
"Dav, aku mohon jangan tinggalkan aku ... lagi," lirih Agnes seraya menenggelamkan kepalanya dipunggung David yang lebar dan kekar. David terlihat mengeraskan rahangnya. Menahan rasa kesal, kenapa Agnes harus mengucapkan keinginannya seperti itu.
Wanita itu, yang ia tau sangat tidak suka padanya sejak dulu. Entah kenapa tiba-tiba mencarinya dan meminta tolong. Tanpa pikir panjang, dia yang tidak pernah bisa menolak permintaan dari orang yang kesusahan tentu saja tanpa pikir panjang lagi membawa Agnes pergi. Lari dari rumahnya sendiri.
Tanpa berpikir jika masalah gadis itu akan merembet padanya. Akan membuat susah dirinya. Entah, dapat dorongan darimana, dirinya seakan merasa bertanggung jawab semenjak pertama kali melihat gadis tomboi yang sempat membuat penasaran kala itu.
Sikapnya yang dingin dan acuh, menjadikan nilai unik tersendiri. Karena dirinya memang tidak suka pada wanita yang agresif. Tapi, perlakuan berani Agnes kala itu, terus membekas padanya hingga kini. Meskipun ia tau jika hal itu Agnes lakukan sebagai sebuah kamuflase. Akan tetapi ia sadar, mereka sempat terhanyut ketika melakukannya. Seperti tidak sedang melakukan satu hal yang dipaksakan. Entahlah, David pun bingung akan perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya ini.
Kali ini, gadis itu datang lagi dan berkata akan menebus hutang budi serta kesalahannya. Rela memberikan tubuh serta masa depan gadis itu pada dirinya. Entah, apakah dirinya harus senang atau merasa sebagai laki-laki yang pandai memanfaatkan situasi? Bukan tipenya sebagai pengambil keuntungan dari orang lain.
David berusaha melerai pelukan erat yang Agnes berikan. Ia tak mau, menjadi perusak masa depan gadis itu.
"Pergilah, aku akan membereskan semuanya. Maaf, bukan aku mengusirmu. Hanya saja aku--" David kembali terbelalak. Ketika Agnes semakin mengeratkan rangkulannya. Gadis itu tetap bersikukuh tak mau pergi. Bagaimana pun ia mengusirnya. Meskipun dalam hatinya, jujur, David sangat senang jika Agnes dapat membantunya menyelesaikan masalah keturunan ini.
"Kau tidak akan bisa mengusirku. Karena aku tidak akan pergi. Aku akan disini. Bersamamu, kemanapun kau pergi. Dalam keadaan apapun. Ku mohon, jangan usir aku, Dav!" Agnes memekik seraya tak mau melepaskan pelukannya.
David hampir tak mampu menguasai dirinya ketika ia merasakan bahwa Agnes berkali-kali mengecup punggungnya. Meskipun tertutup lapisan kemeja. Tetap saja yang di lakukan gadis itu mampu mendatangkan bahaya pada dirinya. Sesuatu pun bangkit seketika. Hal yang selama ini David tahan mati-matian.
"Apa kau sadar? Bahwa apa yang sedang kau lakukan sekarang ini akan membuatmu menyesal seumur hidup? Apa ... kau, menggunakan akal sehatmu!" David berkata tegas, seraya memaksakan kewarasan itu tetap bertahan di dalam kepalanya. Napasnya sudah turun naik. Terlihat dari jakunnya yang bergerak-gerak gelisah. Dadanya kembang-kempis. Menahan gelora yang hampir meledakkan rasa yang berpusat pada bagian tengah tubuhnya.
Sungguh menyiksa.
Satu sisi, ia menginginkan ini. Sangat ingin.
Sesuatu hendak berontak dari dalam tubuhnya. Sesuatu yang mengalir hangat didalam darahnya.
Sensasi gelenyar dan merinding yang belum pernah David rasakan selepas ini.
Begitupun dengan Agnes. Ia merasa hasrat yang selama ini terpendam maka harus di tuntaskan dengan cara begini. Ia merasa bahwa hatinya telah menemukan sebuah rumah yang nyaman. Dimana ia ingin tinggal dan menetap di dalamnya.
Apakah gadis ini memang pemilik yang sesungguhnya?
...Bersambung...