
Dengan gerakan cepat, senjata api berpindah arah. Terlihat, David menekuk tangan Arnott yang menggenggam pistol tadi. Sehingga, lesatan dari timah panas justru menembus perutnya yang gendut itu.
Arnott mendelikkan kedua matanya ke arah David. "K–kau--" Ia membuka mulutnya hendak mengucapkan sesuatu, namun tenggorokannya tercekat. Bahkan, terlihat ia terbatuk-batuk dan mengeluarkan darah segar dari mulutnya. David menyeringai remeh dan mendorong bahu Arnott pelan. Tubuh, yang sudah tak mampu berdiri itu pun terjatuh dan kejang.
"Ck, berani melawanku. Ini lah akibatnya. Bahkan, racunmu pun tak mampu lagi membunuhku!" David masih menatap raga kaku Arnott yang sudah tak lagi bergerak itu. Menatap marah sebentar, lalu ia mengusap wajahnya kasar.
"Sudah. Mereka semua tidak dapat lagi mengganggumu. Kita ledakkan saja tempat ini." Boy memukul pelan bahu David. Mengajak sahabatnya itu menjauh. Kemudian, ia mengeluarkan senjata berbentuk bulat. Menekan tombol kecil hingga benda itu mengeluarkan semacam tanduknya.
Boy pun segera melempar benda itu ke tanah bangunan dan kembali membuat perisai setengah lingkaran yang menutupi tubuh keduanya. Tak lama kemudian ...
BOOAAMM!
Sebuah ledakan besar pun terjadi. Meluluhlantakkan bangunan tersebut. Sehingga bangunan yang sudah setengah berantakan itu semakin tak berbentuk lagi. Kini hanya nampak kobaran api di beberapa tempat.
Boy segera membuka perisai dengan motif prisma segi lima itu. Pria tampan ini kembali menepuk bahu sahabatnya itu. "Lu gak mau ajak gue maen gitu ke mansion?" sindir Boy. Karena sahabatnya ini belum ada basa-basi untuk mengajak dirinya ke kediaman mewah David.
David hanya menghela napas. "Bukannya gak mau. Belum sempet. Ya udah Kuys!" agaknya seraya merangkul bahu pria yang tingginya sepadan dengannya ini.
"Jalan kaki?" tanya Boy karena David mengajaknya berjalan menjauh dari bangunan yang sudah jadi abu itu.
"Kendaraan gue di sana! Di balik hutan!" tunjuk David. Membuat Boy meliriknya aneh.
"Terus, kita harus samperin mobil Lo dulu gitu kesana?" tanya Boy lagi memastikan, dan David mengangguk macam anak kecil polos.
Boy lantas tertawa dan menggeleng kepalanya. Hal yang ia lakukan membuat kening David berkerut bingung.
"Kenapa lah ni bocah pake ketawa? Perasaan gak ada yang lucu," gumam David yang masih dapat di dengar oleh Boy.
"Ogah banget, Renk. Gue di suruh jalan kesana! Mending lu pegang tangan gue sekarang," Boy menolak ajakan David dan justru menyodorkan tangan agar kawannya itu mau menggenggam erat. Sehingga, mereka bisa sampai lebih cepat ke mansion.
"Ngapain kita jalan sambil pegangan gitu? Mau di sangka--"
PLAK!
"Pikirin, tentang mansion lu, Renk. Cepet!"
"Ini apa, Bro?" Bukannya memikirkan tujuan mereka David yang bingung tak tahan lagi untuk memikirkan segera bertanya.
"Ini portal baru, dari kuasa teleportasi gua. Udah cepetan pikirin mansion lu dimana!" titah Boy. Membuat David seketika memejamkan matanya. Dan ia pun langsung mendorong David memasuki putaran portal pelangi tersebut.
Dalam hitungan detik, keduanya telah sampai di kediaman keluarga Voster.
Bukan di luar pagar maupun di halaman. Tali, kini mereka tiba di lantai atas. Tepatnya ruang baca milik David.
"Waw! Keren banget Bro kemampuan yang lu punya. Apa ini dari sistem juga?" tanya David penuh selidik. Terlintas ingin membandingkan system miliknya yang tak pernah memberi kekuatan teknologi apapun padanya.
"Keren. Kita langsung sampe ke kamar lu, Renk!" seru Boy yang kaget akan kampung portal teleportasi yang baru ia temukan ini.
"Ini bukan kamar gue. Tapi ruang baca. Kamar gue di sebelah," ucap David memberi tau.
"Woh, melenceng sedikit!"
"Kamar gue di sebelah. Eh!"
Zepp!
Boy lagi-lagi menggunakan kuasa teleportasi dah mereka kini berada di dalam kamar tidur bernuansa maskulin. David yang tak tahan segera berlari masuk kamar mandi. Boy pun hanya dapat menggeleng gemas melihat kelakuan dari sahabatnya itu. Sejurus kemudian, pintu dari walk in closed terbuka. Dan ...
"Akhh!"
David yang mendengar teriakan itu dari kamar mandi langsung menaikkan resleting celananya .
"Sial gue lupa!" David menepuk keras keningnya sendiri.
...Bersambung ...