
...•••...
"Hari ini kita mau ngapain?" tanya Tedjo pada Yumi yang tampak bersemangat.
Yumi memberikan catatan pada Tedjo
Tedjo melongo melihat catatan panjang berisi kegiatan hari ini yang Yumi buat sendiri.
"Lo yakin?" tanya Tedjo ragu.
"Jadi, lo nggak yakin? Gue lagi semangat nih." jawab Yumi yang mulai kesal pada Tedjo.
"Siapa bilang gue nggak yakin? Gue cuman nggak semangat." jawab Tedjo sambil tersenyum sumringah.
"Tedjo~" kata Yumi geram.
"Hehe... canda, canda. Ayo, Yang!" Tedjo menggenggam tangan Yumi.
"Lepasin, woi. Lo pikir gue nenek lo!"
"Lo kan bapak gue!" Tedjo tertawa renyah.
Yumi cemberut.
...•••...
Yumi langsung melesat dan berkeliling kegirangan.
Tedjo tersenyum tipis melihat tingkah Yumi yang menggemaskan di matanya.
"Genggamin tangan gue, Yum."
"Kalo gue nggak mau, kenapa?"
"Emangnya lo nggak takut?" tanya Tedjo dengan mimik muka serius.
"Nggak tuh. Bilang aja lo yang takut. Atau jangan-jangan... lo mau modus biar bisa megang-megang tangan gue?" Yumi curiga.
Tedjo mendengus kesal.
Mereka naik perahu dengan hati bahagia.
Beberapa saat kemudian, setelah mereka usai naik perahu, Yumi tiba-tiba pusing dan akhirnya muntah.
"Cemen lo. Masa gegara naik gituan doang muntah. Harusnya gue dong yang bikin lo muntah. Eh, udah hamil aja ntar." goda Tedjo.
"Maksud lo apaan?! Gue muntah gegara bau parfum lo tuh! Nyengat banget!" elak Yumi.
"Nggak apa-apa juga kalo lo hamil. Kan udah ada gue yang tanggungjawab."
Begitu mengatakan hal itu, tiba-tiba Tedjo muntah dan membuat Yumi tersentak kaget.
"Cemen lo." kata Yumi sambil menirukan suara Tedjo. Gadis itu tertawa keras.
"Muka lo lucu banget, tau! Hahaha...." Yumi tertawa melihat ekspresi Tedjo yang ketakutan.
"Jangan ketawa lo." Tedjo cemberut.
"Suka-suka guelah. Hahaha...." ledek Yumi tak berhenti.
"Liat, noh. Makanan yang tadi pagi lo makan keluar semua. Hahaha." kata Tedjo yang akhirnya ikut tertawa.
"Apaan tuh ijo-ijo? Hahahah." goda Yumi balik.
"Cemen lo ternyata. Hahaha."
"HAHAHA...."
Mereka tertawa untuk menertawakan diri mereka sendiri.
Namun tiba-tiba, seorang anak kecil lewat di depan mereka sambil mengatakan....
"Bocah prik."
Tedjo dan Yumi melongo dibuatnya.
Setelah itu, mereka kembali bersenang-senang dengan mengendarai jet ski.
"Yakin lo?" tanya Tedjo ragu.
"Yakinlah."
"Lo baru aja muntah tadi."
"Lo juga."
"Terus lo mau muntah lagi, gitu?"
"Kalo lo nggak mau, ya udah." Yumi melengos pergi sendirian.
"Woi, ikut." teriak Tedjo sambil mengikuti Yumi dari belakang.
Mereka akhirnya mengendarai jet ski masing-masing.
Seusai itu, Tedjo kemudian menghampiri Yumi dengan wajah kelelahan.
"Ayo pulang." Tedjo menarik tangan Yumi. Dia berjalan sempoyongan.
"Nggak muntah lagi kan lo?" tanya Yumi sambil tersenyum bangga.
Tedjo mengangguk pasrah.
"Bagosss."
"Kita mau kemana lagi?" tanya Tedjo yang tiba-tiba kembali bersemangat karena melihat Yumi yang bahagia bersamanya.
"Beli oleh-oleh buat orang rumah, yuk?" ajak Yumi.
"Lo tau nggak, oleh-oleh termantap buat orang rumah?" tanya Tedjo dengan wajah serius.
"Apaan?"
"Adek bayi."
"Gue tabok juga lo."
"Iya, iya, maap."
"Maap mulu lo."
"Nggak nyangka banget ya. Akhirnya orang rumah kita sama." goda Tedjo lagi sambil mencubit pipi Yumi gemas.
"Lo pikir gue burger?"
"Emangnya lo pernah liat dugong mirip burger?"
Yumi menatap Tedjo sinis. "Lo bapaknya dugong.
...•••...
Sekarang, Tedjo dan Yumi sudah berada di tempat suvenir khas pulau Bintan. Mereka sedang melihat-lihat apa saja yang akan dibawa pulang untuk orang rumah.
"Bingung gue mau beli apaan." gumam Yumi.
"Beli semua yang lo mau. Habisin aja duitnya." kata Tedjo.
"Nggak ah. Ini kan uang yang dikasih Bapak."
"Maksud lo apaan? Ini duit gue."
"Duit lo dari mana?" tanya Yumi sambil mengernyit bingung.
"Gue kan udah kerja di perusahaan bokap gue. Jadi, ini duit gue. Hasil jerih-payah gue buat elo, bini gue." jelas Tedjo.
"Nggak usah manggil bini deh. Geli gue."
Tedjo hanya manggut-manggut, lalu mencari oleh-oleh untuk keluarga mereka.
Tiba-tiba, ponsel Yumi berdering.
"Siapa nih? Nomornya nggak gue kenal."
"Angkat aja. Siapa tau penting tuh." kata Tedjo.
"Assalamu'alaikum. Halo...."
"Yumi? Ini gue, Awang" kata Awang. Dialah yang sedang menelepon Yumi sekarang.
"Hah?" Yumi terbelalak begitu menerima telepon itu.
Tedjo menatap Yumi bingung.
"Gue nelpon lo gegara mau balikin jedai lo yang ketinggalan." jelas Awang.
"Hah? Eh, nggak usah woi. Buang aja buang." kata Yumi gelagapan. Ia takut Tedjo tahu bahwa ia bertemu Awang, Ishak, Karma dan Baruna di pulau yang sama.
"Dih. Sombong lu. Masih bagus gini jedai lo juga, udah main buang aja. Pokoknya gue mau balikin ke elo." kata Awang bersikeras.
"Nggak usah. Beneran deh. Gue nggak mau ngerepotin lo. Pasti susah nemuin gue di tempat begini." tolak Yumi.
"Nggak kok. Gue udah nemuin lo. Gue ada di belakang lo sekarang. Oh iya, ada Bang Ishak, Bang Karma sama si Baruna juga." kata Awang membuat Yumi semakin gelagapan.
"Hah? Kok bisa sih?"
"Ya bisalah. Ya udah. Gue samperin lo ya?"
"T-tapi...."
Awang segera mengakhi panggilan itu.
"Bikin gue susah aja nih anak." gumam Yumi panik.
"Siapa?" tanya Tedjo.
"Tedjo, lo mau baju nggak? Sini, gue beliin." ajak Yumi dengan tergesa-gesa.
"Tumben?"
"Ya udah, ayo!"
Yumi langsung menarik paksa Tedjo untuk menghindari Awang dan kawan-kawan yang akan menghampiri mereka.
Sementara itu....
"Mana si Yumi, Bang?" tanya Baruna pada Awang.
"Tuh di...." Awang berhenti berkata karena tidak dapat menemukan Yumi.
"Mana sih?" tanya Ishak yang sedari tadi celingak-celinguk.
"Tadi gue ngeliat dia di sono, noh. Kemana sih tuh anak?" Awang bingung.
"Lo boong kali." goda Karma dengan wajah datar.
"Ya kali gue bohong!" balas Awang tak terima.
Yumi terus mengajak Tedjo berkeliling.
"Yumyum?"
"Apaan?" sahut Yumi sambil memperhatikan sekelilingnya.
"Lo bilang lo mau beliin gue baju." kata Tedjo dengan raut wajah kebingungan melihat gelagat Yumi.
"Lah, iya. Ini gue lagi nyari baju yang cocok buat lo. Lo nggak liat?"
"Gue liatlah, makanya gue ngomong. Lo liat nih."
"Apa sih?" Yumi menoleh ke arah Tedjo.
"Lo mau beliin gue kutang?" tanya Tedjo sebal.
Yumi terbelalak dan hampir tertawa dibuatnya. "Eh, maaf, maaf."
"Lo sengaja pasti. Lo mau nyuruh gue pake ini pas malam pertama ya?"
"Lo bakal tergoda, nggak?"
"Emangnya lo bakal tergoda pas liat dugong pake kutang?" balas Yumi sambil tersenyum tipis.
"Kenapa lo bahas diri lo sendiri?" goda Tedjo balik.
"Apa lo bilang!" seru Yumi.
"Cantik, cantik...." kata Tedjo sambil tersenyum manis.
Yumi hanya menatap Tedjo dengan tajam.
"Tedjo?"
"Apa?"
"Terserah lo mau bilang gue apa. Tapi kali ini, gue minta tolong sama lo. Nih, pake." kata Yumi sambil memelas.
"Apaan nih?"
"Sini deh lo."
Yumi segera menutup mata Tedjo dengan plester dan kacamata, menutup telinga Tedjo dengan headphone, lalu memakaikan Tedjo rambut palsu berwarna biru yang panjang.
"Kenapa lo ngelakuin ini ke gue?" Tedjo hanya bisa pasrah.
"Gue jawab pun, lo nggak bakal denger." ujar Yumi.
"Lo udah mulai ngomong, ya? Yumyum? Woi!"
"Gue ngelakuin ini ke elo biar lo nggak ketemu sama mereka."
Tedjo tidak bisa melihat karena matanya yang ditutup plester dan juga tidsk bisa mendengar karena musik yang dinyalakan Yumi begitu keras di headphone-nya.
Tiba-tiba....
"Yumi?" panggil Awang.
"H-hai...." sapa Yumi sambil tersenyum kikuk.
"Ternyata lo ada di sini." ujar Awang lagi. "Nih, jedai lo."
"Makasih."
"He-eh."
"Oh iya... ngomong-omong, siapa nih?" tanya Ishak saat melihat Tedjo.
"Dia sepupu gue. Cantik, kan?"
"Iya, cantik. Tapi, bukannya sepupu lo yang kemarin rambutnya pendek ya?" tanya Ishak begitu mengingat rambut sepupu Yumi yang ia lihat beberapa hari yang lalu.
"Ini sepupu gue yang beda kakek."
Ishak hanya manggut-manggut sambil membentuk huruf o pada mulutnya.
"Mirip Bang Tedjo sepupu lo." komentar Baruna.
"Jodoh kali ya." kata Yumi asal.
"Hahaha." Awang, Ishak dan Baruna tertawa terpaksa. Sementara, Karma hanya diam.
"Ya udah deh, kita cabut duluan ya." pamit Yumi.
"Buru-buru banget lo." ujar Karma.
"Sepupu gue nggak bisa lama-lama di luar. Ntar sawannya kumat. Mau lo pada tanggungjawab?"
Setelah mengatakan itu, Yumi segera pergi sambil menyeret Tedjo
"Boleh juga tuh sepupunya Yumi buat Bang Karma." goda Baruna pada Karma
"Hahaha... Bang Karma kayaknya cinta pada pandangan pertama nih." Ishak pun turut-andil menggoda Karma.
"Mungkin muka datar Bang Karma bakal berubah jadi ceria kalo ntar nikah sama sepupunya Yumi." tambah Awang sambil cengengesan.
"Gue bakal maafin Baruna, kecuali lo berdua." kata Karma membuat semuanya terdiam.
"Galak banget sih kayak kucing garong. Rawr...." timpal Awang.
...•••...
Di pinggiran pantai....
"Gulali depan sono enak tuh kayaknya, Yum." kata Tedjo sambil menunjuk penjual gulali.
"Terus kenapa kalo enak?"
"Lo udah lupa sama kata-kata lo tadi? Lo bilang lo bakal turuti semua kemauan gue asal gue mau lo bikin kayak orgil." jelas Tedjo merasa menang.
"Emang ada? Kapan gue ngomong begitu?"
"Beliin aja kenapa sih? Elu mah gitu sama suami sendiri." rengek Tedjo.
"Apaan sih! Jangan ngomong begitu! Geli gue dengernya!" Yumi sangat kesal dibuat Tedjo.
"Iyaaa...." Tedjo memperlihatkan senyum manisnya.
Yumi pun bergegas pergi untuk membeli gulali.
"Numpang duduk bentar ya?" tanya wanita hamil pada Tedjo.
"Iya, boleh. Silahkan."
Wanita itu duduk di samping Tedjo.
"Abang dari mana?" tanya wanita muda itu sambil tersenyum ramah.
"Dari Jakarta." jawab Tedjo sambil membalas senyuman wanita itu. "Lo orang asli sini?"
"Iya. Rumah saya nggak jauh dari pantai ini." jawab wanita itu. "Kalau Abang?"
"Gue ke sini mau ngamilin anak orang." jawab Tedjo membuat wanita itu kaget.
"Bini, bini." ralat Tedjo sambil tersenyum kikuk.
Wanita itu manggut-manggut.
"Oh iya, suami lo mana? Kok nggak sama lo ke sini?" tanya Tedjo begitu menyadari ketidakhadiran suami dari wanita itu.
"Suami saya itu nelayan. Jadi, sekarang dia lagi nangkap ikan di tengah laut." jawab wanita itu.
"Oh gitu. Tapi, nggak apa-apa lo sendirian pas hamil gede kayak gini?" tanya Tedjo tampak khawatir.
"Nggak apa-apa kok, Bang. Saya akan hati-hati."
Namun, selang beberapa saat, mendadak wanita itu mengerang kesakitan.
"Lo kenapa? Apanya yang sakit?" tanya Tedjo panik seketika.
"Sepertinya saya mau melahirkan."
"TOLONG! PAK! TOLONG, PAK!" pekik Tedjo sambil memanggil orang-orang yang ada di sekitarnya.
Seketika banyak orang yang datang. Mereka segera menolong wanita hamil itu.
"Ayo, kamu harus ikut." kata bapak-bapak sambil menarik tangan Tedjo.
"Eh, nggak usah, Pak. Saya bukan suaminya."
"Lo kok nggak ngaku sih, Bang? Kamj kan yang hamilin istrimu ini? Jangan mau enaknya aja, Bang." komentar pemuda yang ikut menolong wanita itu.
"Tapi, gue emang bukan lakinya. Bini gue bukan dia. Bini gue Yumi." jelas Tedjo berusaha meyakinkan orang-orang yang sudah sinis memandangnya.
"Sudahlah, ayo ikut saja."
Tedjo pun mau tidak mau ikut bersama wanita hamil itu.
Sementara itu....
"Lho? Tedjo kemana?" gumam Yumi sambil mencari keberadaan Tedjo. Ia berdiam diri seperti patung dengan kedua tangan yang memegang gulali.
Yumi panik.
...•••...
Tedjo pulang, pukul 00:59....
Yumi membelakangi Tedjo sambil pura-pura tidur.
"Yumyum? Lo udah makan malam, belum?" tanya Tedjo hati-hati. Ia tahu kalau Yumi sedang marah padanya karena ia pergi tidak bilang-bilang tadi.
Bertepatan dengan itu, perut Yumi berbunyi.
"Lo udah tidur ya, Yum?" tanya Tedjo lagi.
"Udah."
"Yumyum?"
"Gue bilang gue udah tidur! Lo budek?" balas Yumi kesal.
"Maaf udah bikin lo kesel." kata Tedjo menyesal.
"Siapa bilang gue kesel? Gue nggak kesel kok. Sama sekali nggak kesel." elak Yumi terlalu kentara.
"Gue bukannya sengaja ninggalin lo, tapi tadi tuh ada cewek lagi hamil yang mau lahiran. Terus, orang-orang di situ nyangkanya gue pelakunya." jelas Tedjo.
"Pelaku apaan? Lo ngapain tuh cewek?"
"Maksud gue... mereka nyangkanya gue yang ngamilin tuh cewek."
"Oho...."
"Maaf ya." sesal Tedjo.
"Udah gue bilang kan, gue nggak kesal. Jadi, lo nggak perlu minta maaf." kata Yumi sambil menahan air matanya. Tapi akhirnya, ia pun menangis.
"Gue nggak kesel sama lo, gue cuman takut. Gue takut lo hilang lagi kayak kemaren. Kalo lo hilang, apa yang bakal gue bilang sama keluarga lo. Lo kan bodoh, mana tau jalan pulang." jelas Yumi sambil sesenggukan.
"Yeuuh, gue kirain lo takut gue hilang karena gue suami elo. Tapi, kalo gue bener-bener hilang, bilangin aja gue dibawa tante-tante girang." kata Tedjo sambil tersenyum disela tangisnya. Tedjo menangis haru karena rasa cemas yang dialami Yumi terhadap dirinya.
Mereka kemudian menangis bersama.
"Gue boleh nggak meluk lo?" tanya Tedjo.
"Awas aja lo."
"Kenapa sih?"
"Lo bau. Belon mandi."
"Nyebelin lo." gerutu Tedjo. "Sekali aja, Yum."
"Nggak mau. Lo kira gue anak kecil, dipeluk-peluk."
"Lo kan orang dewasa yang dibujuk pake ciuman." goda Tedjo.
"Ya udah, sini lo."
"H-hah? Kita ci...u...man?" Tedjo terbelalak tak percaya.
"Maksud gue, sini lo. Gue tabok."
"Najisss...." Tedjo segera menindih tubuh Yumi.
"Hahahaha...."
"Ketawa lo."
...•••...