Sistem Reinkarnasi Mendadak Kaya

Sistem Reinkarnasi Mendadak Kaya
Bab. 49. Pernikahan Dan Kapal Pesiar.


"I–ini?" Kedua mata Boy membola. Ketika Chiebie menunjukkan sebuah benda yang ia tau itu apa berikut arti garis dua di sana.


Chibie hanya mengangguk cepat dengan kedua mata yang berkaca-kaca. Ia tak menyangka akan secepat ini menerima anugerah bertubi-tubi dalam hidupnya. Boy, adalah malaikat tanpa sayap yang telah mengangkatnya dari keterpurukan.


"Maksudmu? Aku akan jadi seorang ayah?" tanya Boy memastikan lagi. Karena, hatinya sangat terkejut. Baru saja kawannya konsultasi bagaimana cara agar mempunyai bayi. Kini, justru dirinya yang lebih dahulu akan memilikinya.


Chibie kembali mengangguk cepat. Bahkan kali ini ia juga tertawa kecil. Melihat ekspresi suaminya yang speechless, membuat rasa bahagia itu bertambah besar di hatinya.


"Apa iya? Ah apa ini benar? Aku akan jadi seorang ayah? Kita akan menjadi orang tua dari bayi kecil?" Boy masih belum percaya. Hal yang sangat ia impikan akan terwujud beberapa waktu lagi. Ia bahkan memegang erat kedua bahu Chiebie kemudian melabuhkan kecupan dalam di kening istrinya.


"Terimakasih sayang. Mulai sekarang aku akan menjagamu lebih baik lagi. Ayo duduk, mau tidak boleh kelelahan."


"Ahh, Boy!" Tubuh Chiebie melayang. Karena Boy tanpa aba-aba menggendongnya ala bridal style.


Kemudian, Boy mendudukkannya di sofa yang terletak pada sudut kamar. Dengan jendela yang langsung menghadap keluar. Boy, nampak berlutut, kemudian mengulurkan tangan untuk menyentuh perut rata Chibie.


"Dia, di sini," ucap Boy seraya menatap bergantian antara perut dan wajah cantik alami istrinya itu.


"He'em ... dia anakmu. Kini sedang tumbuh di dalam rahimku. Semoga, cepat besar dan sehat selalu. Agar rumah ini ramai dengan tawa dan tangisnya," sahut Chiebie dengan senyum yang mengembang.


"Zerenk pasti iri kalau tau," gelak Boy.


"Memangnya, dia sudah menikah?" tanya Chiebie heran.


"Sebentar lagi. Nanti, kita datang. Tapi, kita harus bertanya dulu pada dokter. Apakah tidak akan bermasalah nanti, jika kau bepergian jauh," tegas Boy. Chibie hanya mengangguk. Ia adalah isteri yang penurut.


_____________


Pernikahan David dan Agnes akan dilaksanakan hari ini. David berkali-kali menelan ludahnya susah. Ketika Agnes di gandeng oleh iring-iringan pengantin.


Tak menyangka jika si tomboi pencinta kucing ini bisa sedemikian cantik. Bahkan, kulitnya yang putih bersinar di saat terkena sinar lampu.


"Kau bagaikan seorang ratu. Aku, siap menjadi hamba mu, yang mulia," goda David ketika mereka berdua telah berdiri bersebelahan.


"Seriuslah. Berhenti menggodaku." Agnes berkata dengan kedua mata yang melotot. Tapi hal itu justru membuat David semakin gemas. Kalau bukan di depan banyak orang. Wanita di hadapannya ini sudah pasti menjadi santapannya yang Mamamia lezatos.


"Baiklah, yang mulia."


"Ish!"


Setelah mengatakan kalimat terakhir. Keduanya pun serius mengikuti satu persatu rangkaian pernikahan. Hingga tiba saat yang ditunggu-tunggu oleh David. Dimana ia harus mencium bibir Agnes di depan orang banyak. Bahkan sorak-sorai itu, seakan sengaja di elukan.


"Cium dia, Renk!" Ternyata teriakan dari Boy lah yang paling kencang. Tentu saja hal itu menambah semangat bagi David. Apalagi, ketika dilihatnya raut wajah Agnes tersipu merah.


Apa harus ya, di cium di sini? Haihh, bagaimana ini! Kenapa ekspresi David seperti itu!


Agnes nampak bergidik ngeri. Karena sorot mata David seakan ingin menerkamnya. Padahal, baru saja mereka mengikat janji dan Agnes hampir menangis karena ucapan dan ikrar yang David ucapkan untuknya.


"Sayang. Ayo!"


"A–ayo apa?" Agnes pura-pura tak mengerti.


"Ih, pura-pura deh. Jangan mengecewakan penonton. Atau pernikahan kita tidak berkat nanti," ucap David asal.


Tentu saja hal itu membuat Agnes terkekeh.


"Kenapa tertawa? Sini!" David pun menarik pinggang ramping Agnes hingga menempel pada tubuhnya. Lalu, meletakkan telapak tangannya di belakang tengkuk, dan ... Agnes hanya bisa membelalakkan kedua matanya, tatkala benda kenyal itu mengulum lembut bibirnya.


"Woooo hoooooo!"


Seruan heboh di sertai tepukan tangan pun riuh di dalam bangunan sakral tersebut.


Acara telah selesai. Tapi, rona malu itu masih membekas sampai sekarang. Untuk pertama kalinya Agnes di cium di depan orang banyak. Bahkan sampai di tepuki ramai bergitu. Tapi, dia juga senang dan bahagia. Karena itu pipinya terus saja merah.


"Sayang kau tidak mengajak istrimu, Bro," sesal David kala Boy menjabat tangannya memberi selamat.


"Maaf, dia sedang hamil dan dokter melarangnya untuk bepergian jauh. Seandainya aku bisa menggunakan kuasa teleportasiku. Sayang, sistem melarang orang lain untuk mengetahui kekuatanku. Sebelum, Chiebie melahirkan anak kami," jelas Boy.


"Sial! Kau mendahului kami, Boy!" Mereka berdua pun tertawa terbahak-bahak.


"Nanti kita bicarakan lagi. Chibie, aku tidak bisa jauh darinya."


Setelah kepergian Boy.


"Ayo kita pulang!" ajak David seraya menggandeng tangan Agnes.


"Kok pulang? Kita kan baru saja menikah?"


"Iya, aku ingat."


"Kau itu kaya, Dav!"


"Lalu?"


"Kau itu Sultan!"


"Ya, terus?" David terus saja menggoda Agnes dengan memasang wajah datar, membuat wanita yang baru saja dipersunting olehnya itu naik darah.


"Seharusnya kau mengajakku ke hotel mewah atau kemanapun itu, selain pulang ke rumah!" sosor Agnes, macam orang menggerutu.


"Kamarku, bahkan lebih mewah dari kamar hotel!" celetuk David.


"Dasar suami gak peka!" Karena kesal Agnes pun berjalan cepat menghampiri Limosin milik keluarga Voster yang sudah menunggu. Ia berjalan dengan terburu-buru, seraya mengangkat ujung gaunnya ke atas.


David hanya terkekeh geli melihat tingkah Agnes.


Di dalam mobil mereka pun terdiam. Agnes membuang wajahnya menghadap ke jendela mobil.


Tak lama kemudian.


"Dav. Ini kita mau kemana?" Kedua mata Agnes mendelik ketika jalan yang mereka lalui justru menuju sebuah dermaga.


"Katanya mau Honey moon," ucap David yang sudah berjarak sangat dekat dengan wajah Agnes. Hingga ia dapat mencium aroma cheri yang lembut.


"Dav, ini di mobil!" tahan Agnes ketika David ingin menciumnya kembali.


"Apa masalahnya?"


"Itu!" Agnes menunjuk ke arah sopir mereka. Lalu, David langsung menutup jendela penghubung antara kursi penumpang dengan pengemudi.


"Sekarang beres. Tidak ada yang dapat melihat, maupun mendengar kita," bisik David seraya menggigit'kecil telinga Agnes. Alunan merdu pun keluar tak sengaja. Hingga, Agnes membekap mulutnya.


Sang sopir terlihat menyumpal telinganya dengan earphone.


Sementara dikursi belakang, David semakin aktif.


"Ah, Dav! Tidak bisakah nanti saja. Aku--" Agnes tak lagi bicara karena, David membungkam bibirnya yang cerewet.


Agnes menghirup udara banyak-banyak ketika David melepas ciumannya yang buas.


"Kau ini, kebiasaan!" Agnes memukuli lengan David karena telah membuatnya sesak.


"Makanya bernapas dong, sayang."


Cup!


"David!"


"Hushh! Lihat itu!" David menggerakkan tahang Agnes agar menoleh ke jendela mobil. Pada saat itulah, Agnes melihat sosok Kapal pesiar yang berdiri gagah di pinggir dermaga.


"Itu--?"


"Itu, ku beli atas namamu. Lihatlah!"


Agnes Harbour.


"David ... aku sayang padamu! Cepat hamili aku!"


"Iya, nanti kita produksi di dalam kapal pesiar!"


...Bersambung ...