
Malam ini adalah dimana Agnes akan beraksi untuk memulai misinya. Kelompok yang dikirim oleh anggota Triad pimpinan Arthur pun bergerak cepat. Mereka menculik kandidat wanita sesungguhnya dan menggantinya dengan Agnes.
Kini Agnes tengah duduk bersama dengan Regan dan Sovia. Regan hanya pernah bertemu sekilas dengan kandidat nomer enam ini. Memang kontur wajah dan bentuk tubuh agak mirip dengan Agnes. Karenanya Arthur merasa penyamaran ini akan sempurna.
Agnes terus tersenyum di saat Regan dan Sovia terus memandangnya dengan sambil tersenyum juga. Nampaknya kedua orang tua dari targetnya ini sangat menyukai sosoknya.
"Jadi, kau sudah siap mengambil hati putra kami?" tanya Sovia. Ia tak sabar untuk memulai pembicaraan. Ia benar-benar suka sejak pertama kali melihat Agnes dan karakter pembawaannya yang sederhana serta sopan.
Agnes sudah mempelajari apa yang harus ia lakukan. Jadi ia bisa menyikapi pertanyaan dari Sovia dengan sikap dan pembawaan yang tenang. Lantas, Agnes hanya tersenyum dan mengangguk.
"Ku rasa, melihat dari layar belakang keluargamu dan juga niatmu melakukan ini. Putra kami pasti akan berpikir tiga kali untuk menolakmu. Apalagi, kau sudah bersedia dan siap. Melihat dari latar belakangmu juga. Kami yakin jika kau tidak akan melakukan hal yang diluar nalar. Sosok sepertimu lah yang David butuhkan." Regan tertawa renyah. Nampaknya pria paruh baya ini begitu percaya diri bahwa rencana malam ini pasti akan berhasil.
"Terimakasih, Tuan dan Nyonya telah percaya sepenuh hati kepada saya. Semoga semua berjalan lancar dan sesuai rencana. Tuan David mau menerima saya," ucap Agnes dengan tak memudarkan sinar dari senyumnya.
"Aku sangat menyukai anak ini, By," burik Sovia ke telinga suaminya itu.
Regan menoleh dan tersenyum pada Sovia. Ia juga berharap banyak pada pertemuan kali ini.
[ Tuan, turunlah. Kenapa anda hanya mondar-mandir di kamar saja? Apa anda tidak penasaran bagaimana rupa dari kandidat ke-enam ini. ]
Paul mencecar pertanyaan bertubi-tubi pada David. Sebagai sebuah sistem nampaknya dia gemas juga akan kelakuan dari tuannya ini.
Padahal, ada sebuah takdir indah yang menunggunya. Seandainya David tau. Selain itu, sebuah tantangan tengah menantinya saat ini. Tantangan yang akan menguji perasaan keduanya.
"Entahlah, Ul. Aku memikirkan dia. Perasaan ini begitu kuat. Aku ingin sekali bertemu dengannya," jelas David, menerangkan arti dari kegusarannya sejak tadi.
[ Apa yang anda maksud adalah gadis tomboi di kehidupan anda yang sebelumnya itu? ]
"Kau benar. Seandainya aku bisa menemuinya sebentar saja." David terlihat menyugar rambutnya yang berwarna silver itu. Surainya nampak panjang hingga menutupi sebagian wajah.
[ Memangnya apa yang sekiranya akan Anda lakukan jika dapat bertemu dengan-nya?] System sengaja sepertinya, ingin memancing perasaan David yang sesungguhnya.
"Entahlah, mungkin aku ... mau bilang-" David tidak meneruskan kata-katanya karena ia mendadak menggaruk rambutnya kasar.
[ Anda mau bilang apa Tuan? ]
"Tak tahulah, aku belum pernah merasakan perasaan ini sebelumnya. Aku tak tau definisinya seperti apa." Kali ini David memberi remasan pada kepala dengan kedua tangannya. Dia kembali berjalan mondar-mandir tak menentu. Membuat Paul jengah akan kelakuannya.
[ Memang rasanya bagaimana? Sampai anda macam orang bingung seperti ini? ]
David sontak menoleh dan memicingkan mata ke arah sistem. "Memangnya kau mengerti jika aku katakan bagaimana rasanya? Segala nanya?" tukas David kesal. Bukannya membantu agar hatinya tenang malah banyak tanya dan membuatnya bertambah pusing saja.
[ Mana saja tau. System tidak pernah jatuh cinta. ]
"Nah! Buat apa nanya coba!" Saking gemasnya David pun melemparkan majalah ke hadapan Paul.
[ Tuan, saya mau nanya.]
"Bodo ah! Pusing!"
"Diem! Atau pergi sana!"
[ Mereka sudah menunggu anda di taman belakang. ]
"Biar saja. Aku masih belum tenang. Aku merasa jika kami seakan dekat. Ah, kau tak akan mengerti. Ini seperti ikatan batin." David menatap malas ke arah Paul, tapi tetap saja dia bercerita.
[ Jika gadis itu adalah salah satu kandidat hareem ada. Apakah anda mau menjadikannya sebagai inang dari benih-benih anda yang mahal ini? ]
"Aku akan menanyakan dulu tentang perasaannya. Jika ia bersedia. Maka akan menikahinya. Menjadikannya Numero Uno. Akan ku libas para kandidat yang lain." ucapan dari David ini tentu saja membuat sistem yang bernama Paul kaget.
Eh sistem kagetnya gimana??
[ Sebaiknya anda kebawah Tuan. Sebelum anda menyesal selamanya. ]
"Paul? Apa ada yang kau sembunyikan padaku? Katakan! Ayo!" David terlihat menghampiri Paul dengan tatapannya yang tajam menyorot.
[ Tentu saja ada Tuan. Saya juga punya rahasia. Seperti juga para manusia. ]
Penjelasan sistem barusan membuat langkah David terhadap seketika. Dia pun menyambar Coat dan mengenakannya. Kemudian dengan cepat menggerakkan kakinya keluar dari kamar dan menuruni anak tangga untuk segera sampai ke taman belakang. Dimana kini ya tak mengetahui bahwa kedua orang tuanya sedang berhadapan dengan gadis yang selama ini dia pikirkan.
Sementara itu, Agnes merasakan debaran pada jantungnya tidak seperti biasa. Degup itu bertemu di dadanya tidak beraturan. Ia seakan merasa senang dan sedih secara bersamaan. Seperti ada sesuatu hal yang sangat ia tunggu-tunggu akan terjadi di depan matanya saat ini. Namun, masalahnya dirinya tak tahu apakah itu.
Dari kejauhan David dapat melihat kedua orang tua juga gadis yang akan menjadi kandidat hareem keenam. Akan tetapi sayangnya sosok gadis itu membelakangi dirinya. Pada saat inilah David memegangi dadanya sebelah kiri. Ia merasa teguh pada jantungnya tidak seperti biasa yang ia rasakan.
Anehnya semakin dekat ia melangkah ke arah kedua orang tuanya maka duduk jantung itu semakin keras. Hal yang sama ternyata juga dirasakan oleh Agnes. Gadis itu sudah mulai gelisah dalam duduknya sejak beberapa menit yang lalu.
Ia merasa jika takdir akan mempermainkannya sekali lagi. Kali ini sepertinya lebih dramatis dari sebelumnya. Agnes seketika membulatkan kedua matanya ketika ia mendengar derap langkah semakin mendekat ke arahnya. Sungguh ya tak tahu siapa sosok pemuda yang berada di belakangnya. Satu yang ia tahu adalah putra dari Regan dan Sovia bernama David Voster. Sosok pria yang arogan dan keras.
Namun entah kenapa rasa ini seakan mengatakan jika kerinduan yang selama ini ia pendam jauh di lubuk hatinya yang paling dalam. Akan segera menemukan tuannya.
Begitu pun dengan David, yang memperhatikan sosok yang sering terlihat tengah duduk dengan gusar di depan kedua orang tuanya. David melempar senyum di mana kedua orang tuanya juga melakukan hal yang sama padanya. Bahkan, sang Mommy, terlihat melambaikan tangan ke arahnya.
"Mom ... Dad." David memberi sapaan pada Regan dan Sovia. Namun, ucapannya itu membuat sosok gadis yang sedang duduk itu tiba-tiba berdiri secara mendadak. Tentu saja hal itu membuat langkah dari David terhenti dan juga membuat Regan dan Sovia kaget.
Agnes merasa jika kedua lututnya bergetar saat ini, bedanya semakin berdebar kencang. Bahkan nafasnya ikut sesak. Suara itu ... dia masih mengenali suara itu."
Tidak mungkin itu dia kan?
Agnes pun memberanikan dirinya untuk berbalik. Seketika itu juga apa yang terpampang di hadapan saat ini membuat crystal bening yang menggenang di kelopak matanya seketika tumpah ruah.
"David."
"Agnes ...."
...Bersambung ...