Sistem Reinkarnasi Mendadak Kaya

Sistem Reinkarnasi Mendadak Kaya
Bab. 48. Misi Sistem Sesungguhnya.


Saking seriusnya memikirkan jumlah anak. Agnes tak menyadari jika pot tempatnya bersembunyi untuk mencuri dengar seakan semakin condong ke depan. Setelah ia sadar, buru-buru, Agnes menarik tanaman tersebut, karena tak ingin persembunyiannya ketahuan akibat suara keras dari pot besar yang jatuh. Tapi, sebelah kaki dari Agnes, justru tak sengaja menendang pot yang sangat kecil.


Prankk!


Bunyi nyaring dari benda pecah pun tak dapat terelakkan lagi. Hingga perhatian tiga orang yang berada di dalam ruangan tersebut seketika beralih ke arah sumber suara. Hal itu membuat Agnes menjadi kelabakan. Kalau sudah begini tak mungkin lagi baginya menyembunyikan diri.


"Agnes?" heran David. Kenapa gadisnya ada di sana? pikirnya.


Melihat kejadian ini. Regan dan Sovia merasa penjahat yang tengah ketahuan ketika sedang menyusun rencana. Sementara, Agnes ia merasa sungguh tak enak hati. Ia hanya menumpang di rumah ini. Tapi dengan tidak sopan telah mencuri dengar obrolan para tuan rumah.


Merasa terlanjur basah. Agnes pun menampakkan dirinya. Merapatkan kedua tangan di atas paha, lalu membungkukkan badan serendah mungkin.


"Maaf, saya tidak bermaksud untuk --"


"Berdirilah!" titah Sovia memotong ucapan Agnes. Karena merasa tak enak hati, Agnes tak menyadari jika ternyata, ratu di mansion ini sudah berada di depannya. Perempuan hampir paruh baya ini menyentuh lembut bahu gadis cantik yang akan segera menjadi menantunya ini.


Dengan rasa canggung yang teramat sangat. Agnes mengangkat wajahnya. Hingga, kini dirinya dapat menatap lebih jelas bagaimana rupa dari wanita yang telah melahirkan David. Mungkin. Karena David hanya bercerita padanya bahwa dirinya hidup kembali di dalam tubuh seorang pria yang juga bernama David. Bahkan bukan hanya namanya yang sama akan tetapi juga rupa dan bentuk tubuhnya.


Ya ia akui itu. Meskipun tubuh David yang dulu ia kenal agak lebih kurus memang. Agnes menghilangkan kepalanya agar memikirkan hal yang membuatnya pusing. Karena sampai saat ini dia belum sanggup mencerna apa yang ada diceritakan. Apalagi ketika Ia bertanya Bagaimana bisa orang yang telah mati hidup kembali di tubuh orang lain.


David hanya menjawab, bahwa dia tidak bisa mengatakan kepada orang lain. Aneh bukan?


Karena itulah Agnes lebih memilih untuk tidak memperdulikan asal usul bagaimana cara David bisa selamat. Terpenting, mereka berdua dapat bertemu kembali dan kini telah menyatu.


"Mumpung Agnes ada di sini. Sebaiknya kita bicarakan rencana pernikahan kalian sekarang!" titah Sovia dengan senyum semringah.


Deg!


Pernikahan? Haih, apa iya aku akan menikah. Dengan David? Anak sultan? Apa ini akhir dari kesengsaraanku?


Agnes terlihat memegang dadanya yang tengah berdegup kencang. Bahkan ia ketakutan jika suara debarannya itu terdengar sampai ke telinga Sovia.


Ku mohon. Berhentilah berdebar-debar. Aku tidak mau tiba-tiba pingsan. Aku kan mau menikah.


"Dav," panggil Sovia seraya menyerahkan Agnes yang masih nampak kikuk.


"Thanks, Mom," ucap David senang campur gembira.


"Kau sedang apa? Baru juga di tinggal sebentar sudah rindu," seloroh David asal, tapi dapat menciptakan rona merah di kedua pipi Agnes. Pria tampan dengan iris matanya yang biru merangkul dan mengecup singkat pipi yang merona itu.


"David!" pekik Agnes tertahan. Gemas sekali menerima perlakuan David padanya. Kalau hanya berdua mungkin bukan masalah. Tapi ini, ia lakukan di depan kedua orangtuanya. Hal itu membuat Agnes merasa sangat malu sekali.


Ketika sampai di depan Regan, Agnes kembali menunduk sebagai tanda hormat. Pria itu pun tersenyum. Sejak awal dia sempat tidak yakin jika mereka berdua akan cocok.


Setelah mereka semua duduk di dalam ruangan tersebut. Regan tiba-tiba membuka suaranya. "Kalian, akan menikah pekan depan. Bersiaplah!"


Glek!


Agnes merapatkan kedua kakinya. Agar gemetarnya tidak kentara oleh yang lain. Namun, tidak dengan David. Ia langsung meraih jemari Agnes mengenggamnya erat.


Dia menoleh dan tersenyum." Kami siap, Dad!" seru David penuh keyakinan.


Dia benar-benar ingin menikahiku. Wajahnya bahkan sebahagia itu. Ah, Agnes. Kau akan menikah dan melahirkan anak-anaknya.


__________


[ Kesembuhan anda telah kembali. Bahkan kekuatan anda bertambah tiga kali lipat. Tapi ..., ]


"Tapi, apa?" David bertanya santai sambil mencuci wajahnya di depan wastafel.


[ Misi anda, harus bisa memiliki enam orang anak dalam waktu dua tahun. Apakah dengan satu wanita saja itu cukup? ]


"Apa!" David sontak berbalik menghadap Paul.


"Kau tidak mengatakannya sejak awal. Maksudku, jumlah anaknya!" protes David terlihat tidak terima akan syarat yang di ajukan oleh sistem.


[ Anda tidak bertanya, Tuan. Bahkan, dari keenam anak itu. Minimal harus ada anak laki-laki. ]


"PA'UL!"


[ Jangan marah, anda bisa berkonsultasi dengan kawan anda, Tuan. ]


________


"Oke. Gua pasti datang, Renk!"


"Apa! Gila lu! Gimana caranya dua tahun punya enam anak!" pekik Boy di depan layar ponselnya.


"Sayang, kenapa berteriak? Siapa yang mau punya anak enam?" Chiebie menautkan alisnya hingga menyatu.


"Bukan aku sayang, Chiebie. Tapi, Zerenk," sahut Boy.


"Lalu, apa kau tidak menginginkannya juga?" tanya Chibie, yang tau-tau sudah berada di belakang suaminya itu.


"Tentu saja aku ingin. Tapi, aku tidak akan membebanimu dengan itu. Kau bisa memutuskan untuk hamil, kapanpun kau siap, sayang," ucap Boy, dengan berbisik lembut di telinga Chiebie.


"Kalau kau mendapatkannya sekarang, bagaimana?" tantang Chibie dengan senyum penuh arti.


"Maksudmu?" Kening Boy seketika menciptakan kerutan tiga lapis.


Chibie, mengeluarkan sesuatu dari balik tubuhnya.


...Bersambung ...