
[ Anda hebat dan beruntung, Tuan. ]
"Ada apa? Langsung ngomong aja gak usah basa-basi!"
[ Tuan, bisakah Anda berbicara dengan saya menggunakan bahasa yang sopan seperti yang ada gunakan pada orang lain.]
"Hei, Pa'ul. Lu denger ya. Gue ini kurang sopan gimana sih. Ini kan bahasa sejak pertama kali kita ketemu, kenal, terus masalahnya dimana? Lu kan sohib gue. Formal amat!" David melenggang begitu saja ke depan meja riasnya dengan santai. Saat ini ia berada di dalam walk in closed.
[ Jadi begitu. ]
"Iya, begitu. Kenapa? Baper ya? Ya ampun. Inget Ul. Elu tuh komputer, eh sistem. Mana punya perasaan. Aneh!"
[ Saya memang tidak punya perasaan. Tapi saya mengerti. Jika hubungan kita tidak akan abadi. Ada masanya saya pergi nanti. Mungkin, pada saat itu, anda yang akan baper, Tuan. Kalau saya bisa saja. ]
"Eh, misi yang lu kasih ke gue belom selesai ya! Berani lu ngomong pergi lagi, gue sleeding pake sendal!" David mengangkat sandalnya seakan hendak melemparkannya ke arah Paul.
[ Sudahlah. Saya hanya mau laporan. Jika, kekuatan serta kesehatan anda meningkat hingga sembilan puluh lima persen. ]
"What!" kaget David. Ia bahkan melempar celana panjang yang ingin di kenakan. Kemudian memindai penampilannya di depan cermin besar.
"Apa iya, gue udah sembuh sepenuhnya Ul?" David menatap tak percaya pada pantulan dirinya.
[ Kurang lima persen lagi, Tuan. Saya rasa nona Agnes memang pasangan sejati anda. Misi pertama anda hampir selesai. Tinggal misi kedua dan ketiga. ]
"Gue tau, misi selanjutnya akan lebih mudah ketika semua keadaan diri gue kembali sempurna." David menyeringai. Ia tinggal kembali bercinta dengan Agnes dan membuat gadis itu semakin mencintainya. Meskipun tak dapat di sangkal jika dirinya pun mulai bergantung pada Agnes. Namun, David belum bisa memastikan. Apakah ini perasaan cintanya.
"Akhh!" David terlonjak kaget, saat mendengar suara teriakan dari Agnes. Dan ia pun langsung keluar meski hanya menggunakan kaus dan boxer saja.
"Kau kenapa?" David kaget karena Agnes terlihat memegangi kepalanya. Gadis itu nampak kesakitan. Napasnya terengah-engah dengan keringat yang membasahi tubuhnya.
"Nes, jangan membuatku takut. Apa ini pengaruh alergi yang tadi? Haruskah kita kerumah sakit lagi?" David terus menjadi pertanyaan namun Agnes tetap menutup mulutnya.
Bukan karena keinginannya dia begitu, akan tetapi lidahnya tidak mampu ia gerakan. Agnes hanya mampu menatap David dengan tajam. Entah kenapa ia merasakan dua perasaan yang berbeda saat ini.
"Nes, kau--"
Tidak! Aku tidak mau membunuhnya. Lebih baik aku saja yang mati! Kenapa? Kenapa dengan pikiranku. Kenapa aku ingin menghabisimu, Dav.Tolong aku ...
Agnes hanya mampu mengutarakan semua itu dari dalam hatinya saja. Lidahnya kaku dan keluh sehingga tak mampu berucap satu patah kata pun. Ia bahkan ingin berteriak minta tolong agar dapat menghilangkan perasaan ini.
"Paul! Paul! Keluarlah Ban--"
Bruakk!
David yang sedang memanggil sistem tiba-tiba dikejutkan oleh gerakan Agnes yang cepat. Gadis itu menubruk tubuhnya dengan sebuah jarum suntik di tangan kanannya. Kedua mata Agnes berkilat penuh napsu. Napsu membunuh tentu saja.
"Kau--"
Agnes melayangkan jarum suntik itu, dengan cepat David mampu berkelit. Akan tetapi gerakan Agnes juga cepat dan mengejarnya. Hingga keduanya kini nampak bergulingan di atas lantai. David memegang lengan Agnes kuat. Entah dari mana kemampuan gadis ini berasal.
[ Saya akan memindainya, sekali lagi Tuan. ]
"Cepatlah!"
"Aku tidak ingin menyakitinya!"
[ Ketemu! ]
Paul sang sistem, mengeluarkan sebuah cahaya kebiruan dari monitornya. Hingga, cahaya itu berhenti di tengkuk Agnes.
[ Inilah, sesuatu yang sudah saya curigai dari awal kedatangan gadis ini. Akan tetapi seperti ada yang menutupi informasi mengenai benda yang sengaja ditanam di tengkuk wanita Anda Tuan. ]
"Benda apa? Ngomong yang jelas!" David masih berusaha sekuat tenaga untuk menahan pergelangan Agnes. Gadis ini memiliki kemampuan bela diri sekarang. David hanya menghindar tidak ingin melukai.
[ Saya sedang berusaha mengacaukan frekuensinya. Karena chip ini tersambung ke otak. ]
"Matilah kau!" Agnes kembali berusaha untuk menghujam jarum suntik itu ke arah David.
"Agnes! Sadarlah!"
"Kau mencintaiku! Mana mana mungkin kau inginkan aku mati!" David membalik posisi mereka hingga kini Agnes-lah yang berada di bawahnya. Namun, secepat kilat Gadis itu melingkarkan kaki membuat posisi David kembali terpelanting ke lantai.
"Pa'ul, cepetan!"
7.6. 5. 4. 3. 2. 1 ..... sistem done. ]
Pluk!
Sebuah benda kecil terjatuh. Seketika itu pula raga Agnes tumbang di atas tubuh David.
" Hancurkan benda itu!" titah David pada sistem. Kemudian ia kembali menatap iba pada sosok yang lemah di atasnya. Wajah itu sangat pucat.
"Aku harus menghancurkan pria itu secepatnya!" Setelah meletakkan Agnes dengan hati-hati di atas tempat tidur. David segera menghubungi ketua pelayannya untuk mengawasi keadaan Agnes hingga ia siuman nanti.
David mempersiapkan dirinya untuk menghubungi atau menggunakan chip yang ia temukan di tengkuk Agnes.
Di lokasi, Arthur.
"Tuan, anda mendapatkan kode pesan melalui chip yang kita tanam pada gadis itu."
"Shitt! Ternyata dia benar-benar sulit di sentuh saat ini. Pasti ada seorang yang hebat membantu di belakangnya. Cari tau!"
"Tuan, lihatlah! Komputer kita diretas!" Anak buah Arthur panik. Karena uang simpanan mereka di Bank tengah dialihkan.
"APA-APAAN INI!"
Arthur terbelalak kaget ketika semua hartanya simpanannya yang berupa deposito raib dengan cepat di depan mata kepalanya sendiri.
"Bangzaatt!" Arthur melempar semua komputer. Pria berwajah bule ini langsung berjalan menuju ruang kerjanya. Menekan tombol pada salah satu patung, sehingga membuka sebuah ruang rahasia. Memasukinya, yang ternyata ruangan itu adalah tempat penyimpanan senjata. Arthur terlihat mengambil cepat dua buah senjata. Kemudian ia kembali keluar. Tak lupa mengenakan Coat panjang serta kacamata hitam.
"Apa anda ingin menyerang? Apa anda waras?" tiba-tiba norak berdiri di depan Arthur. Wanita menyilangkan kedua tangan di depan dada dengan tatapan mata menusuk tajam.
Benar juga. Aku terlampau emosi sehingga melupakan poin ini. Bodoh!
"Bodoh!" Satu kata yang dilontarkan oleh Nora seketika membuat Arthur semakin naik pitam. Ia mencekik wanita itu. Hingga Nora lemas. Melemparkan wanita itu hingga tersungkur.
"Tak ada satupun yang pantas mendiktekku!"
Setelahnya Arthur berlalu menuju ke depan markas mereka.
Pada saat itulah, kedua matanya kembali terbelalak. Ketika menyaksikan para anak buahnya yang terkapar tak bergerak. Jumlah mereka tak sedikit. Melainkan puluhan.
"APA YANG TERJADI, SIALAN!" Arthur berteriak hampir frustrasi. Ia tak melihat penampakan musuh sebiji pun di sana. Namun, Arthur telah memasang kuda-kudanya dengan kedua senjata yang digenggam oleh kedua tangannya.
"KELUAR LU, BANGZAATT!"
BOOM!
Sebuah granat nampak di lempar kedalam bangunan dan menciptakan sebuah ledakan besar. Arthur terpental.
"Tengkiyu, Bro! Gua gak nyangka elu Dateng si saat yang tepat."
...Bersambung ...