SUAMI DARI MARS

SUAMI DARI MARS
Kucing-kucingan



...•••...


"Ngapain lo nyuruh gue ke sini?" tanya Yumi saat menemui Tedjo di lapangan basket. Laki-laki itu sedang sibuk men-dribble bola, lalu memasukkannya ke ranjang.


"Gue udah chat elo tadi. Alasannya ada di situ." kata Tedjo.


"Tinggal ngomong doang, ribet banget sih lo." kata Yumi masih bersabar.


"Gue mau minjem kamus bahasa Inggris." jawab Tedjo enteng.


"Ya Allah, Djo. Kenapa nggak lo bilang pas di rumah sih? Gue kan bisa...." Yumi berhenti bicara begitu mengingat sesuatu.


"Gue udah bilang sama lo tadi pagi di rumah." tanya Tedjo merasa menang.


Saat berangkat sekolah, Tedjo memang ada mengatakan pada Yumi jika ia ingin meminjam kamus bahasa Inggris.


Yumi tersenyum terpaksa untuk menutupi kesalahannya.


"Hehe... gue baru ingat kalo ada cowok yang neriakin gue tadi pagi." kata Yumi geram.


"Bawa, nggak?" tanya Tedjo.


"Kagak."


"Kok nggak dibawa sih? Ya Allah, Yumyum."


"Heh! Kalo lo inget tadi pas di rumah, kenapa nggak sekalian lo bawa, ege?!" tanya Yumi kesal.


"Oh iya... lupa gue." Tedjo nyengir.


"Gini nih kalo pas pembagian otak, lo nggak dateng." rutuk Yumi.


"Gue dateng kok. Cuman ada orang yang ngantri di depan gue terus nyuri tuh otak." balas Tedjo asal.


Tiba-tiba, bola basket yang sedang Tedjo mainkan menggelinding ke arah Yumi.


"Kasih ke gue bolanya." perintah Tedjo.


Yumi hanya diam sambil memasang muka kesal.


"Siniin, woi." ulang Tedjo.


Dan dengan perasaan tak bersalah, Yumi menendang bola basket itu menjauh dari Tedjo kemudian pergi begitu saja.


Tedjo terbelalak. "Woi!"


"Apa lo?!"


"Wah... nantangin tuh cewek." gumam Tedjo pasrah.


...•••...


Yumi berjalan menuju kelasnya sambil menghitung bulu domba dalam pikirannya.


Dan ketika Yumi sibuk memikirkan semua itu, seorang laki-laki mencegat jalannya.


Di hadapannya muncul Baruna sambil menatap Yumi tajam. "Yumi."


"Woah!" Yumi terkesiap, lalu nyengir sambil melambaikan tangannya dengan gugup. "Kenapa, Run?"


Di saat Yumi tidak siap bertemu dengan Baruna, tapi kenapa Tuhan malah menentukan lain.


Otot kaki Yumi langsung lemas. Entah apa yang akan Baruna lakukan padanya sekarang. Yumi hanya bisa pasrah.


Tapi tanpa di duga-duga, seketika itu pula Tedjo, Karma, Ishak, Awang dan Caca muncul di belakang Baruna sambil mengatur formasi. Tapi yang tak kalah mengejutkannya, ayah Yumi ada di antara formasi itu.


Begitu Baruna memberi aba-aba, mereka bertiga mulai menari sambil bernyanyi.


Bukannya terpana, Yumi malah tercengang dengan fenomena yang ia lihat sekarang. Bahkan beberapa kali Yumi mengerjapkan matanya tak percaya.


Apa-apaan nih?!!


Mereka bertujuh menari dan menyanyikan lagu Eeeaa milik Coboy Junior di depan Yumi.


"Hey kamu. Hatiku dag dig dug saat aku melihatmu~" Awang mulai bernyanyi sambil menari dengan gerakan indahnya.


Sekarang, beralih ke Pak Udin yang bernyanyi. "Jatuh di hadapanku, buat aku buru-buru mendekatimu~"


"Langsung ku tanyakan apa kau baik saja~" Tedjo mengerlingkan matanya pada Yumi, membuat gadis itu terbius oleh mata tajam milik Tedjo.


"Kau bingung!" seru Baruna, Karma, Ishak, Awang, Caca dan Pak Udin.


"Memangnya aku jatuh dari mana?" lanjut Tedjo.


"Kau bidadari jatuh dari surga di hadapanku eeeaa~ Kau bidadari jatuh dari surga tepat di hatiku eeeaa~ So baby please be mine, please be mine oh mine eeeaa~ Karena hanya aku sang pangeran impianmu~ Eeeaa eeeaa eeeaa eeeaa~" giliran Baruna yang bernyanyi. Ia menatap Yumi dengan senyuman manis.


"Hei kamu, hatiku dag dig dug saat aku melihatmu~ Ku tarik panjang nafasku, mantapkan langkahku untuk mendekatimu~" Ishak mulai bernyanyi.


"Langsung ku tanya maukah kamu jadi pacarku~" Tedjo bernyanyi.


"Kau bingung!” seru semua orang kecuali Tedjo.


"Kenapa kamu suka sama aku?” Tedjo bernyanyi.


"Jawabannya!" seru semua orang sekali lagi.


Semua orang akhirnya ikut bernyanyi. "Kau bidadari jatuh dari surga di hadapanku eeeaa~ Kau bidadari jatuh dari surga tepat di hatiku eeeaa~ So baby please be mine, please be mine oh mine eeeaa~ Karena hanya aku sang pangeran impianmu~ Eeeaa eeeaa eeeaa eeeaa~"


"Andai kamu jadi gula, aku pasti semutnya~" Karma dengan gaya swag-nya juga ikut dengan rencana mereka agar Yumi tidak salah paham lagi dengan Baruna. Tapi, apa hubungannya dengan semua ini?


"Kan ku seberangi lautan samudera~"


"Hei, hei, baru kali ini aku jadi galau gini~" Ishak, Caca dan Pak Udin sangat senang menari. Jadi, dia hanya ikut-ikutan saja.


"Cepat terima aku, cinta pertamaku~" Tedjo dan Baruna tersenyum manis ke arah Yumi yang masih termangu melihat pemandangan itu.


Mereka kemudian bernyanyi bersama dengan tarian yang serempak.


"Kau bidadari jatuh dari surga di hadapanku eeeaa~ Kau bidadari jatuh dari surga tepat di hatiku eeeaa~ So baby please be mine, please be mine oh mine eeeaa~ Karena hanya aku sang pangeran impianmu~ Eeeaa eeeaa eeeaa eeeaa~ Ini lagu gombal tuk dapetin kamu, ini lagu gombal tuk dapetin kamu~"


Pertunjukkan selesai.


Baruna kemudian menghampiri Yumi dengan wajah bangga.


"Apaan nih?" tanya Yumi begitu Baruna ada di hadapannya.


"Hah? Lo nggak liat tadi?" tanya Baruna tidak habis pikir.


Yumi menggeleng.


"Kita lagi cosplay jadi Ijat (Upin-Ipin)." sambung Awang karena kesal.


"Gue pikir kita lagi cosplay jadi Opah (Upin-Ipin)." kata Tedjo dengan wajah bingung.


"Yumi, hm... gimana?" tanya Baruna dengan mata yang berbinar.


Yumi tercenung. Apa ini artinya...? Baruna...? Apa dia sedang menyatakan perasaannya pada Yumi?


"Gue bakal jawab dua hari lagi...." ujar Yumi gugup.


Entah kenapa, semua orang yang mendengar perkataan Yumi tiba-tiba mengerutkan alisnya.


"Maksud lo, kita harus nunggu dua hari lagi gitu?" tanya Tedjo heran sama seperti semua orang di sana.


"Iya. Kan gitu biasanya." jawab Yumi lagi.


"Kita cuman pengen jawaban lo doang, Yum." Ishak mulai frustasi.


"Ngapa buru-buru amat sih?" tanya Yumi ikut tak mengerti.


"Kita cuman mau tanya ke elo gimana penampilan kita, Yum!" Awang sudah sangat geram.


"HAH?!!" Yumi terbelalak. Ia tidak menyangka kalau dirinya sudah salah paham begini. Ia pikir Baruna ingin menyatakan... ah sudahlah!


"Bagus, bagus aja menurut gue." Yumi langsung menjawabnya untuk menutupi rasa malunya yang sudah sampai ke tulang.


"Tapi, ngapain Babeh gue ikut-ikutan di sini? Kalian mau bikin boyband, tapi kok ngajak orang tua gue sih?!" tanya Yumi untuk mengalihkan pembicaraan.


"Gua enih masih muda ya. Lagian gua kemari gegara Kepsek kalian manggil gue. Sensi banget lu jadi anak gua, Yum." jawab Pak Udin.


"Ya udah deh, biar cepet, lo berdua damai-damai aja deh." kata Tedjo kembali ke tujuan utama mereka menari di depan Yumi tadi.


"Hah? Maksudnya?" tanya Yumi bingung.


"Baruna nyuruh kita semua dance dan nyanyi kayak gini supaya lo nggak nganggep dia lemah. Baruna tuh bukan korban buli orang-orang yang lo liat kemaren." jelas Tedjo.


"Kok lo belain Baruna sih?" Yumi cemberut.


"Ya udah deh, Yum, gini aja. Sebenarnya Baruna tuh tukang bulinya. Gue kena buli dia semalem." kata Awang berniat membantu Baruna agar tidak di anggap lemah. Tapi sepertinya, pertolongan ini salah.


"Gue juga korban." kata Ishak berusaha serius.


"Iya, sama." kata Caca dengan wajah yang dibuat seserius mungkin.


"Hah? Lo juga dibuli?" tanya Yumi pada Caca.


"Bukan gue. Tapi, Pak Bos. Kemarin Baruna bawa gunting ke sekolah, terus mangkas alis Pak Bos sampe gundul." jawab Caca membuat Baruna bingung sendiri.


Yumi menatap Baruna dengan takut.


"Jangan tanya gua dah. Gua udah tua." kata Pak Udin saat Yumi melihat ke arahnya.


"...." kata Karma seadanya.


"Berarti yang dibilang Tedjo benar dong?" tanya Yumi ragu-ragu.


"Lo udah bilang apa sama Yumi, Bang?" tanya Baruna sambil menatap Tedjo penuh selidik.


Tedjo hanya nyengir.


"Lo mau nyubit pipi gue pake tang ya, Run?" Yumi ketakutan. "Nggak!"


Yumi berlari secepat kilat.


"Yumi, lo mau kemana?!" seru Baruna frustasi.


"Ini semua salah lo, Bang!" kata Baruna kesal pada Tedjo.


"Apa sih yang bener di diri gue ini? Semuanya aja salah." balas Tedjo santai.


...•••...


Siang ini benar-benar melelahkan, Baruna dan Yumi tidak habis-habisnya berlari kesana-kemari seperti kucing dan tikus.


Yumi berjalan mengendap-endap sambil berharap-harap cemas. Semoga ia tidak bertemu dengan Baruna lagi.


"Ini udah bahaya banget. Gue harus nelpon Babeh buat ngasih tau kalo gue nggak pulang hari ini, itu berarti gue udah ketangkep sama Baruna." gumam Yumi dengan napas ngos-ngosan. "Tapi, tadi kenapa Babeh pake ikut-ikutan segala sih ngedance sama geng Baruna?"


"Yumi!!!" Baruna berada di sekitar tempat Yumi bersembunyi. "Kenapa lo terus ngindarin gue sih? Keluar dong, Yum! Gue tau lo ada di sini! Gue mau ngomong sama lo!"


Yumi melihat ngeri ke arah Baruna yang terus mencarinya.


"Nggak. Dia pasti lagi ngejebak gue. Ya Allah... kenapa gue harus di hadapin sama situasi sulit kayak begini sih? Nggak, nggak, nggak. Gue nggak boleh nyerah. Hidup gue lagi dipertaruhkan sekarang." Yumi berdebat dengan dirinya sendiri.


"Aaaaaaarrrrggghhhhh!!" teriak Yumi tiba-tiba.


Bersamaan dengan detik itu, Yumi terbelalak saat melihat rambut panjang ada di pundaknya. Bodohnya Yumi, ia tidak menyadari jika kuncir rambutnya terlepas. Jadi, rambut panjang itu adalah rambut miliknya.


Baruna pun mengetahui keberadaan Yumi.


Yumi membekap mulutnya sendiri dengan tangannya. "Apa enih akhir dari hidup gue? Nggak. Gue nggak mau mati kocak. Yumi, ayo tunjukin ketangguhan lo sebagai wanita berotot!" batinnya sambil memasang wajah pura-pura berani.


"Yumi! Keluar nggak lo?! Gue uda tau lo sembunyi dimana." ujar Baruna.


Yumi mempersiapkan dirinya saat Baruna akan menghampirinya.


"Kabooooor!!!" Seketika Yumi keluar dari persembunyiannya.


"Woi! Yumi!" Baruna mengejar Yumi.


Akhirnya Yumi berhasil bersembunyi, tapi....


"ALLAHU AKBAR!"


Seseorang kaget melihat keberadaan Yumi sehingga membuatnya menyemburkan air yang baru saja diminum ke wajah Yumi.


Yumi mengusap wajahnya pasrah.


"Woi! Kenapa lo ada di toilet cowok?" tanya Tedjo pada Yumi gelagapan. "Mau ngintip gue ya lo?"


"Jangan berisik dulu lo." kata Yumi sambil memohon dengan suara pelan.


Seketika Tedjo memasang muka jahil dan berniat menggoda Yumi.


"Lo mau ngintip gue, kan? Ngaku lo. Lagian Lo kenapa sih pake ngintipin gue segala? Kan kita udah sekamar sekarang. Lo bebas mau ngapain gue kalo di kamar. Tapi kalo di sini, sori, gue nggak mau. Lo pikir gue cowok apaan." canda Tedjo.


"Siapa juga yang mau ngapa-ngapain lo. Tedjo... lo nggak bisa apa, diajak kerjasama buat kali ini aja?" suara Yumi terdengar frustasi.


"Lo lagi ngumpet dari Baruna?" tanya Tedjo mulai serius, membuat Yumi mengangguk cepat.


"Oh, gitu. Ya udah, gue bakal kasih tau Baruna kalo lo ada di sini." goda Tedjo sambil menurun-naikkan alisnya.


"Tedjo?!" kata Yumi geram.


"Apa, sayang?"


"Lo mau bantuin gue nggak sih?"


"Tergantung. Ada imbalannya atau nggak."


"Lo tega banget sih sama gue? Gue lagi kesusahan nih."


"Cepetan ngomong. Waktu gue nggak banyak."


"Gue ada ide." kata Yumi kemudian.


"Apaan?" tanya Tedjo.


Tedjo kemudian setuju dengan ide Yumi.


Sret!!!


Sejurus kemudian, Yumi keluar dari toilet laki-laki. Dan saat itulah, Baruna menemukannya.


"Yumi!" panggil Baruna membuat Yumi berlari kembali.


Kali ini Baruna tidak akan membiarkan Yumi lolos darinya. Dan benar saja, Yumi tertangkap.


"Yumi...?" panggil Baruna sambil menyentuh pundak Yumi.


Tapi, Baruna malah terbelalak begitu Yumi berbalik ke arahnya.


"Bang Tedjo?!" seru Baruna geram campur frustasi.


"Hai~" sapa Tedjo sambil tersenyum ramah.


"Kenapa Bang Tedjo jadi kayak Yumi?" tanya Baruna.


"Yumi yang nyuruh gue. Tapi, ada imbalannya sih."


"Imbalan apaan?"


"Ngerjain PR gue selama seminggu." jawab Tedjo. "Yumi nyogok gue begitu supaya gue mau ngelakuin ini."


"Kalo gitu gue bakal kasih pinjam PS lima gue asal Bang Tedjo mau ngelakuin sesuatu." Penawaran Baruna dimulai.


"Ya udah. Cepetan ngomong."


Tanpa pikir panjang, Baruna langsung mengatakan siasatnya pada Tedjo.


"Gimana, Bang? Mantap, kan?"


"Mantap, Bar."


...•••...