
Setelah sampai di dalam kamar mewah, didalam kapal pesiar tersebut. Agnes langsung menciumi , David dengan buas dan rakus hingga dirinya dan David terbakar suasana. David memutuskan untuk mulai mengikuti alur permainan dari istrinya itu.
Keduanya saling menyesap dan menggigit gemas. Saling bertukar saliva dengan gaya ciuman ala Prancis itu. Malam pengantin yang panjang ini mereka lalui penuh perasaan. Kedua perasaan dan gelora dari keduanya sudah sama-sama bergejolak tinggi.
Saat ini, raga keduanya telah semakin dekat. Hingga tidak ada jarak lagi. Apalagi, kini Agnes telah mengalungkan kedua lengannya ke leher kekar David. Dan, David belum bosan untuk menikmati bibir merah merona milik istrinya.
Keduanya bercumbu mesra dan panas. Apalagi kali ini, Agnes terlihat lebih agresif. Ia bahkan melucuti gaunnya sendiri dan juga jas serta kemeja yang dikenakan oleh David.
"Tanamlah benih yang banyak. Aku ingin melahirkan anak untukmu." Agnes menatap mata David lekat dengan senyum yang akhirnya tercetak di wajah keduanya. David dan Agnes akhirnya mengerang bersamaan seraya berpelukan erat.
Semetara itu.
Di sebuah Villa miliknya. Brandon Volkes baru saja berolahraga dengan para wanita simpanannya. Tentu saja, berolahraga bukan pada arti kata yang sebenarnya. Setelahnya ia berenang di kolam pribadinya yang luas. Ketika ia naik keatas, salah satu anak buahnya melapor.
"Jadi, putra kesayangan sahabat baikku, sudah menikah rupa nya?" Pria dengan brewok tipis di rahang nya ini tersenyum miring. Lalu melempar foto yang diberikan anak buahnya ke lantai dan Brandon menginjaknya.
Tatapan matanya yang tajam membuat aura wajahnya semakin bengis. Bahkan, pria paruh baya itu nampak menyisir dengan jari rambut ikalnya itu kebelakang. Setelahnya, ia kembali duduk, kemudian mengambil cerutu di kotak khusus yang di sodorkan oleh anak buahnya.
Menyelipkan di antara kedua bibir tebalnya yang berwarna kehitaman. Sang pengawal langsung merogoh pemantik di dalam kantong jaketnya.
Cetikk!
Suara pemantik api yang dinyalakan oleh salah satu anak buah yang selalu setia berada di sisi Brandon Volkes. Asap pun mulai membumbung di udara, ketika cerutunya itu telah terbakar pada ujungnya.
Brandon, terus menghisap benda itu dan menyesapnya dalam, berkali-kali. Hingga sekitar dirinya di penuhi oleh asap yang di buatnya sendiri.
Brandon menjentikkan jarinya, spontan seorang asistennya yang sedang duduk manis berpangku kaki jenjangnya itu, beranjak bangun dan menghampirinya.
Wanita cantik yang masih berpakaian lengkap namun minim. Sehingga, wanita tersebut menampilkan setiap lekuk dari raganya itu. Meletakkan asbak yang terbuat dari keramik berukir naga merah ke atas meja di depan sang tuan.
" Urat mu sangat kaku, Tuan ku," ucap nya lirih di samping telinga pria maskulin ini. Pria yang merupakan musuh perusahaan dari Regan ini terlihat hanya memejamkan matanya. Merasakan tekanan lembut dari jemari lentik itu di sekitar leher dan bahu nya.
"Santai lah sedikit, Tuan ku. Cepat atau lambat kita pasti bisa menghancurkan dan menghabisi mereka. Mungkin tidak sekarang. Tapi, kita bisa menggagalkan setiap rencana mereka. " ucapnya dengan sedikit ******* menggoda di belakang telinga Brandon.
Namun, pria paruh baya yang masih terjaga kebugarannya itu masih bergeming dalam diamnya.
"Kenapa? Keberuntungan masih berpihak pada mereka? Bukankah, racun itu cukup kuat? Atau, jangan-jangan ... kau tidak memberi dosis yang benar!" hardik Brandon, sambil menarik tangan yang sedang memijatnya itu kencang. Hingga pemilik tubuh yang seksi menggoda itu menabrak tepi meja di hadapannya.
"Awww! Tuan ...." Wanita itu terlihat mengusap pinggang rampingnya yang terbentur meja lumayan keras.
"Ini semua, pasti kecerobohan mu!" tuding pria berwajah penuh bulu macam monyet dengan menunjukkan jari nya ke depan wajah wanita cantik bertubuh seksi . Ia kini telah berdiri dengan handuk piyama yang masih melekat di raga kekarnya.
"Tentu tidak, Tuan ku," jelasnya dengan sedikit manja. Berani sekali dia, di saat wajah bengis itu mengeras. Wanita itu malah berusaha mengendurkan nya dengan godaan. "Kenapa, anda tidak percaya padaku? Sampai, tega menyakitiku?" ucapnya, mulai akting merajuk.
"Aku, bahkan ... telah memberikan pada Arthur dosis yang sesuai. Bahkan ... belum lama ini pria itu baru saja ... meminta racun baru dariku," jawab wanita yang bernama Messy, terbata.
"Kau pasti berbohong! Karena pria itu justru menikah, bukannya mati!" teriak Brandon sambil memberi pukulan keras.
Messy pun terpelanting ke atas lantai dengan memekik kencang.
Brandon kembali menghampirinya dan menarik ujung rambut panjangnya. Mengambil cerutu dan meminta sang anak buah menyalakannya kembali. Lalu ia mendekatkan bara api dari ujung cerutu itu ke arah wajah Messy.
"Apa yang ingin kau lakukan!" Kedua mata Messy terbelalak.
...Bersambung ...