Sistem Reinkarnasi Mendadak Kaya

Sistem Reinkarnasi Mendadak Kaya
Bab. 46. Butuh, Lebih Dari Satu.


"Eh, maaf!" Boy nyengir dan menggaruk kepalanya yang tak gatal. Lalu ia berbalik membelakangi sambil menggerutu.


"Ini sebenarnya kamar siapa? Zereenkk!" geram Boy pelan. Pintu kamar mandi terbuka cepat dan terlihat David langsung berlari mendekat. Ia pun menangkap tangan Agnes yang sudah memegang sebuah benda untuk memukul Boy.


"Nes, jangan!"


"David!" kaget Agnes. Wanita itu langsung memeluk David erat.


"Maaf. Kamu pasti terkejut ya. Dia itu sahabat aku, si Boy. Dia juga yang udah bantuin aku dalam menghancurkan markas dari Arthur dan papinya, Arnott. Mereka tidak akan bisa mengganggumu lagi, dan kita," jelas David seraya mengusap lembut bahu yang nampak bergetar itu.


"Dia--" Agnes berbalik.


"Boy Kutzhel!" Boy mengulurkan tangannya, tapi Agnes hanya diam tak bergeming. Sehingga, David yang menyambut uluran tangan itu.


"Ck!" Boy bersungut.


"Dia gak mau menyentuh pria lain selain, Ogut!" kekeh David.


"Sudahlah. Setidaknya aku sudah menyelesaikan permasalahanmu. Juga mengantarmu kembali kerumah. Karena, ada seseorang yang juga sedang menantikanku di sana," jelas Boy yang merasa sedikit itu melihat kemesraan David. Apalagi Agnes tak mau jauh dari sahabatnya itu.


"Ngomongnya, gak usah formal deh. Kagak enak banget. Elu–gue aja udah. Malah jadi aneh kalo kita terlalu baku Bro!" seloroh David. Ia menuntun Agnes hingga ke tepi tempat tidur.


Boy menghela napasnya, karena David memangkas rencananya yang ingin mencoba menjadi cool. "Terserah lu dah, Renk. Pokoknya gua seneng banget karena udah nemuin kepastian kalo elu ternyata emang masih idup. Chibie, yang paling tau gimana resahnya gua selama ini mikirin keadaan juga keberadaan elu. Eh, ternyata--" Belum selesai Boy berkata. David sudah membekap mulutnya menggunakan telapak tangan.


Boy, yang merasa sebal. Buru-buru menepis tangan sahabatnya itu. "Njiirr, lu, Renk! Bau pesing!" protes Boy. Dengan tatapannya yang terlihat sekali menahan kesal.


Tanpa dosa justru David malah terkekeh geli.


Tak lama, Boy pun pamitan. David mengantarnya ke kamar sebelah. Karena tidak mungkin ia membawa Boy ke lantai bawah. David belum siap menjawab segala macam kemungkinan pertanyaan yang terlontar dari mulut kedua orang tuanya.


"Gua bilang mau nginep ama tuh cewek. Terus kalo besok gua udah agak, lu mau bilang apa, Renk?"


"Gue, bilang kalo elu pulang pagi-pagi buta." Lagi-lagi David tergelak. Sebenarnya, ini pancaran kesedihan karena mereka berdua akan berpisah lagi. Sekalipun kekuatan teleportasi yang Boy memiliki, tentu saja dapat membuat Boy mampu untuk mengunjunginya kapan saja. Akan tetapi David tetap saja merasa kehilangan.


"Gua balik dulu. Kalo ada apa-apa, Lu tau cara manggil, gua kan!" Boy menepuk bahu sahabatnya yang sudah ia anggap seperti adik sendiri itu. Berat baginya untuk kembali berjauhan dengan sahabatnya itu. Akan tetapi mereka berdua memiliki tugas masing-masing di tempat yang juga berbeda.


David mengangguk dengan seulas senyum yang ia paksakan. Sial, matanya memanas. Dadanya sesak. Satu hal yang tak pernah ia bayangkan di balik kematian yang tragis dirinya mendapati kehidupan baru yang begitu luar biasa.


"Segera nikahi dia. Dan gua pastikan bakalan ada nanti buat lu!" ujar Boy. Ia pun merasakan hal yang sama. Lagi-lagi David hanya bisa mengangguk. Dia tak mau mengurutkan suaranya karena nanti pertahanannya bakalan runtuh.


"Njirr, lu, Renk. Jangan masang ekspresi Siti Nurbaya yang di nikahin paksa ma Datuk maringgih, dong! Gak asik lu tau gak!" Boy, Berusaha mengalihkan perasaan yang menekan dadanya. Dengan kelakar yang sengaja memancing tawa. Namun, prediksinya meleset. David menubruk untuk memeluknya erat.


Boy, menyambut pelukan itu. Mengusap pelan punggung dari tubuh yang kini sedang bergetar demi menahan tangis. Mereka dulu susah payah bersama. Kompak berbagi duka serta kekecewaan. Tak menyangka jika takdir kembali menyelaraskan nasib keduanya. Boy, mengeratkan rahangnya. Ia menolak untuk tenggelam pada rasa yang akan menyeretnya pada jiwa yang melankolis.


"Ck. Segitu cintanya lu ma gue, Renk. Hahaha!" Boy tanpa perasaan menertawakan mata kawannya yang basah itu.


"Sialan lu! Pergi dah sana!" David mengusap kasar pipinya, lalu nenyugar rambutnya yang berwarna silver mengkilap itu.


"Oh iya, Renk. Apa system lu punya visual?"


"Iya, dalam bentuk layar hologram dan monitor. Lu?"


"Keren pokoknya. Sayang, mereka gak bisa memunculkan diri di depan orang yang bukan tuannya," jelas Boy.


David kembali tertawa.


Menertawai segala persamaan mereka.


Selepas melepas kepulangan, Boy. David berniat untuk menemui Regan.


"Dad! Nikahkan aku dengan Agnes!"


"Baik. Lalu bagaimana dengan kandidat selanjutnya? Kapan kau akan--"


"Aku hanya akan menikah dengan Agnes, Dad!"


"Kau membutuhkan wanita lebih dari satu, Dav. Ini sudah menjadi kesepakatan serta keputusanmu sejak awal. Daddy sudah mempersiapkan semuanya, dan kau--"


"Daddy saja yang nikahi sisanya," ucap David asal. Karena ia merasa muak terhadap misi memperbanyak keturunan ini.


"Apa kau tega, membuat mommy sedih karena Daddy memiliki hareem?" tandas Regan.


Namun, sebuah lengkingan mengagetkan keduanya seketika.


"APA YANG KAU BILANG, HONEY!"


"Sial!"


"Kena kau, Dad!"


"Ini semua karena ulahmu!" Rahang serta gigi geraham, Regan bergemeletak menahan geram kepada David.


...Bersambung...