
...•••...
Setibanya di sekolah, Tedjo langsung membawa Yumi untuk bertemu kepala sekolah.
"Yumyum?" Tedjo mulai bicara.
"Paan?"
"Lo pasti bakal betah sekolah di sini." kata Tedjo.
"Kayaknya gue bakal depresi sekolah dimari." kata Yumi hanya menatap lurus ke arah lorong yang mereka lewati.
"Depresi apanya? Lo bakal seneng karena tiap hari ketemu sama gue." kata Tedjo.
"Bahkan kalo gue nggak sekolah di sini juga gue ketemu lo saban hari di rumah! Nggak betah gue lama-lama bareng lo!" kata Yumi kesal membuat Tedjo tertawa.
"Jangan ngomong kayak gitu dong lu. Ntar kena batunya baru tau rasa lo. Kan lo udah cinta mati banget sama gue." goda Tedjo membuat Yumi membuang muka.
"Lo ngomong apaan sih? Lo pikir gue peduli gitu?." kata Yumi.
"Hahaha. Lo udah gila ya?"
"Iya! Gue gila! Terus kenapa lo mau nikah sama cewek gila kayak gue?!" tanya Yumi.
"Lo penasaran sama alasan gue?" goda Tedjo lagi.
"Lupain aja." Yumi menyerah.
Tedjo tak berhenti menggoda Yumi yang sudah sebal minta ampun.
"Tedjo?"
"Hm, apaan?"
"Ada terong di muka lo." kata Yumi mengada.
"Emang iya?" Tedjo mengusap-usap kasar wajahnya.
"Hahaha. Muka lo lucu banget. Woi, udah! Gue mau ngompol nih gegara ngetawain lo." Yumi mencoba menghentikan Tedjo yang terus menampar wajahnya. "Terong kok di muka? Terong tuh di—"
"Tedjo!!!" Tiba-tiba muncul seorang cowok di samping Tedjo.
Yumi mengernyit. Menurutnya, wajah cowok itu mirip dengan Embun, adik Tedjo.
"Bang Karma? Ada apa?" tanya Tedjo cukup kaget.
"Pak Budi manggil gue." kata Karma, cowok berkulit putih pucat itu.
"Terus apa urusannya sama gue? Dia manggil lo bukan manggil gue. Lupa lo nama lo sendiri, Bang?" kata Tedjo tak habis pikir dengan Karma.
"Dengerin dulu. Gue belum selesai ngomong. Gue minta lo nemenin gue." kata Karma.
"Nggak bisa gue, Bang. Gue lagi nemenin adik kecil ini~" kata Tedjo sambil merangkul Yumi.
Yumi menginjak kaki Tedjo tapi tidak kena.
"Woi, paan sih!" seru mereka berdua.
Karma bingung melihat mereka.
"Kalau gitu sekarang Pak Budi juga manggil lo tuh. Ayo, cepetan bege." kata Karma enteng.
"Sekarang?" tanya Tedjo terkejut dengan perubahan naskah Karma.
"Lo kira tahun depan? Lawak lu." kata Karma.
"Lo berdua masih lama sesi tanya-jawabnya?" tanya Yumi tak sabaran mendengar perdebatan itu.
"Oh iya. Gue baru lihat lo. Lo murid baru?" tanya Karma pada Yumi.
"Iya. Cowok jelek ini yang maksa gue sekolah di sini." jawab Yumi.
Tedjo melirik tajam.
"Lo pasti betah sekolah di sini." kata Karma ramah.
"Apa gue bilang." ujar Tedjo bangga.
"Apaan sih lo!" seru Yumi.
"Oh iya, Bang. Ini Yumi. Calon—"
Tedjo berhenti bicara saat Yumi mencubit lengannya.
"Aouw! Calon wibu~" lanjut Tedjo asal.
Yumi tersenyum kikuk.
Karma terkekeh. "Hai, gue Karma." kata Karma. "Karma yang siap dateng ke elo, kalo lo buat kejahatan."
"Lo bisa manggil dia Bang Karma. Jangan Bang Kurma." kata Tedjo.
"Iya, iya. Lo pikir gue bego apa?" balas Yumi.
"Emang bego kan aslinya?" goda Tedjo sambil menyeringai.
Yumi kembali menatap ke arah Karma dan tersenyum ramah.
"Hai, Bang Karma. Kenain, gue Yumi."
"Yumyum jelek." tambah Tedjo.
"Woi!"
"Gue pinjam Tedjo bentar ya, Yumyum." goda Karma ikut-ikutan memanggil Yumi dengan sebutan Yumyum.
"Bawa aja deh, Bang. Kalo bisa nggak usah munculin lagi tuh orang depan muka gue." kata Yumi sambil melirik Tedjo dengan sinis.
"Woi!" seru Tedjo.
"Nggak deh, makasih. Gue nggak butuh-butuh amat." kata Karma enteng.
Tedjo terkejut mendengarnya.
"Heh, lu berdua! Kenapa sensitif banget sih kayak tespek?" kata Tedjo.
Karma menarik paksa Tedjo.
"Hush, hush!" Yumi tersenyum senang sambil melambaikan tangan.
"Gue nggak mau ikut lo, Bang! Lepasin gue woi!!!"
Tedjo berontak tapi Karma bisa membawanya pergi meninggalkan Yumi sendiri di lorong.
"Yumi! Gue bakal nyamperin lo lagi! Tungguin gue!" seru Tedjo.
Yumi hanya mendengus.
"Males gue nungguin lo. Lagian gue bisa kok nyari ruangan kepsek sendiri." gumam Yumi.
Tapi saat akan melangkah, tiba-tiba saja bola basket terbang ke arah Yumi.
Spontan, Yumi langsung mengelak dengan merunduk.
Seorang cowok tiba-tiba menghampirinya dan mengambil bola basket itu.
"Lo nggak apa-apa?" tanyanya.
Yumi seperti tersihir saat bertatapan dengan cowok itu. Ia bungkam.
"Lo nggak apa-apa?" ulangnya sambil mengayunkan tangannya di depan wajah Yumi.
"Ganteng banget... keren...." batin Yumi.
"Lo nggak apa-apa, kan?" ulangnya lagi berusaha menyadarkan Yumi yang melamun.
"Iya! Gue nggak apa-apa kok." jawab Yumi sambil melemparkan senyum kikuk.
"Maafin gue ya. Gue nggak sengaja tadi." kata cowok itu sopan.
Yumi hanya mengangguk. "Iya, santai aja."
Cowok itu menatap Yumi bingung.
"Lo murid baru ya? Gue belum pernah ngelihat lo sebelumnya." tanyanya.
"Iya. Baru aja gue pindah hari ini."
"Terus lo mau kemana sekarang?"
"Gue harus ke ruangan kepala sekolah."
"Kalo gitu gue bakal nganterin lo. Boleh, nggak?"
"Boleh."
Yumi dan lelaki itu berjalan beriringan. Wajah Yumi jadi memanas dan memerah.
Tak ada dari mereka yang memulai pembicaraan. Mereka sama-sama malu.
Setelah sampai di depan pintu ruangan kepala sekolah, cowok itu langsung pamit.
"Ini ruangannya. Kalo gitu gue balik main basket lagi. Dadah."
"Anu... gue boleh tau nama lo nggak?" tanya Yumi tanpa melepaskan pandangannya dari cowok tampan itu.
"Baruna. Nama gue Baruna." jawab Baruna sambil tersenyum manis.
Setelah itu, Baruna berlalu pergi sambil melambaikan tangan pada Yumi.
Yumi membalas lambaian tangannya.
"Baruna, gue suka sama lo." batin Yumi.
...•••...
Ruangan kepala sekolah!
"Kelasmu di satu A." ujar kepala sekolah yang kerap dipanggil Pak Bos itu.
"Woi, Yumyum!" Tiba-tiba Tedjo masuk ke ruangan membuat Pak Bos dan Yumi tersentak kaget.
Tedjo nyengir sambil duduk. "Saya nggak buat onar kok, Pak Bos. Saya cuman mau nemenin Yumyum di sini."
"Nggak perlu. Dia bukan anak kecil lagi." balas Pak Bos.
Tedjo menghela napas. "Ya udah. Gue nunggu di luar ya." kata Tedjo pada Yumi.
Yumi dan Pak Bos hanya bengong melihat kelakuan Tedjo.
...•••...
"Minta tolong jagain Yumyum ye semua pade! Soalnya dia agak ceroboh anaknye!" seru Tedjo di depan kelas membuat Yumi malu.
Sementara orang yang dimintai tolong oleh Tedjo tadi, hanya saling tatap dan mulai memandangi Yumi.
Bisa-bisanya Tedjo ikut masuk ke kelas dan menemani Yumi sebentar lalu pergi.
Setelah Yumi memperkenalkan dirinya di kelas baru, Yumi pun duduk di bangku yang kosong.
Selang beberapa saat, bel istirahat pun berbunyi.
Dan dari pelajaran berlangsung tadi, dua orang makhluk hidup tidak berhenti memandangi Yumi dengan tatapan sinis. Ini semua karena Tedjo.
Sekarang mereka mulai menghampiri Yumi.
"Ngapain?" tanya Yumi sebelum mereka angkat bicara.
"Lo nggak penasaran apa?" tanya cowok yang wajahnya imut.
"Penasaran kenapa gue?" Yumi tak mengerti.
"Penasaran buat kenalan sama kita." sambung cowok lainnya yang auranya sehangat matahari.
"Nggak tuh. Gue udah punya banyak teman kayak kalian di Surabaya." jawab Yumi malas.
"Bedalah, Neng. Teman lo di Surabaya pasti nggak seseksi kita." kata cowok imut yang membuat cowok matahari mengangguk.
"Seksi sama hot sama kan ya?" tanya Yumi.
"Maksud lo apaan?" Dua cowok itu ternyata tidak mengerti.
"Maksud gue, teman gue di Surabaya tuh hot banget dibandingin lo berdua. Hot banget~" kata Yumi sambil membunyikan mulutnya dengan lidah. "Tlokk...."
"Affah iyah?" kata si cowok imut.
"Gini aja deh. Kita mau nunjukin sesuatu ke elo." kata si cowok matahari.
"Apaan?"
Kemudian, si cowok matahari dan cowok imut itu menari dengan lucunya.
"Lo tertarik kagak temenan sama kita?" tanya cowok matahari lagi.
Yumi bengong.
"Udah woi udah! Apa kayak gini cara kenalan di Jakarta? Kenalin aja nama lo berdua sama gue!" seru Yumi kesal.
"Woaaah... ternyata lo suka neriakin orang ya?" kata si cowok imut.
"Heh, sembarangan lo!"
"Oke deh. Ehem... gue Ishak. Lo bisa manggil gue Bang Ishak." kata cowok matahari.
"Kok Bang Ishak sih? Kita kan sekelas."
"Ceritanya panjang." Ishak nyengir.
Yumi tersenyum kikuk.
"Terus... yang pendek ini siapa?" tanya Yumi terlalu jujur.
Si cowok imut itu langsung membelalakkan matanya karena kaget dengan kata-kata Yumi yang gamblang.
"Lo ngatain gue pendek? Denger. 174,3 cm tuh udah bisa dibilang tinggi." kata si cowok imut tidak terima.
"Tapi itu emang pendek buat seukuran cowok." balas Yumi.
"Iya, iya deh. Lo si paling bener. Tinggi kita sama." Cowok imut mengakuinya.
"Ya udah. Cowok 174,3 cm nama lo siapa?" tanya Yumi.
"Gue Awang. Panggil aja gue Bang Awang si paling tinggi."
"Hah? Lo juga abang-abangan gue? Ngapain sih lo berdua nyuruh gue manggil abang? Udah kayak abang-abang angkot aja. Oh, gue tau nih. Jangan-jangan lo berdua tinggal kelas? Hahaha... pantes aja lo pada maksa-maksa buat temanan, ternyata lo berdua nggak punya teman kan di sini. Kasian banget dah."
Ishak dan Awang saling pandang, memberi kode siapa yang bisa menceritakannya pada Yumi.
"Kok diem? Lo berdua berak dalem celana ya?" Yumi menghela napas berat.
"Lo bener...." kata Awang.
"Kalian eek di celana?" potong Yumi kaget.
"Bukan itu ege. Tapi, lo bener soal kita yang tinggal kelas." kata Awang.
"Hahaha... nggak nyangka gue tebakan gue bener. Asli dah."
"Meskipun gitu, kita punya alasan kok kenapa kita berdua tinggal kelas." kata Ishak
"Emang apa alasannya?"
"Gue sama Awang sibuk kerja buat nambah-nambah penghasilan. Adik-adik kita masih pada sekolah." kata Ishak sedih membuat Awang mengelus dadanya.
"Gue pikir gue udah jadi orang yang paling menyedihkan di dunia." komentar Yumi.
"Maksud lo?" tanya Awang.
"Gue di jod...." Yumi terdiam karena hampir keceplosan.
"Jod? Jod apa?" tanya Ishak.
"Jo... hm... Jodha Akbar. Ya, itu! Jodha Akbar!" Yumi nyengir.
"Lawak lu. Temenan yuk." ajak Ishak.
Yumi mengangguk. "Ayo aja dah kata gue!"
"Oh iya, sejak kapan lo sahabatan sama Tedjo?" tanya Ishak
"Lo berdua tau dari mana?" tanya Yumi.
"Oh... dia belum cerita ya? Bener-bener dah si Tedjo. Jadi gini, Tedjo tuh juga sahabat kita berdua. Dia sering ceritain lo sama kita. Dia bilang ada cewek aneh yang sering neriakin dia sama bikin kesal." kata Awang.
"Awas aja lo, Tedjo~" Yumi geram.
"Terus sejak kapan lo pada sahabatan?" tanya Ishak.
"Gue nggak tau pasti sih. Yang jelas, gue sama Tedjo tuh udah sahabatan sejak kita kecil. Dan setelah gue pindah kota, kita jadi nggak bisa ketemuan. Tapi, sekarang gue ketemu lagi sama dia. Terus Tedjo malah bakal jadi—"
Yumi berhenti bicara. Hampir saja keceplosan lagi.
"Bakal jadi apaan?" tanya Ishak penasaran.
"Hehehe...." Yumi hanya nyengir.
Ishak dan Awang cengengesan.
"Lo cakep pas lagi senyum. Pantes aja Tedjo suka sama lo." ujar Awang.
"Hah? Tedjo suka sama gue? Terus lo berdua percaya gitu aja? Mana mungkin dia suka sama gue. Dia tuh kan banyak bercandanya." sangkal Yumi.
Ishak dan Awang hanya saling pandang.
"Yum, kita mau nunjukin lo seisi sekolah. Buru." ajak Ishak.
Kemudian, Ishak dan Awang mengajak Yumi berkeliling area sekolah.
"Lo berdua kira gue bego apa gimana sih? Gue jelas-jelas taulah kalo toilet tuh buat buang aer! Emang gue nggak punya toilet apa di rumah?!" seru Yumi gemas setelah melihat Ishak dan Awang yang seperti tidak serius memperkenalkan isi sekolah padanya.
"B-bukan begitu maksud kita, Yum. Kita cuman mau ngajakin lo jalan-jalan doang kok." bela Ishak.
"Tapi, kasih tau aja hal-hal yang penting."
"Oke!" Ishak dan Awang mengangguk.
Mereka berjalan lagi.
"Yumi, maapin nih sebelumnya." kata Awang.
"Kenapa tiba-tiba minta maaf lo? Jadi nggak enak gini perasaan gue."
"Soalnya kita nggak kepikir kalo lo tuh cewek yang bar-bar." Awang berterus-terang. Ishak hanya meneguk ludahnya takut.
"Kenapa lo berdua mikir begitu?" tanya Yumi.
"Soalnya kan Tedjo tuh suka sama cewek yang lembut dan waras." ledek Awang.
"Oh... jadi maksud lo, gue kasar gitu? Ngomong yang jelas! Jangan ngang-ngeng-ngong doang lo pada!" seru Yumi.
"Maksud Awang nggak gitu kok, Yum. Iya kan, Wang?" Ishak gemetar.
"Nggak usah boong lo pada." kata Yumi jengkel.
Sedangkan Ishak dan Awang hanya nyengir.
"Yum, lo mau es krim kagak? Gue traktir." tawa Ishak.
"Bang Is nggak mau ngajak gue juga?" tanya Awang.
"Ogah." Ishak dan Yumi berjalan duluan meniggalkan Awang.
"Bang Is, traktir gue juga dong. Kalo perlu transfer aja!" rengek Awang.
Yumi dan Ishak tertawa mendengar rengekan Awang. Mereka makin ingin menggoda Awang dengan berlari meninggalkannya.
"Tungguin gue, woi! Parah ninggalin lo pada! Nggak setia kawin lo berdua!"
...•••...