
"Apa kalian sudah saling mengenal?" tanya Sovia seraya menatap David dan Agnes secara bergantian. Tentu saja, pertanyaannya membuat keterkejutan dari kedua orang yang saling merindu ini berhenti. Mereka berdua mengubah ekspresi dan berusaha setenang mungkin.
"Bukankah, Daddy sudah memberikan datanya padaku semalam. Maksudku, memberi tau namanya." David berusaha berdalih. Ia tak ingin membuat kedua orang tuanya curiga. Jika wanita yang berada di hadapannya ini adalah gadis yang ia kenal di kehidupan sebelumnya.
Namun, hal itu justru membuat David bingung. Bagaimana, Agnes bisa sampai ke tempat ini dan menjadi salah satu kandidat yang akan dijadikan hareem untuknya.
"Dan kau?" Sovia menunjuk ke arah Agnes. Seakan melempar tanya dari mana gadis ini bisa mengenal putranya. Karena Sovia paham, tatapan kaget keduanya sesaat tadi.
"Ah, sa–saya ... tentu saja mengenal Tuan David dari berbagai media. Juga dari Tuan besar Regan tentunya," jawab Agnes lembut dan anggun. Ia yang sebenarnya adalah gadis tomboy, telah berusaha sekeras mungkin untuk mengubah karakternya itu menjadi wanita yang sesungguhnya.
Tanpa ia sadari jika perubahan saat ini membuat pria di hadapannya benar-benar terkesiap. David seolah tenggelam dalam pesona Agnes saat ini.
Dia, bagaimana bisa manjadi perempuan tulen begitu? Mana cantik dan seksi lagi. Apa ini yang dimaksud oleh Pa'ul, sebagai kejutan dalam takdirku yang tersembunyi?
" Tapi, bagaimana dia bisa ada di posisi ini. Bagaimana dirinya lepas dari lintah darat itu dan menjadi kandidat hareem laki-laki lain. Ah, kepalaku pusing." Tanpa sadar David bergumam. Mengeluarkan kata yang ada di dalam hatinya.
Bagusnya tidak ada yang mampu mendengar gumaman pelannya itu.
David terlihat memijat pelipisnya. Kepalanya mendadak sakit ketika memikirkan segala kemungkinan yang terjadi pada kenyataan dihadapannya saat ini.
"Sudahlah, sayang. Kita tinggalkan mereka berdua. Biarkan para pemuda ini saling mengenal satu sama lain." Mendengar ucapan Regan, Sovia pun mengangguk setuju. Akhirnya pasangan suami istri ini pun meninggalkan taman belakang. Membiarkan David dan Agnes tenggelam dalam kebingungan mereka.
Dalam pikiran Agnes.
Bagaimana bisa dia yang menjadi anak dari konglomerat super kaya ini. Sultan alias crazy rich. Bahkan, aku ... aku mendapat misi untuk menghabisinya. Kebetulan macam apa ini? Apa takdir sedang meledekku atau sengaja ingin membuatku mati kaget.
"Kau--" David tak dapat meneruskan kalimatnya karena ia tak dapat lagi berkata-kata. Gadis yang selama ini terus mengganggu pikirannya lantaran ia sangat menghawatirkan keadaannya. Kini, ada di depan matanya dengan penampilan yang sangat berbeda. Namun, hal itu tidak membuat David memiliki alasan untuk tidak mengenalinya.
Begitupun, dengan Agnes. Gadis itu terus meluruhkan air matanya dengan mulut yang ia bekap menggunakan kedua telapak tangannya sendiri. Kalau tidak begitu maka pekikan kencang darinya akan mengagetkan semua orang.
Bagaimana bisa, pria yang ia kira sudah mati kini berdiri tegak di hadapannya. Seketika ia lupa terhadap misi itu. Ia lupa jika target yang harus ia habisi adalah pria yang selama ini ia rindukan. Pria yang meregang nyawa karena hendak menolongnya. Pria yang ia paksa pergi dari alam dunia.
Agnes berusaha untuk menguasai dirinya. Ia harus memastikan apakah yang di hadapannya ini benar-benar David.
"Ka–kau, David?" tanya Agnes dengan suaranya yang parau dan serak. Hidungnya sudah memerah. Air mata itu meleleh diantara kedua pipinya. Namun, hal itu tidak membuat riasan pada wajahnya luntur.
"Ya, aku David. Kau kandidat ke-enam? Bagaimana bisa?" cecar David yang sudah tak mampu menahan keinginan tahuannya.
"Aku, bahkan melihat keadaanmu yang sudah tidak bergerak lagi. Kenapa sekarang bisa--" Agnes tak mampu lagi meneruskan kata-katanya. Ia pun menangis sejadi-jadinya.
"Hei kau kenapa--" David tak dapat meneruskan pertanyaan karena gadis yang sangat cantik di hadapannya ini telah menubruknya. Gadis itu memeluknya dengan erat, dan aneh ... David tak menolak. Justru, dia mengulurkan tangan untuk membalas pelukan Agnes. Ada satu dorongan dalam dirinya yang membuatnya ingin melakukan hal itu. Karena ada rasa yang hampir meledak dalam dadanya. Tapi, David tak tau itu apa.
Pria ini belum pernah jatuh cinta sebelumnya.
Karenanya ia bodoh masalah hati dan perasaan.
"Jadi ... kau benar-benar David? Kau masih hidup ...?" tanya Agnes lirih. Ia tak sedikitpun meregangkan pelukannya. Seakan-akan mereka akan terpisah lagi.
"Ya ini aku. Ceritanya panjang. Akan tetapi, aku belum bisa menjelaskannya padamu. Untuk saat ini. Ku rasa, tentu kau dapat menjelaskan bagaimana bisa berada di posisi ini bukan?" Seketika pertanyaan dari David membuat Agnes meregangkan pelukannya terhadap pria itu. Sontak David langsung menghapus pilihan air mata yang membekas di kedua pipi Agnes dengan ibu jarinya.
Hal yang spontan dilakukan oleh David, membuat Agnes mendongak hingga dapat menatap jelas wajah pria yang sangat merindukan ini dari dekat.
"Aku tidak peduli bagaimana caranya kau bisa berada dalam keadaan seperti ini, Dav. Tapi, satu hal yang pasti. Aku sangat senang dapat melihatmu lagi. Aku ketakutan ketika pada saat itu aku melihat seluruh tubuhmu di berondong oleh peluru dan darahmu--" Agnes tak dapat lagi meneruskan ucapannya karena hatinya kembali sakit ketika mengingat saat itu.
David, kembali menarik raga rapuh itu ke dalam pelukannya kemudian ia mendekatnya dengan erat. Melampiaskan rasa yang berkumpul dalam hatinya sejak lama. Rasa yang belum pernah ya rasakan sebelumnya terhadap wanita manapun. Tapi kini dirinya mengerti bahwa itu adalah perasaan peduli dan juga rasa yang tidak bisa diberikan sembarangan begitu saja kepada wanita lain. Ternyata perasaan inilah yang membuat dirinya tak mampu melupakan sosok garis tombo yang kini telah bertransmigrasi menjadi gadis yang anggun dan cantik.
"Aku memiliki kesempatan untuk kembali hidup yang kedua kalinya. Karena itu aku memiliki beberapa misi di dalamnya. Dalam kesempatan yang kedua ini. Aku akan menjadi pria yang lebih berguna dan kuat. Aku akan melindungimu lebih baik lagi. Tidak akan membiarkan siapapun membawamu jauh dariku lagi." David terus habiskan kalimat demi kalimat melalui telinga Agnes.
Hal itu kembali membuat artis meregangkan pelukannya. Tingginya yang hanya sebatas dada David membuatnya kembali mendongak untuk melihat raut wajah pria yang memeluknya erat ini.
"Selamatkan aku ...! Aku tidak mungkin membuatmu kehilangan nyawa untuk yang kedua kalinya. Karena aku tiada akan pernah memaafkan diriku sendiri selamanya. Lebih baik aku saja yang mati!" Tiba-tiba Agnes memekik di dalam pelukan David.
Raganya bergetar hebat. Nampak sekali ketakutan itu telah menguasai dirinya. Tak lama kemudian Agnes pun pingsan.
Gadis itu sebenarnya tidak kuat menahan tekanan dalam dirinya sendiri. Ketika ia mendapati satu kenyataan bahwa ia yang berada dalam misi untuk melakukan pembunuhan terhadap anak sultan, membuatnya justru kembali bertemu dengan pria yang telah rela meregang nyawa untuknya. Hingga pria itu mati di tangan para penjahat.
Agnes tak kuasa menerima kenyataan bahwa dirinyalah yang akan kembali membuat David kehilangan nyawanya. Sungguh sebuah ironi yang dramatis.
"Siapa mereka? Siapa yang telah membuatmu menderita tekanan psikis seperti ini? Asal kau tahu aku tidak akan mengampuni mereka lagi!"
...Bersambung...