
David sesekali tersenyum simpul kala melihat rona merah di wajah gadis tomboi yang kini telah bermetamorfosis menjadi anggun dan sangat seksi. David bahkan hampir tak mampu menahan dadanya yang bergejolak sejak tadi.
Bagaimana tidak, jika gadis yang selama ini ia pikirkan keadaannya. Ia khawatirkan nasibnya. Saat ini telah datang tiba-tiba seakan mimpi jadi nyata. Apalagi, kini sosok gadis itu bagaikan bidadari yang turun dari langit. Membuat David menelan ludahnya berkali-kali.
Bagaimana kau bisa secantik ini, Nez. Apa yang telah mereka lakukan padamu. Apakah kau masih Agnes si tomboi itu. Emak kucing. Gadis yang selaku diikuti kucing dimanapun dia berada. Kenapa kau nampak berbeda? Kau membuat jiwa lelaki yang selama ini kupasung meronta hendak melepaskan diri. Apakah ini akhir dari pencarian ku. Apakah kau salah satu wanita itu? Tidak! Aku ingin kau yang menjadi satu-satunya.
David hanya bisa membatin seraya memperhatikan Agnes yang sedang menikmati kue pie buatan koki tadi. Nampak sekali jika gadis ini teramat menyukainya. Ataukah, sudah lama Agnes tak makan enak? Lagi-lagi, David membayangkan betapa menderitanya Agnes beberapa waktu lalu.
"Pelan-pelan saja makannya. Kue itu hanya untukmu," ucap David seraya membantu memegangi rambut Agnes yang menjuntai ke depan wajahnya. Hal itu ternyata membuat Agnes semakin dakwah tingkah. Gadis itu semaki banyak dan cepat kala memasukkan potongan dari pie tersebut.
Hingga ia tersedak.
Uhuk! Uhuk!
Agnes memukul dadanya pelan. Sementara David langsung segera menuangkan air dan menyodorkan tepat di depan bibir Agnes.
"Ku bilang apa tadi. Pelan-pelan saja," ucap David seraya mengusap punggung belakang Agnes pelan. Pria ini nampak khawatir, padahal Agnes hanya tersedak. Perhatian dari David membuat Agnes semakin bingung harus berbuat apa. Ia merasa aneh dan seperti ada yang menggelitik di hatinya.
"Sudah. Aku tidak apa. Tadi aku hanya keeenakan saja. Pie ini sangat enak. Aku teringat akan buatan ibuku dulu," jelas Agnes. Memang benar. Agnes yang sejak kecil memang menyukai pie buatan ibunya. Kini seakan tengah nostalgia ke masa lalu. Ia semakin merindukan sang ibu. Ia pun kembali ingat bagaimana sifat asli sang bibi. Hingga ia berakhir pada posisi ini.
Berusaha menjadi gadis yang kuat meskipun kenyataan menekan dadanya begitu berat. David tau, bahwa garis dihadapannya ini sedang menahan dirinya untuk tidak kembali meledak. Hingga ya berjanji pada dirinya sendiri.
Kamu. Saat ini aku berjanji kamu akan aman. Gak akan ada lagi, siapapun yang berani mengganggumu. Aku akan melibas mereka siapapun itu!
David menarik tubuh yang berusaha tak gemetar itu. Merebahkan kepala Agnes kedalam pelukan dada bidangnya. Hingga, Agnes menyambut dengan melingkarkan kembali kedua lengannya.
"Tenanglah. Jangan memikirkan apapun lagi. Kita akan menyelesaikan masalah itu sama-sama. Jangan menghawatirkan keadaanku lagi. Aku akan melindungi lebih baik dari yang lalu," tutur David penuh keyakinan.
Agnes merenggangkan pelukannya dan sedikit mendongak untuk menyahut ucapan David. "Tapi, kau tak tau, Dav. Aku kesini untuk --"
"Sstt!" David meletakkan jari telunjuknya pada bibir merah Agnes.
"Kau tidak tau siapa aku sekarang. Kekuatanku bahkan lebih besar dari siapapun yang sudah mengirim kamu kesini," ucap David dengan seringainya.
Sontak perkataannya itu membuat kedua bola mata Agnes membola. Namun, Agnes belum dapat mengeluarkan suaranya. Karena kini bukan hanya telunjuk David yang menempel pada bibirnya. Melainkan, wajah pria itu yang sudah tanpa jarak sedikitpun. Hingga, kali ini Agnes seakan menahan napasnya.
...Bersambung ...