
...•••...
"Woi, berandal!"
Empat orang laki-laki itu langsung menoleh begitu Tedjo masuk ke rumah Karma.
"Lo pada kobam ya? Ya Allah... sadar woi sadar." omel Tedjo tak habis pikir dengan sahabat-sahabatnya itu.
"Ngapa sih? Masa kita boleh makan, tapi kagak boleh minum? Lo mau kita keselek apa gimana dah?" tanya Baruna melantur. Pandangannya sangat kabur sehingga ia tidak bisa mengenali siapa yang baru saja datang.
"Bukan gitu maksud gue, kelinci montok! Lo semua udah minum banyak ya?" tanya Tedjo, sadar kalau Baruna, Awang, Ishak dan Karma sudah mabuk.
"Ya Allah, Bang Karma. Ngapain lo juga ikut-ikutan kobam sih? Bukannya ngalangin anak-anak?" tanya Tedjo cemas.
"Lo tau kagak?" kata Karma dengan pandangan berkunang-kunang. "Itu karena gue mabuk susu pisang. Nih anak pada maksa gue ngabisin seratus botol dalam waktu enam puluh menit. Gila sih kalo kata gue."
Mendengar itu, Ishak tertawa dengan mata yang sulit dibuka lebar. "Tapi, Bang Karma langsung kalah. Terus, sisanya gue minum sama yang lain. Hahahahahahaha...."
"Ternyata kobam susu pisang ya...." gumam Tedjo. "Terus, kenapa lo semua ngumpul, tapi nggak ngajak-ngajak gue?"
Di samping Tedjo, Awang juga sudah mesem-mesem tidak jelas karena pengaruh susu pisang itu.
"Berisik banget sih lo. Ketimbang Lo ngomong panjang lebar, mending lo bantu kita ngabisin sisa susu pisang ini." kata Awang sambil tergelak dan membuat matanya mengecil.
"Nggak mau gue. Abisin aja sendiri sono." celetuk Tedjo sebal.
"Ayolah. Sekali ini doang kok. Anggap aja ini balas budi lo karena selama ini lo nggak pernah ngebantu kita." kata Baruna terlalu jujur. Ia menarik paksa Tedjo agar duduk di dekatnya.
"Gue ke sini buat ngalangin lo pada bukan ikutan kobam susu pisang. Kekanakan banget sih lo pada." omel Tedjo geram.
"Duduk dulu lo. Lo ini siapa sih?" tanya Ishak tak sadar dengan siapa ia bicara.
"Gue nggak mau duduk." tolak Tedjo.
"Bokong lo bisulan? Lo mau kita bantuin lo duduk apa gimana, hah?" tanya Awang beruntun.
"Gue bisa duduk sendiri. Ntar Lo pada ngelukain bisul gue." Tedjo akhirnya duduk di tengah-tengah Baruna dan Awang.
"Kenalin nama gue Baruna. Ketua geng para kelinci montok." sapa Baruna sambil menundukkan kepalanya untuk memberi salam.
"Kalo gue Awang. Cowok karismatik." sapa Awang sambil tersenyum hingga matanya hilang.
"Gue Ishak. Panggil aja Sari kalo malam." kata Ishak di luar dugaan.
"Hah? Kok suara Bang Ishak kayak Emaknya si Tedjo sih?" tanya Awang tak menyangka.
"Bener juga kate lu." Karma manggut-manggut.
"Jangan-jangan selama ini Bang Ishak nyamar jadi Emaknya Tedjo? Bang... lo emang Emaknya Tedjo yang lagi nyamar jadi Bang Ishak, kan?" tanya Baruna curiga membuat Ishakk terbelalak kaget.
"Kita cuman mirip doang, gais...." jawab Ishak seadanya.
Tedjo mengernyit heran begitu mereka semua memperkenalkan diri kecuali Karma yang sudah tahu kalau di depannya itu adalah Tedjo.
"Lo pada kenapa sih? Ngapain lo semua ngajakin gue kenalan lagi? Kita kan udah kenal." tanya Tedjo sambil menatap mereka bergantian dengan wajah bingung.
"Hah? Kok bisa lo kenal ama kita?" tanya Baruna bingung. Ia benar-benar mabuk susu pisang kali ini.
"Woi, Bar. Lo nggak ingat pas lo nangis gara-gara susu pisang lo direbut seseorang? Dan dengan baik hatinya gue langsung beliin lo susu pisang lagi." jelas Tedjo sedikit bangga dengan dirinya sendiri. "Tapi, sayangnya... guelah orang yang ngerebut tuh susu pisang dari lo, makanya gue beliin lagi. Maafin gue."
"Dan lo berdua... Bang Ishak sama si Awang ege. Lo berdua nggak ingat pas kalian berantem? Gue yang ngakurin lo berdua balik." lanjut Tedjo yang beralih mengomel pada Ishak dan Awang. "Tapi, sayangnya... guelah alasan kalian berantem waktu itu. Gue minta maaf."
Karma yang mendengar itu hanya bisa tertawa geli.
"Hah? Kok orang asing kayak dia bisa tau sih masa lalu kita semua?" tanya Ishak pada Baruna dan Awang, yang mereka pun tidak tahu jawabannya.
"Woi! Gue bukan orang asing. Tapi, kalo Awang yang ngomong, gue bisa terima. Soalnya orang asing yang dimaksud Awang tuh alien. Iya kan, Wang?" tanya Tedjo pada Awang dengan wajah panik.
"He-eh. Tapi, panggilan itu cuman buat Tedjo bukan lo." jawab Awang membuat Tedjo frustasi.
"Ya Allah! Gue Tedjo, woi!" geram Tedjo.
"Kok lo kesel sih? Sini cerita ke kita masalah lo apa?" kata Ishak masih tidak sadar.
Tiba-tiba, Baruna bersendawa membuat semua orang tertawa kecuali Tedjo yang menatapnya datar.
"Itu akibatnya kalo kebanyakan minum susu pisang. Bener-bener ya lo pada. Harusnya kalian tuh ngalangin Baruna minum tuh susu? Terus, kenapa coba Bang Karma mau aja nerima tantangan konyol dari lo, lo pada." tanya Tedjo beruntun. Ia sangat putus asa menghadapi kelakuan sahabat-sahabat Kekeyinya itu.
"Kasian banget si Baruna. Dia pasti kekenyangan." gumam Awang sambil menepuk-nepuk pipi Baruna.
"Heh! Dia tuh mabuk susu! Bukan kekenyangan!" seru Tedjo benar-benar sebal.
"Tenangin diri lo...." kata Ishak yang seperti akan kehilangan kesadaran beberapa saat lagi. "Lo siapa sih?"
"Nih anak-anak pada nggak sadar kalo gue yang datang? Dasar brengsek...." batin Tedjo.
"Heh, lo...."
"Jangan ngomong lo." potong Tedjo begitu Awang akan bicara.
Selama beberapa saat, mereka hanya bengong sebelum memutuskan untuk membicarakan apa. Sampai akhirnya, Baruna membuka mulut.
"Menurut lo semua... Bang Tedjo bakalan nyerah nggak ya?" tanya Baruna dengan pandangan yang semakin meredup.
"Tedjo tuh nyebelin. Dia make ****** ***** gue yang baru gue beli kemarin sampe bolong tengahnya." jawab Ishak membuat Tedjo melebarkan matanya lucu.
"Iya, Bang. Sama. Dia pernah minta tolong ke gue buat gosokin giginya." sahut Awang tanpa menghiraukan Tedjo yang sudah menatapnya tajam.
"Astaghfirullah! Ngapain lo bongkar aib dia sama orang lain sih, Wang? Tedjo pasti malu banget." Karma terkekeh.
"Nggak, nggak. Itu semua salah paham. Tedjo tuh cowok baik-baik. Mana pernah dia begitu." bela Tedjo.
"Bercanda lo? Itu emang sifat aslinya. Tedjo tuh sering banget gangguin kita. Gue masih inget banget pas gue mau foto, tiba-tiba dia datang terus ngangkat gue gitu aja. Emangnya dia pikir gue cowok apaan? Gue jadi nggak selera foto-foto lagi." omel Awang.
"Itu mah gegara memori hape lo aja yang udah full." gumam Tedjo sebal.
"Tapi, lo jangan sampe ngasih tau Tedjo soal ini ya, orang asing." bujuk Awang. "Baru-baru ini gue ngutang lima puluh ribu sama dia, hehe.... Soalnya gue mau ganti celana dalem dia yang gue pake pas musim hujan tahun lalu, hehe...."
"Ternyata lo juga pake kolor gue sembarangan! Dasar lu ye!" seru Tedjo tak terima.
Mereka semua terperanjat kaget begitu mendengar suara lantang Tedjo.
"Gini aja. Cepat cuci muka lo pada, terus pergi sono tidur di kamar Bang Karma. Gue nggak akan biarin lo semua pulang dalam keadaan kobam susu pisang kayak gitu." saran Tedjo mengakhiri pembicaraan itu.
"Hah? Cepet banget tidurnya? Ini tuh waktu yang tepat buat nambah susu pisang lagi. Ayo cepat minum, hyungdeul." kata Baruna masih tidak sadarkan diri.
"Woi, Bar. Lo ngapain sih?" tanya Tedjo malas. "Pergi tidur lu sono. Etdah, nih anak."
"Gue pikir nggak ada salahnya lo ikut nyoba nih susu pisang. Satu botol nggak bakal bikin lo kobam kayak kita." kata Karma.
"Lo pada kenapa sih, hah? Kalo lo semua begini terus, gue pulang aja dah." kata Tedjo putus asa.
"Ya udah. Pulang aja lu sono. Lo kan cuman orang asing." balas Awang tidak peduli karena setahunya lawan bicaranya bukanlah Tedjo.
"Lo semua mau gue pulang?" tantang Tedjo.
"Iya." sahut mereka semua, kecuali Karma yang hanya geleng-geleng melihat kelakuan adik-adiknya itu.
"Gue pulang nih ya." tantang Tedjo sekali lagi.
Mereka mengangguk mengiyakan.
"Gue beneran pulang nih ya." Lagi-lagi Tedjo menantang.
"Iya, iya. Sono lu."
Melihat sikap mereka yang tidak peduli sama sekali, Tedjo akhirnya mengurungkan niatnya untuk pulang.
"Nggak. Gue nggak mau pulang." kata Tedjo malu karena gagal mengancam ketiga laki-laki itu.
"Lo nggak jadi pulang?" tanya Ishak.
"Gue masih mau di sini. Gue takut kalo terjadi sesuatu sama lo semua. Bisa-bisa gue dituduh yang udah bikin lo semua kobam kayak gini. Gue nggak mau kejadian begitu." Tedjo beralasan.
Selang beberapa menit, saat mereka sibuk mengoceh tidak jelas, tahu-tahu saja Baruna tertidur sambil duduk.
"Bisa-bisanya nih anak tidur duduk begitu." kata Karma.
"Yumi...?" gumam Baruna membuat Tedjo yang mendengarnya tertegun.
"Ngigo lagi tuh si Baruna. Kenapa sih Baruna sering banget manggil Yumi pas ngigo?" tanya Ishak, yang juga dipertanyakan oleh Tedjo sendiri.
"Itu gara-gara Baruna sering mikirin si Yumi." sahut Awang kemudian.
"Hah...?" Tedjo bingung.
Ishak mendengus. "Ternyata Baruna serius sama omongannya."
"Dia bilang apaan, Bang...?" tanya Tedjo tercekat saking syoknya.
"Baruna mau ngelamar Yumi." sambar Awang.
"HAH?!" pekik Tedjo membuat mereka semua terlonjak kaget, termasuk Baruna yang langsung terbangun dari tidur singkatnya.
"Iya. Gue mulai suka sama dia pas pertama kali kita ketemu. Gue janji... gue bakal kerja keras di masa depan biar bisa nikahin Yumi secepat mungkin." kata Baruna sambil menarik lembut segaris senyum di bibirnya.
Seketika, Tedjo membeku. Tenaganya tiba-tiba lenyap begitu saja. Otot di kakinya ikut melemah. Apa yang ia takutkan selama ini benar-benar akan terjadi.
"Lo sering banget ngomongin si Yumi akhir-akhir enih, Bar. Gue, Bang Ishak sama Bang Karma jadi hafal sama omongan lo." gerutu Awang.
"Lo bercanda, Bar?" tanya Tedjo.
"Nggak. Gue nggak bercanda." cengir Baruna dengan wajah polosnya.
"Tedjo yang malang. Kayaknya dia juga suka sama Yumi." komentar Awang.
"Udah deh, Bro. Jangan cerita lagi. Ntar didengerin nih anak." sindir Ishak pada Tedjo. "Nih orang siapa sih ngupingin kita mulu?" tanyanya sambil menatap Tedjo baik-baik, namun pandangannya lambat-laun mengabur.
"Woi, Bang.... Ini kan si Embun? Ngapain lo semua cerita-cerita ke Embun. Ntar dicepuinnya ke Bang Tedjo." kata Baruna frustasi.
"Hah? Lo Embun?" tanya Awang.
"Kok Embun sih? Dia tuh Tedj—"
"Bener. Gue Embun adiknya Tedjo." potong Tedjo sebelum Karma bicara. Tedjo juga sengaja menirukan suara Embun agar ia bisa mengetahui apa yang tidak ia ketahui selama ini.
Karma hanya manggut-manggut dan memilih diam.
"Mbun, maafin kita ya. Kita nggak bermaksud ghibahin saudara lo. Bang Ishak noh yang mulai duluan." bela Awang.
"Hahaha... nggak apa-apa. Selo lo pada. Lanjutin aja." kata Tedjo berusaha tertawa, padahal di hatinya yang terdalam ada sebuah ketakutan terbesarnya.
"Oh iya, lo berdua udah ngomong ke Bang Tedjo belum, Bang?" tanya Baruna pada Awang dan Ishak.
"Oh iya... lupa gue." sahut Ishak.
"Apaan?" tanya Tedjo balik.
"Orang yang ditunggu-tunggunya selama ini udah balik." jelas Baruna sambil menahan matanya agar tetap terbuka.
"S-siapa?" tanya Tedjo tampak gugup.
"Mbun... kasih tau ya ke Abang lo. Hihihi...." Awang cekikikan membuat Tedjo semakin tidak sabar menunggu jawabannya.
"Apaan...."
"Tuh cewek balik lagi ke sini...." kata Awang seadanya.
"Itu berarti lo punya kesempatan buat dapetin si Yumi, Bar." kata Ishak.
"Baruna dan Yumi selamanya.... Tedjo jomblo aja...." gumam Awang sambil tertawa geli.
"Udah, woi. Ayo beres-beres. Lo semua bacot bener." kata Karma mengakhiri pembicaraan di tengah malam itu.
Mereka pun dengan sempoyongan membereskan sisa botol-botol susu pisang itu.
Tedjo sendiri tidak mempedulikan lagi apa yang mereka lakukan. Ucapan Awang tadi terus menari-nari di pikirannya yang membuatnya tidak tenang.
Walaupun begitu, ada sedikit rasa syukur karena bisa bertemu dengan orang yang selama ini ia tunggu.
...•••...
Paginya, Tedjo terbangun dalam keadaan yang kacau. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya untuk menetralisir cahaya matahari yang masuk ke netranya. Perlahan, tangan Tedjo menyentuh pipi Yumi dengan lembut.
Setelah mereka menikah, itu adalah kali pertamanya Tedjo melakukannya. Entah kenapa hatinya dipenuhi rasa gelisah dan takut. Ia masih kepikiran tentang Baruna-Yumi dan juga gadis itu.
Namun, detik berikutnya, Yumi terbangun dan langsung terperanjat kaget karena melihat wajah Tedjo sangat dekat dengan wajahnya.
"Woi!" seru Yumi, membuyarkan lamunan Tedjo. "Kenapa lo?! Ngapain lo deketin gue?!"
Tedjo menjauhkan dirinya sebelum Yumi memukulnya secara brutal.
"Lo mau mesum ya?!" Yumi segera menyeleding Tedjo, membuat laki-laki itu meronta-ronta minta tolong.
"Woi! Woi! Ampun! Gue nggak sengaja begitu!"
"Aouw!" Tedjo berusaha menangkis pukulan Yumi di kepalanya.
"Jauh-jauh dari gue, berengsek!"
Tedjo jatuh dari ranjang akibat tendangan maut Yumi.
"Woi! Lo kenapa sih?" tanya Tedjo mulai geram pada Yumi.
"Tanya aja ke diri lo yang mesum itu!"
"Cukup di mimpi aja lo neror gue. Jangan sampe di dunia nyata juga dong." rengek Tedjo dengan wajah memelas.
"Kenapa gitu lo? Emang di mimpi lo, gue nyuruh lo beresin garasi?" tanya Yumi tak mengerti.
"Udahlah. Udah muak gue." sahut Tedjo frustasi.
"Bener ya? Kenapa di mimpi tuh cowok gue nggak nyuruh dia jalan jongkok aja." gumam Yumi tanpa bisa didengar Tedjo.
"Aduh... encok gue." Tedjo meringis.
Setelah merasa aman, Tedjo beranjak meninggalkan Yumi sebelum mendapatkan bogem mentah lagi. Ia berjalan terseok-seok karena pinggangnya yang serasa akan patah.
"Pergi sono lu, jauh-jauh!" kata Yumi sambil melemparkan bantal ke arah Tedjo.
...•••...
Di suatu pagi yang cerah, Awang datang ke rumah Tedjo—menemui Embun. Tak lupa Awang membawa sahabat-sahabat Kekeyinya: Baruna, Ishak dan Caca. Sementara Karma lebih memilih menunggu di mobil karena tidak sanggup melihat Awang ditolak mentah-mentah.
"Kenapa gue harus suka sama lo?" tanya Embun begitu Awang selesai menyatakan perasaannya. "Gue aja nggak suka sama diri gue sendiri. Gue pengen banget buang diri gue asal lo tau."
"Kalo gitu... mau lo buang kemana diri lo? Mau gue pungut." tanya Awang dengan penuh harap.
"Isekai." jawab Embun datar.
"Wow...." gumam Caca takjub dengan pemikiran singkat Embun.
"Tapi, Mbun. Kalo lo nggak suka, ngapain waktu itu lo mau diajak foto sama Bang Awang?" tanya Baruna penasaran.
"Dia janji bakal beliin gue jeruk."
"Jeruk?" Kali ini Ishak yang bertanya karena bingung dengan ucapan Embun.
"Iya. Jeruk nipis."
"Wah.... Jadi, karena Awang nyogok lo makanya lo mau foto sama dia?" tanya Ishak sekali lagi.
"Woi, Bang. Ngapa lo nggak ceritain ke kita bagian lo nyogok Embun?" tanya Caca kesal.
Awang hanya bisa tersenyum canggung untuk menutupi pipinya yang memerah karena menahan malu.
"Udahlah. Ayo cabut." ajak Ishak, tidak mau Awang berlama-lama di sana karena sudah ditolak.
"Bang oh Bang.... Jomlah balek~" ledek Baruna sambil menirukan suara kartun favoritnya.
Mereka pun berangkat ke sekolah dengan merangkul Awang yang sedang patah hati.
...•••...
Di sekolah tercinta....
"HAH?!!" Tedjo hampir memekik ketika Ishak bercerita kalau Awang baru saja ditolak Embun.
"Makanya lo jangan jelek-jelekin gue semalem. Kena batunya kan lo." Tedjo menghela napas sejenak ikut prihatin dengan Awang tapi ada rasa kesal juga padanya.
"Jelek-jelekin lo? Kapan? Gue aja nggak ketemu lo semalem." tukas Awang membuat Tedjo mengernyit.
"Oh iya... anak-anak kan pada nggak sadar kalo gue yang datang ke rumah Bang Karma semalem." batin Tedjo.
"Udahlah, Wang. Lo lupain aja Embun. Masih ada Caca yang setia nemenin lo." tambah Tedjo.
Sejenak Awang terdiam. "Iya, Djo. Gue udah lupain Embun."
"Lah? Cepat banget lo ngelupain adek gue? Emang brengsek lo, Wang." gerutu Tedjo.
Beberapa saat kemudian, Tedjo diam-diam melirik ke arah Baruna yang sedang menyantap telur gulung dengan lahapnya. Ia melihat Baruna penuh arti.
Selang beberapa detik, Tedjo dan Baruna saling menatap.
Baruna yang bingung karena Tedjo terus menatapnya pun langsung menanyakannya.
"Ngapain lo liat gue begitu, Bang? Lo ada utang sama gue?" tanya Baruna sambil menatap Tedjo heran dengan mata bulatnya. "Oh iya, kan emang ada. Bayar utang lo, woi."
"Siapa yang ngeliatin lo sih?" elak Tedjo terlalu kentara. "Gue nggak ngeliatin lo pas makan kok."
Awang, Ishak dan Karma yang juga berada di sana pun ikut bingung dengan yang mereka bicarakan.
"Baruna, soal kemarin... lo tau... gue...." kata Tedjo gugup.
Baruna mendengar ucapan Tedjo baik-baik.
"Sebenarnya masalah lo sama gue tuh, apa, hah?" tanya Tedjo terus-terang.
"Hah? Harusnya gue yang nanya begitu sama lo, Bang."
"Ya udah. Lo tanya aja begitu."
"Hah?" Baruna semakin bingung. Kemudian, ia menuruti perintah Tedjo. "Sebenarnya masalah lo sama gue tuh apa, Bang? Akhir-akhir ini, lo sering marah-marah sama gue. Gue ada salah sama lo?"
"Lo pura-pura lupa atau gimana?" tanya Tedjo balik.
Baruna mengernyit. "Gue emang nggak ingat apa-apa bukan pura-pura lupa." bela Baruna.
"Jadi, lo masih ngelak ya?" batin Tedjo.
Tedjo memaksa untuk tersenyum begitu mendengar ucapan Baruna yang ia pikir sedang berbohong. "Kata siapa lo nggak ingat. Lo tuh ingat. Ingat banget malah."
"Terus, lo juga pura-pura lupa sama kesalahan lo tempo hari, Bang?" balas Baruna membuat senyuman di wajah Tedjo memudar perlahan.
"Woi, gais... lo berdua pada kenapa sih?" tanya Ishak yang tidak tahu apa-apa.
"Udahlah, Bang Is. Biarin aja Bang Tedjo terus nuduh gue yang bukan-bukan." sahut Baruna.
"Gue nggak nuduh lo. Gue bicara fakta."
"Fakta yang lo maksud tuh fakta yang semalem ya, Djo?" Karma membuka mulut. Jelas saja, Karma ingat dengan kejadian semalam. Karena dari mereka semua, Karmalah yang tidak banyak terpengaruh oleh susu pisang itu.
Tedjo mengangguk pelan.
"Bang Karma aja masih ingat. Tapi, bukan cuman itu aja kesalahan lo, Bar. Kesalahan lo sama gue tuh banyak sampe-sampe nggak bisa gue itung." kata Tedjo panjang lebar.
"Jangan cuman nyalahin gue aja, Bang. Lo lupa lo udah nipu gue di kantin kemaren? Gue nggak cuman bayar makan lo sehari itu aja, tapi gue juga bayar semua utang lo selama lo sekolah di sini." balas Baruna mulai kesal.
"Gue ganti duit lo sekarang kalo lo mau."
"Ya udah, Bang. Mana utang lo?" pinta Baruna kesal karena melihat sikap Tedjo yang selalu memarahinya tanpa sebab.
"Tapi, lo pasti nggak butuh tuh duit, kan? Ya udah... gue nggak perlu bayar."
"Gue nggak bilang begitu, woi."
Awang, Ishak dan Karma hanya bisa geleng-geleng melihat kelakuan dua orang itu.
"Dasar cimon." umpat Tedjo.
"Cimon?" Karma mengernyit.
"Iya. Kelinci montok." jelas Tedjo.
"Ya udah. Kalo gitu lo ngomong, Bang, salah gue apa?" tanya Baruna tak sabar.
"Lo ngomong kayak gitu, seakan-akan lo nggak tahu apa-apa. Padahal lo tau apa-apa, kan?" tuduh Tedjo.
"Argh! Emangnya gue ngapain sih, Bang, semalem? Tinggal jawab doang, susah banget." geram Baruna.
"Nggak. Lo nggak ngapa-ngapain kok." Tedjo mengurungkan niatnya untuk mengingatkan Baruna tentang yang diucapkannya semalam. "Gue cuman kesel liat muka lo. Itu doang."
"Oh...." Baruna manggut-manggut.
"Gue pikir kenapa. Ternyata cuman masalah sepele." sahut Jimin.
"Sepele lo bilang? Lo aja semalem juga ngedukung Baruna." celetuk Tedjo.
"Kapan?"
Tedjo menghela napas pasrah.
"Lo jadi, Bar, ngomong sama Yumi?" tanya Ishak pada Baruna yang membuat Tedjo terkesiap.
"Woi! Buat apa lo ngomong sama tuh cewek, hah? Awas aja kalo gue liat lo ngomong sama dia."
Setelah mengatakan itu, Tedjo bergegas pergi untuk menghampiri Yumi di kelasnya.
"Tuh anak kenapa dah?" tanya Karma pada sahabat-sahabat Kekeyinya.
Mereka hanya menggidikkan bahu tidak tahu.
...•••...
Ketika Tedjo akan menemui Yumi di kelasnya untuk mencegah Baruna membicarakan hal yang ditakutkannya itu, seorang gadis cantik bermata bulat menghampirinya.
"Hai, Tedjo...." sapa gadis itu dengan senyuman manisnya.
Tedjo terperangah. Ia tak percaya kalau gadis itu benar-benar kembali.
"Lo...."
Di tempat lain dengan waktu yang sama, Baruna sudah tiba lebih dulu ke kelasnya dan menemui Yumi. Tapi, kenapa Baruna seperti kehabisan napas? Apa dia sampai berlari ke kelasnya untuk menemui Yumi? Apa hanya itu alasannya? Atau ada yang lain....
"Yumi."
"Apaan?" tanya Yumi begitu melihat Baruna yang tengah mengatur napasnya yang ngos-ngosan.
"Lo udah tau?" tanya Baruna membuat Yumi tidak sabar.
"Tau apaan?"
"Kalo... tau tuh bukan tempe." canda Baruna garing. Ia mengurungkan niatnya untuk memberitahu Yumi.
Yumi mendengus sebal.
"Gue pikir ada hal penting yang mau lo bilang ke gue." gerutu Yumi.
"Nggak ada kok." Baruna tersenyum manis.
"ADA!"
Teriakan itu membuat Baruna dan Yumi menoleh ke sumber suara.
Dengan tergesa-gesa Awang, Ishak dan Caca menghampiri Baruna dan Yumi. Kecuali Karma yang memilih berjalan santai di belakang.
"Ada apaan, Bang?" tanya Yumi pada Awang.
"Gue liat woi!" kata Awang bersemangat.
"Liat apaan?" tanya Baruna.
"Lo berdua liat, kan?" tanya Awang pada Ishak dan Karma. Kemudian mereka mengangguk mantap.
"Gue liat Tedjo! Dia bareng— Mmmphhhh...."
Ishak dan Karma membekap mulut Awang sebelum Awang bicara terlalu jauh.
"Kenapa kalian menutup mulut Jimin oppa? Dia ingin berbicara sesuatu." tanya Yumi bingung dengan tiga orang laki-laki di hadapannya.
"Udahlah. Nggak usah dengerin Awang. Dia emang suka gitu kalo obatnya udah abis." sahut Karma dengan senyuman kikuk.
Sementara Awang sudah hampir kehilangan napasnya. Dengan sekuat tenaga, Awang melepaskan diri dari kedua sahabatnya itu.
"Lo harus tau, Yum. Tuh cewek mantan gebetannya si Tedjo!" kata Awang lagi.
"Hah? Siapa?" Yumi mengernyit tak mengerti.
Ishak dan Karma membekap mulut Awang lagi.
"Caca! Iya! Caca tuh mantan gebetan Tedjo pas mereka masih SMP!" kata Ishak berusaha menutupi kebenarannya.
Namun, usaha mereka sia-sia karena....
"Oh... maksud Abang-abang tuh si ****?" tanya Baruna dengan wajah polosnya.
Ishak dan Karma hanya bisa menepuk jidatnya masing-masing karena Baruna yang terlalu polos. Padahal mereka sudah susah payah menyembunyikannya dari Yumi. Alasannya, mereka hanya tidak mau masa lalu Tedjo yang kelam kembali terkuak.
...•••...