SUAMI DARI MARS

SUAMI DARI MARS
Tebar Pesona



...β€’β€’β€’...


awang.awang



β™‘ Disukai oleh karma_genius_ dan 721.989 lainnya.


awang.awang: With calon~ 😍 @_keluargaselamet.


Lihat semua 925.739 komentar.


baruna_k: Calon peserta ujian?


babeh_kece: Calon ibu-ibu PKK~


awang.awang: Calon ibu dari anak-anak gue dong.


_ishax: Berarti selama enih lo duda ya, Wang?


tedjo_uwu: Gue nggak mau adik gue deket-deket ama duda. Gue mau yang masih perjaka.


awang.awang: Lo pada ngomongin apa sih? Gue masih perjaka ya!


tedjo_uwu: Nggak percaya gue. Mana buktinya emang?


awang.awang: Kudu banget nih di sini...?


tedjo_uwu: Duh keliatan auroranya. 😏


karma_genius_: Lo nggak cocok sama Embun, Wang.


yumihim1: Embun kayaknya kepaksa dah.


acaca_unyu: Kita jadi ke cafe nggak sih, Bang?


_ishax: Wah... kayaknya lo lupa sama janji lo, Wang.


scooterxyz: Bakal gempar nih foto besok di sekolah.


yant0_anaklo: Kesempatan langka nih, Bang.


sumantoo2: Mereka pacaran? Semoga cepat putus deh.


_keluargaselamet: Kenapa kamu ngetag keluarga saya, Wang?


awang.awang: Maaf ya Om @_keluargaselamet. Itu karena Embun nggak punya akun Instagram pribadi. πŸ˜”


...β€’β€’β€’...


Cklek!!!


Pintu kamar Embun terbuka dan seseorang masuk setelahnya. Satu-satunya orang yang masuk tanpa izin itu adalah....


"Woi, Mbun!"


Tedjo yang datang dengan wajah kesalnya.


"Apaan sih, Mas?" sahut Embun malas. Kemudian kembali fokus dengan buku yang ada di tangannya.


"Maksud lo apaan, coba?" tanya Tedjo sambil menunjukkan foto Embun dan Awang di ponselnya.


Embun mengernyit sejenak. Fotonya tampak biasa saja. Kenapa Tedjo begitu heboh?


"Nggak ada."


"Woi, Mbun. Gue kagak mau ya punya adik ipar kayak Awang." kata Tedjo terus-terang.


Bla... bla... bla.... Tedjo mengungkapkan isi hatinya agar Embun memikirkan kembali perasaannya pada Awang, tapi Embun hanya menganggapnya angin lalu.


Heran.... Kenapa Tedjo begitu menolak Awang menjadi adik iparnya kelak? Apa dia cemburu karena Awang bisa begitu saja meluluhkan hati orang yang dicintainya?


"Emang kenapa sih? Bang Awang kan karismatik." kata Embun.


"Lo bilang orang kayak dia karismatik?" tanya Tedjo tak menduga kata-kata yang keluar dari mulut Embun. "Sadar lo!"


"Ya emangnya apa lagi? Cuman itu doang yang Bang Awang punya. Selebihnya dia sering jatuh dari kursi, julid terus tukang ghosting." kata Embun ada benarnya.


Tedjo menghela napas panjang. "Gue udah nggak percaya sama lo lagi, tau nggak. Lo abis makan apa sih? Jadi sengklek begini pikiran lo. Ya udah deh, jaga aja Awang baik-baik." Tedjo kemudian keluar dari kamar Embun untuk makan malam.


"Kok bisa sih gue punya abang modelan begitu? Harusnya gue yang dia khawatirin. Dasar alien." gerutu Embun.


...β€’β€’β€’...


Saat ini, Keluarga Selamet sedang berkumpul di meja makan untuk melakukan ritual makan malam mereka. Dan sepertinya, semua orang sedang melirik ke arah Embun. Gadis itu bisa merasakan tatapan intens itu meskipun dia sibuk melahap makanannya. Tapi, siapa yang peduli.


"Nduk?" panggil Pak Selamet kemudian.


"Ya, Pak." sahut Embun.


"Tedjo?" panggil Pak Selamet.


"Iya, Pak." sahut Tedjo yang sedari tadi menundukkan kepalanya.


"Apa terjadi sesuatu sama kalian? Kenapa dari tadi Bapak liat kalian diam aja?" tanya Pak Selamet khawatir.


"Nggak ada yang aneh dari si Embun. Dia kan biasanya emang diem begitu. Tapi, kalo si Tedjo... lu kenapa dah diem mulu?" tanya Pak Udin sambil menyuapi makanannya ke dalam mulut.


"Gue kesel sama lo." kata Tedjo sambil melihat Embun dengan sebal.


"Aa kenapa tiba-tiba kesel sama Embun?" tanya Bu Titin mulai bicara.


"Dia suka sama temen Tedjo, Mak!"


"Dasar alien cepu." batin Embun.


"Apa?!"


Semua orang terbelalak sambil menatap Embun yang sedang melahap makanannya dengan santai.


"Apa? Kenapa kalian ngeliatin Mbun begitu?" tanya Embun sambil menatap mereka bergantian.


"Lo... beneran pacaran sama Bang Awang?" tanya Yumi yang sama kagetnya.


"Nggak." jawab Embun dengan tenang.


"Embun sayang... bukannya Mbun udah setuju kalo mau dijodohin sama Bang Karma?" Bu Titin mengingatkan Embun tentang perjanjian mereka sebelumnya.


"Nggak mau. Embun lebih tertarik sama Bang Awang." tolak Embun.


"Lo udah kena peletnya si Awang ya, Mbun? Wah... pelet si Awang kuat banget." kata Tedjo tiba-tiba bersemangat. "Ntar gue tanyain dah."


"Hah? Lu mau ngapain, Djo, pake nanya-nanya pelet si Awang segala?" tanya Pak Udin curiga.


"Tedjo mau ngasih makan ikan pake tuh pelet, Beh." cengir Tedjo.


"Bukan begitu konsepnya, bulu dugong!" umpat Pak Udin tak mengerti dengan jalan pikir Tedjo.


"Hehe...."


"Embun?" panggil Pak Selamet dengan wajah serius.


"Iya, Pak." Embun menatap Pak Selamet ragu.


"Kalo kamu suka sama Awang... Bapak nikahin aja ya."


"APA?!!"


...β€’β€’β€’...


Besoknya di sekolah....


Yumi tak henti-hentinya melihat ke arah jam dinding di kelasnya. Ia sedang menunggu bel istirahat yang menurutnya sangat lama berbunyi.


Yumi tersenyum sumringah saat membayangkan perkedel yang lezat akan masuk ke mulutnya setelah kelas berakhir. Ia sudah tidak sabar menikmati perkedel buatan ibu kantin.


Teeeeeeeeeet... teeeeeeteeeeeeeet... Teeeteeeeeeeeeeeeeet....


Akhirnya, bel istirahat pun berbunyi.


Dengan sigap, seluruh siswa mulai berlari menuju kantin. Sepertinya mereka sedang mengincar perkedel yang sama dengan yang diharapkan Yumi. Bukannya apa-apa, perkedel itu sangat laris sehingga terlambat sedikit saja bisa tidak kebagian.


Sampai di satu momen, saat Yumi berada di garis terdepan....


"Akhirnya, setelah penantian panjang. Perkedel lezat... Yumyum datβ€”" Yumi terpaku begitu melihat kenyataannya.


Senyum Yumi lenyap seketika.


"Terjual habis... habis... habis... bis~ bis~ bis~"


Begitulah tulisan yang ada di etalase kantin itu.


"Ya Allah... hambamu ini pengen perkedel Bu Wawan." gumam Yumi kecewa.


Yumi pun kembali ke kelas dengan wajah murung.


"Gue udah berusaha, tapi kenapa nggak pernah berhasil? Siapa sih orang serakah yang sering ngabisin tuh perkedel tanpa nyisain satu buat gue!" omel Yumi frustasi.


"Lo kalah cepat pas ngerebut perkedel lagi, Yum?" tanya Caca yang sudah ada di depan Yumi, diikuti Ishak dan Awang.


"Kayaknya takdir gue bukan sama perkedel deh." kata Yumi dengan muka lesu.


"Woi, Yum. Lo ngomong apaan sih? Kalo lo suka sama tuh perkedel, ya lo perjuanginlah. Lo kudu nunjukin ke mereka yang udah beli tuh perkedel tanpa sisa, kalo lo bisa." kata Caca menyemangati Yumi.


"Ya elah.... Cuman perkedel doang sih, Yum. Lo bisa beli di warung depan sekolah atau nggak lo suruh aja bokap lo bikin perkedel." kata Awang enteng.


"Tapi, ini bukan tentang perkedel, Wang." kata Ishak kemudian.


Yumi menghela napas. "Gue masih bisa nyium baunya...." gumam Yumi.


Saat itulah, Baruna datang dengan memakan sesuatu yang berharga bagi Yumi.


"Ada apaan nih? Ngapain lo semua ngumpul di sini?" tanya Baruna dengan wajah bingungnya.


"Per... per... perkedel." racau Yumi sambil meraih perkedel yang sedang Baruna makan.


"Woi, Yum. Lo kenapa?" tanya Baruna bingung.


"Apa ini yang disebut dengan sindrom perkedel, Wang?" kata Ishak asal.


"Selama gue disekolahin Enyak, Babeh gue, gue nggak pernah tuh denger sindrom perkedel." kata Caca.


"Biar gue yang ngehentiinnya." kata Awang.


Haaap!!! Lalu ditangkap.


Awang langsung melahap habis perkedel milik Baruna begitu merampasnya.


"Woi, Bang! Ngapain lo makan perkedel gue?" tanya Baruna tak mengerti maksud Awang.


"Ini demi kebaikan Yumi, Bar. Dia baru aja gagal perjuangin perkedel di kantin." kata Awang dengan mulutnya yang masih penuh, tanpa merasa bersalah.


"Kenapa nggak bilang ke gue?" tanya Baruna.


"Hah? Maksud lo apaan?" tanya Yumi sambil menoleh ke arah Baruna.


"Bu Wawan kan biasanya bikin lima sesi buat bikin perkedel. Ini udah masuk sesi ke limanya." kata Baruna enteng.


"Hah? Yang bener?" tanya Caca kemudian. "Baru tau gue pake sesi-sesian segala."


"Itulah kenapa enyak gue ngasih nama gue Baruna jaya, jaya, jaya. Karena gue dermawan." kata Baruna percaya diri.


"Lo tau nggak, Bang, apa yang lagi gue pikirin sekarang?" bisik Awang pada Ishak.


"Malas mikir gue." jawab Ishak.


Awang menghela napas kasar. "Gue lagi mikirin Baruna."


"Hah?"


"Baruna kan kelinci. Kelinci tuh punya kaki panjang dan menawan. Larinya pasti secepat kilat." bisik Awang.


"Lah, iya." Ishak mengangguk-angguk. "Terus, apa hubungannya dah?"


"Dia mau lomba lari, Bang." jawab Awang.


"Baruna, lo harus ubah keadaan. Jangan kalah kayak gue." kata Yumi menyemangati.


"Setelah ini... bakal gue pastiin lo makan perkedel sepuasnya, Yum." cengir Baruna dengan menampilkan senyuman kelincinya.


Dan tiba-tiba saja, Tedjo masuk ke kelas Yumi dengan tampang beloonnya.


"Woi! Ngapain lo pada?" tanya Tedjo heboh.


"Baruna mau beliin Yumi perkedel Bu Wawan." jawab Ishak.


"Hah?!" Tedjo kaget. Jelas saja dia tidak mau kalah saing dengan Baruna. "Nggak bisa dibiarin nih. Gini aja dah. Gimana kalo lo lawan gue, Bar?"


"Maksud lo apaan, Bang?" tanya Baruna sambil mengernyitkan dahinya.


"Siapa yang cepat ngedapatin tuh perkedel. Dialah pemenangnya." jelas Tedjo.


"Apa-apaan?" Baruna tak mengerti maksud dan tujuan Tedjo.


"Tuh cowok dua mau ngapain?" gumam Yumi bertanya-tanya.


Sedangkan Ishak, Awang dan Caca hanya melongo melihat kelakuan Tedjo dan Baruna.


Tedjo memberi aba-aba. "Satu... dua... tiga...."


Tedjo berlari lebih dulu meninggalkan Baruna di belakangnya.


"Woi, Bang! Curang lu!" seru Baruna sambil menyusul Tedjo.


"Bukan curang tapi cerdik! Hahaha...."


"Beda, woi!"


Mereka terus berlari menuju kantin. Namun, tiba-tiba Baruna berlari dengan kencang sehingga bisa mengambil posisi pertama Tedjo. Dan saat ini, posisi Tedjo berada jauh di belakang Baruna.


"Woi, Bar! Berhenti lo!" perintah Tedjo.


"Buat kali ini gue nggak mau berhenti!" seru Baruna tidak mau kalah.


"Lo mau nyari muka depan Yumi? Nggak bakal berhasil lo karena gue yang bakal dapetin tuh perkedel!" seru Tedjo percaya diri.


"Bangun lo, Bang! Masih aja ngimpi lo!"


"Ngalah deh lo, Bar! Gue tau lari lo tuh kenceng banget! Jadi, biarin kali ini gue yang menang!"


"Coba kalahin gue kalo lo bisa, Bang! Hahaha...." Baruna menambah kecepatan larinya.


"Dikit lagi gue bakal ngalahin tuh kelinci bahenol...." gumam Tedjo sambil menatap nyalang ke arah Baruna.


Tekad Tedjo sudah bulat. Ia harus mengalahkan Baruna sekarang juga.


Detik berikutnya, Tedjo berhasil mensejajarkan posisinya dengan Baruna.


"Wah... lo nantangin gue, Bang. Oke! Gue bakal nunjukin ke elo siapa gue sebenernya!" seru Baruna dramatis.


"Emangnya siapa lo?! Lo yang sebenarnya tuh botak, hah?!" goda Tedjo sambil tersenyum jahil.


"Gue gondrong kok, Bang!"


"Hahaha...."


"Dikit lagi...." gumam Baruna. "Kemenangan gue udah depan mata."


Baruna segera melesat jauh dari Tedjo begitu melihat kantin yang sudah hampir dekat.


"Bu Wawan! Perkedel jumbonya satu!" seru Baruna kemudian, begitu sampai di depan etalase kantin.


"Maaf, Aa Baruna kasep. Sesi ke limanya udah selesai. Ibu nggak bisa buatin perkedelnya. Bahan-bahannya udah pada abis. Datang lagi besok ya." kata ibu kantin itu.


"Hah? Kok gitu sih, Bu?" tanya Baruna, tak menyangka jika ia tidak bisa meminta ibu kantin membuatkan perkedel untuknya hari ini. "Saya beliin deh bahan-bahannya, ya?"


"Aduh, A. Nggak bisa. Ibu udah capek hari ini buatin perkedel sampe lima sesi." ujar ibu kantin dengan wajah kelelahan. Baruna tidak mungkin terus memaksakan kehendaknya.


"Kok sesi ke limanya cepet banget sih abisnya, Bu?" tanya Baruna frustasi.


"Tadi ada bapak-bapak yang ngeborong semua perkedelnya. Katanya sih buat anak perempuannya. Tuh orangnya." jawab ibu kantin sambil menunjukkan ke arah seseorang itu.


Baruna menoleh ke arah yang ditunjuk ibu kantin itu.


"Om Udin?" gumam Baruna dengan mata terbelalak.


"Lo kalah, Bar. Bu, saya pesan perkedel sekantin-kantinnya sekalian." kata Tedjo yang baru saja sampai dengan napas ngos-ngosan.


"Woi, Bang! Buka mata lo, noh! Perkedelnya udah abis!" seru Baruna kesal pada Pak Udin tapi melampiaskannya pada Tedjo.


"Maksud lo?" Tedjo mengernyit heran.


"Om Udin yang udah ngeborong semua perkedelnya." Baruna menghela napas dalam-dalam untuk mengatur kembali napasnya yang memburu.


"Hah?!! Ngapain tuh om-om dateng ke sekolah kita, terus tiba-tiba ngeborong perkedel?" tanya Tedjo pada Baruna yang dibalas gelengan kepala.


"Kenapa... oh kenapa...?!" Baruna mengerang frustasi.


"Air... air.... Bu. Saya mau air." kata Tedjo begitu sadar jika sedari tadi ia haus.


Sementara itu, Yumi tampak senang karena perkedel jumbo yang dibelikan Pak Udin untuknya.


"Babeh aye emang hebat!" Yumi tersenyum sumringah membuat Pak Udin mengusap rambutnya lembut.


"Jangan lupa juga lu kalo gua cakep." kata Pak Udin dengan kepercayaan diri yang tidak pernah tinggal.


"Hahaha...."


Tiba-tiba, Tedjo dan Baruna menghampiri mereka berdua.


"Harusnya ini perlombaan buat Tedjo sama Baruna, Beh, bukan perlombaan ayah sama anak." gerutu Tedjo pada Pak Udin.


"Ya, suka-suka gualah. Ngapa lu yang ngatur?" balas Pak Udin. "Orang ganteng mah nggak pernah salah."


"Itu Om tau. Tedjo emang nggak pernah salah." kata Tedjo.


"Berarti Baruna juga termasuk kan, Om?" tanya Baruna kurang yakin.


"Woi, lu bedua! Gua lagi ngomongin kegantengan gua! Pergi sono lu bedua! Ganggu aja! Hush... hush...." omel Pak Udin.


"Apa yang salah dari omongan gue?" gumam Baruna dengan wajah polosnya.


"Lo nggak salah, Bar. Om-om itu yang salah. Bisa-bisanya dia ngeborong perkedel punya gue." rutuk Tedjo.


"Punya guelah, Bang." Baruna kemudian menghela napas panjang dan dalam.


"Iya, iya dah."


"Laper gue, Bang. Mau makan bareng gue, nggak? Gue traktir." tawar Baruna.


"Ayo dah." Tedjo menerima tawaran Baruna dengan senang hati.


Kemudian, Tedjo dan Baruna pergi untuk mencari tempat makan.


"Kita udah baikan, Bang?" tanya Baruna akhirnya.


"Kata siapa, hah? Gue kayak gini karena lagi berbaik hati nerima traktiran lo." elak Tedjo.


"Dasar alien."


"Kelinci bahenol! Tutup mulut lo!"


"Iya, iya. Kita baikan lagi ya, Bang." bujuk Baruna.


"Nggak mau gue. Mending gue temenan sama Agus."


"Kan, kan, mulai."


"Agus lapar, Bu."


"Hahahahaha... anj*r."


...β€’β€’β€’...


Begitu selesai ditraktir makan, saat ini Tedjo mencari keberadaan Baruna yang tiba-tiba menghilang entah kemana. Ia ingin sekali memberi pelajaran pada kelinci tampan itu setelah perebutan perkedel yang gagal karena Pak Udin.


"Woi, maling!" seru Tedjo begitu menemukan Baruna.


"Nama gue Baruna bukan Maling Kundang anak duralex." sanggah Baruna sedikit bingung dengan perkataan Tedjo.


"Lo Baruna si maling perkedel itu, kan?" goda Tedjo.


"Terus lo si Tedjo yang baru aja kalah dari gue tadi, kan?" Baruna tersenyum jahil.


"Gue bukannya kalah, gue ngalah aja sama lo." kata Tedjo membela diri. "Lagian lo juga nggak dapat tuh perkedel, kan?"


"Jangan ngaku-ngaku deh lo. Lo tuh bukan suami Yumi." tukas Tedjo.


"Gue masih bilang calon, Bang." sanggah Baruna.


"Serah dah!"


Tedjo kemudian berlalu pergi.


Baruna memandang punggung Tedjo yang lambat-laun menghilang dari pandangannya.


"Aneh banget. Ngapa sih tuh anak?" gumam Baruna heran.


...β€’β€’β€’...


Suasana kelas begitu riuh saat menikmati jam pelajaran kosong yang langka. Ada yang duduk di atas meja dan menjadikannya seperti gendang. Ada juga yang seperti orang kesurupan dan berlari ke sana kemari.


"Liat deh. Ganteng banget sih. Gue suka banget woi. Kapan ya gue bisa ketemu sama dia?" komentar seorang gadis yang sibuk melihat sesuatu di ponselnya dengan gemas.


"Gue pengen nikah sama dia, tapi dianya aja nggak kenal sama gue." kata gadis lainnya.


"Gue udah tertampar, terjungkal, tertunjang oleh kenyataan pahit, tapi gue tetap aja ngarepin dia jadi pacar gue."


"Dia mau nggak ya pacaran sama gue?"


"Kalo sama cewek kayak lo aja dia mau, berarti sama gue dia mau juga dong."


"Jangan-jangan dia udah punya pacar. Cuman ditutupi agensinya aja, nggak sih?"


"Lo semua pada ngomongin apa?" tanya Tedjo begitu masuk ke kelas Yumi.


"Kita lagi ngomongin dia nih." kata gadis itu sambil menunjukkan sebuah foto di ponselnya. Bukan hanya satu foto, tapi sepertinya ponsel itu penuh dengan foto sang pujaan hati mereka.


"Biasa aja." komentar Tedjo.


"Bang Tedjo bilang dia biasa aja? Abang buta apa gimana sih? Dia tuh gantengnya udah bersertifikat, tau."


"Kalo dia si ganteng bersertifikat, lo pasti si alien terverifikasi." sambung Yumi dari mejanya.


Tedjo segera melesat menghampiri Yumi.


"Lo juga tau dia, Yum?" tanya Tedjo bingung.


"Dia tuh V BTS. Gue kan pernah nyeritain ke elo." jawab Yumi sambil tersenyum lebar.


"Jadi, dia yang namanya V BTS?" tanya Tedjo lagi.


"Siapa sih, Bang?" sambung Baruna tiba-tiba muncul di belakang Tedjo.


Tedjo dan Baruna kemudian mencari bangku untuk duduk di depan meja Yumi.


"Yumi." sapa Tedjo dan Baruna bersamaan.


"Lo berdua ngapain sih barengan mulu? Jangan-jangan lo berdua pernah nikah, lagi, di kehidupan sebelumnya." ujar Yumi asal.


"Hah?! Gue nikah sama dia? Hiiiiihhh~ Nggak bisa gue bayangin, gimana kehidupan rumah tangga gue." kata Tedjo mendelik geli.


"Lo pikir gue mau? Gue juga nggak sudi, Bang. Dasar...." celah Baruna.


Tedjo dan Baruna saling menatap tidak suka. Entah apa alasannya.


"Ngapain sih lo ngikutin gue terus?" tanya Tedjo dan Baruna.


"Siapa yang ngikutin lo sih, Bang? Gue ke sini ya karena emang ini kelas gue. Harusnya gue yang nanya gitu ke elo." balas Baruna.


"Gue ke sini karena mau ketemu Yumi." kata Tedjo lagi.


"Gue juga mau ketemu Yumi." balas Baruna lagi membuat Tedjo geram.


"Kalo gitu gue yang duluan ngomong sama Yumi karena gue yang pertama dateng ke sini." kata Tedjo.


"Bang Tedjo salah. Yang pertama dateng tuh si Caca noh."


"Lain cerita lagi tuh, Bar." Tedjo menggeram.


"Sama ajalah, Bang." Baruna juga ikut geram.


Yumi menghela napas lelah karena melihat Tedjo dan Baruna yang akhir-akhir ini tidak pernah akur.


"Lo kenapa sih, Bar? Lo belum cukup umur buat godain cewek. Urus aja noh gigi susu lo yang belum tumbuh." celah Tedjo.


"Diem lo, Bang. Benerin dulu popok lo sana."


"Berani banget lo, Bar."


"Woi! Lo berdua pada kenapa sih? Lo berdua lagi datang bintang?" tanya Yumi yang sudah lelah melihat Tedjo dan Baruna berdebat.


"Tanya aja sama Abang-abang galak noh!" jawab Baruna dengan muka kesalnya, tapi terlihat lucu di mata Yumi.


"Dasar kelinci bahenol egois! Kalo lo nggak mulai duluan, gue juga nggak bakal marah-marahin lo!"


"Terus, kenapa? Lo pikir gue takut karena lo Abang gue?" Baruna memelototi Tedjo dengan muka bayinya.


"Ya, ya, ya.... Terusin aja. Jangan sampe berhenti. Ayo putus asa dan jangan semangat." kata Yumi mulai bodoh amat, lalu berlalu begitu saja.


Tedjo dan Baruna yang melihat kepergian Yumi pun hanya bisa melongo.


"Ini semua gara-gara lo, Bar."


"Wah... dasar nih alien. Ngapa ngelunjak sih lo, Bang?!"


Tedjo kaget mendengar ucapan Baruna. "Apa lo bilang?"


"Alien lo, Bang!"


Baruna lari terbirit-birit sebelum pukulan Tedjo mendarat ke bokongnya.


"Woi! Jangan lari lo!" seru Tedjo.


"Emangnya kenapa, hah?!" tanya Baruna yang masih berlari.


"Ntar lo capek!"


"Sok lo!" pekik Baruna sambil mesem-mesem.


...β€’β€’β€’...


Saat ini, Tedjo sedang mengawasi Yumi dari kejauhan.


"Ngapain tuh cewek senyum-senyum? Lagi liatin apa dia di hapenya? Ngapain tuh cewek senyum-senyum? Lagi liatin apa dia di hapenya?" gumam Tedjo.


"Ngapain lo ngulang kalimat lo sih, Bang? Bikin gue pusing aja."


"Serah guelah. Muncung, muncung gue juga." balas Tedjo.


"Yumi kayaknya nggak suka sama lo deh, Bang."


"Tau dari mana lo? Gue aja-" Tedjo berhenti bicara begitu menyadari sesuatu.


Tedjo menoleh ke arah belakang.


"Woi, Bar. Lo kenapa ada di mana-mana sih? Lo sengaja ngikutin gue ya?"


"Gue nggak segabut itu. Tapi, seru juga sih ngikutin lo, Bang." cengir Baruna.


"Dasar lu."


"Ada apaan sih emangnya, Bang?" tanya Baruna serius.


"Diem dulu deh lo. Gue lagi ngawasin si Yumi. Dia aneh banget pas ngeliatin hapenya."


"Aneh gimana?" tanya Baruna lagi, belum mengerti arah pembicaraan Tedjo.


"Dia senyum-senyum sendiri noh."


"Jangan-jangan gegara anak laki-laki anti peluru, Bang?"


"Gue nggak sudi bilang ini ke elo, tapi buat kali ini gue setuju sama lo, Bar."


"Tuh kan, gue bener." Baruna tersenyum bangga.


"Iya, iya. Si paling bener." Tedjo sedikit kesal mendengarnya.


"Tunggu apa lagi, Bang? Ayo kita tanyain langsung ke Yumi." ajak Baruna.


"Tapi, Bar...."


Baruna menarik paksa tangan Tedjo dan kemudian mereka sudah ada di hadapan Yumi dan Caca.


"Ada apa lagi lo berdua? Kalo lo mau berantem, jangan depan guelah. Gue lagi sama kebahagiaan gue soalnya." kata Yumi lebih dulu.


"Sama kebahagiaan lo? Hahaha~ Iya... gue tau kalo gue ini kebahagiaan lo, tapi lo nggak perlu ngomonginnya depan Baruna. Dia jadi kepanasan tuh." kata Tedjo sambil menyunggingkan senyumannya.


Baruna mendengus sebal.


"Siapa yang lagi ngomongin lo? Gue sama Caca lagi ngomongin dia nih." kata Yumi sambil memperlihatkan foto seseorang di ponselnya.


Tedjo dan Baruna pun melihatnya.


...



"Hahaha.... Ternyata bukan lo, Bang." tawa Baruna meledek Tedjo....


"Bukan lo juga." balas Tedjo sambil merengut sebal.


"Ngapa kudu mereka lagi sih, Yum? Gue kagak bisa kalo disuruh bersaing sama aset negara." kata Baruna putus asa.


"Caca... lo suka sama gue, kan?" tanya Tedjo sedikit mendekatkan wajahnya pada Caca.


Baruna, Yumi dan bahkan Caca sangat kaget melihat momen itu.


"M-maksud Bang Tedjo apa? K-kenapa tiba-tiba begini?" tanya Caca dengan gugup dan mata yang susah berkedip.


"Coba bilang ke gue apa yang buat lo suka sama gue?" tanya Tedjo serius pada Caca.


"Hm... apa ya?" Caca berpikir keras di situasi yang sepertinya sulit untuk berpikir.


"Kayaknya nggak ada." sahut Baruna.


"Diam lo, Bar. Gue nggak nanyain lo." kata Tedjo sebal.


"B-bang Tedjo p-punya m-mata yang bagus." kata Caca yang takjub saat bisa melihat mata Tedjo dari dekat. Ia seperti terhipnotis.


"Apa-apaan sih lo, Ca. Bagus dari mananya?" tanya Yumi tak percaya.


"Woi, Bang. Sadarin Caca balik. Dia udah kayak orang overdosis." kata Baruna cemas.


Tapi, di luar dugaan siapapun. Tedjo malah pergi begitu saja meninggalkan Baruna dan Yumi.


Dan tentunya juga meninggalkan Caca yang masih terhipnotis.


...β€’β€’β€’...


Di toilet laki-laki, Tedjo mengamati wajah tampannya dengan seksama di pantulan cermin.


"Kenapa Yumi nggak suka sama gue? Apa gue kurang karismatik? Gue kudu gimana?" tanya Tedjo pada dirinya sendiri dengan frustasi. Ia tampak berpikir keras, lalu tiba-tiba lampu taman muncul di atas kepalanya pertanda sudah mendapatkan ide.


Tedjo teringat kata-kata Embun.


"Emangnya kenapa? Bang Awang tuh karismatik."


"Oh iya... Awang bege."


Setelah itu, Tedjo langsung melesat pergi untuk mencari keberadaan Awang ke penjuru sekolah.


Dan ketika Tedjo menemukan Awang, ia langsung bertanya.


"Gimana kalo mau jadi cowok karismatik, Wang?"


"Hah? Tumben lo nanya begitu ke gue? Jadi, sekarang lo ngaku kalo gue cowok berkarismatik?"


"Ini semua gara-gara omongan Embun. Jadi, cepat bilang ke gue tips-tips jadi cowok berkarismatik."


"Nggak ada yang gratis di dunia ini, Bro."


"Hah? Maksud lo apaan? Kita kan sahabat sependeritaan."


"Kita emang sahabat, tapi apa salahnya nyari keuntungan dari sahabat sendiri."


"Gue nggak bakal bayar lo sepeserpun." tolak Tedjo.


"Ya udah, kalo lo nggak mau. Gue juga nggak bakal maksa. Tapi, apa lo yakin nggak bakal penasaran sama tipsnya?" tanya Awang sambil menaik-turunkan alisnya.


"Limapuluh ribu. Cepat bilang ke gue sekarang."


"Seratus ribulah... baru gue mau." Penawaran Awang yang membuat Tedjo mendengus.


"Lo mau meras gue apa gimana? Gue bukan sapi ya. Nih, duitnya." kata Tedjo pasrah yang pada akhirnya memberikan uangnya dengan hati mencelus.


"Hehe... gue suka deh sama lo, Djo."


"Udah putus asa lo ngedapetin Embun sampe-sampe lo pindah haluan ke gue." canda Tedjo. "Cepat bilang ke gue tipsnya."


"Oke. Jadi gini... bla bla bla...."


"Kedengerannya nggak masuk akal. Tapi, bakal gue coba." kata Tedjo kurang yakin.


"Gue juga bakal nyoba!"


"Hah? Siapa tuh?!" tanya Tedjo dan Awang bersamaan sambil mencari tahu sumber suara itu.


"Hehe...." Baruna muncul dari tempat persembunyiannya.


"Woi! Lo nguping ya?!" tanya Tedjo tak terima.


"Kagak kok, Bang. Gue nggak sengaja denger tadi." cengir Baruna karena berbohong.


"Pokoknya gue nggak mau tau, lo juga kudu bayar si Awang." kata Tedjo yang diangguki Awang.


"Lah? Ngapa gue ikut bayar? Ya udah. Nih." Baruna langsung memberikan uangnya pada Awang.


"Makasih sahabat-sahabatku~" kata Awang sambil menampilkan senyum manisnya.


Tedjo dan Baruna pun bergegas pergi entah kemana.


"Semoga berhasil ya sahabat!" seru Awang menyemangati.


...β€’β€’β€’...


Tedjo dan Baruna masuk ke kelas Yumi dengan santainya. Tapi anehnya, semua murid yang ada di sana malah cekikikan begitu melihat kedatangan mereka berdua.


Begitu juga dengan Yumi, Caca, Awang dan Ishak yang tampak sangat syok sampai mata mereka tak sempat berkedip.


"Woi, Bang. Sejak kapan di sekolah kita ada jamet?" bisik Awang pada Ishak di sampingnya.


"Tuh anak yang poni lempar siapa sih?" Ishak ikut berbisik.


"Setelah liat tuh bocah dua... Bang Ishak ada niatan buat pindah sekolah nggak sih?" tanya Awang dengan tampang julidnya.


"Ada sih. Gue udah ada niat pas si poni lempar tuh muncul depan lubang hidung gue." jawab Ishak tanpa berkedip saat melihat Tedjo dan Baruna.


"Gue juga, Bang. Keputusan gue udah bulat. Sebulat silet." kata Awang mantap.


Tedjo dan Baruna menghentikan langkah mereka tepat di depan meja Yumi. Mereka berdua kemudian tersenyum manis yang untuk sekarang menggelitik perut.


"Allahu Akbar! Lo berdua ngapain sih? Aneh banget." kata Ishak heran.


"Baruna, poni lo kenapa gitu?" tanya Yumi prihatin.



"Gue modifikasiin dikit, Yum. Poni gue ini terinspirasi dari Andika Kangen Band. Gimana, Yum? Keren, kan?" tanya Baruna sambil nyengir.


Yumi menghela napas panjang dan dalam.


"Terus lo, Djo? Kenapa lo make eyeliner?" tanya Yumi frustasi.



"Hah? Emangnya salah, Yum? Harusnya eyeliner dipake di lubang hidung ya?" tanya Tedjo dengan polosnya karena benar-benar tidak tahu. "Woi, Bar. Ngapa lo makeinnya di mata gue sih?"


Yumi menarik napas panjang dan menghelanya perlahan.


"Siapa yang nyuruh lo berdua begini, hah?!" tanya Yumi garang.


"Awang!" jawab Tedjo dan Baruna bersamaan, membuat Awang terbelalak tak menyangka.


"Bang Awang!" seru Yumi menatap Awang tajam.


"Gue cuman berbagi tips ke mereka, tapi bukan penampilan begitu yang gue maksud." bela Awang.


"Terus yang kayak apa, Bang?" tanya Baruna geram.


"Gue bilang ke Tedjo kalo dia mau jadi cowok karismatik dia kudu beda dari cowok-cowok yang lain. Terus, nyoba sesuatu yang ekstrim kayak Larry si lobster."


Semua orang kemudian beralih menatap Tedjo dengan tajam.


"Ngapa? Gue benar, kan? Hidup seperti Larry?" tanya Tedjo dengan muka tak berdosa.


"Bang Tedjo! Gimana nih! Lo motong poni gue pendek bener dah!" seru Baruna sambil memukul bokong Tedjo dengan geram.


"Hahaha... tapi, Bang Tedjo tetap ganteng meskipun pake eyeliner tebel." puji Caca disela tawanya.


"Tedjo! Balik deh lo ke Mars! Lo tuh nggak diterima di Bumi! Lo jenis alien yang suka tebar pesona apa gimana sih?!" tanya Yumi kesal.


"Lo nggak kuat sama pesona gue, kan?" tanya Tedjo sambil menyunggingkan senyumnya.


"Yumi jyjyk sama lo, Bang!" seru Baruna geram.


...β€’β€’β€’...


Kediaman Keluarga Selamet, pukul 20:01....


Yumi tiduran di ranjang sambil memainkan ponselnya. Ia mengetuk-ngetuk layar ponselnya seperti sedang mencari sesuatu di sana.


Dapat!


Foto Yumi saat pergi ke pantai bersama Tedjo yang mengalami insiden alergi kacang tempo hari.


Kemudian Yumi memposting foto dirinya.


yumihim1



β™‘ Disukai oleh baruna_k dan 289.028 lainnya.


yumihim1: Langit, bisakah kau turunkan jamet beserta jajarannya?


Lihat semua 199.176 komentar.


baruna_k: Kenapa ada bidadari? Mwehehe.


yumihim1: Muncul juga si jamet:) @baruna_k.


baruna_k: Iyain. Tapi jamet yang bikin @tedjo_uwu insekyur.


tedjo_uwu: @baruna_k awas kukunya patah ya dek. Kan baru selesai pedikyur, medikyur. 😏


tedjo_uwu: Jangan percaya sama penampilan dia @yumihim1. Parfum dia aja minyak GPU. 😏


baruna_k: Timbang parfum lo, Bang @tedjo_uwu minyak senyonyong. 😏


tedjo_uwu: Kok lo bisa tau sih?! @baruna_k 😑


baruna_k: Sesekali gue juga suka pake tuh minyak, Bang. 😁


tedjo_uwu: @bahenol_k coba lo campurin minyak senyonyong sama minyak GPU. Aromanya anjim banget.


baruna_k: Lo salah ngetag gue, Bang!


awang.awang: Hey, Baby. Kakanda datang.


awang.awang: Woi! Kenapa pas gue muncul pada sepi gini sih?! Ah! 🀬


bahenol_k: Siapa nih yang ngetag gue?


awang.awang: Woi @tedjo_uwu liat noh kelakuan lu. Hahaha~


...β€’β€’β€’...