat nyembuhin depresi lo itu?! Karena... karena lo nggak bisa milikin Thea?!"
"Kenapa lo...." Tedjo terpaku mendengar ucapan Yumi.
Amarah segera menguasai Yumi. Ia berteriak histeris dan merutuki yang dilakukan Tedjo padanya.
"Pergi lo!" pekik Yumi penuh emosi.
"Yumi... plis, jangan kayak gini." ujar Tedjo sambil menangkis buku-buku dan bantal yang Yumi lempar ke arahnya.
"Gue nggak mau liat lo lagi!"
"Woi! Yumi! Stop! Apa yang lo lakuin?!"
Tedjo segera menghampiri Yumi untuk mencegah gadis itu melemparnya lagi. Yumi kemudian memukul-mukul dada Tedjo mencoba melakukan perlawanan.
Tedjo pun menarik Yumi ke dalam rengkuhannya, membuat pertahanan gadis itu runtuh sedikit demi sedikit. Yumi mulai terisak.
"Kalo lo cinta sama dia, kenapa lo nikah sama gue?! Dasar brengsek!"
"Yumi, tenang...." Tedjo mencengkeram pundak Yumi sambil menatap gadis itu sedih.
"Nggak!" Yumi melepas paksa pelukan Tedjo. Kemudian, menyeka air matanya dengan kasar. "Kalo lo berharap dia balik... terus kenapa lo nikahin gue?! Harusnya lo terus nungguin dia!"
Tedjo menggeleng pelan. Ia sedih saat melihat air mata Yumi jatuh kembali.
"Thea bilang dia cinta sama lo! Dia mau balik ke elo! Lo senang kan, cinta lo berbalas?!" Yumi mendengus miris.
"Nggak gitu...."
"Terus, apa lagi yang lo tunggu?! Ceraiin aja gue!"
"Yumi!" bentak Tedjo karena tak tahan mendengar racauan Yumi.
Yumi terdiam. Ia melihat ke arah lantai sambil menahan air matanya yang memaksa untuk keluar.
"Lo nggak cinta sama gue, kan?" tanya Tedjo membuat Yumi melebarkan matanya kaget dengan pertanyaan itu.
"Kalo lo nggak cinta sama gue, terus... kenapa lo marah kalo gue suka sama cewek lain?" tanya Tedjo menunggu jawaban Yumi.
Yumi memalingkan wajahnya, melihat ke arah lain selain Tedjo. Untuk beberapa saat, ia tidak bisa menjawab pertanyaan itu.
"Baruna bilang... dia cinta sama lo. Berarti kita udah impas, kan?" tanya Tedjo sambil tersenyum miris. "Lo cinta sama Baruna, kan?"
Yumi tak kunjung menjawab.
"Jawab gue, Yum!"
"Iya! Gue cinta sama dia!"
Tedjo seolah tersambar petir setelah mendengar pernyataan Yumi.
"Tapi, gue milih buat nggak ngelanjutin perasaan gue karena gue udah nikah sama lo!" tambah Yumi frustasi.
Selama beberapa saat Tedjo bergeming, ia menunduk lesu. Selama itu pula, Yumi menatapnya tanpa berkedip dengan air mata yang menggenang di matanya.
"Tapi...." Suara Yumi tercekat.
Tedjo perlahan menatap Yumi kembali dengan tatapan nanar.
"Tapi... gue nggak tau kenapa gue bisa sekesal ini sama lo! Gue nggak suka ngeliat lo sama Thea! Gue benci gue yang begini!" Yumi kemudian pergi begitu saja meninggalkan Tedjo.
"Woi! Yumi!"
Entah kenapa tiba-tiba, sekujur tubuh Tedjo menolak untuk mengejar Yumi. Ia hanya menatap nyalang ke arah bayangan gadis itu yang makin lama menghilang dari pandangannya.
Sementara itu Pak Udin yang mendapati Yumi yang akan melangkah pergi, segera menyusulnya, lalu menangkap lengan anak perempuannya itu.
"Ada masalah apa, Yum? Lu mau pergi kemana?" tanya Pak Udin panik melihat Yumi yang sudah menangis.
Yumi tidak menjawab. Ia terus melangkahkan kakinya menuju pintu keluar.
"Yumi!"
...•••...
Saat ini, Yumi sedang duduk kelelahan di bangku pinggir jalan setelah berjalan cukup jauh dari rumah. Tidak ada yang berhasil menemukannya.
Yumi menunduk lesu dengan air mata yang sekuat mungkin ditahannya agar tidak keluar. Berulang kali ia menghela napas dengan berat, berharap rasa sesak di dadanya bisa hilang. Alhasil, emosi yang tertahan itu malah membuat tenggorokannya sakit. Gadis itu juga tidak membawa ponsel maupun uang, jadi ia tidak tahu kemana tujuannya.
"Nih, makan."
"Astaghfirullah!"
Yumi terlonjak kaget begitu sebuah roti harga seribuan muncul di pandangannya. Gadis itu menoleh dan mendapati Baruna duduk di sampingnya, menyodorkan roti itu.
"Kenapa lo kaget pas liat gue? Lo pikir gue hantu?" tanya Baruna, membuat Yumi menghela napas lega karena yang menemukannya adalah kelinci montok.
"Kenapa lo tiba-tiba muncul?" tanya Yumi balik.
"Gue emang dari tadi duduk di sini. Lo aja yang nggak liat gue. Dasar...."
"Kenapa lo ngasih gue roti?"
"Lo pasti lapar. Makanya lo nangis. Emang pas lo keluar rumah, lo nggak sempat makan?" omel Baruna seolah sedang memarahi anak kecil yang nakal.
"Kenapa lo beliin gue roti sereboan? Mana kenyang gue." tanya Yumi sambil mengambil roti isi selai coklat itu, lalu memakannya dengan gigitan ganas.
"Itu nggak penting. Yang jadi permasalahannya sekarang tuh elo. Ngapain lo keluyuran malem-malem begini? Mau nyari bencong lo?" tanya Baruna penasaran.
Yumi tidak menjawab. Ia memilih diam begitu matanya sudah menggenang air mata. Gadis itu tampak kesulitan bernapas karena menahan sesak di dadanya.
Baruna menangkap raut sedih itu. "Lo kenapa? Apa ada masalah di rumah?" tanya Baruna khawatir.
Mendengar pertanyaan Baruna, membuat Yumi menangis sejadi-jadinya. Bahkan ia meraung-raung. Baruna segera mengusap pundak Yumi, mencoba menenangkan gadis itu.
"Tenangin diri lo dulu. Ada gue kok di sini buat lo." ujar Baruna, membuat tangisan Yumi berubah menjadi sesenggukan kecil. "Habisin tuh roti. Jangan makan sambil nangis. Dasar nih anak...."
Yumi hanya mengangguk pelan. Ia tidak bisa bicara karena mulutnya masih penuh dengan roti itu.
Namun ternyata, dari kejauhan dan di dalam sebuah mobil, Tedjo dan Yumi melihat mereka.
"Tedjo...." ucap Pak Udin.
Tedjo menoleh perlahan ke arah Pak Udin.
"Beri Yumi waktu buat nenangin diri. Lagian pan... ada Baruna yang nemenin. Lu tenang aja...." kata Pak Udin kemudian.
"Iya, Beh...." sahut Tedjo sambil menahan rasa sakit yang menusuk dadanya.
Ada rasa cemburu di hatinya tapi ia tidak bisa melarang Baruna untuk meninggalkan Yumi sendirian di sana.
"Ya udah, Yum. Ayo gue antar lo pulang." kata Baruna, selama beberapa saat mereka sama-sama diam.
"Nggak usah...."
"Lah? Ngapa? Om Udin sama orang rumah pasti udah khawatir. Bang Tedjo juga bakal nyariin elo ntar."
"Dia nggak bakal peduli.... Dia cuman peduli sama orang yang berarti di hidupnya...."
"Maksud lo siapa?" tanya Baruna, bingung.
Baruna mencoba memahami perkataan Yumi, tapi sia-sia. Ia tetap tidak mengerti maksud gadis itu.
"Baruna...."
"Ya. Kenapa...?" Baruna menatap sepasang mata gadis itu tepat di maniknya.
"Boleh nggak... gue ke rumah lo. Gue... gue nggak bisa pulang sekarang."
"Hah?"
...•••...
Setibanya di apartemen Baruna....
"Makan dulu nih lo, Yum." kata Baruna mempersilahkan Yumi memakan mie goreng buatannya.
Yumi tak langsung memakan mie goreng itu, ia hanya memandanginya dengan tatapan nanar. Ia masih memikirkan Tedjo.
Baruna menyadari gelagat itu. "Kenapa lo nggak makan? Lo mana kenyang cuman makan roti yang tadi. Makan lo, Yum...." kata Baruna, menyadari Yumi.
"Makasih mie gorengnya...." sahut Yumi, lalu memakannya.
"Yumi...?"
Suara Baruna membuat Yumi menoleh ke arahnya.
"Gue cuman bisa bawa lo ke sini. Gue nggak bisa bawa lo ke rumah karena... gue pikir nggak sopan bawa anak gadis Om Udin tanpa seizin dia. Tapi, lo tenang aja... gue nggak bakal tidur di sini kok. Jadi, lo bisa nyaman tidurnya." Baruna memberi penjelasan.
"Makasih, Run...."
Baruna terkekeh sambil mengusak puncak kepala Yumi dengan gemas.
"Gue bakal bantu lo, sebisa gue. Gue nggak mau lo sendirian dalam kesulitan...." kata Baruna, membuat Yumu tersenyum haru.
"Yumi... gue nggak tau apa masalah lo, tapi gue harap gue bisa dikit ngurangin beban lo itu." lanjut Baruna sambil tersenyum tenang. "Jangan sedih lagi ya, Yum. Gue nggak bisa liat lo kayak gini."
"Baruna...." gumam Yumi, menahan segala emosinya.
"Lo boleh nangis, tapi jangan nangis sendirian. Ngerti?"
Yumi hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Oh iya, Yum. Lo jangan lupa nelpon Bang Tedjo. Bilang kalo lo lagi ada di apartemen gue. Dia pasti kecapean nyariin lo." saran Baruna.
Yumi tampak berpikir sejenak. Ia sama sekali tidak tahu harus melakukannya atau tidak.
"Ya udah. Lanjutin makannya...." kata Baruna sambil tersenyum sedih.
Yumi mengangguk lagi. Tanpa ia sadari, air matanya sudah menetes.
"Jangan nangis." ujar Baruna sambil menyeka air mata Yumi yang mulai jatuh di pipinya.
Mendapat perlakuan seperti itu, membuat pertahanan gadis itu runtuh. Ia melepas segala tangisnya.
"Nggak salah gue manggil lo kelinci montok...." goda Yumi sambil terisak.
"Ya Allah, Yum!" seru Baruna yang ikut sedih melihat Yumi menangis. "Lo bikin gue sedih aja. Dasar Yumi ege...."
Yumi terkekeh geli melihat Baruna yang sudah mencibir.
...•••...
Setelah merasa tenang, Baruna mengajak Yumi duduk-duduk di balkon apartemennya.
"Nih." kata Baruna, tapi Yumi hanya memandangi mug berisi coklat panas yang diletakkan di meja di dekatnya.
"Maniak coklat panas." ledek Yumi bercanda.
"Lo nggak mau? Ya udah."
Yumi mendengus.
"Lo berantem sama Bang Tedjo ya, Yum?" tanya Baruna kemudian. "Lo cemburu liat Bang Tedjo sama Thea?"
"Kalo lo udah tau, kenapa masih nanya?" balas Yumi jengkel, sebelum menyadari ucapannya.
"Hah? Lo beneran cemburu?"
"Siapa bilang?" Yumi gelagapan.
"Lo nggak pernah typo pas ngomong, apa?" elak Yumi.
"Nggak usah malu. Gue tau kalo lo lagi cemburu." goda Baruna.
"Diem deh lo! Berisik banget sih lo kayak ikan buntal?!"
"Hahaha...."
Tiba-tiba, senyap mengambil alih. Mereka hanya diam sambil menatap lurus dengan pandangan kosong.
"Baruna...." panggil Yumi tanpa menoleh ke arah Baruna, seolah sedang bicara dengan udara kosong.
"Hm...." Baruna menoleh.
"Jangan bilang ke siapa-siapa ya, kalo gue ada di sini. Plis...."
Baruna diam sejenak, lalu mengangguk pelan.
"Lo marah... bukan karena lo suka sama Bang Tedjo, kan?" tanya Baruna tiba-tiba, membuat Yumi menoleh ke arahnya dan menatapnya bingung.
Baruna menatap Yumi muram. "Lo nggak mungkin semarah ini, kalo lo nggak punya perasaan apa-apa sama Bang Tedjo...."
Yumi terdiam sejenak mendengar penuturan Baruna. Bukannya ia tidak mau menjawab, hanya saja ia bahkan tidak tahu perasaannya pada Tedjo.
"Gue nggak mau aja Tedjo bertindak bodoh." jawab Yumi seadanya. "Gue nggak mau dia balik ke Thea, terus buat tuh cewek ngerasa menang."
"Kenapa...?"
"Karena tuh cewek udah nyampakkin dia gitu aja. Terus, buat apa tuh cewek balik di hidup Tedjo? Dia cuman bakal bikin Tedjo terluka lagi."
"Lo nggak lagi nyangkal kan, Yum?" tanya Baruna, tepat mengenai jantung Yumi.
Apa benar selama ini Yumi berusaha menyangkal tentang perasaannya yang sebenarnya pada Tedjo?
"Maksud gue... kenapa lo nggak ngasih mereka kesempatan? Mungkin mereka bakal lebih bahagia daripada sebelumnya?" tambah Baruna.
Yumi bungkam. Yang Baruna katakan benar. Jika ia tidak mencintai Tedjo, harusnya ia membiarkan Tedjo meninggalkannya. Bukankah itu bagus. Yumi tidak perlu lagi terikat dengan seseorang yang sama sekali tidak dicintainya dan bisa mengejar cinta Baruna.
"Gue... gue bakal ngasih mereka kesempatan. Ya... gue bakal ngasih mereka kesempatan kedua." sahut Yumi tanpa pikir panjang.
Baruna diam, menatap Yumi tanpa berkedip, berusaha mencari keyakinan pada kata-kata gadis itu. Ketika akhirnya Baruna tidak menemukan keyakinan itu, ia pun mencoba tersenyum.
"Gue cuman bercanda kok, Yum. Jangan terlalu dipikirin." kata Baruna sambil mengusak rambut Yumi lembut.
Selang beberapa menit, Yumi tertidur di pundak Baruna.
Baruna sendiri hanya menatap gadis itu sedih. Seharusnya ia tidak perlu menanyakan hal itu pada Yumi.
"Gue pulang dulu ya, Yum. Gue bakal datang ke sini lagi besok...." gumam Baruna begitu menidurkan Yumi di ranjang.
Namun, saat ia berada di dalam mobilnya. Baruna merogoh ponsel di saku celananya, mengetuk-ngetuk layarnya, lalu menelepon seseorang.
"Maaf, Yum. Gue nggak bisa janji. Bang Tedjo pasti khawatir sama lo." batin Baruna.
"Halo, Bang. Assalamu'alaikum. Yumi lagi di apartemen gue nih. Dia baik-baik aja kok. Gue bakal ngantarin dia pulang kalo dia udah ngerasa tenang." ujar Baruna begitu Tedjo mengangkat teleponnya.
"Oke, Bar. Jagain Yumi, plis...."
...•••...
Besoknya....
"Baruna, Assalamu'alaikum!!!"
Sebuah suara menggelar memenuhi apartemen Baruna. Suara itu membuatnya tersentak.
"Tumben si Baruna ngebiarin pintu apartemennya kebuka gini?" tanya Karma heran.
"Jangan-jangan dia lagi bawa cewek ke sini. Hahaha...." seloroh Awang.
Dari jauh, Baruna membatu saat melihat Karma, Ishak dan Awang sudah masuk ke apartemennya.
"Yumi... lo udah selesai, belum?" tanya Baruna pada Yumi yang ada di dalam kamar mandi.
"Belum!"
"Lo jangan keluar dulu ya. Di dalam aja dulu. Ngasoy...." Baruna mengingatkan.
Belum sempat Yumi menjawab perintah itu, Baruna sudah bergegas meninggalkannya untuk menghampiri sahabat-sahabat Kekeyinya. Namun, terlambat. Karma, Ishak dan Awang sudah lebih dulu menghampiri Baruna dan sekarang mereka berdiri di depannya sambil tersenyum lebar.
"Ngapain lo diri di sini? Tumbeb lo nggak nyambut kita dateng? Biasanya juga elo yang rusuh pas tau kita main ke sini." tanya Awang beruntun.
Baruna hanya bengong sambil tersenyum kikuk.
"Lagi ngapain dah? Abis beri lo?" tanya Ishak begitu menyadari gelagat Baruna yang aneh.
"Udahlah. Jangan di sini lo pada. Ngapain sih depan kamar mandi?" kata Baruna, berusaha menjauhkan mereka dari pintu kamar mandi.
"Ayo, woi."
"Bentar woi...."
"Kenapa lo, Wang?" tanya Karma yang membuat semua orang melihat ke arah Awang.
"Gue mau beri bentar." jawab Awang membuat mata Baruna melebar. "Gue pake toilet lo ya, Bar."
"JANGAN, EGE!"
Suara Baruna membuat mereka tersentak kaget.
"Ngapa dah?" tanya Karma, entah kenapa jadi penasaran. "Dia cuman mau numpang beri. Bukan mau ngejual toilet lo."
Baruna mengusap tengkuknya, merasa tidak tenang.
"Anu... toiletnya lagi nggak ada air."
"Lo lupa bayar tagihan listrik?" tanya Awang sambil menahan panggilan alamnya.
"Nggak mungkinlah. Gue tau banget kalo Baruna nggak pernah telat bayar listrik." sambar Ishak membuat Baruna menciut.
"Udah deh, Bar. Jangan main-main dong. Gue mau ber*k nih." kata Awang tidak sabar, lalu menerobos masuk ke kamar mandi. Namun, Baruna berusaha menghalang-halanginya.
"Mau kemana lo, Bang?!"
"Woi! Gue cuman mau eek!"
"Lo berdua kenapa sih...?" tanya Ishak heran, melihat tingkah Baruna dan Awang.
"Susah banget sih numpang ook di sini?" gumam Karma tak habis pikir.
"Woi, Bang! Pegangin Barunanya! Tahan tuh anak sampe gue selesai buang hajat!"
Mendengar perintah itu, Karma dan Ishak segera menahan Baruna erat.
"Woi! Bang! Jangan!" teriak Baruna dramatis.
Dan pada akhirnya... saat Awang membuka pintu kamar mandi....
Aaaaaaarrrrrrghhhhhhhh!!!
Karma menutup mulutnya karena kaget melihat pemandangan itu.
"Yumi?! Ngapain lo di sini?!" tanya Ishak tak menyangka dengan apa yang baru saja dilihatnya.
"Woi! Elo?!" seru Awang melebarkan matanya tak percaya. "Lagi ngapain lo, hah?"
"Gue baru selesai cuci muka!" jawab Yumi sama kagetnya.
"APA?!" seru Karma, Ishak dan Awang bersamaan sambil melihat ke arah Baruna penuh tanya.
"Apa?" tanya Baruna, menatap mereka bergantian.
"BARUNA, APA YANG LO LAKUIN SAMA YUMI?!" teriak Awang heboh.
"Jangan mikir yang aneh-aneh deh! Gue cuman numpang tidur di sini!" sahut Yumi yang sama hebohnya.
"HAH?!!" teriak Awang lagi, benar-benar tidak menyangka. "Ngapain lo biarin Yumi tidur di apartemen lo, Bar?! Kalo Om Udin tau, gimana?! Terus, lo juga mau cari gara-gara sama Tedjo?!" tanyanya sampai lupa dengan panggilan alamnya.
Yumi terdiam saat Awang menyebutkan nama Tedjo.
"Yumi... lo mau gue laporin ke Om Udin sama Tedjo kalo lo tidur di sini?" tanya Awang dengan intonasi menggoda.
"Jangan cepu lo." kata Yumi makin panik.
"Woi, Bang... gue nggak ikut tidur di sini kok. Tadi malem Yumi tidur sendirian. Gue baru dateng pagi tadi. Dasar nih anak...." Baruna kemudian membuka mulut.
"Masa sih? Terus, kenapa lo berdua nggak tidur bareng aja? Kalo kayak gitu kan, ada bahan gosip ntar." kata Awang dengan entengnya.
"Woi! Bener-bener lu ya, Bang!" seru Baruna dan Yumi bersamaan.
"Hehe.... Bercanda gue. Gue nggak mungkin laporin lo berdua." kata Awang serius. "Yumi... lo hati-hati aja, kata gue mah. Di sini ada yang suka sama lo...."
Yumi hanya menatap Awang bingung.
"Woi, Bang." Baruna menggeram sambil menatap tajam ke arah Awang.
Tanpa dijawab Awang, Baruna malah memberikan respon yang membenarkan perkataannya.
"Sekarang lo tau kan, Yum, siapa orangnya." goda Awang, membuat Yumi melebarkan matanya tak percaya.
Baruna kemudian mempiting kepala Awang.
"Bilang ke Yumi, kalo lo cuman bercanda, Bang." geram Baruna.
"Hahaha...." Ishak tertawa keras melihat kelakuan dua sahabatnya itu.
"Berantem mulu dah nih dua buntal...." gumam Karma sambil terkekeh geli sampai gusinya terlihat dan pundaknya berguncang.
"Woi! Buntelan kelinci! Tangan gue sakit, woi! Terus juga, gue mau ber*k!"
"Hahaha...."
...•••...
"Oke deh, kita cabut dulu dah." pamit Ishak mewakili Karma dan Awang.
"Lah? Buru-buru banget?" tanya Yumi.
"Lo semua dateng ke sini cuman mau bikin ribut aja?" tanya Baruna tak habis pikir dengan para abangnya.
"Ya, mau begimana lagi. Ceritanya kita cuman muncul buat mergokin lo berdua doang." jelas Awang tak tahu untung.
"Siapa sih yang bikin nih cerita." gumam Karma.
"Ya udah deh. Kita pulang ya." pamit Ishak lagi.
"Nih adegan bikin gue berasa jadi kura-kura ninja." ucap Karma melantur.
"Sama kalo gitu, Bang!" sambar Awang membuat Karma merotasikan bola matanya malas, tapi terlihat menggemaskan di mata Awang, Ishak dan Baruna.
"Oke. Kali ini kita beneran cabut." pamit Ishak sekali lagi.
Kemudian Karma, Ishak dan Awang bergegas pulang.
...•••...
Pukul 20:19....
Tedjo menatap ke arah pintu apartemen Baruna dengan perasaan sedih dan bersalah.
Sudah seharian Yumi tidak pulang ke rumah, dan hal itulah yang membawa Tedjo ke sana setelah Baruna memberitahu dimana keberadaan gadis itu.
Tedjo masih merenung, mengumpulkan keberanian untuk menampakkan dirinya di depan Yumi. Ia menghela napas panjang dan dalam, lalu memaksakan diri untuk menekan bel apartemen Baruna.
"Iya!" Suara Baruna dari balik pintu sudah terdengar. "Bentar!"
"Lah? Bang Tedjo? Kenapa nggak langsung masuk aja?" tanya Baruna heran. "Abang kan tau passwordnya."
Mendengar Baruna mengatakan itu, Yumi spontan menoleh ke arah pintu dan mendapati Tedjo berdiri di sana.
"Masuk dulu, Bang." ajak Baruna, tapi Tedjo malah mematung. "Lo nggak mau masuk, Bang?"
Setelah ragu beberapa detik, Tedjo akhirnya melangkah masuk. Begitu ia masuk, ia melirik ke arah Yumi dengan didera rasa bersalah.
"Abang ke sini mau jemput Yumi ya?" tanya Baruna langsung ke intinya.
Yumi memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia belum bisa berlama-lama melihat Tedjo. Namun sejujurnya, ia memang menunggu kedatangan laki-laki itu untuk menjemputnya.
Namun, jawaban Tedjo di luar harapannya.
"Nggak kok. Gue ke sini cuman mau masak seblak bareng lo."
Yumi mendengus miris, begitu menyadari Tedjo menenteng kantong kresek yang berisi bahan-bahan membuat seblak.
"Hah? Mendadak banget? Tumben mau masak bareng gue? Biasanya lo beli aja tuh mie goreng, Bang. Ribet lo bilang kalo masak dulu." Baruna makin bingung dengan sikap Tedjo malam itu.
"Gue...."
Belum sempat Tedjo menyelesaikan kalimatnya, Yumi tiba-tiba membuka suara.
"Baruna... gue ke kamar ya."
Setelah mengatakannya, Yumi berlalu begitu saja, meninggalkan Tedjo dan Baruna yang sama-sama bengong.
Tedjo menatap muram bayangan Yumi.
Sementara Baruna sudah beralih menatap lama ke arah Tedjo. Kemudian senyum perlahan mengembang di wajah tampannya, menyadari maksud kedatangan hyungnya.
"Ayo, Bang. Kita masak seblak spesial. Lo mau bujuk Yumi pake makanan, kan? Kebaca gue mah." goda Baruna sambil tersenyum jahil, lalu merangkul Tedjo dengan gemas.
"Jangan ngerusuh lo...." rengek Tedjo sambil berusaha melepaskan rangkulan Baruna.
"Gue mau bantuin Bang Tedjo buntal...."
"Woi! Sejak kapan gue jadi buntelan kayak lo, hah?!"
"Jangan tereak, woi!"
...•••...
...
...