
Sosok pria gagah yang datang bersama David ke markas Arthur, tersenyum. Ia pun merangkul sahabatnya itu.
"Akhirnya, gue berhasil nemuin lu juga, Renk. Lu makin keren sekarang," ucap Boy. Kedua matanya masih berkilat memancarkan kerinduan sekaligus kebanggaan.
"Gue seneng, Bro. Banget malah. Lu tau, kesempatan hidup kedua ini gak bakal gue sia-sia kan kayak hidup pertama gue." David menatap dalam sahabatnya ini seraya memukul pelan bahu kekar Boy Kutzhel. Sahabatnya yang juga memiliki sistem mendadak kaya. Sama sepertinya, bedanya David bereinkarnasi dan mendapat misi untuk memperbanyak keturunan lewat para wanita hareemnya.
Sementara, Boy. Ia akan mendapat kekayaan yang disertai kekuatan serta kekuasaan setelah menyelesaikan berbagai misi penyelamatan.
"Bagus aja, sistem gue si kapur mau ngebujuk sistem yang mengawal lu. Kalo enggak, mungkin sampe sekarang gue gak akan bisa membaca titik koordinat dari lokasi lu, Renk." Boy menjelaskan sambil mengedari pandangannya.
Meskipun sebagian bangunan ini telah terbakar karena ledakan barusan. Namun, naluri dewa perang dari Avatar yang Boy gunakan mengatakan bahwa masih terdeteksi beberapa sinyal kehidupan.
"Lu merasakannya juga, Boy. Ada yang masih hidup dan sedang mengintai kita," ucap David. Ia pun masih tetap waspada. Inderanya juga semakin tajam dan sensitif seiring dengan meningkatnya kekuatan serta kepintaran dalam dirinya.
Mereka berdua pun saling membelakangi. Karena di beberapa penjuru gedung yang hampir hangus ini ada beberapa mata uang mengintai keduanya. Mereka tetap harus bersiap menerima serangan.
Boy, sudah siap dengan perisai tak terlihat. Banda itu dapat menangkis serangan yang menggunakan senjata api maupun Bom sekalipun.
"Renk, apa sistem pengawal lu gak ngasih senjata?" heran Boy. Karena David hanya memasang kuda-kuda dengan tangan kosong macam orang bodoh saja. Sementara, peluru terakhir telah ia gunakan untuk menembak musuh tadi.
"Lu lihat aja entar, Bro. Gue juga gak kalah keren dari lu!" sahut David dengan seringai penuh percaya diri. Kekuatan yang ia miliki ternyata lebih dari kekuatan biasa. Saat ini, kekuatan serta kesehatannya telah mencapai puncak.
Sehingga David tak perlu menghawatirkan apapun. Meski, ia tak memegang senjata. Tubuhnya yang sekarang lebih kuat dan hebat ketimbang lima tahun lalu. Bahkan benih yang ia tanam, mungkin telah sampai pada tujuan dari perjuangannya.
Bersiap terhadap serangan dari arah jam sembilan!" teriak Boy. Benar saja, pada saat ini mereka berdua dihujani anak panah yang terbuat dari besi.
"Waspadalah! Anak panah itu beracun!" teriak Boy kembali memperingati David.
"Pa'ul, aktifkan mode iron skin!" titah David melalui pikirannya.
Seketika, terdapat cahaya biru yang menutupi tubuh David dimulai dari bawah kaki hingga ke atas kepala. Seakan cahaya itu memberi lapisan pelindung tak kasat mata untuk David. Karena, setelah itu keadaan David tetap sama seperti semula.
Syuuttt
Trankkk
Trankkk
David dan Boy menangkis serangan itu dengan cara yang berbeda. Boy dengan perisai yang terlihat seperti pusaran cahaya yang keluar dari tangannya. Menangkis belasan anak panah yang melesat kearahnya. Ajaibnya, perisai itu bukan hanya menangkis akan tetapi dapat mengembalikan serangan tersebut.
Hingga ...
Crasshh
"Akhh!"
Lengkingan pun terdengar dari musuh yang terkena panah kiriman mereka sendiri. Belasan musuh yang bersembunyi berjatuhan dari atas bangunan.
Sementara, David. Ia menangkis lesatan anak panah beracun itu menggunakan kedua tangan dan juga kakinya. Seketika, tubuh David pada saat ini bagaikan di lapisi oleh besi baja yang tak terlihat. Sehingga, hanya menampakan bahwa tubuhnya itu kebal terhadap senjata tajam.
Karena beberapa anak panah yang sampai mengenai tubuhnya akan terpantul dan jatuh ke tanah. Seperti mempunyai kekuatan magnet, David menarik anak panah yang memang terbuat dari besi itu hingga menempel pada kedua telapak tangannya. David melepaskan anak panah hingga mengambang di udara, memposisikan mereka untuk menyerang.
Dengan sebuah dorongan bertenaga besar, puluhan anak panah itu melesat cepat ke arah persembunyian musuh.
Jleb
Jleb
"Sial! Siapa mereka? Kenapa pria-pria itu hebat sekali. Aku harus mencari kelemahannya." Nora bergumam di balik persembunyiannya. Tak lama terlihat Arthur menghampirinya dengan keadaan yang payah. Terlihat dari cara jalannya yang sempoyongan.
"Kau, belum mati?" celetuk Nora. Setelahnya ia mendapat sorotan mata tajam dari Arthur.
"Mereka tidak bisa membunuhku dengan mudah. Aku telah menghubungiku papa dan juga pasukannya. Lihat saja. David dan kawannya pasti akan ku ledakkan!" geram Arthur. Terlihat dari rahangnya yang bergambar otak serta kedua tangan yang terkepal keras.
"Ku harap mereka datang secepatnya. Sebelum kedua pria itu menemukan kita," ucap Nora. Ia tak mendapat tanggapan dari Arthur karena pria itu memejamkan mata menahan sakit. Tak lama, terlihat cairan merah itu keluar dari dalam telinganya.
"Kau berdarah, Tuan." Nora berkata dengan ekspresi yang masih sama. Dia benar-benar wanita berdarah dingin. Namun, Arthur tak menjawab, pria itu hanya memperhatikan gerak bibir Nora.
" Sepertinya gendang telinga ku pecah." Arthur menyeringai, seakan hal yang ia alami adalah masalah kecil.
"Lalu, bagaimana kau bisa mengerti apa yang ku katakan? Bukankah --" Nora menggerakkan jarinya ke arah telinga.
"Aku membaca gerakan dari bibirmu yang seksi itu!" tunjuk Arthur seraya mengarahkan jarinya ke depan bibir Nora.
Nora hanya mendengus, kemudian ia berbalik dan menatap tajam ke arah David.
"Aku harus mencari kelemahannya. Seluruh tubuh pria itu seperti di lapisi oleh baju Jirah besi.
Hingga tak lama kemudian, Nora menyeringai sinis.
Tanpa sepengetahuan David, sebuah sedang melesat dengan cepat ke arah belakang telinganya. Namun, nalurinya yang tajam membuat David seketika berbalik, dan meraih ujung belati menggunakan kedua jarinya.
Ia berputar di udara mengimbangi kecepatan lesatan dari belati. Membalik arah serangan dengan melempar belati beracun tersebut ke arah penyerang yang bersembunyi tadi.
Karena gerakan dari David yang begitu cepat, sama sekali tidak dapat dibaca maupun diduga oleh Nora. Belati itu merasa cepat ke arah dirinya, membuatnya tak dapat berkutik maupun mengelak. Hanya kedua matanya saja yang terbelalak. Hingga ...
Jlebb
Belati itu menancap dalam ke tenggorokan.
Seketika itu juga, Nora menemui ajalnya.
Arthur, terduduk lemas melihat kematian Nora di depan matanya.
Telinganya semakin banyak mengeluarkan darah. Efek dari ledakan tadi. Hingga, ia kembali dapat mengurai senyum sinis itu ketika terdengar suara beberapa helikopter di atas mereka.
"Kapur! Aktifkan Avatar dewa soldier!" teriak Boy. Hingga seketika itu juga seluruh tubuhnya terbungkus sinar kebiruan terang. Dalam sekejap, Boy telah berubah menjadi tentara perang dengan segala peralatannya.
"Gunakan ini!" Boy melempar basoka ke arah David. Kemudian di sambut oleh sahabatnya itu kelabakan.
"Kamvrett lu, Bro! Berat nih toing! Lu maen lembar aja! Bilang kek!" gerutu David, meskipun sebenarnya ia dapat menangkap benda besar dan berat itu dengan mudah.
Sementara itu boy, menoleh sebentar dan terkekeh. Setelah itu ia dan David serentak mengarahkan senjata mereka ke atas. Berbarengan dengan ...
Duarr
BOOM
...Bersambung ...